
Susan merasa kesal kepada suaminya itu karena Tian sama sekali tidak membelanya saat dikata-katain oleh mamanya. Tian hanya dia mendengar mamanya mengatakan Susan yang bukan-bukan. Padahal jelas-jelas dia juga bersalah dalam hal ini.
Mama yang pun membawa Sofi untuk menginap ke rumahnya. Ya sudah lama Sofi tidak menginap di rumahnya jelas wanita paruh baya itu merasa rindu dengan cucunya itu.
***
"Sebenarnya ada apa dengan kamu Tian? Kenapa akhir-akhir ini papa melihat kinerja kamu menurun?" Tanya papa Tian saat berkunjung ke kantor nya.
"Yah papa seperti tidak tahu saja bahwa putra kesayangan mama dan papa kurang fokus karena ulahnya sendiri yang rakus" Ucap Budi abang sulungnya Tian yang juga ikut hadir di perusahaan Tian di mana perusahaan tersebut dulunya pernah ia pegang sebelum ia pindah ke perusahaan induk.
"Maksud kamu apa bang?"
"Jelas kamu itu laki-laki yang rakus yang tidak cukup hanya satu wanita saja. Bahkan mantan adik iparmu saja kamu cicipi sehingga sekarang menjadi istrimu" Ujar Budi lagi dengan penekanan.
"Untung saja papa tidak jadi memberikan perusahaan induk kepada kamu. Jika papa memberikannya kepada kamu aku yakin perusahaan itu akan hancur sehingga mengakibatkan perusahaan-perusahaan anak cabang juga ikut hancur" Jelas Budi lagi.
"Sudah jangan bertengkar lagi. Saat ini tidak hanya untuk bertengkar. Kita harus mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya. Jika masalah ini tidak bisa teratasi cepatnya, maka perusahaan kita yang lain akan mendapatkan dampaknya. Pasti parah klien kita yang lain tidak akan mau bekerja sama lagi dengan kita" Ujar papa Tian.
"Gara-gara dia yang membuat ulah kita semua yang mendapat impas nya" Ucap Budi dengan kesal.
"Sudah-sudah jangan bertengkar lagi" Ujar papa Tian lagi mulai memikirkan bagaimana solusi masalah yang harus di hadapi oleh perusahaan yang di pimpin oleh Tian saat ini.
Karena proyek yang ditangani oleh Tian tidak sesuai dengan rencana dan lebih memakan waktu lama. Sehingga dibutuhkan biaya tambahan untuk proyek tersebut.
"Tian, karena kamu yang merupakan pemimpin di perusahaan ini, karena itu papa minta sama kamu. Kamu harus segera menyelesaikan masalah ini. kamu harus membuat janji untuk bertemu dengan klien kita hari ini dan selesaikan masalah ini secepatnya" Perintah papa Tian lagi.
"Baik pa" Jawab Tian.
Tian pun meminta sekretarisnya untuk membuat janji dengan klien yang bekerja sama untuk mengatasi proyek tersebut.
***
"Saya sebagai CEO di perusahaan saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak bapak atas keterlambatan kami dalam menyelesaikan proyek ini" Ucap Tian kepada klien yang hadir di sana. Di mana pertemuan itu pun di hadiri oleh papa Tian dan juga Budi abang sulung nya.
"Karena itu, saya akan bertanggung jawab untuk masalah ini. Kami akan berusaha menyelesaikan proyeknya secepatnya. Dan untuk memperpanjang waktu pekerjaan proyek ini maka kami yang akan menanggung semua biayanya. Jadi pihak bapak tidak perlu untuk menambah biaya pekerjaan ini lagi. Karena ini merupakan kesalahan kami dan atas keteledoran kami. Kami mohon maaf sebesar-besarnya" Ucap Tian lagi.
"Baik lah kami akan menunggu kabar baiknya atas keberhasilan proyek ini. t
Tapi kami mohon maaf untuk proyek selanjutnya kita tunda pekerjaannya dulu. Karena saya mau bapak Tian untuk menyelesaikan masalah proyek ini terlebih dahulu. Barulah nanti kita akan melanjutkan proyek-proyek lainnya jika masalah ini telah selesai" Ujar klien tadi.
