
"Sayang, Sofi kemana? Dari tadi aku tidak melihat nya" Tanya Tian kepada ku saat aku sibuk menyajikan makan malam di meja makan bersama bik Ina. Laki-laki itu tampak baru selesai mandi. Rambut nya masih kelihatan basah dengan stail baju kaos berwarna putih memperlihat kan lekuk tubuh nya yang memiliki sobek roti itu. Celana jens pendek selutut berwarna brown pun ikut serta menunjang penampilan nya hari ini.
Hari ini bisa ku lihat bahwa aura Tian tampak berbeda. Dia tampak segar dan fresh. Entah, entah hanya perasaan ku saja atau bagaimana aku pun tidak tahu.
"Sofi pergi keluar bersama opa dan oma nya" Jawab ku.
"Papa dan mama datang ke sini?" Tanya Tian kaget dan langsung duduk di meja makan nya.
"Iya sayang, papa dan mama datang ke sini. Mereka mengajak Sofi jalan-jalan. Kasihan juga sih Sofi nya sudah lama gak jalan-jalan" Jelas ku kepada Suami ku itu terus menyajikan makanan yang di masa bik Ina tadi.
"Kok mereka gak kabarin aku dulu sih, Jadi nya kan aku bisa pulang cepat dari kantor" Ujar Tian.
"Kata nya mau kasih kejutan sama kamu. Sebentar lagi mereka pasti pulang"
"Assalamualaikum" Terdengar orang mengucapkan salam dari pintu luar rumah yang berada di ruang tamu.
"Waalaikumsalam. Itu pasti mereka sudah pulang" Ujar ku langsung bergegas menuju ke ruang tamu untuk menyambut kedua mertua ku dan juga anak sambung ku.
"Mama" Teriak Sofi memeluk ku sambil memeluk boneka panda berwarna pink yang di belikan oleh opa dan oma nya.
"Eh sayang, sudah pulang" Ujar ku membalas pelukan anak ku itu.
"Wah, cantik sekali boneka nya"
"Iya ma, ini di belikan sama oma dan opa nama nya Tedy" Jawab gadis itu memperlihatkan boneka yang ada di tangan nya.
"Wah, cantik sekali nama nya sesuai dengan boneka nya dan juga sesuai dengan pemilik nya yang cantik ini" Ujar ku mencubit pipi tembam anak gadis ku itu.
"Oh ya kebetulan mama sudah baru saja selesai menyajikan makan malam di meja. Ayo kita makan"
"Asyik.... Ayo ma" Ujar gadis itu berlari menuju meja makan.
Aku dan kedua mertua ku melihat gadis kecil pelipur lara itu dengan hati yang bahagia melihat keceriaan yang murni dari gadis itu.
"Papa, mama, ayo masuk. Kita makan malam bersama di dalam" Ajak ku kepada kedua mertua ku itu.
"Oh ya, kebetulan papa dan mama sedang lapar. Dan papa juga sudah lama tidak menyicipi masakan menantu papa ini" Ujar papa Tian tersenyum.
Aku hanya tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh papa mertua ku itu.
"Ayo ma, pa" Ajak ku lagi.
Kami pun masuk di rumah warisan dari papa dan mama mertua ku itu menuju ruang makan.
***
"Papa, mama" Tegur Tian mencium punggung tangan mama dan papa nya itu saat kedua orang paruh baya itu tiba di ruang makan.
"Kok kalian datang nya gak bilang-bilang sih" Ujar Tian.
"Lo, kok masak mau berkunjung ke rumah anak sendiri harus bilang-bilang dan minta izin sih" Ujar mama Tian sambil tersenyum.
"Ya, bukan gitu sih ma, setidak nya aku bisa pulang cepat tadi dari kantor. Papa dan mama jangan bilang seperti itu dong. Aku gak enak jadi nya. Lagian rumah ini akan selalu terbuka untuk papa dan mama. Rumah kami rumah kalian juga" Ujar Tian merasa tidak enak hati takut jika kedua orang tua nya itu tersinggung dengan ucapan nya barusan.
"Ya gak lah Tian. Mama cuma bercanda kok tadi. Jangan di ambil hati ya. Kami sengaja gak ngabarin kamu dulu. Habis nya kami ke sini itu mendadak tampa ada rencana. Tadi papa mu sedang melihat kantor induk yang di kelola oleh mas Budi mu. Jadi sekalian deh mampir sini. Mumpung sudah lama juga gak ketemu sama cucu mama yang cantik ini" Jelas wanita paruh baya itu sambil mencubit pipi tembam cucu nya.
"Ya sudah, ayo kita makan. Nanti makanan nya keburu dingin" Ujar ku.
Mereka pun saling mengambil tempat duduk masing-masing.
"Wah kelihatan nya masakan menantu papa ini enak. Dari aroma nya saja sudah mengunggah selera. Jadi semakin lapar perut papa" Ujar laki-laki paruh baya itu dengan memperhatikan menu yang tersaji di atas meja makan.
