Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 92


__ADS_3

Susan masih penasaran dengan sikap suami nya itu yang lain dari biasa nya. Namun, saat di tanya Tian tidak mau jujur dan beralasan lelah karena pekerjaan di kantor nya.


"Tian, Coba deh kamu jujur kepadaku. Apa yang sebenarnya terjadi. Aku bisa melihat dari raut wajahmu bahwa ada masalah yang mengganggu perasaanmu saat ini" Ujar Susan menatap bola mata Tian dalam-dalam.


Tian menghela napas beratnya. Begitu berat rasanya ia menceritakan apa yang saat ini ia rasakan kepada istri siri nya itu.


"Aku hanya bingung" Ujar Tian pada akhir nya.


"Bingung? Bingung kenapa?" Tanya Susan.


"Kamu tahu, Fitri akan segera menikah dengan laki-laki yang bernama Rendi itu. Malam ini adalah acara lamaran mereka"


"Jadi? Apa yang membuat kamu merasa bingung? Apa jangan-jangan kamu memang masih mempunyai hati untuk Fitri?" Tebak Susan.


"Bukan seperti itu."


"Terus apa yang membuat kamu menjadi bingung seperti ini? Ngomong itu yang jelas dong jangan membuat aku semakin penasaran dan berpikir yang tidak-tidak kepada kamu" Ujar Susan.


"Sofi"


"Sofi? Kenapa dengan Sofi dan apa hubungannya Sofi dengan Fitri yang akan menikah?" Tanya Susan tidak mengerti.


"Ya ada lah San. Secara jika Fitri nanti menikah, apa pak Rendi mau membiarkan Fitri merawat Sofi seperti ini. Secara Sofi bukan lah putri kandung nya. Siapa tahu pak Rendi itu tidak mengizinkan Sofi bersama Fitri. Sedangkan kamu tahu kan jika Sofi itu sangat dekat dengan Fitri. Dia itu menganggap Fitri itu seperti ibu kandungnya sendiri" Ujar Tian.


"Iya juga sih Tian. Tapi jika pak Rendi itu tidak memberikan izin kepada Fitri, ya gak apa-apa lah Tian. Lagian masih ada kita yang merawat Sofi"


"Memang masih ada kita. Hanya saja kamu tahu sendiri bukan bahwa Sofi itu dekat nya sama Fitri"


"Karena itu, kita akan membuat Sofi itu kembali betah dengan kita Tian"


"Kita? Kamu tuh yang selalu mencari masalah dengan tingkah mu yang seenak nya membuat Sofi jadi takut dan gak betah di rumah" Ucap Tian.


"Iya sayang aku minta maaf dengan semua sikap ku. Aku janji aku akan membuat Sofi betah bersama kita. Sekarang aku sadar aku salah. Maafkan aku ya sayang. Aku akan merubah semua sikapku" Ujar Susan meyakinkan Tian bahwa dirinya saat ini benar-benar berubah.


"Iya, sudah lah lupa kan saja masalah itu. Pokok nya saat ini kamu harus bersikap baik dengan Sofi. Jika tidak aku tidak segan-segan melakukan hal yang tidak kamu bayang kan selama ini" Ucap Tian terdengar mengancam istri sirinya itu. Yah Tian sanggup mengatakan hal itu karena saat ini pikirannya benar-benar kacau. Tidak hanya memikirkan masalah Sofi, tapi juga memikirkan aku yang akan menikah dengan laki-laki lain. Jelas membuat hatinya saat ini merasa terluka


Deg....


Sontak mendengar ancaman itu membuat surfing merasa takut dan khawatir. Yah dia takut bahwa Tian akan menjatuhkan talak kepadanya. Secara saat ini dia masih berstatus istri sirinya Tian. Tentu hal itu akan membuat Tian dengan mudah menjatuhkan talak terhadapnya. Dan jika hal itu terjadi dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti. Secara dia tidak bisa menuntut harta gono gini dari Tian ketika mereka sudah bercerai nantinya.


