Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 112


__ADS_3

Aku, Rendi, dan juga ke dua orang tua ku baru saja tiba di kota kelahiran ku. Dan kami pun di hidangkan makanan oleh abang dan juga kakak ipar ku. Yah memang sedari siang tadi kakak ipar ku sudah menyiapkan makan siang untuk kami. Hanya saja kami singgah di kota Siak untuk melihat monumen-monumen sejarah, jadi nya kami tidak menyantap makanan yang di sediakan nya. Baru sore hari lah kami baru bisa menyantap makanan tersebut.


"Abang kamu yang ini gak punya anak?" Tanya Rendi kepada ku. Yah harap di maklumi ya mak. Rendi menikah dengan ku karena taaruf jadi dia belum begitu mengenal keluarga ku begitu pun aku belum terlalu mengenal keluarga nya.


"Ada kok, anak nya dua. Laki-laki semua. Sekarang anak nya lagi menempuh pendidikan di salah satu pesantren yang ada di pulau Jawa" Jelas ku kepada suami ku itu.


"Oh, gitu ya" Ujar Rendi mengangguk mengerti.


***


Aku mengajak Rendi untuk berkunjung ke sanak saudara ku yang berada di kota kelahiran ku itu. Yah ini juga sudah menjadi adat tradisi daerah kami di sini jika ada yang baru menikah, harus membawa nya mengunjungi rumah sanak saudara terdekat. Berhubungan kami berada di kota kelahiran ku ini, dan di sini masih banyak saudara kami, karena itu lah aku membawa Rendi berkunjung ke rumah saudara-saudara ku. Lantaran waktu pernikahan ku kemaren tidak semua saudara ku yang bisa hadir. Ada juga yang sebagian berhalangan untuk hadir di acara pernikahan ku itu.


"Ini rumah saudara ku, ini rumah pak cik ku. Adik dari mama ku" Jelas ku kepada suami ku itu"


"Ayo masuk" Ajak ku lagi.


"Assalammualaikum" Ucap salam ku berikan.


"Waalaikumsalam" Jawab si tuan rumah membuka pintu rumah nya.


"Eh, Fitri ayo masuk" Ujar pak cik ku mempersilahkan kami masuk ke rumah nya.


"Duduk, duduk" Ujar nya lagi.


"Jadi ini suami mu Fit?"


"Iya pak cik. Ini suami ku, nama nya Rendi"


"Maaf ya, kemarin waktu acara pernikahan kalian kami gak bisa hadir"


"Iya gak apa-apa kok pak cik. Kami mengerti. Oh ya ibu mana?"


"Ada di dapur, lagi membuat minuman"


"Anak-anak pak cik kemana?" Tanya ku lagi.


"Lagi keluar mereka, kata nya mau membeli sesuatu" Ujar pak saudara ku itu lagi.


"Ini silahkan di minum teh hangat nya" Ujar istri dari pak cik ku itu menyajikan tiga gelas teh hangat di meja tamu.


"Iya bu, makasih ya"


"Kapan tiba di Pakning Fit?" Tanya ibu ku.


"Sore tadi bu. Sudah lama juga gak pulang ke sini. Jadi kangen deh. Karena cuti ngajar jadi nya yah pergi ke sini deh. Sekalian mengunjungi sanak saudara" Jelas ku.


"Iya semenjak kamu kuliah di Pekanbaru, terus keluarga mu pindah di sana memang sudah lama ya kalian ke sini" Ucap pak cik ku menyempeli.


"Iya pa cik. Benar itu ini baru lah kami kembali lagi setelah sekian lama" Jawab ku.


"Papa dan mama mu juga ikut?"


"Ikut kok, mereka ada di rumah abang. Capek mereka mau istirahat saja di rumah" Ujar ku.


