
Tian datang ke rumah ku untuk berkunjung melihat keadaan Sofi yang hampir seminggu dia tinggalkan bersama ku karena harus mengurus Susan dan menemani istri nya itu di rumah sakit.
"Jadi kamu akan menikah dengan ustad Rendi?" Tanya Tian. Bisa ku lihat raut wajah kekecewaan di hati nya saat ini.
"Iya" Jawab ku mengangguk.
"Malam ini dia datang bersama keluarga nya untuk melamar ku" Ujar ku lagi.
Tian terdiam dengan seribu bahasa nya. Bisa ku lihat bahwa dia sedang memikirkan sesuatu.
"Ya Ampun, tidak ku sangka kamu akan segera menikah dengan laki-laki lain Fitri. Apa kah secepat itu rasa cinta mu berubah kepada ku?" Batin Tian.
"Ada apa Tian?" Tanya ku melihat laki-laki itu terdiam.
"Gak, hanya saja aku tidak bisa menyangka kamu secepat ini akan menikah lagi" Ujar nya.
"Awal nya aku belum yakin dengan semua ini. Aku masih ragu untuk menerima pak Rendi sebagai suami ku. Tapi karena mengingat selama ini dia baik kepada ku, dan selalu ada di saat aku membutuhkan nya, aku menjadi yakin. Bahwa Allah telah menuliskan takdir ku bersama nya. Terlebih aku juga sering meminta petunjuk sama Allah agar memberikan ku keyakinan di hati atas pilihan ku ini" Jelas ku lagi kepada mantan suami ku itu.
"Hati ini begitu sakit ketika mendengar kamu akan menikah lagi Fitri. Aku belum bisa sepenuh nya melupakan mu meski aku bersama Susan. Tapi aku tidak mau membuat mu tertekan dan terluka lagi karena ku. Aku hanya bisa mencintai mu dalam diam ku" Batin Tian lagi.
"Begitu ya, aku doa kan semoga kalian hidup bahagia. Dan semoga semua urusan nya di permudahkan dan di lancarkan hingga hari H tiba" Ucap Tian meski dengan hati yang sedih.
"Aamiin terima kasih doa nya" Ujar ku dengan tersenyum.
Tian menatap ku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
"Senyuman itu yang selalu menyambut ku pulang kerja. Di mana senyuman itu mampu menghilangkan segala lelah ku. Tapi kini senyuman itu akan menjadi milik orang lain. Dan bibir itu, bibir yang manis selalu menjadi candu ku kini akan di nikmati oleh lelaki lain" Batin Tian lagi.
"Kapan acara pernikahan nya?"
"Belum tahu sih Tian. Baru juga acara lamaran nanti malam kamu sudah tanya hari pernikahan nya" Ujarku lagi.
"Ya aku kan hanya bertanya. Siapa tahu kamu sudah menentukan nya bersama pak Rendi. Jadi nanti malam itu hanya sebagai tanda beneran jadi nya" Ujar Tian.
"Belum kok Tian. Aku dan pak Rendi belum membahas masalah ini. Semua nya akan di bahas nanti malam. Kedua pihak keluarga lah yang menentukan semua nya. Kami hanya duduk diam dan menerima semua keputusan itu saja" Ujar ku lagi.
"Oh begitu" Jawab Tian singkat.
"Oh ya bagaimana keadaan Susan? Apa dia sudah mendingan?"
"Alhamdulillah Susan sudah membaik. Saat ini dia memang harus berada di rumah sakit karena dokter mau memantu perkembangan janin nya dan juga melihat apa kah miom tersebut benar-benar sudah bersih atau tidak. Takut nya ada akar-akar dari miom tersebut tertinggal dan nanti nya akan tumbuh miom baru. Karena itu lah Susan harus tinggal dan melakukan beberapa pengobatan lagi. Setelah dipastikan semuanya benar-benar bersih dan janin nya juga sudah berkembang dengan baik, maka Susan akan diperbolehkan pulang" Jelas Tian lagi.
