Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 79


__ADS_3

Aku menghela napas berat ku karena saat ini aku telah resmi berpisah dengan Tian. Tian pun terlihat sedih karena berpisah dari ku. Namun apa lah daya hubungan kami memang tidak bisa di pertahan kan lagi. Karena itu akan membuat kami terluka. Sedangkan Susan sangat bahagia melihat perpisahan ini terjadi.


Dan di dalam persidangan aku sama sekali tidak menuntut harta gono gini. Tapi Tian memberikan sebagian saham nya kepada ku sebesar 50℅ untuk ku dan tanah yang berada di daerah Rumbai sebesar tiga hektar untuk ku.


"Apa apaan sih Tian. Ngapain juga dia memberikan harta gono gini begitu banyak nya kepada Fitri. Padahal Fitri tidak mempunyai anak sama sekali. Harus nya harta itu menjadi milik ku. Karena aku sedang mengandung anak nya" Batin Susan kesal dengan keputusan Tian yang tidak meminta persetujuan dari nya terlebih dahulu.


"Sekarang kamu puas? Apa kamu puas melihat kehancuran keluarga putra ku?" Bisik mama Tian penuh penekanan.


"Ini lagi si tua bangka ini. Ngapain juga dia berkata seperti itu? Bikin orang kesel aja" Batin Susan menatap kesal kepada mama mertuanya itu.


Susan menghela nafas beratnya untuk menahan emosi yang sedang memuncak di hatinya saat ini.


"Mama, tolong dong jangan seperti ini sama saya. Saya mencintai Tian begitu juga sebalik nya. Jadi tidak ada yang salah kok ma. Mungkin jodoh Tian dan Fitri memang sampai di sini. Mama jangan menyalahkan aku begitu dong" Jawab Susan dengan nada yang lembut tapi penuh tipu daya.


"Jangan panggil aku mama, aku bukan mama kamu" Bentak mama Tian.


"Ma, apa mama lupakan aku ini sekarang sudah menjadi istri nya Tian. Dan sekarang aku sedang mengandung anak nya Tian. Wajar dong jika aku memanggil mama dengan sebutan itu. Gak sopan kan jika aku masih memanggil dengan sebutan tante" Ujar Susan lagi dengan nada bicara yang sama.


"Yah, aku akui saat ini kamu sedang mengandung anaknya Tian. Dan aku hanya menganggap anak yang ada dalam kandungan mu itu sebagai cucuku. Tapi tidak kamu sebagai menantu ku" Tegas mama Tian.


"Kok gitu sih ma. Masa mama hanya mau sama anak ku saja tidak sama mama nya"


"Karena kamu pelakor. Wanita murahan yang sudah merusak rumah tangga anak ku. Jadi kamu tidak pantas aku anggap sebagai menantu" Ujar mama Tian lagi.


"Mama gak bisa gitu dong"


"Lo, kenapa tidak? Suka-suka saya dong mau anggap kamu sebagai menantu atau tidak. Jika kamu gak suka, lebih baik kamu pergi dari kehidupan keluarga ku" Ucap mama Tian.


Susan menggenggam tangan nya erat-erat dan menggigit graham nya karena merasa kesal kepada kepada mama mertuanya itu.


"Si tua bangka ini benar-benar membuat ku kesal. Untung saja aku masih mempunyai sisa kesabaran. Dan aku masih memikirkan ucapan Tian yang kemarin. Jika tidak, bisa-bisa orang tua bangka ini sudah ku tendang dari sini" Batin. Susan menatap sinis ke arah mam.a mertua nya.


***


"Ma, pa maaf kan semua kesalahan ku ya selama aku menjadi menantu mama. Mungkin ada perbuatan dan tingkah laku ku yang membuat mama dan papa tersinggung. Baik itu di sengaja atau pun tidak. Aku mohon maaf ya ma" Ujar ku mencium punggung tangan mama dan papa nya Tian.


