Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 60


__ADS_3

Sofi tampak bahagia sekali ketika aku dan Tian mengajak nya ke taman bermain menikmati wahana demi wahana di sana. Maklum saja kami sudah lama tidak menikmati waktu bersama seperti ini.


Setelah puas bermain wahana, kami pun memutuskan untuk menonton film bersama. Sungguh hari itu hari yang sangat membahagiakan untuk Sofi.. Karena di hari itu dia merasakan begitu lengkap keluarga nya.


***


"Ma, aku benar-benar gak terima Tian memperlakukan seperti ini kepada ku. Aku seperti sampah di mata Tian" Ujar Susan geram mengingat peristiwa itu.


"Iya mama juga gak suka sama Tian. Laki-laki itu benar-benar keterlaluan karena bertindak seenak nya"


"Ma, pokok nya kita harus melakukan sesuatu agar Tian mau menandatangani surat perjanjian bahwa dia tidak akan menceraikan ku meski anak ini lahir"


"Iya tapi bagaimana cara nya?"


"Bagaimana kalau kita culik saja Sofi. Kita ancam dia agar dia mau menandatangani surat yang mengatakan tidak akan menceraikan aku di saat anak ini lahir dan jika dia melakukan nya, maka sebagian harta nya akan menjadi milik kita" Saran dari wanita paruh baya itu.


Memang tiada lain yang ada di otak mama Susan itu. Hanya harta, harta, dan harta.


"Gak ma, jika kita melakukan itu, aku yakin Tian akan semakin membenci ku Dan jelas dia akan semakin yakin ingin menceraikan ku" Ujar Susan lagi.


"Terus bagaimana? Otak mama benar-benar buntu memikirkan samua ini"


"Iya ma, aku juga begitu. Aku memang sudah tidak bisa berpikir lagi"


"Atau begini saja, bagaimana kamu pura-pura sakit saja untuk menarik perhatian Tian. Meski dia tidak peduli dengan mu, tapi mama yakin dia tidak akan mungkin tega dengan anak nya yang ada di dalam perut mu itu. Pasti dia akan bersimpati kepada kamu dan juga anak mu" Ujar saran dari mama nya Susan.


"Ha? Sakit? Sakit bagaimana maksud mama?" Tanya Susan tidak mengerti.


"Ya sakit apa kek gitu, agar Tian percaya kepada kamu dan menaruh simpati terhadap mu" Ujar mama nya lagi.


"Iya sih ma, tapi sakit apa ya?" Tanya Susan lagi.


"Bagaimana kamu sakit kangker aja. Kangker otak, perut atau apa gitu. Jadi nya Tian akan bersimpati kepada kamu"


"Kangker? Ma, yang benar saja. Masa iya sih aku harus berpura-pura sait seperti itu. Terus bagaimana jika Tian tidak percaya bagaimana?"


"Aduh Susan sayang, kenapa sih kamu ini jadi orang bodoh banget? Ya kita bayar lah orang untuk membuat keterangan palsu bahwa kamu itu beneran sakit. Dengan ada surat itu akan membuat Tian percaya dan bersimpati kepada mu" Jelas Mama Susan memberikan ide liciknya.


Susan tersenyum sumringah mendengar apa yang dikatakan oleh mamanya tadi. Sungguh itu ide yang sangat cemerlang baginya. Karena dengan begitu Tian pasti akan bersimpati dan akan kembali perhatian kepada dirinya. Terlebih saat ini ia sedang mengandung anak dari Tian.


"Bagus ma, ternyata ide mama bagus juga. Aku setuju dengan ide mama. Besok kita akan menjalan kan rencana kita" Susan tersenyum puas.


***


"Hallo, Tian" Ujar mama Susan saat telfon nya di angkat oleh Tian.


"Iya ada apa ma?" Tanya Tian.


"Sekarang kamu di mana Tian?"


"Aku lagi di kantor ma" Jawab Tian lagi.


