Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 34


__ADS_3

Hati ini merasa tidak enak bila Tian mengatakan Susan akan tinggal bersama kami. Namun, apa lah daya karena diri ini harus terus-terusan berada di tempat tidur saja membuat aku setuju dengan keputusan Tian barusan.


"Sayang, apa kamu merasa keberatan dengan keputusan ku?" Tanya Tian kepada ku.


Aku tersenyum kecut mendengar pertanyaan Tian.


Sungguh rasa nya aku ingin mengatakan bahwa aku keberatan, namun mulut ini terkunci memikirkan gadis kecil ku itu.


"Gak apa-apa kok sayang. Gak masalah jika Susan bersama kita. Dia juga tante nya Sofi. Jadi dia juga berhak untuk bersama Sofi" Ujar ku lagi.


"Baik lah sayang, aku senang kamu bisa menerima keputusan ku ini. Semua ini untuk kebaikan mu juga dan Sofi. Kasihan dia nya" Ujar Tian lagi.


Kembali aku hanya tersenyum kecut kepada nya.


"Ya sudah sekarang kita istirahat lagi ya" Ajak Tian. kepada ku.


Aku mengangguk mendengarkan apa yang di katakan suami ku itu.


***


"Selamat pagi.... " Sapa Susan datang ke rumah ku dengan membawa beberapa koper yang berisi pakaian nya di sana.


Aku yang sedari tadi duduk di sofa ruang tamu merasa tidak enak saat melihat gadis itu menyapa kami. Yah hari ini aku memutuskan untuk keluar dari kamar ku duduk di Sofa ruang tamu untuk membuang kesuntukan yang terus-terusan berada di kamar ku.


"Pagi" Jawab Tian.


"Hai sayang tante, sudah siap berangkat ke sekolah nya?" Tanya Susan dengan ramah kepada putri ku itu.


"Sudah dong tante"


"Mulai hari ini tante yang mengantar dan menjemputmu ke sekolah ya" Ujar Susan.


"Beneran tante?"


"Benar dong sayang, lagian mulai hari ini tante tinggal bersama kalian di rumah ini" Ujar Susan lagi.


"Wah, Asyik.... " Sorak gadis kecil ku itu.


"Iya, Tante akan bantuin mama untuk jagain kamu di sini"


"Oh ya? Beneran ma? Beneran pa?" Tanya gadis kecil itu meminta kepastian.


"Iya sayang" Jawab Tian.


"Tuh, benar kan? Ngapain juga tante bohong sama keponakan tante yang cantik ini" Ujar Susan mencolek hidung putri sambung ku itu.


Melihat adegan itu, perasaan ku semakin tidak enak. Jujur saja hati ini merasa cemburu dengan kedekatan putri ku itu dengan tante nya. Yah bagaimana aku tidak cemburu, secara selama ini aku lah yang selalu bersama putri ku itu. Namun kali ini aku merasa posisi diri ini telah tergantikan oleh kehadiran Susan.


"Ya sudah, kamu tunggu si sini dulu ya sayang, tante mau ke kamar dulu untuk menaruh barang-barang tante ini. Setelah itu, tante akan mengantarkan mu sekolah" Ujar Susan.


"Oke tante" Jawab gadis itu


"Ayo sayang kita berangkat" Ujar Susan.


"Mama, papa Sofi berangkat ke sekolah dulu ya" Ujar nya mencium punggung tangan kami berdua.


"Oke sayang, hati-hati ya nak. Belajar yang pinter" Ujar ku menancapkan ciuman hangat di puncak kepala gadis ku itu.


Sofi membalas perkataanku dengan senyuman manisnya Ia pun langsung menggandeng tangan tantenya yang seksi itu dan berlalu dari hadapanku dan Tian.


Aku menatap dengan sedih kepergian kedua gadis yang beda usia itu hingga tidak kelihatan lagi di mataku.


"Kenapa kamu kelihatan sedih seperti itu?" Tanya Tian dengan lembut kepada ku.


"Aku merasa terkucilkan, Sofi sekarang sudah menjauh dari ku" Ujar ku kepada Tian dengan tatapan sendu.


"Lo, Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Walau bagaimanapun kamu tetap mamanya Sofi dan posisi kamu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun" Ujar Tian mencoba menenangkan ku.


