
Kami pergi ke Telaga Suri Perdana yang ada di kota kelahiran ku. Yah danau buatan yang baru saja selesai di renovasi. Di mana danau itu terbentuk karena telah terjadi hujan lebat di kawasan itu. Dan tanah tersebut pun adalah lembah jadi air hujan tersebut tergenang di sana. Sehingga membuat pemilik PT tersebut menggali lagi tempat itu hingga terciptalah danau yang sekarang di beri nama Telaga Suri Perdana.
Aku membeli lukisan untuk sebagai hadiah untuk putri sambung ku. Yah sebenar nya aku ingin membawa nya bersama kami. Namun, apa lah daya ku Tian tidak memberikan izin kepada Sofi untuk ikut bersama ku.
Yah mungkin Tian tidak mau waktu bulan madu aku dan Rendi terganggu. Padahal aku dan Rendi merasa senang jika anak ku itu ikut dengan ku dan kami tidak merasa terganggu sama sekali. Lagian Sofi juga harus sekolah waktu itu.
"Sofi pasti senang jika memberikan hadiah ini untuk nya. Secara dia paling hobi melukis" Ujar Rendi.
"Iya bang kamu benar"
"Ma, pa gak coba naik wahana bebek air itu? Cobain dong mengingat masa-masa muda dulu" Ujar ku bercanda dengan kedua orang tua ku.
"Ih anak ini, sudah di bilangin juga jika mama dan papa sudah tua. Bisa-bisa penyakit kami kembali kambuh" Jelas mama ku.
Aku dan Rendi tersenyum mendengar perkataan mamaku tadi.
Kami duduk di kursi yang terbuat dari batu tempat di mana para pengunjung duduk di sana sambil menikmati pemandangan di danau tersebut ataupun sambil menunggu anak-anak mereka bermain di sana dengan menikmati wahana yang ada.
"Mama dan papa tunggu di sini sebentar ya aku mau beli cemilan untuk kita" Ucap ku pergi ke salah satu gerak yang ada di danau tersebut dimana gerai itu menjual burger dan minuman segar seperti Pop Ice, jus buah dan lain-lain sebagai nya.
Seperkian menit kemudian aku pun kembali dengan membawa empat buah burger dan minuman segar sebanyak empat juga untuk kami berempat.
"Ini cemilan nya" Ujar ku menyerahkan makanan yang ku beli tadi. Yah kami di sana tidak menaiki wahana apa pun. Karena kami ke sana hanya ingin melihat suasana di danau tersebut saat sore hari nya.
"Gak menyangka ya ma, tempat ini sudah menjadi kota. Sudah banyak perubahan di kota ini" Ucap ku.
"Iya, sudah ada hotel juga di sini ya. Lama-kelamaan pasti kota kecil ini akan menjadi kota besar dan maju" Ujar papa ku pula.
***
Dua hari tiga malam kami berada di kota kelahiran ku itu. Yah kini saat nya kami pulang ke kota Pekanbaru karena masa cuti ku dan juga Rendi sudah habis.
"Kak, bang kami pulang dulu ya" Ujar ku mencium punggung tangan pasangan suami istri itu begitu pun dengan Rendi.
"Jaga diri kalian baik-baik ya nak. Kami pulang dulu" Ujar mama ku pula.
Kakak ipar ku dan juga abang ku mencium punggung tangan papa dan mama ku. Mereka pun saling berpelukan sebagai ucapan perpisahan di antara kami.
"Hati-hati di jalan ya. Nanti kabari ya jika sudah sampai" Ujar abang ku pula.
"Iya bang nanti akan ku kabari jika sudah sampai di rumah" Jawab ku. Kami pun menaiki mobil yang akan membawa kami pulang ke kota Pekanbaru.
***
"Assalamualaikum" Ujar ku saat tiba di depan rumah Tian. Ya semenjak pernikahanku dengan Rendi membawa hikmah kepada hubungan aku dan juga Susan beserta mamanya. Di mana kami hubungan kami sudah membaik. Susan pun tidak melarang ku lagi untuk bertemu dengan Sofi. Dan kata pelakor ataupun janda murahan sudah tidak ada lagi untukku dari ibu dan anak itu.
