Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 69


__ADS_3

Tian sedari tadi menunggu kepulangan ku dan Sofi. Ia menunggu di depan teras rumah nya. Sambil mondar mandir tak karuan. Sungguh laki-laki itu merasa khawatir kepada ku dan Sofi.


Aku keluar dari mobil taksi bersama Sofi. Melihat itu, Tian pun datang menghampiri ku dan Sofi.


"Sayang, kalian dari mana saja? Aku khawatir lo dari tadi di hubungin gak bisa-bisa" Celoteh Tian kepada ku dan Sofi.


Aku terus berjalan melewati nya. Sungguh aku masih belum bisa melupakan rasa kekecewaan di hati ku karena di tinggal begitu saja oleh Tian tampa memberi tahu ku terlebih dahulu.


"Sayang, sekarang Sofi pergi bersih-bersih ya"


"Iya mama" Ujar gadis kecil itu langsung masuk ke dalam kamar nya untuk bersih-bersih.


Aku pun pergi menuju ke kamar ku untuk bersih-bersih.


"Sayang, sayang. Ayo dong kata kan sesuatu kepada ku. Jangan cuekin aku seperti ini?" Ujar nya lagi terus mengikuti jejak langkah ku. Mencoba untuk membujuk ku agar aku tidak marah lagi.


"Sayang, jangan marah seperti ini dong" Ucap Tian menarik tangan ku agar aku berhenti melangkah.


"Terus kamu mau aku seperti apa? Mau aku tetap tersenyum meski hati telah tersakiti begitu? Eh Tian aku bukan malaikat ya yang tidak punya perasaan. Sudah lah urusin saja istri siri mu itu" Ucap ku meninggalkan Tian.


"Sayang, aku minta maaf. Aku... "


"Stop, stop dengan semua ucapan mu yang semakin membuat aku sakit hati. Semakin kamu menjelaskan nya, semakin membuat ku terluka. Dan kata maaf yang kamu utarakan itu tidak akan bisa mengobati hati ku yang terluka" Ujar ku lagi. Tian terdiam mendengar ucapakan ku. Laki-laki itu tampak berpikir dengan apa yang aku katakan.


Aku masuk ke dalam kamar untuk bersih-bersih. Rasa nya hati ini sangat sakit dan semakin sakit mendengar semua kata yang keluar dari mulut suami ku itu.


***


"Sayang, mau lauk apa? Ayam goreng, telor, ikan atau apa sayang" Tanya ku kepada putri sambung ku itu saat kami makan malam bersama.


"Ayam goreng aja ma" Jawan putri ku lagi.


"Oke, ini sayang. Silahkan di makan" Ujar ku tersenyum ramah.


Sofi menyodorkan sesuap demi sesuap nasi ke dalam mulut nya.


"Enak sayang?"


"Enak ma"


"Makan yang banyak ya sayang. Biar sehat selalu" Ujar ku lagi.


Sofi tersenyum mendengar ucapan ku.


"Wah, seperti nya makanannya enak nih" Ujar Tian tiba-tiba datang menghampiri aku dan Sofi.


Aku dan Sofi diam tidak menanggapi ucapan Tian. Raut wajah yang tadi nya ceria kini kembali muram karena kehadiran suami ku itu.


Tian duduk di meja makan tempat biasanya ia duduk.


"Sayang, tolong dong ambilin makanan nya untuk ku" Ujar Tian kepada ku.


Meski dengan hati yang sakit, aku pun mengambil piring yang ada di depan Tian dan menyajikan makanan di dalam piringnya itu.


"Ini" Ucap ku memberikan sepiring makanan kepada suamiku itu.


"Terima kasih sayang"


"Ya" Jawab ku singkat.


"Sayang, bagaimana jalan-jalan nya hari ini apa seru?" Tanya Tian kepada Sofi.


Sofi hanya diam mendengar pertanyaan dari papanya itu. Sepertinya gadis kecil itu masih kecewa kepada papanya.


"Lo, kok gak jawab sih pertanyaan papa?" Ujar Tian karena Sofi tidak menanggapi pertanyaan darinya.


"Sayang papa bertanya sama kamu kan? Kenapa gak jawab sih sayang" Ucap ku pelan kepada putri sambung ku itu. Yah jelas aku tahu anak itu sedang mengekspresikan rasa kecewanya kepada papanya itu. Tapi tetap saja aku tidak mau anakku bersikap seperti itu. Karena aku tidak mau nantinya Tian berpikir bahwa akulah yang mengajari Sofi untuk kurang ajar kepadanya.