"Aduh, Jika dia nantinya akan menceraikan ku, maka aku tidak akan mendapatkan apapun dari nya. Aku bisa rugi besar jika begitu. Kalau Fitri yang diceraikan dan tidak mendapatkan harta gono gini ya tidak masalah. Karena kedua orang tuanya itu merupakan orang yang mampu berbeda dengan aku. Tentu saja aku tidak mau diceraikan oleh Tian karena aku tidak mau hidup susah lagi" Batin Susan.


"Sayang, aku janji aku akan membuat Sofi kembali kepada kita dan bisa melupakan Fitri. Tolong jangan mengancam ku seperti itu ya sayang. Aku sangat takut jika diancam kamu seperti itu" Ujar Susan mencoba merayu Tian.


"Seperti nya, aku harus mencoba membuka pintu hatiku seutuh nya untuk Susan. Karena tidak ada harapan lagi untukku kembali bersama Fitri yang kelak akan dipersunting oleh laki-laki lain. Dan sepertinya pintu hati Fitri benar-benar sudah tertutup untukku" Batin Tian menatap kosong ke arah depan.


"Bagus, akhirnya janda itu sudah mendapatkan tambatan hatinya. Dengan begitu, aku tidak perlu terlalu khawatir lagi jika Tian akan berpaling dariku dan kembali kepadanya. Saat ini yang harus aku lakukan untuk membuat Sofi kembali kepadaku dan betah bersamaku. Sehingga dia tidak memikirkan Fitri lagi. Dengan begitu Sofi tidak perlu lagi bersama Fitri dan tidak ada alasan lagi untuk Tian menemui Fitri" Batin Susan.


***


"Wah, mama cantik sekali" Puji Sofi kepada ku. Yah malam ini aku didandani karena akan diadakan acara lamaran antara aku dan pak Rendi.


Malam itu aku mengenakan kebaya berwarna biru tosca dengan dibaluti brokat bunga-bunga yang begitu indah yang membaluti seluruh tubuhku.


Kain batik membaluti seluruh kakiku di mana kain batik itu dibuat sebagai rok panjang semata kaki. heels berwarna hitam yang tingginya lima senti menghiasi kakiku. Rambutku yang hitam di sanggul dan dihiasi bunga-bunga juga turut andil menunjang penampilanku malam ini.


"Terima kasih sayang" Ujar ku memeluk putri ku itu.

__ADS_1


Sofi tersenyum, kemudian raut wajahnya yang tadi senang kini berubah menjadi muram kembali.


Aku pun seperti itu melihat Sofi yang tadinya tersenyum, aku pun ikut tersenyum dan melihat dia muram aku pun ikut muram. Karena aku tidak mau melihat putriku itu sedih.


"Sayang kenapa?" Tanyaku kepada putriku itu.


bukannya menjawab pertanyaanku, Sofi malah diam dengan seribu bahasanya.


"Sayang, sini deh" Ujarku mengajak Sofi duduk di atas kasur tempat tidurku.


Sofi pun mendekati ku dan duduk di samping ku.


"Kenapa sayang? Apa Sofi tidak suka jika mama menikah dengan pak Rendi?" Tanya ku dengan menatap bola mata nya. Kembali gadis kecil itu menunduk tanpa mengutarakan perasaannya kepadaku saat ini.


"Sayang, jika Sofi hanya diam seperti ini, jelas akan membuat mama sedih. Mama gak tahu apa yang membuat Sofi seperti ini. Mama jadi bingung nak. Sofi mau ya buat mama sedih"


"Gak ma, bukan begitu maksud Sofi"


"Terus kenapa Sofi seperti ini?"


"Sofi senang mama menikah dengan orang yang bisa membuat mama bahagia. Hanya saja Sofi takut nanti waktu kita bersama akan terbagi ma. Mama gak sepenuh nya lagi milik Sofi" Ucap putri kecil ku itu dengan sedih.


"Ya ampun sayang. Kan sudah mama bilang. Mama akan tetap menjadi mama nya Sofi. Apa pun dan bagaimanapun status mama saat ini. Sofi tetap menjadi putri mama dan mama juga akan tetap menjadi mama Sofi satu-satunya" Ujar ku meyakin kan putri itu.


