Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 106


__ADS_3

Acara pertunangan ku dan Rendi di malam itu berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun. Keluarga ku dan juga keluarga Rendi mengucapkan syukur atas kelancaran acara tersebut.


Aku merupakan tubuhku yang terasa lelah karena seharian mempersiapkan acara tersebut. Aku meminta Sofi putri sambung ku itu beristirahat karena besok dia harus pergi ke sekolah. Dan aku tidak mau putriku itu akan terlambat nanti nya.


Yah tentu saja Sofi pun menuruti kemauanku dan langsung tidur bersamaku. Melihat putriku itu sudah tidur apapun mencoba untuk memejamkan mataku.


"Selamat tidur sayang" Ucap ku membelai lembut rambut putri kecilku itu tak lupa ku tancapkan ciuman hangat di puncak kepala Sofi dengan penuh kasih sayang.


"Selamat malam juga mama" Jawab putri ku itu.


***


Susan tampak melamun dan memikirkan nasib nya saat ini. Wanita itu masih belum bisa menerima nasib nya saat ini. Yah di mana saat ini rahim nya telah di angkat. Di bisa merelakan anak yang ada di dalam kandungan nya itu telah pergi meninggalkan nya. Tapi dia tidak bisa rela jika rahim nya di angkat.


"San, sekarang makan ya. Sudah waktu nya kamu minum obat" Ujar Tian yang selalu setia mendampingi istri nya saat itu.


"Aku masih belum lapar Tian" Jawab Susan dengan nada yang tampak memalas. Ya wanita itu tampak seperti kehilangan semangat untuk hidup. Rasanya hidup yang ia alami saat ini sia-sia dan ia tidak ingin melanjutkan hidupnya lagi. Semua ini telah hancur begitulah yang ia pikirkan saat ini.


"Kamu harus makan Susan. Aku tidak mau kamu nantinya bertambah sakit. Ini sudah waktunya minum obat" Ujar Tian.


"Aku suapin ya" Ujar Tian mengambil nasi yang disediakan oleh suster tadi untuk menyuapi Susan.


Meski saat ini ia belum lapar dan tidak mempunyai nafsu untuk makan. Dengan terpaksa susah untuk membuka mulutnya untuk menerima sesuai dengan sesuap makanan yang disodorkan oleh Tian kepadanya.


"Nah gitu dong sayang. Kamu harus makan agar cepat sembuh. Aku tidak mau kamu semakin sakit nanti nya" Ujar Tian penuh dengan perhatian.


"Sudah Tian, aku sudah kenyang" Ujar Susan setelah beberapa sendok makanan yang di Sodorkan kepada mulutnya.


"Ya sudah jika kamu sudah kenyang. Sekarang minum obat nya ya" Ujar Tian lagi memberikan beberapa obat kepada Susan untuk diminum.


"Tian, kamu benar kan gak akan pergi ninggalin aku meski aku tidak bisa memberimu keturunan lagi" Tanya Susan lagi meminta kepastian kepada suaminya itu agar tidak ninggalin dirinya dalam keadaan seperti ini.


"Iya sayang. aku janji sama kamu, aku akan selalu berada di sampingmu dan selalu setia kepadamu. Meski keadaan kamu seperti ini aku menerima kamu apa adanya" Jelas Tian meyakini istrinya itu.


"Kamu nggak bohong kan Tian?"


"Iya, aku janji sama kamu aku tidak akan pernah meninggalkan kamu dalam keadaan apapun" Ujar Tian meyakini istri nya itu.


"Terima kasih Tian. Aku tidak mau kehilangan kamu. Aku sangat mencintai kamu Tian. Aku tidak mau kamu tinggalkan" Ujar Susan memeluk suaminya itu dengan penuh ketakutan.


"Ya, kamu tenang saja ya. Aku akan selalu berada di samping mu" Janji Tian kepada istri nya lagi.


"Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu. Sekarang kamu hanya fokus pada kesembuhan kamu" Ujar Tian lagi.


***


Pesta pernikahan ku dan Rendi hanya menghitung hari saja. Yah kami memang sengaja ingin menikah secepatnya karena ingin menghindar dari segala fitnah dan omongan orang terhadap kami.


Yah tentu nya aku masih mengenakan hijab ku. Dari malam pertunangan kami, aku sudah memutuskan untuk belajar mengenakan hijab.


Aku dan Rendi memutuskan untuk bertemu di cafe ku dan membahas tentang pernikahan kami nantinya. Di mana aku akan memakai tema apa di pernikahan itu. Tak lupa kamu juga mengundang wo (wedding organizer) untuk mempersiapkan acara pernikahan kami itu.