"Oh begitu, semoga Susan segera diberikan kesembuhan dan juga semoga bayi yang ada di dalam kandungan Susan itu baik-baik saja dan berkembang dengan baik. Sehingga Susan bisa pulang secepatnya aamiin" Ujar ku.
"Aamiin makasih doa nya"
"Iya sama-sama"
"Oh ya, sayang papa ini papa belikan boneka panda untuk kamu" Ujar Tian memberikan bingkisan yang berisi boneka panda yang ia belikan tadi sebelum ia tiba di rumahku.
"Wah, cantik sekali. Terima kasih papa" Ucap gadis kecil itu kembali memeluk papanya dengan penuh kasih sayang.
"Sama-sama Sayang"
"Fitri, maaf ya seperti nya aku masih meminta mu untuk merawat Sofi lagi deh hingga Susan benar-benar di nyatakan sembuh dan boleh pulang ke rumah"
"Gak apa-apa kok Tian. Aku senang jika Sofi terus-terusan berada di rumah ini. Kamu fokus aja untuk kesembuhan Susan. Masalah Sofi, kamu jangan khawatir ada aku yang menjaganya" Ujar ku lagi.
__ADS_1
"Terima kasih atas kebaikan kamu ya Fitri. Meski aku telah mengecewakanmu, tapi kamu tetap mau membantuku dalam keadaan susah seperti ini" Ujar Tian lagi merasa tersentuh atas kebaikan ku.
"Sudah, jangan berbicara seperti itu. Yang berlalu biarkanlah berlalu jangan diungkit lagi masalah yang telah lalu. Sekarang kita hadapi masa depan kita masing-masing. Dan sebagai teman, aku akan selalu membantu kamu semampuku" Ujar ku lagi.
"Teman? Hanya teman kah saat ini kamu menganggap ku Fit? Posisi ku benar-benar telah di gantikan oleh Rendi" Batin Tian dengan sedih.
"Sekali lagi terima kasih ya. Kalau begitu aku permisi dulu. Aku harus kembali ke rumah sakit karena mama Susan pasti mau pulang. Kasihan dia sudah seharian menjaga Susan di rumah sakit" Jelas Tian.
"Jadi kalian bergiliran?"
"Iya, jika siang mama Susan lah yang menjaga Susan di rumah sakit karena aku harus pergi bekerja. Dan malam nya baru lah aku yang menjaga Susan" Jelas Tian lagi.
"Aku permisi dulu ya. Sofi papa pulang dulu ya. Baik-baik ya sama mama Fitri" Ujar Tian.
"Iya papa" Jawab gadis kecil itu. Aku hanya menjawab nya dengan senyuman.
***
"Ya Allah, mengapa hati ini merasa sakit mendengar Fitri mau menikah dengan lelaki lain. Aku tidak bisa bersama nya lagi" Ujar Tian saat masih mengendarai mobil nya membelah jalan raya untuk pergi ke rumah sakit.
"Sejujurnya hati ini masih menginginkan Fitri untuk kembali di dalam hidup ku. Aku belum bisa melupakan Fitri sepenuh nya. Tapi bagaimana pun aku harus rela untuk kebahagiaan nya" Ujar Tian lagi terus fokus pada kendaraan nya.
"Ya hallo ma" Ujar Tian saat ponsel nya berdering.
"Tian kamu di mana? Kamu sudah pulang kantor kan? Ini saat nya kamu lagi yang menjaga Susan. Mama mau pulang mau bersih-bersih" Ujar wanita paruh baya itu kepada Tian.
"Iya ma, ini aku lagi di jalan menuju ke rumah sakit. Tadi aku pergi ke rumah Fitri sebentar untuk bertemu dengan Sofi" Ujar Tian lagi dengan jujur.
"Ya sudah jika begitu. Cepat ya kamu datang ke sini" Ujar wanita paruh baya itu lagi.
"Iya ma, sebentar lagi aku tiba" Jawab Tian.
***
"Tian baru pulang dari rumah Fitri"
"Ke rumah Fitri? Ngapain?" Tanya Susan.
