Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 32


__ADS_3

"Alhamdulillah Fit, akhir nya kamu hamil juga. Kami akan kembali menimang cucu" Ujar mama Tian kepada ku. Bersyukur karena telah Allah sang maha pencipta memberikan titipan malaikat kecil kepada ku.


Malam itu kami mengadakan makan bersama sekalian doa selamat untuk ku dan si cabang bayi yang ada di dalam perut ku. Hanya acara keluarga saja tidak mengundang orang banyak.


"Iya, papa juga tidak menyangka bahwa kamu masih bisa memberikan papa keturunan lagi ya" Canda papa Tian.


"Ah papa bisa saja canda nya. Emang nya aku ini apa tidak bisa memberikan keturunan. Toh dulu aku juga sudah memberikan keturunan tuh si Sofi" Ujar Tian.


"Ya bukan begitu maksud papa. Maklum saja lah Tian gimana keadaan kamu dulunya. Papa khawatir itu akan mempengaruhi kesuburan kamu. Tapi sekarang papa sudah merasa lega karena Fitri telah berhasil di buahi" Ujar papa Tian tersenyum senang.


"Hmm... Apaan sih orang-orang ini. Pada lebai semua. Dulu aku yang hamil tidak segitu nya mereka. Secara aku hamil cucu pertama mereka. Tapi sekarang giliran Fitri yang di hamili oleh Tian malah sambut nya kelewatan" Ujar Ferni merasa iri dengan ku.


"Apaan sih keluarga kamu ini mas, terlalu berlebihan deh. Seperti baru pertama menimang cucu saja" Keluh Ferni berbisik kepada Budi suami nya.


"Belum juga anak itu lahir sambut nya bukan main seperti ini. Apa lagi nanti ketika anak itu lahir, bisa-bisa menjadi permata di antara keluarga kita" Ujar Ferni lagi.


"Sudah lah sayang. Biarin saja mereka itu mau menyambut kedatangan anak Tian seperti apa. Aku sudah tidak peduli lagi. Yang jelas semua yang aku ingin kan sudah aku dapatkan. Dan kehadiran anak itu tidak ada pengaruh nya sama sekali dengan semua yang aku dapat kan" Bisik Budi.


"Tapi mas aku gak mau ya nanti nya orang tua kamu membeda-bedakan kasih sayang antara anak kita dan anak nya Tian. Dulu aku hamil juga gak segitu senang nya mereka" Ferni masih kesal.


"Aku yang akan pastikan mereka tidak akan membeda-bedakan nya. Kamu tenang saja, Sudah lah sayang jangan berpikir terlalu jauh kamu nya. Yang penting kita sudah mendapatkan apa yang kita mau" Jelas Budi lagi.


Ferni hanya bisa menarik napas kesal dan menatap ku dengan sangat sinis nya.


***


"Hallo sayang tante" Sapa Susan saat ia telah tiba di rumah ku untuk menjemput Sofi. Yah hari ini adalah hari minggu di mana Sofi akan bersama Susan dan nenek nya untuk menghabiskan waktu. Karena sudah lama mereka tidak bertemu dan menghabiskan waktu bersama.


"Hai tante" Balas Sofi tersenyum dengan ramah kepada Susan.


"Sudah siap?" Tanya gadis ramping yang memiliki tubuh seksi itu.


"Sudah dong tante. Dari tadi Sofi sudah siap" Jawab nya.


"Oke, sekarang ayo kita berangkat. Kita akan jalan-jalan menghabiskan waktu bersama" Ujar Susan penuh semangat.


"Asyik... " Sorak Sofi kegirangan.


"Tian, Fit, aku bawa Sofi dulu ya"


"Iya, have fun ya" Jawab ku tersenyum ramah. Sedang kan Tian hanya tersenyum dan mengangguk mengizinkan.


Sofi dan Susan masuk ke dalam mobil nya Susan yang berwarna kuning itu.


Aku dan Tian melihat kepergian kedua gadis yang berbeda usia itu hingga tak kelihatan lagi.


"Ayo sayang masuk" Ajak Tian merangkul ku.


Aku tersenyum dan mengikuti langkah kaki suami ku itu.


Tiba-tiba terasa nyeri di bagian perut ku. Seperti saat sedang datang halangan saja. Meski tidak kuat, tapi nyeri itu terasa membuat ku sedikit panik.