"Tian, bisa gak kamu datang ke rumah mama sekarang? Tolong mama Tian dari tadi Susan mengeluh sakit perut nya" Ujar mama Tian.


"Sakit perut? Sakit perut bagaimana maksud mama?" Tanya Tian lagi tidak mengerti.


"Mama juga tidak tahu Tian yang jelas dia meringis kesakitan. Mama pusing mau bagaimana? Ayo dong Tian bantu mama. Tolong kamu datang ke sini" Ujar mama Susan lagi dengan nada panik nya.


"Iya ma, iya aku akan ke sana sekarang" Tian pun ikut panik dan bergegas pergi ke rumah istri siri nya.


***


"Bagaimana ma? Apa Tian percaya dengan semua ini?"


"Iya, Tian percaya dan dia akan segera ke sini. Kamu berbaring di tempat tidur dan berlagak sakit beneran" Perintah mama nya.


"Sebentar ma, aku mau berdandan dulu selayak nya aku ini beneran sakit" Ujar Susan mengambil beberapa alat make up nya untuk berdandan seperti orang sakit.


"Wah, sempurna. Kamu memang kelihatan seperti orang sakit Susan. Anak mama satu ini memang pintar dalam berakting" Puji wanita paruh baya itu.


"Oke ma, nanti setelah Tian datang mama suruh saja dia langsung ke kamar ya" Ujar Susan lagi.

__ADS_1


"Oke, mama ke depan dulu untuk menunggu kedatangan Tian"


Wanita paruh baya itu pun langsung pergi ke depan teras untuk menunggu kedatangan menantu nya itu.


Ia tampak mondar mandir seperti orang cemas. Air mata buaya nya kini mengalir di pipi nya yang sudah terlihat keriput itu.


Mobil Tian tampak berbelok di halaman rumah yang di belikan nya untuk Susan istri siri nya.


"Ya ampun Tian. Akhir nya kamu datang juga. Mama jadi lega melihat kamu sudah tiba" Sambut nya.


"Bagaimana keadaan Susan ma?" Tanya Tian.


"Susan berada di kamar nya. Ayo masuk"


Tian mengikuti jejak langkah mertua nya itu.


"Tian, Sayang. Terima kasih sudah datang" Ucap Susan dengan lemah seperti tidak mempunyai tenaga.


"Bagaimana keadaan mu?" Tian duduk di samping kasur istri sirinya itu.


"Aku gak tahu kenapa akhir-akhir ini perut ku merasa sakit dan nyeri. Aku takut terjadi apa-apa sama anak kita Tian" Ujar Susan menangis.


"Apa kamu sudah periksa ke dokter?"


"Belum Tian, mama mau membawa nya ke rumah sakit. Tapi Susan nya tepat bersikeras menunggu kamu untuk membawanya ke rumah sakit"


"Kata nya dia ingin kamu juga tahu keadaan nya bagaimana" Tambah nya lagi.


"Ya sudah jika begitu, ayo kita pergi periksa ke rumah sakit sekarang" Ajak Tian lagi.


"Kamu bisa jalan?"


Susan mengangguk pelan. Wanita hamil itu mencoba untuk berdiri lalu jatuh lagi. Seolah-olah Ia memang tidak mempunyai tenaga untuk berdiri dan berjalan.


"Tian, aku gak bisa berdiri. Perut ku terasa nyeri dan sakit. Jika di paksa kan aku takut akan mempengaruhi anak kita" Ujar Susan meringis kesakitan.


"Tian kasihan Susan. Alangkah baik nya kamu menggendong nya saja. Kasihan anak kamu juga nanti jika di paksakan seperti itu" Ujar mama Susan.


"Sini Susan biar ku gendong" Ujar Tian pada akhir nya menggendong istri siri nya menuju ke mobil.


Mama Susan tersenyum puas melihat kejadian itu.


"Mama ikut juga ya" Ujar Tian.