"Kata nya sih mau melihat keadaan Sofi"
"Lo, bukan nya bisa ya Dia menanyakan kabar Sofi melalui ponsel saja tidak harus ke rumah Fitri kan?" Ujar Susan terlihat cemburu mendengar mamanya mengatakan bahwa dia pergi ke rumahku meski dengan alasan untuk bertemu dengan Sofi.
"Ya kalau melalui ponsel kan mereka tidak bisa bertemu dan tidak bisa melepas Rindu. Emangnya kenapa sih San? Wajar dong jika Tian itu ingin bertemu dengan putrinya"
"Ya emang nggak apa-apa sih jika Tian itu bertemu dengan Sofi. Yang jadi masalahnya itu adalah dia bertemu dengan Fitri. Aku nggak suka sama sekali hal itu. Bisa-bisa nanti janda itu merayu suamiku lagi" Ujar Susan. Ya sepertinya wanita hamil itu kembali kepada tabiat awalnya. Begitulah sikap Susan yang selalu berubah-ubah dan tidak tetap pendirian. Ketika sedang sakit ia mempasrah kan semuanya dan bersikap baik. Tapi setelah sehat dia lupa dan dia kembali kepada tabiat awalnya.
"Makanya kamu itu harus cepat sembuh dan kamu harus bisa kembali mengambil hati Sofi agar Sofi dekat sama kamu. Sehingga dia tidak perlu lagi pergi ke rumah Fitri dan tidak lagi memberi jalan kepada Tian dan Fitri untuk bertemu" Ujar wanita paruh baya itu kepada putrinya.
"Iya, Mama benar aku harus bisa mengambil kembali hati Sofi dan aku harus kembali dekat sama Sofi. Karena aku tidak mau Fitri akan menggoda suamiku lagi"
"Kamu sih yang memberi jalan kepada mereka untuk terus-terusan bertemu. Kenapa juga kamu membuat Sofi tidak betah di rumah dan malah membiarkan suatu itu betah di rumah orang lain. Jadinya kamu sendiri kayaknya menanggung kerugiannya seperti ini"
"Iya juga sih ma. Ya ampun Kenapa aku sampai tidak kepikiran seperti itu ya. Seharusnya aku itu berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu. Kalau seperti ini aku juga yang rugi dan aku juga yang akan kehilangan suamiku. Nggak, aku nggak mau ini terjadi aku akan berusaha untuk membuat keadaan ini kembali pulih seperti semula" Ujar Susan membulatkan tekadnya untuk membuat Sofi kembali kepadanya seperti dahulu sebelum dia menikah dengan Tian.
"Bagus, mulai sekarang kamu rubah sikap kamu yang jengkel terhadap anak itu"
"Iya ma, aku akan mengubah semua sikap buruk ku kepada Sofi" Ujar Susan dengan mantap.
__ADS_1
"Oh ya San dalam keadaan seperti ini kamu harus bisa juga memanfaatkan situasi mu"
"Memanfaat kan situasi bagaimana maksud mama?"
"Aduh, masa gak ngerti sih. Maksud mama, kamu itu harus meminta Tian untuk menikahi mu secepat nya. pasti Tian akan mewujudkan apa yang kamu minta saat ini" Ujar mama Susan lagi.
"Aduh ma, sudah ku katakan Tian itu akan menikah ku. setelah dia selesai menangani proyeknya"
"Iya mama tahu, tapi berapa lama Susan? Oke kalau proyeknya itu selesai beberapa minggu lagi, Jika beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun bagaimana? Apa kamu mau selamanya menjadi istri sirinya Tian?" Tanya mama Susan mulai menghasut putrinya itu.
"Ya nggak lama masa iya sih aku mau menjadi istri siri selamanya. Aku juga ingin menjadi istri sahnya Tian"
"Nah karena itu kamu harus mendesak Tian untuk menikahi mu secepat nya"
"Iya ma, nanti akan aku usahakan untuk meminta Tian menikahi ku secepat nya. Oh ya, mama gak jadi pergi liburan bersama teman-teman mama?"