Aku dan Rendi pergi mengunjungi saudara-saudara ku. Rumah pak ngah ku, rumah pak udo ku, rumah pak usu ku. Yah hanya beberapa rumah yang kami kunjungi karena kami memilih yang tertua saja. Sedangkan rumah sepupu-sepupu ku yang sudah memiliki keluarga kami tidak pergi ke sana. Karena waktu sudah larut di malam. Jadi kami memutuskan untuk pulang saja.


***


"Yang kita kunjungi tadi itu adik-adik nya mama mu semua?"


"Gak kok, adik mama ku hanya pak cik, pak ngah, dan pak udo ku. Kalau pak Usu itu adik nya papa. Saudara kandung papa banyak tinggal di Dumai. Yang di sini hanya saudara kandung dari mama. Hanya pak Usu sendiri adik papa yang tinggal di desa ini" Jelas ku kepada suami ku itu setelah kami tiba di rumah.


"Oh gitu"


"Iya bang. Oh ya kapan kamu mengajak ku ke berkunjung ke rumah saudara-saudara mu?"


"Tunggu kita libur panjang ya sayang. Soal nya keluarga ku banyak di Palembang. Hanya kami saja yang di Pekanbaru" Jelas Rendi.


"Saudara kandung nya mama maupun papa semua nya berada di Palembang. Gak ada yang di Pekanbaru. Jadi kalau kita ke sana, harus menunggu waktu libur panjang sayang" Jelas Rendi lagi.

__ADS_1


"Oh gitu oke deh"


"Ya sudah ayo kita tidur" Ajak Rendi.


Aku tidur di pelukan suami ku itu. Yah begitu nyaman dan aman rasa nya berada di dalam pelukan laki-laki yang mencintai kita.


"Ya Allah jadi kan lah laki-laki ini sebagai laki-laki yang terakhir di dalam hidupku. Kekal kan lah hubungan rumah tangga kami hingga akhir hayat Aamiin" Doa ku dalam hati.


***


Aku menggosok-gosok mata ku yang masih terasa berat karena masih mengantuk. Aku mematikan alarm ponsel ku yang berdering. Yah sengaja aku menyetel alarm ponsel ku pukul tiga lewat tiga puluh subuh agar aku tidak keduluan bangun dari Rendi. Semenjak di malam pertama itu di mana Rendi bangun lebih awal dari ku, aku langsung berinisiatif untuk bangun lebih awal dari suami ku itu.


Aku langsung membersihkan diri dan bersiap-siap untuk melaksanakan rangkaian solat sunah sebelum azan berkumandang.


"Bang, bangun bang" Ujar ku membangun kan suami ku itu.


"Bang, ayo kita solat sunah sama-sama" Ajak ku lagi.


Rendi pun bangun dari tidur nya. Laki-laki itu pun menggosok-gosok mata nya yang masih terasa berat karena masih mengantuk. Dengan langkah yang berat Rendi masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.


***


"Wah ternyata udara di desa mu sangat sejuk dan asri ya Fit. Segar sekali" Ujar Rendi saat kami memutuskan untuk jalan-jalan setelah melakukan solat subuh. Kami pun memutuskan untuk mengelilingi desaku dengan berjalan kaki. ada beberapa warga desaku juga yang berjalan kaki di subuh itu untuk menikmati suasana kesejukan di pagi hari.


"Iya bang, nama nya juga masih perdesaan jadi yah seperti ini lah udara nya. Berbeda dengan suasana di perkotaan, sudah banyak terdapat bangunan-bangunan tinggi dan jarang dijumpai pepohonan sehingga udaranya berbeda" Jelas ku.


"Eh Fitri. Kamu Fitri kan?" Tanya salah satu teman ku yang bernama Ratna.


"Eh Ratna" Ujar ku yang tampa sengaja kami bertemu di jalan pagi itu.


"Kapan kamu tiba di sini? Sudah lama gak ketemu" Ujar nya lagi.


"Kemarin sore aku baru saja tiba di sini" Jawab ku.