"Sayang, mama akan selalu sayang sama Sofi dan Sofi akan selalu ada di dalam hati mama. Sofi jangan berpikir yang bukan-bukan lagi ya. Kita akan tetap bersama selamanya" Ucapku dengan penuh keyakinan kepada putriku itu.


Sofi tersenyum mendengar ucapanku kemudian gadis kecil itu langsung memelukku dengan hangatnya aku membalas pelukan itu tak lupa menancapkan kecupan hangat di puncak kepala putri kecilku itu.


"Sofi sayang sama mama" Ucapnya lirih.


"Fitri, nak Rendi beserta keluarganya sudah datang. Mereka sedang menunggu kamu di bawah. Apa kamu sudah siap?" Tanya ibu ku masuk ke dalam kamar ku.


"Sudah kok ma"


"Ya sudah ayo turun" Ucap wanita paruh baya itu lagi kepadaku.


"Iya ma"


"Ayo sayang kita turun ke bawah" Ucap ku kepada Sofi.


gadis kecil itu pun tersenyum dan mengangguk Ia pun menggandeng tanganku untuk turun ke bawah bertemu dengan calon suamiku beserta keluarganya.


Pak Rendi beserta keluarganya yang dari tadi sibuk ngobrol beralih menatapku dan tidak mengedipkan mata mereka saat aku menuruni anak tangga rumahku itu.


Sontak hal itu membuat aku sedikit grogi karena ditatap oleh banyak orang seperti itu.


"Sini sayang duduk di samping mama" Ujar mamaku mempersilahkan ku duduk di sampingnya.


Tanpa sengaja aku dan pak Rendi saling menatap.


"Masya Allah cantik sekali" Ucap pak Rendi pelan kepadaku namun bisa ku artikan bahwa dia sedang memujiku saat ini.


"Aamiin" Ucapku pelan tersenyum dan menunduk malu karena dipuji oleh calon suamiku itu.


"Baik lah tanpa menunggu lama lagi, kita mulai saja acara lamaran kita pada malam hari ini" Ujar si pembawa acara. rangkaian acara demi acara dilalui pada malam hari itu. Hingga tibalah gilingan pak Rendi yang mengatakan sepatah dua patah kata untuk melamar ku.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" Pak Rendi mengucapkan salam.

__ADS_1


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh" Jawab seluruh yang hadir dengan serentak.


"Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan sepatah dua patah kata untuk meyakinkan Fitri dan keluarganya bahwa saya serius ingin menjalani kehidupan bersama Fitri dalam keadaan senang maupun susah" Ujar pak Rendi memulai katanya.


"Fitri, mungkin saya memang bukan yang pertama di dalam hidup kamu. Namun saya akan berusaha dan meyakinkan kamu bahwa saya lah yang orang yang terakhir di dalam kehidupan kamu. Insya Allah dengan izin Allah saya ingin melamar kamu sebagai istri saya yang akan menemani saya dalam keadaan susah maupun senang. Begitupun juga dengan sebaliknya saya akan menemani kamu dalam keadaan susah maupun senang. mungkin pertemuan kita dan perkenalan kita ini singkat hanya beberapa bulan saja. Tapi saya yakin bahwa kamulah yang insya Allah akan menjadi pendamping hidup saya. Karena itulah saya memantapkan hati untuk meminta kamu menjadi pendamping hidup saya. apa kamu bersedia untuk menjalani ta'aruf bersama saya?" Tanya pak Rendi kepadaku di depan para hadirin yang hadir di acara lamaran tersebut.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" Aku mengucapkan salam pembukaan.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh" Jawab mereka serentak.


"Terima kasih kepada pak Rendi yang telah memberikan saya sebuah harapan baru di mana saat saya sedang terpuruk dia selalu hadir menemani saya dan memberikan nasehat-nasehat motivasi untuk saya agar saya bisa bangkit dari keterpurukan yang saya alami. Pak Rendi ini bukan hanya sebagai partner kerja saya tapi dia juga sebagai guru spiritual saya di pengajian dan saya ikuti bersama beberapa ibu-ibu lainnya. Selama perjalanan kita bersama saya yakin bahwa Allah telah mengirim pak Rendi untuk menjadi pelindung saya dan pengobatan luka saya. Dengan begitu saya menerima lamaran pak Rendi untuk menjalani taaruf bersama bapak dan untuk menjalankan ibadah pernikahan sesuai dengan syariat Islam" Ucap ku.