"Sayang, jawab dong pertanyaan papa" Ucap ku lagi.


Meski dengan berat hati Sofi pun menjawab pertanyaan dari papanya atas permintaanku.

__ADS_1


"Seru kok pa" Jawabnya dengan singkat.


"Kapan-kapan papa akan membawa kamu dan mama untuk berliburan lagi. Kali ini ke luar kota bagaimana, setuju?"


Sofi hanya terdiam menunduk mendengar rencana dari papanya itu. Tampaknya ia masih tidak percaya dengan ucapan papa nya. karena Rasa trauma tadi siang masih ia rasakan hingga detik ini.


"Kenapa hanya diam sih sayang. Apa kamu nggak suka dengan rencana papa?" Tanya Tian kepada Sofi.


"Sofi suka kok dengan rencana papa. Hanya saja Sofi masih nggak percaya papa bisa menepati janjinya"


"Kenapa ngomong nya gitu sih nak?"


"Habisnya papa kemarin juga berjanji akan menghabiskan waktu bersama Sofi dan mama. Tapi nyatanya apa? Papa meninggalkan Sofi dan mama dan pergi begitu saja" Ujar putri kecilku itu dengan rasa kecewa di hatinya.


"Maaf kan papa ya sayang. Tadi itu ada keperluan mendadak yang harus papa selesaikan" Ujar nya meminta pengertian kepada putri nya itu.


"Keperluan mendadak bersama istri siri mu itu" Batin ku menatap sinis kepada Tian.


Yah, aku tahu seharusnya aku tidak bersikap dingin kepada suamiku itu. Karena itu akan membuatku berdosa kepadanya. Namun aku bukan orang yang munafik yang bisa menerima segalanya begitu saja meski hati ini telah tersakiti. Dan aku yakin Allah tahu mengapa aku seperti ini. Tidak mungkin aku mengatakan aku baik-baik saja padahal hatiku saat ini sedang terluka.


"Jadi Sofi setuju dengan rencana papa?"


"Gak, Sofi gak mau pa. Nanti papa pasti akan ingkari janji lagi"


Tian terdiam mendengar ucapan putri nya itu. Ia kembali merasa bersalah kepada Sofi.


"Papa sekarang sudah berubah. kamu tidak pernah peduli lagi sama Sofi. Papa tidak sayang lagi sama Sofi. Semenjak kapan nikah sama tante Susan papa lebih memperhatikan tante Susan dan adik yang ada di dalam perutnya itu dari pada Sofi dan mama"


"Nggak gitu kok sayang papa juga sayang sama Sofi dan juga mama. Sofi dan mama tetap harta papa yang paling berharga"


"Bohong jika Sofi dan mama harta papa yang paling berharga, Pasti tadi papa tidak akan pergi begitu saja meninggalkan kami"


"Maafkan papa ya sayang. Papa janji Papa tidak akan mengecewakan kamu lagi dan papa akan berusaha untuk menepati semua janji-janji papa kepada kamu dan juga mama"


"Selama ini papa selalu menghabiskan waktu bersama tante Susan. Sedangkan waktu bersama Sofi dan mama sama sekali tidak ada. Dan ketika papa berjanji mau menghabiskan waktu bersama kami, papa malah pergi begitu saja" Ujar gadis kecil itu mengungkapkan rasa kecewanya kepada sang papa.


Sofi bangkit dari duduk nya dan pergi ke kamar nya.


"Seharus nya kamu gak membahas semua ini sekarang. Tuh kamu lihat anak kamu malah ngambek dan kecewa sama kamu. Sampai-sampai dia tidak menghabiskan makanan nya" Ujar ku penuh amarah dengan suami ku itu.


"Harus nya kamu tunggu dia merasa tebang dulu. Saat ini rasa kecewa di hati nya masih terasa" Tambah ku lagi.


Tian pun terdiam mendengar ocehan ku. Bertambah rasa sakit di hati ku melihat perangai suami ku.