"Waalaikumsalam" Jawab Susan membuka pintu rumah nya yang megah itu.
"Eh Fitri, Rendi. Silahkan masuk" Ucap nya dengan senyuman hangat menyambut kedatangan kami.
"Iya, terima kasih" Ucap ku dan Rendi. Kami pun duduk di sofa yang terdapat di ruang tamu rumah nya.
"Gimana liburan bulan madu kalian? Apa seru?"
"Seru juga sih, Sudah lama tidak pulang kampung ternyata sudah banyak perubahan yang terjadi di sana" Ujar ku.
"Fitri, Rendi kapan kalian pulang?" Tanya Tian yang baru saja turun dari lantai dua nya.
"Kemarin sore kami baru tiba di sini. Oh ya Sofi mana ya?"
"Ada di kamar nya. Sebentar ya" Ujar Tian.
"Bik, bik Ina. Tolong panggilin Sofi ya" Ucap Tian kepada pembantu rumah tangga nya itu.
"Baik pak" Jawab wanita paruh baya itu langsung bergegas memanggil putri nya itu.
__ADS_1
"Mama... " Teriak gadis kecil itu berlari ke arah ku dengan wajah yang gembira.
"Sayang... " Aku menyambut kedatangan putri ku itu dengan pelukan hangat.
"Kapan mama dan papa pulang? Kenapa gak kabarin Sofi sih"
"Kemarin sayang. Oh ya karena anak mama yang cantik ini suka melukis, jadi mama beli sesuatu untuk Sofi sebagai hadiah nya" Ucap ku lagi.
"Wah apa itu ma"
"Ini dia, lukisan dari Telaga Suri Perdana. Sofi hanya tinggal mewarnai nya lagi" Jelas ku.
"Wah bagus nya. Terima kasih mama, terima kasih papa" Ucap nya mencium pipi ku dan juga Rendi.
"Sama-sama sayang"
"Sofi ke kamar dulu ya ma, pa. Sofi gak sabar mau memberikan warna pada lukisan ini"
"Iya sayang" Jawab Rendi. Gadis kecil itu pun berlari dengan gembira menuju kamar nya.
"Fit, Telaga Suri Perdana itu apa?" Tanya Tian.
"Oh kamu gak tahu ya, ternyata di sana sudah terdapat wahana wisata yaitu danau buatan yang di beri nama Telaga Suri perdana" Jelas ku.
"Apa iya"
"Iya, sudah banyak perubahan ternyata di kota itu lo Tian"
"Wah, seperti nya seru juga ya. Lain kali aku juga pengen pulang ke sana dan melihat perubahan-perubahan di kota kelahiran kita itu. Aku juga mau menceritakan masa kecil ku di sana kepada Sofi" Ujar Tian lagi.
Aku tersenyum mendengar perkataan dari mantan suami ku itu.
***
Aku merasa pusing akhir-akhir ini. Tubuh ku merasa lemah dan tidak bertenaga.
"Astaghfirullahaladzim, sudah hampir dua bulan aku tidak mendapatkan tamu bulanan. Apa jangan-jangan aku hamil ya? Secara waktu aku mengandung Raffa aku juga merasakan hal yang sama" Batin ku. Agar rasa penasaran ini tidak berlama-lama, aku pun memutuskan untuk pergi ke apotek membeli tes kehamilan. Yah aku tidak mau mengatakan apa yang aku rasa kan saat itu kepada siapa pun. Karena aku belum pasti hamil nya, Yah aku takut nanti aku mengatakan bahwa aku hamil dan pada akhir nya aku tidak hamil hanya masuk angin biasa. Jelas itu akan membuat orang-orang terdekat ku kecewa.
Aku merasa deg degan saat mencoba menggunakan tes kehamilan itu. Yah tentu saja aku berdebar pasti setiap wanita yang melakukan tes tersebut merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan.