"Alhamdulillah" Ucap para tamu yang hadir mengucapkan syukur atas kelancaran lamaran tersebut.


Acara demi acara telah selesai dilewati pak Rendi bersama keluarganya pun peserta para beberapa saksi pulang ke rumah mereka masing-masing.


Aku dan Sofi kembali ke kamarku untuk merebahkan tubuhku yang terasa lelah karena mempersiapkan acara lamaran ini.


Dan aku yakin para keluarga ku pun pasti merasa lelah karena seharian sibuk mempersiapkan acara lamaran ini dimulai dari dekor, mempersiapkan makanan dan lain-lain sebagainya.


"Selamat malam sayang" Ucap ku mencium puncak kepala putri ku itu.


"Selamat malam mama" Jawab nya.


***


"Bagaimana ya acara lamaran Fitri? Apa berjalan dengan lancar?" Batin Tian bertanya-tanya. Yah meski laki-laki itu ada di rumah sakit untuk menemani Susan istri nya, tapi tetap saja pikiran nya berada di tempat lain yaitu memikirkan ku.


Tian dari tadi melamun di Sofa yang ada di ruangan itu. Dia benar-benar tidak bis lepas dari pikiran nya itu.


"Tian, kamu ngapain masih melamun seperti itu? Lebih baik kamu tidur, hari juga sudah larut" Ujar Susan melihat suami nya itu masih sibuk dengan pikiran nya.


"Iya San, sebentar lagi aku tidur. Aku masih belum ngantuk" Ujar Tian.


"Masih memikirkan Fitri?" Tebak Susan.


"Bukan, bukan seperti itu. Hanya saja ada aku lupa ada sedikit masalah yang harus aku tangani besok" Lagi-lagi Tian berbohong.


"Ada masalah apa sih?"


"Ada beberapa barang yang tidak sesuai dengan harganya" Ucap Tian lagi.


"Lo kok bisa sih seperti itu?"


"Ya aku juga gak tahu kenapa bisa seperti itu. Karena itulah aku memikirkan masalah ini yang tidak bisa membuatku tidur dengan tenang. Aku takut para klien merasa kecewa kepadaku karena telah mempercayai perusahaan kita untuk menangani proyek ini. Tapi aku malah membuat mereka kecewa. Aku harus secepatnya mengatasi masalah ini agar klienku tidak mengetahui keteledoranku"


"Kok bisa sih sayang?" Tanya Susan ikut cemas mendengar masalah Tian. Yah tentu saja dia takut jika hal yang buruk terjadi kepada perusahaan Tian. Karena jika perusahaan Tian bermasalah otomatis dia akan jatuh bangkrut karena tidak ada yang mau bekerja sama dengannya lagi. Dan otomatis Susan tidak akan dinikahi secara resmi oleh Tian karena proyeknya gagal.


"Terus bagaimana?" Tanya Susan ikut cemas dengan masalah yang dihadapi Tian.


"Kamu gak masalah kan jika aku tinggalin sebentar. Aku mau pergi ke kantor sebentar untuk mengecek data-data pekerja yang menangani proyek ini. Sehingga besok aku bisa langsung mencari orang yang terlibat di dalam penanganan proyek ini" Ujar Tian lagi berbohong.


"Ya sudah aku gak apa-apa kok kamu tinggalin"


"Ya sudah aku pergi sebentar ya" Ujar Tian langsung keluar dari ruangan itu dan bertugas menuju ke rumahku.


"Maaf kan aku Susan, aku harus berbohong kepada kamu. Entah Mengapa aku tidak bisa melepaskan Fitri begitu saja. Meskipun di bibir aku bilang bahwa aku sudah bisa menerima kamu sepenuhnya. Tapi di hati ini berat sekali menerima kenyataan ini. Aku benar-benar minta maaf San. Kamu dan Fitri sama-sama penting nya dalam hidup ku sekarang" Ujar Tian dengan mengendarai mobil nya menuju rumah ku.

__ADS_1


__ADS_2