"Selamat siang ibu Fitri dan pak Rendi" Ujar wo tersebut bersalaman dengan kami.


"Selamat siang" Jawab ku dan juga Rendi.


"Salahkan duduk" Ucap ku lagi kepada wo itu.


"Maaf sebelum nya, kita langsung saja ya pak, buk, karena saya masih ada urusan yang harus saya selesaikan" Jelas wo itu lagi yang berjenis kelamin laki-laki.


"Baik lah, jadi Tema apa yang akan di gunakan saat resepsi pernikahan nanti?" Tanya wo tersebut kepada kami berdua.


"Aku mau memakai tema adat melayu. Yah karena aku adalah orang melayu jelas aku mau menangkan adat itu" Ujar ku.


"Bagaimana bang? Apa abang setuju dengan ide ku?" Tanya ku lagi kepada calon suami ku.


"Kalau aku sih terserah kamu saja mau nya seperti apa. aku sebagai pihak laki-laki hanya mengikuti semua yang kamu rencana kan untuk pernikahan kita" Ujar Rendi kepada ku.

__ADS_1


"Apakah abang nggak mau memakai adat mu bang?"


"Terserah kamu saja. Aku hanya mengikuti. Sejujurnya aku tidak begitu pandai dalam hal seperti ini dan kamu juga tahu sendiri kan ini kali pertamanya aku melaksanakan pernikahan bersamamu" Ucap Rendi lagi kepada ku.


Ya memang ini kali pertamanya dia melaksanakan pernikahan bersamaku karena statusnya saat ini adalah bujangan. Meski begitu usianya lebih tua daripada aku.


"Ya sudah, biar adil kita akan memakai adat Melayu dan Palembang sebagai tema pernikahan kita nanti" Ucap ku.


"Ya sudah, jika itu yang terbaik untuk kamu aku hanya mengikuti saja semuanya"


"Jadi sudah resmi ya bahwa acara nya memakai tema adat Melayu dan Palembang" Ujar wo itu kepada kami.


"Iya kita akan memilih adat Melayu dan Palembang. Apakah ada foto pelaminan nya untuk kami lihat?"


"Oh iya, kebetulan saya membawa foto berbagai tema adat di berbagai acara pernikahan yang saya tangani. Ini silahkan di lihat foto nya" Ucap nya memberikan album foto pelaminan kepada kami agar kami bisa memilih mana yang cocok dan sesuai dengan selera kami.


Tidak sulit bagi wo tersebut untuk menyiapkan acara kalau pernah ada Palembang dan juga Melayu hampir-hampir sama untuk mendekorasinya.


"Baik lah buk, pak Terima kasih atas kepercayaan kalian terhadap saya untuk sebagai wo pernikahan kalian. Saya akan berusaha untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar pernikahan kalian akan berjalan dengan lancar" Ucap wo tersebut.


"Ya sama-sama. Dan untuk lokasi pernikahannya Nanti akan saya share melalui wa. Karena saat ini kami masih mencari hotel yang tepat untuk acara pernikahan kami nanti" Jelas Rendi kepada wo itu lagi.


"Baik lah pak. Jika begitu saya permisi dulu karena masih ada urusan yang harus saya selesaikan" Ucap wo tadi berpamitan keluar dari cafe ku.


"Sekarang kita hanya mencari hotel yang tepat untuk acara pernikahan kita" Ujar Rendi.


"Oh ya bang, bagaimana jika acara nya kita adakan di hotel tempat pertama kali kita bertemu" Ujar ku memberi saran kepada calon suami ku itu.


"Ide yang bagus, aku juga setuju jika kita mengadakan acara pernikahan kita di sana. karena di sana tempat pertama kali kita bertemu" Ujar Rendi setuju dengan rencana ku.


***


"Assalamualaikum" Terdengar ucapan salam dari pintu depan rumahku.


"Waalaikumsalam" Jawabku sambil membuka pintunya.


Ya hari itu kami telah membuat janji untuk pergi ke hotel tempat pertama kali kami bertemu waktu itu agar bisa membooking hotel tersebut dijadikan tempat acara pernikahan kami. Karena itulah Rendi datang ke rumahku untuk menjemput ku.


"Mama mau pergi sebentar sayang bersama papa Rendi untuk mencari lokasi yang tepat sebagai acara pernikahan kami nanti" Jelas ku.


terlihat raut kesedihan di wajah gadis kecil ku itu.


"Kenapa sayang? Kok gitu sih wajah nya?" Tanya ku dengan lembut.