"Tidak kok sayang. Kamu adalah menantu mama yang paling baik. Kamu telah membuat Tian berubah di mana Tian terlepas dari barang haram itu. Kamu telah menerima Tian apa ada nya. Mama merasa sedih sekali kamu dan Tian pada akhir nya berpisah. Padahal mama sangat sayang sekali sama kamu" Ujar mama Tian kepada ku.


Tak terasa beberapa air bening mengalir di pipi ku. Begitu pun dengan mama Tian.


"Buk, pak maaf kan kesalahan Tian ya yang telah membuat anak bapak kecewa" Ujar papa Tian kepada mama dan papa ku.


"Iya, kami sudah memaafkan nya" Jawab papa ku.


"Saya mohon jangan jadi kan perpisahan antara Tian dan Fitri ini sebagai permusuhan di antara kita. Tapi tetap lah menjadi ikatan silaturahmi kita semakin kuat dan erat" Ucap papa Tian dengan bijak.


"Iya saya juga berharap seperti itu" Jawab papa ku.


***


"Sayang, lagi ngapain?" Tanya Susan mencoba mendekati Sofi uang sedang melukis di kamar nya.


Bukan nya menjawab, Sofi malah diam saja tidak merespon pertanyaan mama sambung nya itu.


Susan masuk dan mendekati Sofi.


"Kok di tanyain malah gak di jawab sih"


"Tante ngapain ke sini?"


"Lo, emang nya kenapa? Apa gak boleh mama melihat putri mama?" Ujar Susan dengan lembut nya.


"Sofi gak mau di lihat sama tante, Sofi mau nya sama mama Fitri"


"Sofi, mama Fitri tidak ada di sini. Di sini cuma ada mama Susan. Jadi gak apa-apa dong mama Susan yang temani Sofi"

__ADS_1


"Gak mau, pokok nya Sofi mau nya sama mama Fitri" Rengek anak itu lagi.


"Sofi, denger ya. Mama Fitri tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini"


"Iya mama Fitri tidak akan kembali karena masih ada tante di sini. Jika tante pulang pasti mama Fitri kembali lagi"


"Sayang, dengerin tante ya. Mama Fitri dan papa sudah pisah.. Jadi tidak mungkin mama Fitri mu kembali lagi. Jadi sekarang hanya ada mama Susan. Dan mama nya Sofi sekarang hanya satu yaitu mama Susan bukan mama Fitri" Jelas Susan lagi.


Deg...


Tentu saja penjelasan itu membuat Sofi kaget.


"Maksud tante apa?"


"Ya Mama Fitri dan papa kamu itu sudah tidak menjadi suami istri lagi. jelas mereka tidak akan hidup bersama lagi. Jadi Sofi harus terima mama Susan sebagai mama Sofi satu-satunya"


Mata gadis kecil itu mulai berkaca-kaca mendengar kenyataan yang disampaikan oleh Susan kepadanya.


"Kenapa menangis sayang, bukannya malah bagus sekarang Sofi hanya mempunyai satu mama. Jadi Sofi nggak pusing-pusing lagi karena mempunyai dua mama kan. Lagian mama Susan juga sayang kok sama Sofi. Mama akan menjadi mama yang terbaik untuk Sofi oke sayang" Ujar Susan dengan tersenyum ramah.


Sofi mulai menangis. Hati nya sungguh sedih saat itu mendengar penjelasan dari Susan. Ia sungguh tidak percaya bahwa aku telah berpisah dari papa nya.


"Tante Susan jahat, semua ini terjadi karena tante yang menyebabkannya. Sekarang juga tante keluar dari kamar Sofi" Teriak gadis kecil itu.


"Lo sayang kok mama di usir"


"Keluar" Teriak nya lagi sambil mendorong Susan keluar dari kamarnya.


Gadis kecil itu mengunci pintu kamarnya setelah susun keluar dari kamar.