"Aduh sayang" Ujar ku memegang perut ku yang terasa nyeri.


"Ada apa? Kamu kenapa sayang?" Tanya Tian ikut panik saat aku meringis kesakitan.


"Kok tiba-tiba perut ku terasa nyeri ya. Emang sih selama beberapa hari ini aku sering merasakan nyeri seperti mau halangan, tapi ini kok semakin kuat ya" Ujar ku lagi.


"Ya sudah kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu. Lebih baik kamu istirahat saja di kamar" Ujar Tian lagi.


Aku mengangguk dan pergi ke kamar ku untuk beristirahat.


Aku berbaring di atas ranjang tempat kami biasa nya beristirahat. Sedangkan Tian duduk di meja kerja nya yang tak jauh dari tempat tidur kami untuk melihat file yang masuk dari beberapa klien nya.


"Sayang, mau kemana?" tanya Tian melihat ku bangkit dari tempat tidur ku.


"Mau ke kamar mandi, mau pipis" Jawab ku berjalan menuju kamar mandi.


Tian hanya mengangguk.


"Tian, Tian" Teriak ku kepada Tian.

__ADS_1


Tian langsung berlari menuju kamar mandi tepat di mana aku berada.


"Ada apa sayang?" Tanya Tian mulai panik.


"Sayang, coba deh kamu lihat ini. Ada darah di ****** ***** ku" Ujar ku gemetaran.


Benar saja memang terdapat darah di ****** ***** ku saat ini.


"Ya Allah sayang. Ayo kita ke rumah sakit sekarang" Ajak Tian.


Aku pun mengangguk setuju. Kami pergi ke rumah sakit dengan perasaan yang gelisah dan sangat cemas takut jika terjadi apa-apa kepada janin yang ada di perut ku saat ini.


"Tian, aku takut. Aku takut nanti nya anak kita... "


"Sudah lah sayang jangan berpikir yang bukan-bukan tenang kan pikiran mu itu. Berdoa saja anak kita tidak akan terjadi hal yang buruk" Potong Tian saat kami dalam. perjalanan menuju rumah sakit.


"Kamu jangan terlalu banyak pikiran ya. Nanti malah semakin parah keadaan kamu nya" Kata Tian lagi.


Meski aku sudah berusaha untuk membuat pikiran buruk ku terhadap anak yang ada di kandungan ku, tetap saja itu tidak bisa. Pikiran buruk itu terus saja menghantui ku. Aku merasa sangat gelisah. Entah lah aku juga bingung kenapa ini bisa terjadi. Padahal semenjak aku mengetahui bahwa aku hamil, aku sama sekali tidak melakukan kegiatan yang berat-berat.


Pekerjaan rumah yang biasa nya ku kerjakan bersama bik Ina kini ku serah kan semua nya kepada bik Ina. Sedangkan aku hanya duduk manis di kamar terkadang bersantai si sofa ruang tamu sambil mengawasi pekerjaan bik Ina.


"Kamu tenang ya sayang. Jangan kamu berpikir yang bukan-bukan. Tenang kan hati dan pikiran mu" Ujar Tian lagi mencoba untuk menenangkan hati ku.


***


"Bagaimana keadaan janin saya dok? Apa dia baik-baik saja?" Tanya ku saat dokter kandungan melakukan pemeriksaan berupa USG.


"Syukurlah buk. Kandungan ibu baik-baik saja. Janin nya juga baik-baik saja. Hanya saja pendarahan yang ibu alami itu karena kandungan ibu lemah saat ini. Jadi saya saran kan ibu jangan terlalu banyak melakukan aktifitas yang berat-berat ya buk. Karena di usia kehamilan ibu yang sekarang ini masih sangat muda dan rentan akan terjadi nya keguguran.. Ditambah lagi dengan keadaan kandungan ibu yang lemah" Jelas dokter tadi lagi.


"Baik dok, terima kasih ya dok atas penjelasan nya" Ujar Tian.


"Oh ya, karena kandungan ibu lemah, sebaik nya jangan melakukan hubungan suami istri dulu ya buk, pak. Maklum saja ibu Fitri sudah mengalami pendarahan meski pun tidak banyak, tapi ini sudah tanda-tanda nya. Jadi di harapkan bapak dan ibu beristirahat dulu dalam melakukan hubungan suami istri nya" Tambah dokter itu tadi.