"Ya Allah, semoga saja hasil nya tidak mengecewakan" Batin ku.
Lima menit setelah tes kehamilan itu pun keluar. Dengan perasaan yang semakin berdebar aku mulai melihat hasil itu.
"Bismillahirohmanirohim" Ucap ku sambil membuka mata ku perlahan-lahan.
Aku membulatkan mata ku melihat hasil dari tes kehamilan tersebut. Perlahan-lahan senyuman merekah di bibir ku. Ku lihat ada garis dua merah yang tertera di sana.
"Ya Allah, aku hamil? Alhamdulillah, terima kasih ya Allah telah menitipkan zuriat kepada ku lagi" Doa ku dalam hati dengan perasaan yang gembira.
"Aku harus pergi ke dokter kandungan untuk memastikan benar atau tidak nya aku hamil" Ujar ku dalam hati.
Aku pun memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan untuk memastikan apakah benar ada janin di dalam rahimku atau tidak. Dan setelah aku memastikan hal itu, barulah aku akan memberi kabar bahagia ini kepada Rendi dan juga keluargaku.
***
Aku menarik napas ku dalam-dalam lalu ku hembuskan kuat-kuat untuk menghilangkan rasa deg-degan di dada. Yah seperti orang yang baru sedang hamil saja yang aku rasakan saat ini. Hal itu dikarenakan aku tidak memiliki anak kandung dan Raffa hanya dititipkan sebentar kepadaku oleh sang pencipta. Karena itulah aku merasakan seperti orang yang baru saja mengalami kehamilan ini.
"Baik lah silahkan berbaring ya buk. Kita periksa dulu" Ujar dokter kehamilan itu. Aku pun berbaring di tempat tidur yang telah di tentu kan. Dokter tadi mulai memeriksa perut ku menggunakan USG untuk memastikan apa kah aku hamil atau tidak nya.
"Alhamdulillah ya buk, ini sudah terlihat kantong kehamilan nya. Jika di hitung dari datang nya waktu halangan, ini sudah masuk enam minggu" Jelas dokter kehamilan yang berjenis kelamin perempuan itu lagi kepada ku.
"Alhamdulillah, jadi benar dok saya hamil?"
"Iya buk, benar sekali ibu saat ini sedang hamil" Ujar dokter itu lagi.
__ADS_1
"Ini saya berikan resep obat nya. Harap di minum sesuai peraturan nya ya buk. Dan saat ini ibu di harapkan banyak-banyak untuk beristirahat. Jangan terlalu banyak gerak karena di awal kehamilan ini sangat rentan buk" Jelas dokter tadi.
"Iya dok, terima kasih dok. Saya permisi dulu" Ujar ku langsung pergi meninggalkan tempat praktek tersebut.
"Sama-sama"
***
Aku memutuskan untuk memberi kejutan kepada suami ku itu. Aku memasukkan hasil tes kehamilan dan juga hasil usg tadi ke dalam kotak kecil yang nanti akan ku serahkan kepada suami ku. Yah seperti yang di lakukan para konter kreator kebanyakan yang memberikan surprise kepada suaminya dengan cara seperti itu.
"Bang, ada yang mau aku tunjukkan kepada mu" Ujar ku setelah aku tiba di rumah. Aku masih tinggal bersama kedua orang tua ku. Secara di rumah itu hanya tinggal mama dan papa ku saja. Karena itu lah orang tua ku meminta kami tetap tinggal bersama mereka saja.
"Apa yang kamu kamu tunjukkan kepada ku?" Tanya Rendi penasaran.
"Karena hari ini adalah hari istimewa untuk mu, jadi nya aku memberikan hadiah ini" Ujar ku sambil menyerahkan kotak kecil yang telah ku isikan dengan tes kehamilan dan juga hasil USG tadi.
Rendi mengerutkan keningnya merasa heran dengan tingkahku seperti itu. Yah suami ku itu berpikir Hari istimewa apa yang ku maksud secara dia tidak ulang tahun hari ini.