"Sofi, sayang buka pintu nya" Teriak Susan mengetuk-ngetuk pintu kamar putri sambungnya itu.


Mendengar suara ribut-ribut dari kamarnya Sofi membuat Tian datang ke kamar putrinya itu.


"Ada apa Susan?" Tanya Tian.


Kini giliran Tian yang mengetuk pintu kamar putri nya itu.


"Sayang, buka pintu nya. Ayo kita makan malam sama-sama sayang"


"Gak mau, papa jahat. Papa lebih sayang sama tante Susan" Teriak Sofi dari dalam kamar nya.


"Sayang kok ngomong nya gitu sih. Papa sayang sama Sofi. Papa gak mau kehilangan Sofi"


"Bohong, Sofi gak mau ketemu sama papa. Sofi benci papa" Ujar gadis itu lagi langsung berbaring di tempat tidur nya sambil menangis.


"Aduh sayang, gimana ini? Kelihatan nya Sofi marah deh sama aku. Apa aku pergi saja ya dari rumah ini" Ujar Susan mulai berakting.


"Jangan, nanti aku akan coba bicara sama Sofi ya. Saat ini dia sedang ngambek, hati nya tidak karuan. Setelah dia tenang nanti aku akan coba membujuk nya" Ujar Tian lagi.


"Iya sayang tentu saja aku tidak akan pergi dari rumah ini. Secara rumah ini suda menjadi milik ku juga kan" Batin Susan tersenyum puas.


"Aduh, tapi jika nanti Sofi menceritakan apa yang aku katakan tadi kepada Tian bagaimana ya? Pasti Tian akan marah lagi sama aku seperti waktu itu. Aduh aku harus melakukan sesuatu" Batin Susan lagi.


"Ya sudah ayo kita makan malam dulu di bawah" Ajak Tian.


Susan pun mengangguk mengikuti langkah suami nya itu. Dia pun berpikir bagaimana cara nya untuk membuat Sofi tidak menceritakan tentang apa yang dia katakan tadi kepada gadis itu.


"Mama, kenapa mama harus pisah sama papa? Sofi gak mau kehilangan mama. Sofi sayang sama mama. Tapi Sofi juga tidak mau melihat mama menangis terus. Sofi sering melihat setiap malam mama menangis di kamar jika papa tidak pulang ke rumah" Ujar gadis kecil itu sambil memeluk boneka kesayangan nya.


"Ya Allah apa yang harus Sofi lakukan.. Sofi gak mau kehilangan mama Fitri.. Sofi sudah kehilangan mama Santi, dan Sofi gak mau kehilangan mama untuk yang ke dua kali nya" Ucap nya lagi.


***


Setelah berpikir Sofi sudah merasa tenang, Tian mengambil kunci cadangan untuk membuka pintu kamar putri nya.

__ADS_1


Terlihat Sofi berbaring sambil memeluk boneka kesayangan nya. Tian datang mendekati putri nya itu.


"Sayang, kenapa sih kamu menangis seperti ini? Sampai gak mau makan juga lagi. Kenapa nak? Coba cerita sama papa" Tanya Tian dengan lembut kepada putri nya itu.


Sofi bangun dari rebahan nya.


"Papa, papa kenapa gak sayang sama mama Fitri?" Tanya Sofi menatap bola mata papa nya.


"Sayang, papa sayang kok sama mama Fitri. Siapa bilang mama gak sayang sama mama?"


"Tapi nyatanya papa memilih tante Susan dari pada mama Fitri. Kenapa papa dan mama harus pisah sih?" Tanya nya lagi.


Susan pergi ke kamar Sofi ketika merasa sudah aman. Tapi betapa kaget nya ia saat melihat Tian sudah berada di dalam kamar Sofi.