"Bagaimana mama mau pergi, kamu nya saja masih di rumah sakit seperti ini. Gak mungkin dong mama tinggalin kamu pergi, sedangkan Tian siang nya sibuk kerja. Siapa yang mau jagain kamu" Ujar wanita paruh baya itu kepada putrinya. Meskipun wanita pada bayi itu mata duitan tapi dia sangat sayang kepada Susan putrinya yang tinggal satu-satunya itu.
"Iya juga sih ma" Ujar Susan lagi.
"Maaf ma aku terlambat" Ujar Tian masuk ke ruangan Susan.
"Iya gak apa-apa. Ya sudah San, mama pulang dulu ya. Sudah ada Tian yang menemani kamu di sini" Ujar wanita paruh baya itu berdiri dari tempat duduknya dan mengambil tas yang dari tadi tergeletak di atas sofa yang ada di ruangan itu untuk pulang ke rumahnya.
"Ya ma, hati-hati di jalan ya" Ujar Susan lagi.
"Iya sayang cepat sehat ya nak. Ingat pesan mama tadi" Bisik wanita paruh baya itu sambil mencium puncak kepala putri nya.
"Iya ma. Aku akan melakukan apa yang mama minta" Ujar Susan lagi.
"Tian titip Susan ya" Ujar mama Susan.
"Iya ma" Jawab Tian mencium punggung tangan mama mertua nya itu.
Wanita paruh baya itu pun pergi meninggalkan kedua pasangan suami istri itu.
"San, aku mau bersih-bersih dulu ya" Ujar Tian. Dengan langkah yang lemah lelaki itu pergi ke kamar mandi yang ada di ruangan istri nya itu untuk mandi.
"Kenapa dengan Tian? Seperti ada yang tidak beres dengan nya. Dia tampak sedih setelah pulang dari rumah Fitri. Apa yang sebenar nya terjadi?" Batin Susan merasa heran dengan perubahan sikap suami nya itu. Biasa nya Tian tidak seperti itu, tapi hari ini dia terlihat berbeda.
"Sayang, bisa tolong suapin aku buah? Aku pengen makan buah apel itu" Pinta Susan dengan bernada manja kepada suaminya itu.
"Sebentar ya" Ujar Susan langsung mengambil apel yang ada di meja yang terletak di samping tempat tidur Susan. Laki-laki itu pun langsung membuka kulit apel tersebut dan memotongnya kecil-kecil untuk istrinya itu.
Meski saat ini Susan melihat yang sedang melayaninya dengan baik. Tapi Susan tahu bahwa hati dan pikiran Tian tidak berada di tempatnya.
"Sayang, ada apa sih? Apa ada masalah di kantor atau ada masalah di rumah Fitri tadi?" Tanya Susan berhati-hati.
"Gak ada apa-apa kok. Aku hanya lelah saja menangani beberapa pekerjaan di kantor" Bohong Tian.
"Ini apel nya, buka mulut mu" Ujar Tian menyodorkan potongan-potongan apel ke dalam mulut istrinya itu.
Susan pun menyantap buah apel yang disodorkan kepadanya itu. Namun pandangannya tak lepas dari wajah Tian yang terlihat begitu kusut dan sedang memikirkan sesuatu.
"Sayang, coba deh kamu cerita sama aku. Ada apa sebenar nya. Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Coba deh kamu cerita Siapa tahu aku bisa bantu atau setidaknya bisa meringankan beban pikiran kamu karena sudah bercerita kepadaku" Ujar Susan mencoba membujuk Tian untuk menceritakan apa yang terjadi kepadanya sehingga membuat dirinya tidak semangat seperti itu.
Tian menghela nafas beratnya. Sepertinya laki-laki itu sulit untuk menceritakan perasaan yang ia rasakan saat ini kepada Susan.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa kok. Hanya lelah saja" Bohongnya lagi. Tentu saja dia tidak mau jujur kepada istri sirinya itu karena itu akan membuat Susan menjadi sedih ataupun cemburu. Jika dia mengatakan bahwa dia sedang memikirkan ku yang akan menikah dengan laki-laki lain. Tentu saja dia tidak mau membuat Susan merasa cemburu kepadaku.