"Iya. Kita bawa Susan ke klinik tempat langganan mama ya Tian. Di sana ada dokter teman mama"


"Kenapa tidak membawa nya ke rumah sakit besar aja sih ma?"


"Gak perlu Tian, mama sudah sangat kenal dengan dokter langganan mama itu. Dia juga telah mempunyai banyak pengalaman tentang penyakit seperti yang diderita oleh Susan ini"


Karena tidak mau berdebat Tian pun mengikuti kemauan dari mama mertuanya itu untuk membawa Susan ke klinik tempat langganan mama mertuanya.


***


Klinik itu memang di bangun oleh seorang dokter. Di mana dokter itu memang teman dari mama nya Susan. Dan karena mereka sudah begitu akrab dan dekat, membuat dokter itu mau membantu mama nya Susan.


Terlebih mendengar cerita dari wanita paruh baya itu bahwa anak nya di telantarkan oleh suami nya karena memilih seorang pelakor. Jadi ia terpaksa berbohong demi mendapatkan kembali suami anak nya itu. Padahal cerita yang sebenar nya adalah Susan lah yang sebagai pelakor disini.


"Dokter, tolong periksa anak saya dokter. Beberapa hari belakangan ini anak saya sering mengeluh sakit perut di bagian bawah. Apa itu di sebab kan kehamilan nya atau bagaimana?" Tanya mama Susan.


"Sebentar ya buk saya periksa dulu" Ujar dokter tadi memeriksa Susan.


"Begini saja ya buk, saya harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab sakit yang di derita oleh anak ibu. Oleh karena itu, alangkah baik nya untuk saat ini anak ibu di rawat di sini dulu ya" Saran dokter tadi.


"Di rawat? Apa harus di rawat ya dok?" Tanya Tian kaget.


"Iya pak, hal ini kami lakukan untuk melihat perkembangan dari istri bapak. Dan juga besok akan di lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyakit nya" Jelas dokter tadi.


"Tian bagaimana ini?" Tanya mama Susan.


"Ya gak apa-apa ma, lakukan saja apa yang menurut dokter ini benar. Ini semua demi kesehatan dan keselamatan Susan dan juga bayi nya" Ujar Tian pada akhir nya setuju.

__ADS_1


"Tapi kamu nanti nya bantuin mama kan untuk nginap di sini? Mama gak bisa sendirian di sini jagain Susan. Terlebih saat ini Susan juga istri mu dan tanggung jawab mu" Jelas Wanita paruh baya itu lagi.


Tian tampak berpikir untuk mengambil keputusan apa yang ia berikan kepada mama mertuanya itu.


"Tian, ayo dong bantu mama. Mama sudah tua. Sudah tidak bisa berlama-lama berada di tempat seperti ini" Ujar nya lagi.


"Iya ma, tapi aku harus pulang dulu untuk mengabari Fitri dan meminta izin dari nya" Ujar Tian.


"Ngapain juga kamu harus minta izin sih sama dia? Bukan nya Susan ini juga istri kamu dan sudah wajib nya kamu untuk menjaga istri kamu ini dalam keadaan sakit seperti ini. Dan Fitri tidak boleh melarang kamu untuk melakukan kewajiban kamu" Ujar mama Susan tampak emosi.


"Iya ma, walau bagaimana pun aku harus mengabari Fitri dulu. Aku tidak mau nanti nya Fitri akan salah paham kepada ku" Jelas Tian lagi.


"Kenapa sih kamu takut sekali jika Fitri marah? Terus bagaimana dengan Susan jika pada akhir nya Fitri tidak mengizinkan mu untuk menjaga nya di sini? Apa kamu membiarkan istri mau seperti ini?"


"Ma, mama tenang dulu ya. Aku yakin Fitri pasti akan mengizinkan ku untuk tetap menjaga Susan. Dia tidak seburuk yang mama pikirkan" Bela Tian kepada ku.


"Terserah kamu Tian" Ujar wanita paruh baya itu masuk ke dalam ruangan Susan dengan kesal.