"Papa bisa aja. Ini jika enak masakan nya, itu karena bantuan dari bik Ina juga. Kami masak nya bersama-sama tadi pa" Ujar ku tersenyum.
"Terserah, mau sama-sama atau sendirian. Tetap saja masakan menantu papa enak" Puji nya lagi.
__ADS_1
Kami tersenyum senang mendengar ocehan dari papa mertua ku itu.
Ternyata dari bali tembok ruang makan, terdapat sepasang mata yang memperhatikan kegiatan kami di sana. Orang itu tampak tidak senang melihat kebahagian kami di malam itu.
"Kurang ajar, harus nya aku yang berada di sana. Dan berkumpul bersama keluarga ku. Bukan wanita kampungan itu" Batin nya menggenggam erat tangan nya kuat-kuat. Orang itu tak lain adalah Susan. Yah mantan adik ipar nya Tian yang kini telah menjadi istri siri nya.
"Oke, hari ini kamu yang merasa di atas langit. Tapi sebentar lagi, semua yang kamu miliki akan jatuh ke tangan ku. Aku tidak akan membiarkan semua ini berlama-lama menjadi milik mu" Ujar nya lagi kepada diri nya sendiri.
Gadis itu pun keluar dari tempat persembunyian nya. Berjalan berlenggak-lenggok menuju meja makan untuk bergabung dengan keluarga kecil ku.
"Selamat malam semua.... " Sapa nya dengan ramah.
"Malam, eh Susan masih di sini?" Tanya mama mertua ku kaget dengan keberadaan gadis itu.
"Iya tante, aku masih di sini" Jawab nya langsung duduk di samping mama mertua ku.
"Tante pikir kamu sudah kembali ke rumah mama mu. Secara Fitri sudah bisa merawat Sofi kembali dan kamu juga besok mau nikah kan?" Tanya wanita paruh baya itu lagi.
"Iya tante aku besok akan menikah. Ya gak tahu kenapa ya tante aku merasa nyaman tinggal di rumah ini. Mungkin karena sudah lama aku di sini ya, jadi nya berat sekali aku mau meninggalkan rumah ini. Apa lagi mau meninggalkan keponakan ku yang cantik ini" Ujar Susan sambil menjeling ke arah Tian.
"Dan juga karena di rumah ini ada suami ku. Mana mungkin aku mau meninggalkan suami ku dengan wanita kampung ini" Batin nya.
Deg...
Aku merasa ada yang janggal dari ucapan Susan barusan. Entah mengapa aku merasa ada maksud tersembunyi dari ucapan gadis itu.
"Terus jika kamu sudah menikah nanti, gak mungkin juga kan kamu masih tinggal di sini. Jelas kamu harus mengikuti suami kamu kemanapun ia pergi" Ujar mama Tian.
"Iya dong tante. Itu harus, aku jelas akan mengikuti suami ku kemana pun dia pergi. Dan aku harus menemaninya dalam keadaan apapun. Karena ya maklum sajalah tante di musim-musim sekarang ini, sudah banyak pelakor dan aku takut nanti suamiku akan tergoda dengan pelakor itu sendiri" Sindir Susan kepada Tian.
"Yah jangan kan dengan orang lain ya Tante. Dengan adik kandung atau mantan adik ipar nya saja bisa tergoda itu laki-laki" Tambah nya lagi.
Deg....
"Kok kalian pada memasang wajah serius seperti itu sih? Aku hanya bercanda kok. Kalian tenang saja, lusa juga aku sudah pindah kok mengikuti suami ku. Kebetulan suami ku sudah membelikan aku rumah" Ujar nya lagi tersenyum.
"Bagus lah jika begitu. Itu arti nya dia sudah memikirkan masa depan untuk kalian berdua" Jelas papa Tian.
"Iya om. Aku merasa beruntung mempunyai suami seperti dia. Sudah ganteng, bertanggung jawab dan tentu saja dia sayang sekali sama aku" Ujar Susan terus melirik ke arah Tian.
Tian yang sedari tadi hanya bisa diam tidak bisa berbicara apa pun. Laki-laki itu merasa was-was dan kurang nyaman dengan kehadiran Susan di tengah-tengah kami.
"Kurang ajar si Susan. Apa maksud dia berkata seperti itu? Apa dia ingin membuka rahasia dengan papa dan mamaku juga Fitri tentang pernikahan kami" Batin Tian merasa kesal dengan ucapan Susan barusan.
"Om, tante besok jangan lupa ya hadir di acara resepsi pernikahan aku dan juga suami ku" Ujar Susan.
"Resepsi? Apa kalian sudah melakukan akad nikah? Kok langsung resepsi" Ujar papa Tian merasa heran.
"Oh iya, lupa kami sudah melakukan akad nikah nya kok tadi. Akad nikah nya secara tertutup saja yang penting sah" Ujar Susan tersenyum.
"Oh begitu, iya juga sih yang penting sah" Jawab papa Tian.
"Semoga besok acara pernikahan kamu lancar ya" Ujar mama Tian tersenyum.
"Ya tante, makasih doa nya" Balas Susan tersenyum.