Aku pun bangkit dari tempat duduk ku dan meninggalkan Tian sendirian di sana. Air mata ku mengalir di pipi. Sungguh rasa hati ini merasa serba salah. Di satu sisi aku tidak bisa bersikap cuek terhadap suami ku itu. Aku ingin melayani nya selayak nya dahulu. Tapi di sisi lain hati ku terasa pedih mengingat penghianatan yang ia lakukan terhadap ku. Terlebih dengan janji-janji nya yang ia ingkari bahkan bersama anak nya pun dia sanggup mengingkari janji.


***


Aku masuk ke dalam kamar ku dan menangis sejadi-jadi nya. Sungguh rasa sakit di hati ini sangat dalam dan sulit untuk di hilangkan.


"Kenapa kami tega Tian membuat ku seperti ini? Apa salah aku dan Sofi kepada mu?" Ucap ku menangis.


***


"Assalamualaikum ma" Ucap salam ku berikan kepada mama ku saat aku tiba di rumah nya.


"Waalaikumsalam. Eh Fitri, ayo masuk nak" Sambut mama ku.


"Dari mana?"


"Dari nganterin Sofi ke sekolah nya ma. Terus mampir deh ke sini"


"Oh, Sendirian? Tian mana?"


"Tian di kantor nya ma" Jawab ku.


Mama ku mengangguk-ngangguk kepala nya. Lama kami saling terdiam larut dalam pikiran masing-masing.


"Oh ya nak, bagaimana hubungan kamu dan Tian? Apa semua nya baik-baik saja?"


Aku menundukkan kepala ku mendengar pertanyaan dari mamaku itu.

__ADS_1


"Sepertinya aku ingin bercerai saja deh sama Tian"


"Lo, kenapa sayang. Apakah pernikahan kamu tidak bisa dipertahankan lagi"


"Sepatunya seperti nya sih, seperti itu ma. Tian tidak akan pernah bisa menepati janji nya ma"


"Maksud kamu?"


"Bukankah kemarin Tian sudah mengatakan bahwa dia akan menceraikan Susan setelah anak itu lahir. Tapi aku rasa dia tidak akan bisa melakukan itu. Karena saat ini Susan sedang sakit dan dia juga sudah berjanji kepada Susan bahwa dia akan menemani Susan dalam keadaan apapun. Itu artinya semua yang ia katakan waktu itu tidak akan ia laksanakan" Ujar ku lagi dengan wajah yang sedih.


"Serius kamu nak? Emang nya Susan sakit apa sih?"


"Miom ma. Hanya saja penyakitnya itu tidak terlalu parah dan masih bisa diatasi" Ujar ku lagi.


"Karena itulah Tian tidak bisa meninggalkan Susan begitu saja. Karena dia tidak mau nantinya menyesal"


"Aku melihat dan mendengar sendiri dengan mata kepalaku bawa Tian berjanji kepada Susan seperti itu. Bahkan selama beberapa hari terakhir ini dia selalu berada di rumah Susan dan menemaninya di sana. Dia bahkan lupa masih ada aku dan Sofi yang menunggunya di rumah" Jelas ku lagi dengan menitikkan air mata.


"Ma, aku nggak bisa berbagi suami kepada wanita manapun. Aku nggak mau hidupku di madu. Meski aku tahu saat ini susah sedang sakit dan sangat membutuhkan bukti yang di sisinya. Tapi tetap saja aku nggak bisa menerima itu semua. hatiku terasa sakit ma" Jelas ku dengan menangis di pelukan mama ku.


"Ya ampun sayang, kenapa jadi seperti ini sih kehidupan rumah tangga mu. Mama benar-benar tidak menyangka kamu mengalami hal seperti ini" Ucap mama ku memeluk ku.


"Aku juga tidak menyangka ma. Ma, bahkan kemarin dia sudah berjanji kepada aku dan Sofi akan menghabiskan waktu kami bersama-sama. Namun di saat Susan menghubunginya meminta dia untuk datang ke rumah dengan cepat dia langsung meninggalkan kami begitu saja di taman wahana tanpa memberi kabar terlebih dahulu kepada kami" Jelas ku kepada mama ku.


"Jangan kan kepada ku. Kepada putrinya saja darah dagingnya dia tega mengingkari janji dan membuat kecewa gadis kecil itu ma. Bagaimana bisa aku percaya lagi dengan semua kata-katanya dan juga janji-janji manisnya yang belum tentu dia bisa menepatinya" Tambah ku lagi.