"Iya dok, terima kasih" Ujar ku.


"Ini resep obat untuk penguat kandungan ibu ya. Ingat ya buk pesan saya tadi" Ulang dokter itu lagi.


"Sayang, apa ini karena kegiatan kita tadi malam ya sehingga membuat mu seperti i ini?" Tanya Tian mulai menebak.


"Aku juga gak tahu sih, mungkin saja seperti itu" Jawab ku.


"Hmm.... Jadi kita harus puasa ni?"


"Ya harus bagaimana lagi. Dokter tadi sudah mengingat kan kita seperti itu. Mau tak mau ya harus kita ikutin saran dari dokter nya" Jelas ku.


"Ya sudah gak apa-apa yang penting kamu dan anak kita baik-baik saja" Ujar Tian lagi.


Entah lah aku merasa kasihan kepada suami ku itu. Selama ini dia juga sudah berpuasa lama. Sekarang karena keadaan mu seperti ini, ia akan kembali melakukan puasa nya. Dulu sih memang dia tahan kali ya karena belum merasakan lagi nikmat dunia. Tapi sekarang dia sudah kembali merasakan nikmat dunia itu. Apa mungkin dia biasa tahan dengan puasa nya yang cukup lama? Entah lah aku pun tidak tahu jawaban nya.


"Kenapa lagi sayang? Bukan kah anak kita baik-baik saja. Kenapa wajah mu murung begitu?" Tanya Tian kepada ku dengan lembut.


"Aku hanya kasihan kepada mu. Kamu jadi nya puasa lagi deh" Jawab ku dengan polos.


"Ya harus bagaimana lagi? Ini semua demi kebaikan kamu dan anak kita juga kan" Ujar Tian.


Aku mengangguk membenarkan.


"Aku jadi gak enak sama kamu Tian. Aku gak bisa melayani kamu" Ujar ku lagi merasa tidak enak hati. Yah meski ini bukan kesalahan ku sepenuh nya karena memang takdir nya aku seperti ini. Tapi tetap saja aku merasa bersalah. Entah lah mungkin karena sedang hamil jadi nya aku cengeng seperti ini. Maklum saja mak orang hamil mood nya selalu berubah-ubah.


"Sudah lah sayang. Demi keturunan kita, kita memang harus berkorban" Ujar Tian lagi mencoba menenangkan hati ku.


Aku tersenyum mengangguk.


"Ya sudah ayo kita pulang" Ajak Tian menuntun ku untuk menuju ke mobil.


***


"Wah tante, aku mau naik wahana itu. Boleh ya" Ujar Sofi kegirangan saat tante dan nenek nya membawa nya ke taman wahana bermain. Gadis kecil itu ingin menaiki komedi putar.


"Tentu saja boleh dong sayang. Ayo kita naik" Ajak Susan menggandeng tangan kecil gadis itu.

__ADS_1


"Ma, mama tunggu di sini dulu ya. Aku mau temenin Sofi" Ujar Susan kepada mama nya.


"Iya, buat dia senang hari ini sehingga dia akan betah bersama kamu" Jelas mama nya lagi.


Susan tersenyum senang mendengar ucapan mama nya barusan. Memang itu lah rencana mereka untuk membuat Sofi senang dan betah bersama mereka. Dengan begitu tinggal memikat hati papa nya Sofi lagi yaitu Tian suami ku.


Susan dan Sofi pergi ke tempat komedi putar itu. Mereka tampak sangat senang menaiki wahana itu. Raut wajah gembira pun terpancar di gadis kecil itu. Yah secara kami memang tidak pernah membawa nya ke tempat wahana itu. Karena masalah demi masalah yang ada di dalam keluarga kami. Jadi lebih memfokuskan kepada penyelesaian masalah kami itu.


"Apa kamu senang sayang?" Tanya Susan kepada Sofi.


"Senang dong tante. Sofi senang banget hari ini" Jelas nya lagi.


"Tante juga ikut senang melihat ponakan tante yang cantik ini senang. Oh ya sayang, apa mama dan papa tidak pernah mengajak mu ke tempat wahana ini?" Tanya Susan mulai menyelidiki.