Melihat wanita paruh baya itu masuk ke ruang anak nya di inap, Tian pun langsung pergi meninggalkan tempat itu.


***


"Ma, bagaimana?" Tanya Susan melihat mama nya masuk.


"Bagaimana apa nya? Mama suka heran deh sama suami kamu itu. Sedikit-sedikit lapor ke istri pertama nya. Apa segitu penting nya ya Fitri di mata nya sampai-sampai begitu takut nya ia jika Fitri marah" Jelas mama nya lagi.


"Iya emang begitu lah Tian ma, mungkin karena dia sudah di pelet sama si Fitri sampai-sampai segitu takut nya sama istri nya itu" Ujar Susan.


"Iya, benar apa yang kamu bilang. Bisa jadi seperti itu ya. Mama baru kepikiran dengan ucapan mu itu"


"Iya kan ma? Jika tidak begitu, mana mungkin si Tian itu segitunya sama Fitri"


"Oh ya Susan. Ngomong, ngomong masalah pelet yang kamu bilang itu, kenapa kita tidak melakukan hal yang sama ya untuk membuat Tian dan keluarga nya tunduk kepada kita. Dari pada kita bersusah payah seperti ini" Otak wanita paruh baya itu mulai berpikir untuk melakukan rencana kedua nya.


"Aduh mama, kenapa gak satu persatu sih rencana kita jalani. Yang ini saja belum kelar malah membuat rencana baru"


"Ya mama baru kepikiran tentang cara halus yang kamu katakan itu. Mama yakin jika kita menggunakan cara itu pasti akan berhasil" Ujar nya lagi penuh dengan keyakinan.


"Jadi sekarang bagaimana?"


"Begini saja, untuk saat ini kita menjalankan rencana kita yang sekarang. Dan jika nanti rencana kita ini tidak berhasil, maka kita akan melanjutkan rencana kita yang kedua yaitu dengan menggunakan cara halus" Ujar dari wanita paruh baya itu lagi.


"Oke, semoga saja rencana kita tidak gagal dan berhasil" Harap Susan.


***


"Sayang, kenapa jam segini kamu sudah pulang?" Tanya ku kepada suami ku yang tidak biasanya pulang cepat.


Tian terlihat bingung dan langsung duduk di atas Sofa di ruang tamu.


"Aku bingung harus bagaimana sayang" Ujar nya.


"Bingung kenapa?"


"Saat ini Susan di rawat karena akhir-akhir ini dia sering sakit di bagian perut nya"


"Jadi, yang membuat kamu bingung apa?"


"Ya aku harus bagaimana saat ini. Di satu sisi aku tidak mau mengingkari janji ku kepada mu. Dan di satu sisi aku tidak mungkin membiarkan Susan yang sedang sakit itu sendirian di rumah sakit tanpa ada yang menjaga nya. Terlebih saat ini dia sedang hamil" Ujar Tian dengan penuh kebingungan.


Aku berpikir untuk memberi keputusan apa yang harus kulakukan untuk suamiku itu. Bagaimana pun keadaan Susan dan bayi nya saat ini sangat lah penting dari pada keegoisan ku. Aku tidak mau nanti nya aku menyesal karena hanya memikirkan ego ku sendiri.


"Mama Susan di mana?"


"Sayang, mama sudah tua. Tidak baik juga jika dia terus-terusan berada di tempat seperti itu. Kamu tahu sendiri jika antibodi orang seumurnya dengannya itu udah seperti muda lagi"


"Iya sih. Ya sudah jika begitu. Kamu jagain saja Susan si rumah sakit. Dan besok ketika kamu pergi ke kantor, biar aku yang menggantikan mu untuk menjaga nya di sana. Bagaimana?" Saran dari ku.


"Apa benar kamu tidak masalah?"


"Ya gak apa-apa dong sayang. Saat ini Susan sedang sakit. Dan kita harus memberikan support untuknya agar ia cepat sembuh" Ujar ku tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2