"Tapi kamu lihat sekarang, Sofi semakin dekat dengan tante nya. Tante nya lah yang selalu berada di sisinya, menemaninya, mengantarnya ke sekolah menjemputnya bahkan menemaninya saat tidur. Aku merasa tidak berguna. Apa gunanya aku sebagai mamanya yang tidak ada untuknya di saat dia membutuhkanku"


"Sayang, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri seperti itu dong. Bukan kah kamu tidak berada di sisinya karena kamu itu dalam keadaan seperti ini. Hal seperti ini kan Bukan kamu yang menginginkan aku sudah menjadi takdir. Jadi kamu jangan merasa bersalah seperti ini" Ujar Tian mencoba untuk menenangkan ku lagi.


"Aku yakin Sofi juga mengerti akan hal ini. Dia juga pasti tidak menyalahkan mu. Dan ketika keadaanmu sudah mulai membaik kamu pasti bisa merawat Sofi seperti dulu lagi dan selalu menemaninya dan itu akan membuat kamu dan Sofi kembali dekat" Tambah nya lagi.


Aku tidak bisa menjawab. Pikiran ku masih buntu saat itu. Entah lah, memang akhir-akhir ini, aku selalu berpikir yang bukan-bukan. Hal itu mungkin di karena kan sekarang aku sedang hamil. Yah tahu sendiri lama jika orang sedang hamil itu hormonnya berubah-ubah. Jadi moodnya itu selalu turun naik begitulah yang kurasakan saat ini selalu datang pikiran yang bukan-bukan.


"Sudah lah sayang, tenangkanlah pikiranmu itu jangan kamu berpikir yang bukan-bukan kasihan bayi yang ada dalam kandungan kamu. Kamu harus pikirkan itu kamu nggak mau jan terjadi sesuatu sama bayi kita? Jadi kamu harus bisa mengontrol emosimu dan rasa kecurigaan mu itu" Ujar Tian lagi.

__ADS_1


Aku kembali diam tidak bisa berkata apa-apa. Tian menarik tubuh ku agar aku dekat dengan nya dan memeluk ku dengan hangat nya.


"Sudah lah sayang, tenang kan pikiran mu" Jelas nya lagi sambil memeluk ku agar perasaan ku kembali tenang aku membalas pelukan suamiku itu dengan hangat. Sungguh rasanya hati ini kembali nyaman saat berada di pelukan suamiku itu.


"Ya sudah sayang, aku harus berangkat ke kantor sekarang. Nanti aku telat lagi ke kantor nya jika terus berpelukan dengan istri tercinta ku ini" Ujar Tian menggoda ku.


Aku tersenyum mendengar apa yang di katakan suami ku itu. Sejujurnya aku sudah mulai bisa tersenyum lagi dan pikiran buruk ku kini perlahan mulai hilang setelah suamiku memeluk tubuhku tadi.


"Jangan sedih lagi ya sayang. Ingat itu bayi kita" Ulang Tian lagi.


Aku mengangguk.


"Ya sudah aku berangkat dulu ke kantor. Kamu jangan terlalu banyak beraktivitas ya sayang, jaga kandungan kamu" Nasehat Tian lagi.


"Iya, kamu hati-hati ya di jalan" Ujar ku.


Tian mencium puncak kepala ku dan berlalu dari hadapan ku.


***


"Tian, ini berkas yang harus kamu tanda tangani" Ujar Susan memberikan sebuah berkas yang harus di tanda tangani oleh Tian untuk kerja sama nya dengan klien nya.


"Oh ya, letakan di meja saja" Ujar Tian yang sedang sibuk dengan berkas-berkas yang ada di atas meja nya itu.


"Kelihatan nya kamu sedang sedang kesulitan"


"Iya nih, coba deh kamu periksa berkas ini. Seperti nya ada yang menjanggal deh" Ujar Tian menyerahkan berkas kepada sekretaris nya sekalian mantan adik ipar nya itu.


Susan mengambil berkas itu dan memeriksa nya.


"Oh iya ini ada beberapa keterangan yang tidak sama" Jelas Susan setelah memeriksa berkas tadi.


"Nah benar kan? Tolong kamu perbaikan perbedaan nya itu. Apa bisa?"


"Oh tentu saja bisa. Tapi tidak masalah kan aku mengerjakan nya di sini?"


"Oh ya tidak masalah"


Susan kembali tersenyum puas dengan apa yang di katakan oleh Tian barusan dimana Tian memberikan nya izin untuk bersama nya di ruangan itu.