"Oh ya, kenalin ini suami ku bang Rendi. Bang Rendi ini Ratna teman bermain ku sewaktu kami kecil" Ujar ku kepada suami ku itu.


Rendi dan Ratna hanya tersenyum satu sama lain.


"Meski mama sudah marah dan selalu menghukum ku jika aku mandi laut tampa sepengetahuan nya, tetap saja aku mandi di sana. Tapi bang yang aneh nya aku gak bisa berenang sama sekali. Padahal bisa di katakan aku selalu saja mandi baik itu di laut, atau pun mandi di parit-parit besar yang terletak di kebun karet milik papa dulu. Jika hari hujan lebat, parit itu penuh di isi oleh air. Jadi kami berenang di sana. Gak kami sih mereka yang bisa berenang saja. Aku gak bisa berenang sama sekali" Ujar ku.


"Jadi kalau kamu gak bisa berenang kamu mandi nya di mana?"


"Aku mandi nya di tepi laut saja. Di bagian dangkal begitu juga di parit. Kalau Ratna ini jagoan berenang nya. Gaya apa pun dia bisa mereka mandi nya di bagian dalam" Ucap ku lagi.


Rendi tersenyum mendengar cerita masa kecil ku. Aku sengaja tidak menyebutkan nama Tian di dalam cerita ku karena aku takut nanti Rendi akan merasa cemburu. Secara saat itu Tian juga merupakan teman sepermainan ku di desa ini.


Kami juga sering mandi bersama di laut maupun di parit-parit. Pokok nya masa kecil ku itu penuh dengan kebahagiaan. Yah berbeda dengan anak-anak zaman sekarang yang tidak ada melakukan hal seperti kami itu. Di mana anak sekarang malah sibuk dengan ponsel nya.


"Oh ya, Dulu aku mengaji di mushola yang tak jauh dari rumah kami. Itu mengaji nya pukul lima sore. Aku pergi dari rumah bilang nya ke mushola pukul tiga sore. Alasan nya bilang sama mama mau bantuin beres-beres mushola tapi nyata nya aku malah pergi ke laut rumah Ranta dan mandi di sana" Ujar ku lagi.


"Meski selalu di omelin sama mama bahkan terkadang mama juga memukul ku karena bandel gak bisa di bilangin. Yah karena mama takut ada buaya nama nya juga laut kan. Tapi tak juga aku merasa kapok, masih saja mau mandi di sana" Jelas ku lagi tertawa kecil.


"Walau begitu bang, masa kecil kami sungguh bahagia. Jika bisa di ulang, ingin rasa nya mengulang kembali masa-masa indah itu" Ujar ku lagi.


"Abang yang mendengar cerita mu saja merasakan keseruan nya. Apa lagi kalian yang menjalani nya"


"Oh ya Rat, kamu masih tinggal di laut sana?"


"Iya, kami masih tinggal di sana. Apa kamu mau berkunjung ke rumahku?"


"Oh maaf Rat, bukan nya apa-apa Tapi kelihatannya matahari sudah mulai menampakkan cahayanya. Aku dan bang Rendi harus pulang keluarga mau mempersiapkan sarapan. Nanti mama dan papaku malah mencari kami karena nggak pulang-pulang"


"Oh mama dan papa mu juga ada di sini?"


"Iya mereka ikut bersama kami mendengar kami mau pulang kampung. Sudah lama juga kami tidak mengunjungi kampung halaman ini"


"Oh ya sudah, titip salam untuk mereka ya"


"Oh oke, nanti akan aku sampaikan"

__ADS_1


"Ya sudah Rat, kami pulang dulu ya"


"Iya"


***


"Ternyata masa kecil mu seru juga ya Fit" Ujar suami ku saat kami dalam perjalanan pulang.


"Iya bang, kami juga sering bermain bola gasti, bola pecah piring, main lompat tali, pokok nya main tradisional waktu kecil-kecil dulu. Seru banget waktu itu. Bahagia sekali waktu itu. Andai waktu bisa di putar, ingin rasa nya aku memutar masa-masa kecil ku itu" Ujar ku lagi.