"Mama, nggak bisa memberi masukan seperti apa kepada kamu nak. Yang jelas Mama akan selalu mendukung keputusan kamu apapun itu asalkan membuat kamu bahagia" Ujar mama ku melepaskan pelukan kami berdua.


"Itu lah yang membuat ku bingung ma. Bagaimana nantinya nasib Sofi ketika aku dan Tian sudah bercerai? Gadis kecil itu begitu sayang kepadaku dan sangat membutuhkan aku di sisinya. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja karena aku pun begitu menyayanginya. Dia baru saja merasakan kebahagiaan memiliki seorang mama. Namun kini akan berpisah lagi dari mamanya. Aku tidak sanggup membayangkan betapa terpuruknya dia nanti" Jelas ku menatap kosong ke depan.


"Iya kamu benar Fit. Kasihan Sofi nanti nya. Tapi apa kamu sanggup menjalani hidup seperti ini terus-menerus?"


"Sebenarnya aku sudah tidak sanggup namun saat ini aku belum bisa memberikan keputusan apapun. Karena masih mempertimbangkan segalanya" Ujar ku lagi.


"Kamu yang sabar ya sayang Semoga Allah akan memberikan jalan keluar untuk permasalahan kamu secepatnya"


"Aamiin. Makasih ya ma. Tolong ma doain aku terus ya agar aku kuat dalam menghadapi cobaan ini"


"Pasti sayang. Pasti mama akan selalu mendoakan kamu"


***


"Hallo Tian sayang, apa siang ini kamu bisa pulang ke rumah? Kita makan siang sama-sama ya. Anak mu lagi pengen makan bareng-bareng sama kamu dan disuapi oleh papanya" Ujar Susan saat menghubungi Tian yang berada di kantornya.


"Aduh Susan, aku harus pulang ke rumah Fitri dan Sofi. Bukan kah kemaren aku sudah menghabiskan waktu bersama kamu"


"Iya, aku bisa ngerti kok keadaan kamu. Tapi anak yang ada di dalam perutku ini tidak bisa memahami itu. Dia tetap pengen makan bersama papanya. Dia pengen disuapin sama papanya"


"Maaf Susan untuk hari ini aku tidak bisa datang ke rumahmu. Saat ini Fitri dan Sofi benar-benar marah kepada ku dan aku tidak mau membuat mereka semakin marah kepada ku"


"Marah? Marah kenapa?"


"Karena kemarin aku meninggalkan mereka begitu saja di taman wahana demi kamu. Dan tanpa memberitahu kepada mereka terlebih dahulu"


"Ya ampun sayang, aku benar-benar minta maaf dengan apa yang terjadi kepada kamu. Ya sudah tidak apa-apa jika kamu tidak bisa datang hari ini ke rumah ku. Semoga saja Fitri dan Sofi tidak marah lagi kepada kamu dan hubungan kalian akan kembali baik-baik saja" Ujar Susan terdengar bijak.


"Terima kasih atas pengertian kamu dengan keadaanku saat ini" Ujar Tian.


"Iya sama-sama" Jawab Susan menutup ponsel nya.


"Gimana Susan? Apakah Tian akan datang ke sini lagi?" Tanya mama nya Susan.


"Nggak ma, untuk hari ini dan tidak akan datang ke rumah kita"


"Lo kenapa? Apa dia kembali lagi bersikap seperti dulu kepada kamu?"


"Karena saat ini Sofi dan Fitri sedang marah kepada nya. Aku jadi senang sama mendengar berita itu. semoga saja marah mereka berlangsung lama sehingga hubungan Tian dan Fitri benar-benar hancur. Dan pada akhirnya akulah yang akan menjadi Nyonya di rumah itu" Ujar Susan tersenyum puas.


"Kenapa kamu tidak meminta nya untuk tetap datang ke sini? Bukan kah ini waktu yang tepat untuk kamu mengambil hatinya dia. Di mana kamu bisa menghiburnya dia sedih seperti ini"


"Nggak ma, aku harus bermain cantik. Aku tidak mau memaksa Tian. Karena jika aku memaksanya dia pasti akan menjadi risih kepadaku dan berpikir bahwa aku tidak mengerti keadaannya. Oleh karena itu aku membiarkannya seperti ini. Nanti ketika dia sudah lelah, dia pasti akan datang kepadaku dan meminta untukku menghiburnya" Ujar Susan kembali memancarkan senyum kepuasannya.

__ADS_1


__ADS_2