Yah memang ini lah yang di harapkan dia selalu bisa bersama Tian baik di rumah, mau pun di kantor.


***


Yah aku sangat merasa bosan ketika terus-terusan berada di kamar. Tubuh ini sudah terbiasa lasak. Di mana biasa nya aku ikut membantu untuk mengurusi rumah bersama bik Ina.


Namun, semenjak terjadinya pendarahan itu aku sama sekali tidak bisa membantu bik Ina lagi untuk mengurus rumah yang megah ini.


"Gak apa-apa bik aku di sini. Lagian aku merasa bosan terus-terusan di kamar. Yah setidak nya membatu bibi untuk memotong sayuran menutut ku bukan lah pekerjaan yang berat" Jelas ku lagi.


"Tapi buk, bapak sudah berpesan agar ibu di kamar saja jangan kemana-mana" Jelas bik Ina merasa tidak enak hati.


"Aduh bik, tolong dong bik biarin aku di sini. Bukan nya merasa membaik, malah aku merasa tubuhku ini semakin pegal-pegal dan sakit karena tidak terlalu banyak beraktivitas hanya berbaring saja di kamar. Bibi tahu sendiri kan bagaimananya aku jika berada di rumah. Aku tidak pernah bisa diam dan kali ini ketika aku hanya bedrest di kamar, hal itu membuat tubuh ini merasa pegal bik" Jelas ku.


"Tapi buk... "


"Sudah bik, jangan menghalangi ku. Tolong izin kan aku untuk membantu bibi di dapur setidak nya hanya sekedar memotong sayuran. Aku gak berdiri atau bagaimana lo bik. Hanya duduk saja dan yang bekerja hanya tangan ku saja bukan" Potong ku kepada bik Ina agar wanita paruh baya itu tidak mempermasalahkan ku untuk membantu nya di dapur.


"Ya sudah buk jika ibu memaksa. Saya bisa apa.. Tapi benar ya buk gak apa-apa?" Tanya nya lagi meminta kepastian.


"Iya bik gak apa-apa kok. Bibi tenang saja ya. Jika nanti aku sudah merasa sedikit lelah, aku pasti akan kembali ke kamar untuk beristirahat" Jelas ku lagi mencoba untuk meyakini wanita paruh baya itu lagi.


"Baik lah buk jika itu sudah menjadi keputusan ibu" Ujar bik Ina pada akhirnya mengalah.


"Terima kasih ya bik" Ujar ku langsung memotong sayuran wartel yang ada di atas meja makan kami.


***


"Aduh Sofi kemana ya? Kok jam segini belum pulang?" Ujar ku cemas melihat jam di dinding sudah pukul satu siang.


"Apa Susan lupa untuk menjemput Sofi ya?" Tambah ku lagi cemas dengan keadaan putri sambung ku itu.


"Sebaiknya aku tanya sama Tian, apa Susan di kantor atau tidak" Ujar lagi mengetik nomor ponsel Tian dan langsung menghubungi nya.


"Hallo sayang" Jawab Tian.


"Hallo, sayang, apa Susan berada di kantor? Apa dia sudah menjemput Sofi di sekolah?" Tanya ku tampa basa basi.

__ADS_1


"Oh iya maaf sayang aku lupa mengabari kamu. Saat ini Sofi sedang berada di kantor bersama ku. Tadi ada meeting mendadak, jadi Susan sebagai sekretaris ku harus ikut bersama ku meeting tadi. Jadi nya gak sempat mengantar Sofi pulang. sehingga kami memutuskan untuk membawa Sofi bersama kami" Jelas Tian.


"Maaf ya sayang aku gak ngabarin kamu tadi. Aku buru-buru soalnya, jadi lupa deh memberi kabar kepada mu" Ujar Tian lagi merasa tidak enak hati.


"Oh ya udah gak apa-apa kok sayang. Aku pikir Sofi belum dijemput sama Susan. Jika Sofi sudah berada bersama kalian aku merasa lega dan tidak cemas lagi"


"Apa kalian sudah makan siang?" Tanya ku lagi.


"Sudah kok sayang. Tadi sebelum kembali ke kantor kami makan siang di luar dulu" Jelas Tian.


"Lagi-lagi Tian dan Sofi menghabiskan waktunya bersama Susan seperti satu keluarga yang bahagia" Batinku merasa kembali cemburu terhadap kedekatan dan kebersamaan mereka saat ini.