"Astaga, aku terlambat. Tian sudah berada di kamar nya Sofi. Aduh, bisa mati aku" Batin nya lagi cemas. Wanita hamil itu bersembunyi di balik pintu kamar Sofi untuk mendengar percakapan kedua ayah dan anak itu.


"Sayang, papa minta maaf karena tidak bisa mempertahan kan mama Fitri. Tapi ini semua mama Fitri yang mau. Papa tidak bisa memaksanya untuk bertahan" Jelas Tian mencoba memberi pengertian kepada putri nya.


"Tapi Sofi mau nya sama mama Fitri pa. Sofi gak bisa jauh-jauh dari mama Fitri. Nanti jika Sofi kangen sama mama Fitri gimana?"


"Sayang, jika kamu kangen sama mama Fitri dan mau menginap ke rumah nya, papa akan izin kan. Kamu boleh bersama mama Fitri selama yang kamu mau. Papa tidak akan melarang nya" Jelas Tian lagi.


"Tapi tetap saja mama dan papa tidak bersama lagi. Tidak tinggal di rumah yang sama"


Tian menghela nafas beratnya.


"Sayang, tidak semua keinginan harus kita dapatkan. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk bertahan jika hatinya telah terluka. Papa tahu papa salah. Karena itu papa tidak mau memaksa mamamu untuk terus bersama papa" Jelas Tian lagi.


"Emang nya siapa sih yang mengatakan semua ini sama kamu?"


"Tante Susan. Dia bilang mama tidak akan kembali lagi karena mama dan papa sudah berpisah. Sofi sedih pa, mama tidak akan bersama kita lagi" Ujar Sofi lagi mulai mengeluarkan air mata nya.


"Susan, benar-benar ya kamu. Ini yang ke dua kali nya kamu bertingkah semau mu" Batin Tian merasa geram.


"Ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan semua nya kepada Sofi. Dia masih kecil dan dia belum sepenuh nya mengerti semua ini" Tambah batin nya lagi.


"Aduh, mati aku. Pasti Tian akan marah besar kepada ku. Aku harus bagaimana ya?" Susan yang mendengar percakapan Tian dan Sofi dari balik pintu merasa cemas. Takut nya nanti akan marah besar kepadanya.


"Gini aja, bagaimana besok Sofi papa antar untuk ketemu dengan mama Fitri. Dan papa akan izinin Sofi untuk nginap di sana. Tapi Sofi janji sama papa, Sofi gak boleh sedih lagi" Ujar Tian lagi.


"Beneran pa?"


"Iya sayang, Sofi boleh nginap di sana selama yang Sofi mau"


Gadis kecil itu kembali mengukir senyuman di bibir nya.


"Sekarang, Sofi makan dulu. Ini papa sudah bawakan Sofi makanan. Setelah itu Sofi tidur ya" Ujar Tian lagi menyodorkan sesuap demi sesuap makanan di dalam mulut putrinya itu.


Sofi pun membuka mulutnya untuk menerima suapan makanan dari papanya Itu.


"Pa, boleh Sofi menghubungi mama?"


"Boleh dong sayang" Tian mengambil ponsel nya dan melakukan panggilan video call kepadaku.


"Hallo sayang" Ujarku menjawab panggilan dari Sofi itu


"Mama, Sofi kangen sama mama"


"Sama sayang, mama juga kangen banget sama Sofi"


"Ma, papa bilang besok Sofi boleh nginep di rumah mama"


"Oh ya? Bagus dong mama senang mendengarnya. Mama tunggu di rumah ya sayang. Sekarang Sofi tidur harus sudah larut Besok malah telat pergi sekolahnya"


"Oke mama selamat malam"

__ADS_1


"Selamat malam sayang" Ujar ku.


"Fitri, kamu memang wanita yang mulia. Kamu begitu sayang kepada Sofi dan begitu baik hati. Tapi aku selalu mengecewakan mu. Maaf kan aku Fit" Batin Tian merasa bersalah kepada ku.


__ADS_2