"Baik lah pak jika begitu. Terima kasih atas kepercayaan bapak kepada perusahaan kami" Ujar Tian.
"Tian, papa harap ini kali pertama membuat kesalahan seperti ini. Papa tidak mau kamu melakukan kesalahan lagi. Apapun masalah kamu yang kamu hadapi di rumah jangan kamu bawa kantor. Tetaplah profesional dalam bekerja. Jangan membawa masalah pribadi ke masalah perusahaan karena itu merupakan hal yang berbeda" Bisik papa Tian kepada Tian.
***
"Saat ini perusahaan ku sedang membutuhkan biaya tambahan untuk memperpanjang pekerjaan di proyek kemarin" Ucap Tian menceritakan masalah proyeknya kepada Susan istrinya saat ini.
"Aduh, bagaimana ini? Aku tidak mau masalah ini berlarut-larut" Batin Susan.
"Papa sama sekali tidak mau membantuku untuk menyelesaikan masalah ini. Bahkan papa juga tidak mau memberikan aku pinjaman dana untuk mengatasi masalah ini. Beliau memintaku untuk menyelesaikan masalah ini sendiri. Karena papa sudah memberikan sepenuhnya perusahaan ini kepadaku. Jadi aku harus bisa mengatasi masalah ini" Jelas Tian lagi.
"Jika masalah ini tidak bisa teratasi, maka akan membuat proyek-proyek yang lain terbengkalai dan klien tidak mau melanjutkan kerjasamanya untuk proyek seterusnya. Aku bingung harus bagaimana" Ucap Tian lagi memijit keningnya yang mulai terasa pusing dengan masalah yang dihadapi saat ini.
__ADS_1
"Aduh, jika masalah nya tidak kelar maka perusahaan akan menjadi bangkrut. Wah itu arti nya Tian akan jatuh miskin dong. Secara papa nya sudah angkat tangan untuk mengatasi masalah Tian. Gak aku gak mau miskin" Batin Susan lagi.
Susan menghela napas berat nya.
"Begini saja Tian, bagaimana kita jual saja rumah ini"
"Mana bisa kita menjual rumah ini San, secara rumah ini adalah rumah warisan dari papa. Pasti papa akan marah besar kepada ku. Dan pasti dia akan menarik kembali semua yang ia berikan kepada ku nanti" Jelas Tian lagi.
"Tidak ada jalan lain lagi, kita harus menjual rumah yang aku berikan kepada kamu. Jika proyek ini berhasil maka aku akan mendapatkan proyek yang lain. Itu arti nya aku akan kembali kan rumah yang lebih mewah dari rumah mu yang sekarang. Aku janji sama kamu" Ucap Tian meyakinkan Susan.
Susan tampak berpikir dengan ucapan yang barusan kepadanya.
"Apa aku harus setuju saja dengan ucapan Tian ini. Secara jika aku menolaknya pasti dia akan berpikir bahwa aku tidak peduli dengan masalah ia hadapi saat ini dan pastinya dia akan berpikir yang bukan-bukan lagi terhadapku" Batin Susan merasa ragu untuk menyetujui permintaan Tian tadi.
Susan menghela napas beratnya.
"Ya, sudah aku setuju dengan permintaan kamu itu. Kamu boleh kok menjual rumah itu untuk menambah dana perusahaan kamu" Ujar Susan pada akhir nya. Yah bagaimana pun dia harus membantu suami nya itu untuk mengatasi masalah ini.
"Yah aku harus membantu Tian saat ini. Semoga saja Tian bisa mengatasi masalah ini secepat nya dan rumah yang dia janji kan akan menjadi milik ku" Ujar Susan dalam hati nya.
"Apa kamu serius San?"
"Iya sayang aku serius. Aku akan membantu mu. Tidak masalah jika kamu menjual rumah itu. Secara rumah itu juga merupakan pemberian dari kamu" Ujar Susan lagi.
"Terima kasih San, kamu mau membantu mu dan mau berkorban demi perusahaan kita" Ujar Tian.