"Gak tante, kemaren waktu papa sama mama baru nikah, Sofi ikut bersama oma. Terus setelah papa di nyatakan sakit dan masuk ke rumah sakit, jadi Sofi tinggal sama mama hingga saat ini. Jadi waktu itu kami hanya fokus untuk kesembuhan papa" Jelas Sofi lagi.


"Rumah sakit? Emang papa sakit apa?"


"Gak tahu juga sih tante, kata mama sih karena obat" Jelas nya lagi.


Susan mengangguk mulai mengerti.


"Mungkin maksud nya panti rehabilitasi. Yah secara Tian dulu sangat ketergantungan dengan obat itu. Karena itu Tian di bawa ke panti rehabilitasi untuk kesembuhan nya. Pantas saja dia sekarang telah berubah drastis" Ujar Susan dalam hati nya.


"Oh ya sayang besok-besok kalau tante ajak kamu jalan-jalan lagi bersama nenek, apa kamu mau?"


"Mau dong tante, apa lagi ke tempat wahana seperti ini. Tentu saja Sofi mau" Ujar gadis kecil itu.


"Tapi Sofi harus ajakin papa juga. Nanti tante, papa sama Sofi ke tempat ini lagi"


"Terus mama gimana?"


"Mama di rumah aja. Mama Sofi kan sedang hamil, jadi gak boleh capek-capek. Harus banyak istirahat. Kasihan kam calon adek nya Sofi nanti. Karena itu papa, Sofi dan tante aja ke tempat ini ya" Pujuk Susan.


"Benar juga ya tante. Oke tante besok-besok Sofi akan coba untuk mengajak papa ke tempat wahana ini" Ujar Sofi termakan dengan hasutan Susan.


"Bagus, satu mangsa telah masuk kedalam perangkap ku. Tinggal menangkap mangsa yang ke dua" Batin Susan tersenyum penuh dengan kemenangan.


***


"Sekarang kamu tunggu di sini dulu ya. Aku akan ke bawa mengambilkan kamu makanan" Ujar Tian mendudukan ku ke atas kasur kami.


Aku mengangguk.


***


"Bik, apa makanan siang nya sudah siap?" Tanya Tian kepada bik Ina.


"Oh sudah kok pak. Itu ada di meja makan. Apa bapak mau makan sekarang?" Tanya bik Ina.


"Oh gak, saya mau mengabilkan makanan untuk Fitri" Jelas Tian.


"Oh begitu, ya sudah pak biar saya yang ambilkan"


"Terima kasih ya bik Tolong antar kan ke kamar" Perintah Tian lagi.


"Baik pak"


"Oh ya bik, tolong nanti setiap waktu nya makan bibi antarkan makanan di kamar ya. Dan tolong pastikan Fitri akan selalu berada di tempat tidur nya saat saya tidak ada di rumah"


"Emang nya kenapa pak? Apa buk Fitri sakit?"


"Tadi Fitri mengalami pendarahan. Dan saat diperiksa ke dokter kandungan, itu dikarenakan kandungan Fitri itu lemah sehingga membuatnya mengalami pendarahan seperti itu. Meskipun tidak banyak tapi itu juga akan membahayakan janin yang ada di dalam perutnya jika hal ini terus berlanjut. Oleh karena itu dokter menyarankan Fitri untuk tidak melakukan aktivitas yang berat-berat dulu saat ini. Dia harus beristirahat yang banyak dan menghindari aktivitas-aktivitas yang menyebabkan terjadinya pendarahan itu kembali" Jelas Tian kepada bik Ina.


"Oh begitu ya pak. Kasihan sekali buk Fitri. Semoga semua nya baik-baik saja ya pak tidak terjadi hal yang tidak di inginkan" Ujar bik Ina.


"Ya bik, itu lah harapan kami. Semoga saja janin yang ada di dalam rahim nya Fitri itu kuat dan bisa bertahan hingga waktu lahiran tiba" Ujar Tian.


"Oh ya tolong ya bik bantu saya jagain Fitri ketika saya tidak ada di rumah" Ulang Tian lagi.


"Baik pak, saya akan menjaga buk Fitri semampu saya"

__ADS_1


"terima kasih ya bik. Tolong antarkan makanan nya ke kamar saya" Ujar Tian berlalu meninggalkan bik Ina yang sedang menyendok makanan untuk ku.


__ADS_2