"Sedangkan aku hanya sendirian di rumah dan menghabiskan waktu sendiri seperti ini" Tambah ku lagi sungguh merasa terabaikan saat ini.


"Hallo sayang, sayang" Ujar Tian memanggil ku yang tidak mengeluarkan suara saat itu.


"Sayang, kamu masih di sana kan?" Tanya nya lagi.


"Eh iya sayang" Ujar ku kaget.


"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Tian .


"Gak apa-apa kok sayang"


"Benar gak ada apa-apa?"


"Iya, oh ya terus Sofi apa nanti akan pulang bersama kalian?"


"Iya Sofi nanti akan pulang bersama kami" Ujar Tian lagi.


"Ya sudah jika begitu. Nanti pulang nya hati-hati ya"


"Iya sayang. Kamu juga di rumah jangan terlalu banyak gerak"


"Iya sayang tenang saja"


"Ya sudah aku tutup ponsel nya ya ya" Aku pun mengakhiri telfon ku kepada Tian.


Sungguh hati ini merasa sangat terabaikan dan sangat cemburu dengan kedekatan Susan dan keluarga kecilku itu.


Aku merasa posisi ku tergantikan dengan kehadiran Susan saat ini. Dan aku berpikir bahwa Susan memang ingin menjauhkan ku dari keluarga ku dan mengambil alih peran ku. Entah lah aku tidak bisa menghilangkan prasangka buruk ini di hati.


"Astaghfirullahaladzim" Ucap ku mencoba untuk menenangkan hati ku yang gundah.


Aku menghela napas berat ku beberapa kali untuk menenangkan hati ini dan juga menghilangkan rasa gundah di hati.


"Dari pada aku berpikir yang bukan-bukan, lebih baik aku solat zuhur saja" Ucap ku saat mendengar azan berkumandang.


"Yah siapa tahu hati ini akan sedikit tenang dan pikiran buruk ini akan hilang" Tambah ku lagi.


Aku bangkit dari tempat ku duduk di Sofa ruang tamu. Aku menyelusuri tangga menuju kamar ku.


Aku mengambil wudhu sebelum melakukan solat seperti yang di lakukan para muslim pada umum nya.


"Ya Allah ya Tuhan ku. Ampunilah segala dosa-dosa ku yang telah mempunyai pikiran buruk terhadap Susan mantan adik iparnya suami ku. Entah mengapa aku ini terus saja berprasangka buruk kepadanya yang dimana aku belum mempunyai bukti atas prasangka-prasangka buruk ku itu. Aku mohon ya Allah, tenangkan lah hati ini jauhkanlah prasangka-prasangka buruk yang kelak akan merusak keluargaku. Buat lah pikiran ini berpikir hal yang positif saja. Dan aku mohon ya Allah, semoga prasangka buruk ku ini tidak akan pernah terjadi kepada keluargaku dan tolong ya Allah jagalah keutuhan keluarga kecilku ini hingga pada akhir hayat kami aamiin" Doa ku saat itu.


Aku terus-terusan mengucap istiqfar agar hati ini tenang dan membaca zikir-zikir untuk membuang pikiran buruk yang menjelajahi benak ku saat itu.


Selesai aku solat, aku pun kembali ke tempat tidur ku untuk beristirahat sekedar tidur siang.


***


"Mama" Teriak Sofi berlari memeluk ku yang ada di sofa ruang tamu menunggu kepulangan nya Tian dan dirinya.


"Sayang sudah pulang?" Tanya ku membalas pelukan anak ku itu.


"Mama, tadi Sofi pergi kekantor nya papa. Ternyata papa sekarang bekerja di kantor om Budi ya ma" Celoteh gadis itu.


"Iya sayang, jadi Sofi tahu ya itu kantor nya om Budi?" Tanya ku.


"Tahu dong mama. Sofi sering ke sana sama opa dan oma. Gak hanya kantor om Budi, om Rudi juga Sofi tahu" Jelas gadis itu lagi.


"Oh gitu, ya sudah karena hari sudah mulai gelap, Sofi mandi ya"


"Oke mama. Ayo tante kita mandi nya sama-sama" Ujar gadis kecil itu kembali merangkul tangannya Susan dan menuntun Susan menuju ke kamarnya.


Lagi-lagi rasa cemburu itu melihat kedekatan sofi dan Susan saat itu.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim ya Allah jangan membuat diri ini buat prasangka buruk lagi ya Allah" Batin ku lagi berdoa.


__ADS_2