"Hari istimewa apa sih maksud kamu sayang? Secara aku gak ulang tahun hari ini atau pun mendapatkan lewat apapun" Ujar Rendi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena heran dengan tingkahku seperti itu.
"Ini ambil saja dulu terus lihat apa isi nya. Nanti juga kamu akan tahu bang hari apa yang aku maksud" Ujar ku tersenyum manis.
Meski masih dalam keadaan heran, Rendi pun mengambil kotak yang ku berikan tadi. Yah sangat jelas terlihat di wajah nya betapa bingung dan heran nya dia dengan apa yang aku lakukan itu.
"Boleh di buka ni?" Tanya nya.
"Ya boleh dong, buka aja"
Rendi pun mulai membuka kotak tersebut dan melihat isi nya. Rendi mengambil hasil tes kehamilan dan melihat nya dengan teliti.
"Dua garis merah?" Ujar nya dengan wajah yang bingung. Kemudian dia mengambil hasil USG dan melihat nya.
"Kamu hamil sayang?" Tanya nya dengan terukir senyuman di wajah.
Aku tersenyum dan mengangguk membenarkan apa yang ditanyakan oleh suamiku itu.
"Jadi benar kamu hamil?"
"Iya sayang, ada benih mu di dalam rahim ku" Ujar ku lagi dengan tersenyum bahagian.
Tampa terasa beberapa butir air bening mengalir di pipi suami ku itu. Yah laki-laki itu menangis terharu karena Allah yang maha pencipta telah mempercayai kami untuk di berikan zuriat.
"Alhamdulillah ya Allah terima kasih atas kepercayaan Mu kepada kami" Ujar nya sambil sujud syukur.
Rendi mencium perut ku dan mengelus nya dengan lembut.
"Ya Allah jadi kan lah anak kami anak yang soleh/soleha. Yang bisa menjadi kebanggaan kami dunia dan akhirat. Yang sekalu taat kepada perintah Mu, yang selalu berbakti kepada kedua orang tua nya. Jadi kan lah anak ini anak yang berguna untuk agama Mu. Aamiin" Doa Rendi sambil mengelus lembut perut ku dengan penuh kasih sayang.
"Sayang kenapa kamu gak mengajak ku untuk pergi periksa USG sih? Kenapa pergi nya sendiri seperti ini?" Ujar Rendi.
"Ya gak apa-apa bang. Tadi nya aku belum yakin dengan hasil tes kehamilan itu. Karena itu lah aku pergi ke dokter kandungan untuk memastikan nya. Dan alhamdulillah hasil dari tes kehamilan tersebut sama dengan hasil USG itu" Jelas ku kepada suami ku itu.
"Ya sudah, pokok nya mulai sekarang kamu jangan terlalu banyak beraktifitas ya. Untuk masalah cafe biar aku yang urus. Dan untuk kuliah mu itu, kamu harus kuliah online saja. Kita harus jaga anak ini baik-baik" Ujar Rendi.
"Iya sayang kamu tenang saja aku gak akan terlalu banyak beraktifitas kok. Aku akan membatasi kegiatan ku"
"Oh ya bang, tadi dokter itu bilang, usia kehamilan ku sudah enam minggu. Dan bulan depan aku harus pergi kontrol lagi untuk melihat perkembangan janin ini" Jelas ku lagi.
"Jika begitu, kamu harus pergi di temani oleh ku ya sayang. Jangan pergi sendiri lagi seperti tadi"
"Iya sayang besok aku meminta kamu untuk menemani ku untuk cek kontrol lagi" Ujar ku.
***
"Alhamdulillah selamat ya nak. Mama dan papa sangat bahagia mendengar kabar bahagia ini" Ujar mama ku saat kami memberikan kabar kehamilan ku.
__ADS_1
"Iya, papa juga merasa senang mendengar nya. Semoga anak ini menjadi anak yang soleh/soleha ya. Kalian harus menjaga kandungan ini dengan baik" Ujar papa ku pula.
Aku dan Rendi tersenyum sambil mengangguk menyetujui perintah dari papa ku itu.