"Ya sudah, ayo kita makan. Sini sayang piring nya biar aku ambilkan nasi nya" Ujar ku meminta piring Tian.
Tian memberikan piring nya kepada ku. Aku pun menyajikan makan ke dalam piring suami ku itu. Setelah selesai aku pun menyendok makanan ke dalam piring papa dan mama mertua ku. Tak ketinggalan untuk putri kecil ku juga.
Susan menatap sinis kepada ku.
"Dasar tukang pamer. Awas aja, kamu akan ku tendang jauh-jauh dari kehidupan ku dan keluarga ku ini" Batin Susan merasa geram.
***
__ADS_1
"Mama dan papa pulang dulu ya. Terima kasih atas jamuan makan malam nya. Seperti biasa. Masakan kamu memang mantap" Puji papa Tian kepada ku sambil mengajukan jempol nya.
"Terima kasih pa atas pujian nya. Tapi apa tidak sebaik nya papa dan mama menginap di sini saja. Lagian besok juga papa dan mama mau datang ke acara pernikahan nya Susan juga kan?" Ujar ku.
"Iya sih, tapi mama dan papa tetap gak bisa nginap. Karena Mesi pulang hari ini. Tadi sore dia sudah take off Mungkin sebentar lagi sampai. Gak enak juga kan dia baru pulang mama dan papa malah gak ada di rumah" Ujar mama Tian memberikan penjelasan.
"Iya juga sih, pasti dia akan sedih karena mama dan papa gak ada di rumah" Ujar ku.
"Sudah liburan Mesi ma?" Tanya Tian kepada mama nya mengenai adik bungsu nya itu.
"Iya kata nya sih sudah liburan. Sebulan pula lama nya" Jelas mama nya lagi.
"Wah, kalau gitu nanti suruh Mesi nginap di sini aja ma untuk beberapa hari. Sudah lama juga gak ketemu sama anak itu" Ujar ku menawarkan.
"Iya, nanti mama akan bilang sama dia ya Ya sudah papa dan mama pulang dulu" Jelas mama mertua ku itu.
"Iya hati-hati ya ma, pa" Ujar ku.
***
"Sayang, kamu sudah siap?" Tanya Tian kepada ku.
"Iya sebenar" Jawab ku mempersiapkan diri untuk pergi ke acara pernikahan Susan.
Gadis itu sedari pagi tadi sudah tidak kelihatan. Mungkin dia sudah pergi ke tempat lokasi pernikahan nya untuk bersiap-siap.
"Sudah sayang. Ayo" Ujar ku.
"Ya ampun sayang kamu kelihatan cantik sekali har ini" Ujar Tian memujiku.
Hari ini aku mengenakan gaun berwarna coklat muda yang panjangnya selutut dan memiliki lengan panjang dengan memperlihatkan lekuk tubuhku. Sehingga membuat aku kelihatan anggun yang hari itu.
"Kamu bisa aja, jangan memujiku seperti itu nanti aku akan terbang" Ujar ku dengan tersipu malu.
"Beneran lo sayang kamu benar-benar cantik"
"Udah ah jangan memuji lagi.Ayo kita berangkat Nanti kita terlambat" Pinta ku kepada Tian.
"Sofi, sayang ayo nak kita berangkat" Ujar ku.
"Iya mama" Gadis kecil ku itu berlari mendekati aku dan Tian yang sedari tadi menunggu nya di tangga.
"Wah mama, cantik sekali hari ini" Puji putri kecil ku itu dengan polos nya.
"Tuh, Sofi aja bilang seperti itu. Berarti aku gak gombal kan?"
"Iya, iya, terima kasih atas pujian kalian berdua yang membuat aku terbang melayang. Sudah ah ayo kita berangkat" Ujar ku lagi.
***
"Selamat ya Susan atas pernikahan kamu. Semoga sakinah mawadah dan warohmah ya" Ujar ku menyalami Susan serta suami palsu nya.
"Iya terima kasih" Jawab nya dengan cuek.
Memang tidak banyak yang hadir di acara pernikahan itu. Yah nama nya juga acara settingan. Jadi tidak terlalu mengundang ramai orang untuk hadir di acara bohongan itu.
"Iya sayang sabar, setelah acara ini selesai, aku pasti akan mengirimkan mu uang nya" Ujar laki-laki yang sebagai suami Susan itu. Laki-laki itu tampak sedang menelepon seseorang di luar gedung pernikahan itu.
Aku tidak sengaja mendengar ucapan nya melalui telfon.
"Itu kan suami nya Susan. Ngapain dia di sini" Ujar ku mendekati nya bermaksud untuk meminta nya kembali ke acara pernikahan.
"Ya sayang nanti ku kirim uang nya. Uang nya belum aku terima karena acara nya belum selesai. Jika sudah pasti Tian akan langsung memberikan ku uang nya. Kamu yang sabar ya" Ucap nya lagi.
"Tian, Tian siapa? Apa maksud nya?" Tanya ku mulai curiga karena nama suami ku di sebut-sebut di sana.
__ADS_1