"Apa pun akan aku lakukan untuk membantu mu Tian. Aku tidak mau melihat kamu sedih dan stress memikirkan masalah ini sendirian. Ingatlah sayang aku akan selalu berada di sampingmu yang selalu menemanimu dalam keadaan apapun" Ucap Susan penuh keyakinan kepada Tian.
"Terima kasih Susan" Ujar Tian lagi memeluk istrinya itu.
***
"Apa? Jadi kamu merelakan rumah kamu itu dijual oleh Tian?" Ujar mama Susan saat Susan berkunjung ke rumahnya.
"Iya ma, saat ini dia sedang membutuhkan dana untuk proyeknya. dan aku sebagai istrinya harus membantu dia dalam menangani hal ini" Jelas Susan.
"Kenapa harus rumah kamu sih Susan. Kenapa tidak rumah peninggalan dari papa nya itu?"
"Ya jelas gak bisa ma, itu adalah rumah warisan yang diberikan oleh papanya Tian kepada dia. Dan jika rumah itu dijual, jelas papa Tian akan semakin marah kepada Tian. Bisa-bisa nantinya semua harta warisan yang diberikan kepada Tian akan kembali diambil oleh papanya. Emang nya mama mau kita jadi miskin kembali?" Tanya Susan.
"Aku nggak mau ya ma bekerja seperti dulu membanting tulang dan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kita. Sekarang aku sudah hidup enak. aku bisa membeli apapun yang aku mau tanpa harus bekerja keras" Ujar Susan.
"Lagian rumah itu kan dijual hanya untuk sementara saja. Nanti setelah proyeknya berhasil dan Tian juga akan dipercaya kembali untuk memegang proyek-proyek lainnya. Kita akan mendapatkan rumah yang lebih mewah daripada itu ma" Jelas Susan lagi.
"Ya untuk saat ini apa salahnya kita mengalah dan berkorban demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar"
Wanita paruh baya itu tampak berpikir mendengar ucapan dari putrinya itu.
"Iya kamu benar San. untuk mendapatkan keuntungan kita harus mengeluarkan modal terlebih dahulu ya" Ujar mama Susan merasa setuju dengan ucapan putri nya itu.
"Karena itu ma aku harus berkorban seperti ini"
"Terus, jika rumah itu dijual, mama harus tinggal di mana? Sedangkan rumah lama mama sudah mama kontrakan dengan orang lain" Ujar mama Susan.
__ADS_1
"Mama tenang aja mama bisa kok tinggal bersama kami. Mama jangan khawatir tentang masalah itu" Ujar Susan lagi.
"Jadi mama bisa tinggal di rumah megah kalian itu?"
"Iya dong ma, jika mama tidak tinggal bersama kami, terus mama mau tinggal di mana? Emang mama mau tinggal di rumah kontrakan kecil dan pengap seperti rumah kita yang kemarin."
"Ya gak do San. Mama saat ini sudah terbiasa hidup mewah dan tinggal di rumah yang mewah juga. Masa iya sih mama harus kembali ke rumah yang sederhana seperti kemarin itu. Mau taruh di mana muka mama sama temen-temen mama nantinya" Ujar wanita paruh baya itu.
"Nah itu tahu. Maka nya mama tinggal aja sama kami. Jadi mama semakin lebih terpandang di hadapan teman-teman mama karena rumah mama semakin besar dan semakin mewah saat ini. Mama juga bisa kok ngajak temen-temen mama untuk ngumpul di rumah agar mereka tahu bahwa menantu mama itu orang yang kaya raya" Jelas Susan lagi.
"Kamu benar San. Bagus juga ide kamu dengan begitu, teman-teman mama akan semakin segan kepada mama" Ucap wanita paruh baya itu tersenyum senang mendengar saran dari putrinya itu.
***
"Jadi pa, proyek yang di tangani oleh Tian lagi ada masalah?" Tanya mama Tian saat papa Tian menceritakan masalah proyek yang ditangani oleh putranya itu.