"Terus, kamu gak bahagian hidup bersama ku saat ini?" Tanya Rendi kepada ku.


"Ya ampun bang, kok gitu sih pertanyaan nya. Ya bahagia dong memiliki suami seperti kamu" Ujar ku tersenyum lembut.


Rendi tersenyum senang mendengar ucapan ku kepada nya.


***


"Ayo silahkan di makan sarapan nya" Ujar kakak ipar ku menyajikan makanan di meja makan. Yah selama kami di sana kakak ipar ku lah yang menyajikan makanan untuk kami.


"Sore ini kita pergi ke danau buatan ya. Yaitu Telaga Suri Perdana. Pengen ke sana deh. Ini tempat wisata pertama yang ada di Sungai Pakning" Ujar ku lagi.


"Iya ramai juga para pengunjung di sana. Terlebih jika hari libur pasti penuh itu"


"Malam gak buka kak tempat itu?"


"Gak buka nya sore dari jam dua sampai jam enam"


"Oh gitu ya"


"Mama mau ikut kalian ya ke sana. Mau lihat juga tempat wisata itu seperti apa"


"Nanti mama sama papa naik bebek aja ma, mengingat masa-masa muda dulu" Ujar kakak ku bercanda.


"Bebek air maksud nya? Pakai kayuh seperti sepeda?"


Kakak iparku yang memiliki dua anak itu pun mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh mamaku.


"Gak ah, nanti malam mama yang pingsan dan papamu malah sesaknya kambuh lagi karena mengayuh bebek tersebut" Ujar mama ku.


Sontak kami pun tertawa lepas mendengar ucapan dari mamaku itu.


"Mama hanya mau melihat-lihat wisata tersebut bukan untuk menaikinya"


"Oh ya, dari tadi aku nggak ngelihat papa. Di mana dia?" Tanya ku.


"Pergi rumah teman nya, rumah pak Yem. Sudah lama mereka tidak saling bertemu maka nya dia jalan ke sana" Ujar mama ku lagi.


"Gak sarapan dulu apa?"


"Ya gak, tadi sarapan belum siap papa mu sudah pergi saja ke rumah teman nya itu"


"Mungkin sudah kangen berat dia sama teman nya itu ma. Secara sudah berapa tahun mereka gak ketemu"


***


"Wah ternyata cukup bagus juga ya tempat wisata nya" Ujar mama ku ketika kami sudah tiba di Telaga Suri Perdana itu.


Yah tempat wisata nya cukup Instagram mebel cocok untuk tempat berfoto-foto. Tempat nya juga bersih. Di sini juga terdapat bebek air, speedbod, mobil-mobilan dan juga motor untuk anak-anak. Ada juga mewarnai lukisan.


Sontak melihat lukisan yang terpajang di sana aki menjadi keingat sama putri kecil ku Sofi. Yah jika dia melihat lukisan tersebut, pasti dia merasa senang dan bersemangat untuk mewarnai nya. Secara hobi nya melukis.


"Wah, ada mewarnai lukisan di sana bang, coba ada Sofi, pasti dia senang sekali bisa mewarnai seperti ini" Ujar ku kepada bang Rendi.


"Iya kamu benar. Apa kita beli aja lukisan itu sebagai hadiah untuk nya"


"Ide bangus itu bang. Ya sudah kita beli saja lukisan nya pasti Sofi akan senang" Ujar ku.


Aku dan Rendi pun membeli lukisan yang tinggal di warnai saja oleh anak-anak itu. Ku pilih lukisan Princess karena putri kecilku itu menyukai Princess.

__ADS_1


"Pasti Sofi akan sangat bahagia mendapatkan lukisan ini. Jadi kangen sama dia" Ujar ku lagi kepada laki-laki yang sudah menjadi suami ku itu.


__ADS_2