Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 115


__ADS_3

Susan tampak sedih mendengar kabar kehamilan ku dari Rendi. Yah secara dia tidak bisa hamil lagi karena rahim nya telah di angkat waktu itu.


***


Dengan langkah lunglai Susan masuk ke dalam rumah nya. Susan menghempaskan tubuh nya di atas Sofa yang ada di ruang tamu rumah mewah nya itu.


Untuk beberapa kali mantan madu ku itu menghela napas berat nya.


"Ya Allah, sedih rasa nya jika mendengar orang yang bisa hamil seperti Fitri. Sedang kan aku? Aku hanya wanita cacat yang tidak bisa memberi keturunan untuk suami ku" Batin Susan meneteskan air mata nya.


"Kuat kan aku ya Allah, kuat kan lah diri ku menghadapi semua cobaan ini. Ikhlas kan diri ini untuk menerima takdir dari mu" Ujar Susan lagi menutup kedua wajah nya menggunakan tangan nya karena dia saat itu menangis.


"San, kenapa?" Tegur Tian melihat Susan seperti itu.


Susan membuka wajah nya yang telah di basahi dengan air mata.


"Kenapa kamu? Kenapa kamu menangis?"


"Maaf kan aku Tian. Aku tidak bisa memberikan mu keturunan. Aku merasa gagal menjadi seorang istri" Ujar Susan semakin menangis.


"Kenapa masih membahas masalah itu sih San? Bukan kah aku tidak mempermasalahkan hal itu. Kita sudah ada Sofi saat ini. Jadi kita hanya perlu merawat Sofi. Karena Sofi itu masih dari darah daging mu. Itu sama saja dia seperti anak mu sendiri bukan" Ujar Tian memberi semangat kepada istri nya itu agar lebih bisa menerima keadaan ini.

__ADS_1


"Tapi meski bagaimana pun, aku tetap takut kamu akan pergi Tian. Aku tidak mau kehilangan mu"


"Tidak San, aku tidak akan pergi dari sisi mu. Aku akan selalu bersama mu. Itu janji ku"


"Benar?"


Tian mengangguk membenar kan.


"Terima kasih ya sayang. Aku akan berusaha menjadi mama yang baik untuk Sofi dan istri yang baik untuk mu" Ujar Susan memeluk Tian.


"Iya, aku harap ini yang terakhir kali nya kamu membahas tentang masalah ini lagi. Aku tidak mau mendengar nya lagi"


***


"Lo sayang kenapa?" Tanya Rendi melihat ku yang memijit kaki ku.


"Ini kaki ku pegal banget ni bang. Badan ku terasa sakit-sakit semua" Jelas ku.


"Ya sudah sini biar abang pijitin ya kaki nya.


"Jangan bang gak perlu"

__ADS_1


"Lo kenapa?"


"Karena aku merasa kurang ajar saja jika abang menyentuh kaki ku"


"Kurang ajar gimana?"


"Merasa gak enak aja lah pokok nya bang. Gak sopan juga rasa nya"


Rendi tersenyum mendengar perkataan ku itu.


"Kenapa sih kamu bisa berpikir seperti itu?"


"Ya aku merasa seperti itu saja sih bang" Jelas ku tertunduk malu.


"Sudah jangan di memikirkan hal yang aneh-aneh deh kamu. Sini kaki nya biar abang pijitin"


"Tapi bang..."


"Eits, gak ada kata tapi-tapian. Ini perintah dari suami mu dan harus kamu turuti" Potong Rendi saat aku ingin menolak pijitan nya.


Aku pun memberikan kaki ku kepada suami ku itu. Dan Rendi pun mulai memijit nya. Yah sungguh laki-laki itu begitu perhatian dan sangat tulus kepada ku. Aku pun selalu berdoa kepada sang pencipta agar rasa cinta nya kepada ku tidak pernah berkurang sedikit pun.

__ADS_1


__ADS_2