"Iya ma begitu lah"
"Kok bisa sih pa? Selama ini dia tidak pernah gagal dalam menjalani proyeknya.. Bahkan perusahaan yang ia pegang selama ini selalu maju dan sukses. Tapi kenapa kali ini malah mendapat masalah seperti ini sih pa?" Tanya mama Tian merasa heran atas masalah yang menimpa putra nya.
"Papa juga gak tahu dan papa juga tidak mengerti. Papa benar-benar kecewa sama Tian. Papa juga bilang sama dia bahwa dia harus bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya tanpa ada bantuan campur tangan dari papa"
"Lo kok gitu sih pa"
"Iya, biar dia tidak gegabah dalam menangani proyeknya itu lagi. d
Dan dia juga bisa membedakan mana masalah kantor dan mana masalah pribadi. Papa lihat Tian seperti ada masalah pribadi yang ia sembunyikan kepada kita dan tidak mau menceritakannya"
"Iya pa, papa benar. Tian memang mempunyai masalah di mana saat ini hatinya sedang hancur mendengar pertunangan Fitri yang akan dilaksanakan beberapa hari ke depan" Cerita mama Tian kepada suami nya.
"Apa? Jadi Fitri akan bertunangan?" Sontak papa Tian kaget mendengar kenyataan itu.
"Iya pa. Tian sendiri yang menceritakan masalah ini kepada mama kemaren"
"Anak itu benar-benar ya. Sudah bersama Susan masih juga memikirkan mantan istri nya. Biarkan saja Fitri menikah dengan laki-laki lain"
"Iya itu lah pa. Mama juga gak habis pikir dengan sikap Tian saat ini. Dia benar-benar terpuruk semenjak berpisah dengan Fitri. Salah dia sendiri juga kenapa bermain api hingga membuat pelakor itu hamil" Ujar mama nya lagi.
"Lagian mama heran deh, dulu sewaktu masih sama Fitri Tian selalu bahagia dan semua proyek yang ditanganinya selalu sukses tapi berbeda saat bersama Susan. Proyeknya gagal dan mengakibatkan perusahaannya yah terancam seperti ini. Memang wanita itu pembawa sial di dalam kehidupan Tian" Ucap wanita paruh baya itu lagi.
"Ma, jangan ngomong seperti itu tidak baik" Nasehat suami nggak dengan lembut.
"Itu memang kenyataan nya kok pa. Semua juga tahu kan kalau kita menikah dengan seseorang itu terus karir kita menurun. Itu artinya orang tersebut membawa sial di dalam kehidupan kita"
"Ma, sudah lah jangan terlalu membenci dan berkata yang bukan-bukan kepada Susan. Bagaimana pun dia itu menantu kita"
"Gak ah, mama nggak pernah menganggap sebagai menantu mama"
"Ma, apa salah nya menerima Susan. walau bagaimanapun dia itu sudah menikah dengan Tian"
"Terserah, pokoknya mama tidak akan pernah menganggap dia sebagai menantu mama. Dan papa mama harap tidak memaksa mama untuk menerima dia di dalam kehidupan mama. Karena pelakor itu tidak pantas hadir di tengah-tengah keluarga kita yang terhormat ini" Tegas mama Tian berlalu dan meninggalkan suaminya yang masih berdiri di hadapannya itu.
Papa Tian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya itu. Yang tetap kekeh tidak mau menerima kehadiran Susan dan selalu berpikir yang buruk terhadap Susan.
__ADS_1
"Mama, mama kenapa sih keras kepala sekali seperti ini? Papa tahu mama sangat membenci para pelakor karena mama juga pernah mengalami hal yang sama seperti Fitri. Semua ini salah papa. Maaf kan papa" Ucap laki-laki paruh baya itu.
"Apa-apaan sih papa ini. Bisa-bisa nya dia memintaku untuk menerima kehadiran pelakor itu di dalam keluarga ini. Gak, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau mengakui pelakor itu sebagai menantuku. Dia hanya wanita figuran yang mencoba hadir dalam kehidupan keluarga kecilku ini. Dan figuran itu hanya hadir sebentar saja dan akan berlalu menjauh dari keluargaku" Ujar wanita paruh baya itu saat ia berada di kamarnya.