"Sofi sendirian di sini"


"Kan ada nenek dan kakek sayang"


"Ma, boleh ya Sofi ikut. Sofi juga pengen jalan-jalan" Pinta gadis kecil ku itu.


"Tentu saja boleh kok sayang. malahan mama dan papa merasa senang jika kamu ikut bersama kami" Ujar Rendi tersenyum senang kepada putri kecilku itu.


"Beneran pa?" Tanya nya meminta kepastian kepada calon papanya itu.


"Tentu saja dong sayang Apa sih yang nggak buat putri papa yang cantik ini" Ucap Rendi sambil mencubit lembut pipi tembem gadis kecil itu.


"Asyik... " Teriak nya kegirangan.


"Sebentar ya bang, aku mau menggantikan baju Sofi dulu. Abang masuk aja ke rumah dulu" Ucapku lagi kepada calon suamiku itu.


Aku pun kembali ke kamarku bersama Sofi untuk mempersiapkan Sofi. Sedangkan Rendi duduk di ruang tamu sambil menunggu aku dan Sofi.


"Eh ada nak Rendi, sudah lama datang nya?" Tegur Papaku yang baru turun dari lantai dua.


"Om" Ujar Rendi mencium punggung tangan papa ku itu.


"Belum lama kok om. Baru saja tiba" Jawab nya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oh ya, saya mau meminta izin sama om untuk membawa Fitri dan Sofi keluar sebentar untuk mencari hotel yang tepat untuk acara pernikahan kami nanti" Jelas nya kepada calon papa mertua nya itu.


"Fitri juga sudah bilang kok sama om dan tante tadi malam"


"Benar kah? Tapi gak enak juga om jika hanya Fitri yang meminta izin. Alangkah baik nya saya langsung mengatakan nya kepada om dan tante. Karena saya membawa anak gadis orang" Ujar Rendi.


"Iya nak, kamu benar nak. Alangkah lebih baik nya kita sebagai laki-laki langsung meminta izin kepada orang tua wanita. Sebagai laki-laki sejati harus seperti itu" Ujar papa ku sedikit bercanda.


Rendi tersenyum senang mendengar ucapan papa ku itu.


"Oh ya, tante di mana om? Dari tadi gak kelihatan"


"Ada di belakang. Palingan sibuk dengan taneman nya"


"Oh ya gak di tawari minuman ya. Sebentar om panggilin bik Surmi dulu" Ujar papa ku. Bik Surmi adalah pembantu rumah tangga yang ada di rumah ku. Beliau sudah tiga tahun bekerja bersama kami. Yah semenjak aku bertunangan dengan Tian, ibu ku mencarikan pembantu untuk membantu nya di rumah. Karena biasa nya untuk urusan membersihkan rumah aku dam ibu ku lah yang selalu siaga. Tapi karena aku akan menikah dengan Tian, dan jelas ibu ku akan kualahan sendiri untuk mengurus rumah yang besar itu, itulah dia mencarikan pembantu untuk membantunya mengurusi rumah besar itu.


"Gak perlu om, terima kasih, saya hanya sebentar kok. Hanya menunggu Sofi bersiap-siap" Ucap nya.


"Beneran gak mau?"


"Iya om gak perlu. Terima kasih om" Ujar nya lagi.


Aku dan Sofi kembali ke ruang tamu tempat di mana Rendi sudah menunggu kami untuk bersiap-siap.


"Ayo bang, kami sudah siap" Ucap ku kepada calon suami ku itu.


"Kalau begitu, kami permisi dulu om. Assalamualaikum" Ujar Rendi kembali mencium punggung tangan calon mertua nya itu.


"Waalaikumsalam" Jawab papa ku.


"Pa, kami pergi dulu ya"


"Iya, hati-hati ya" Jawab papa ku kepada ku.


***


"Pa, kenapa papa gak marah jika Sofi ikut bersama kalian?" Tanya Sofi dengan polos kepada calon papa baru nya itu saat kami dalam perjalanan menuju ke hotel yang akan kami boking untuk acara resepsi pernikahan kami nanti.


"Lo, kenapa papa harus marah sih? Bukan kah Sofi itu anak papa. Masa ia papa marah jika anak papa mau ikut" Jelas Rendi tersenyum.


"Tapi papa Tian bilang, mama sama papa selalu sibuk untuk mengurusi acara pernikahan kalian. Jadi Sofi hanya menganggu kalian saja" Ujar Sofi dengan wajah yang sedih.


"Gak kok sayang. Papa sama mama gak pernah berpikir bahwa Sofi itu menganggu kami kok sayang. Malahan papa sama mama senang jika Sofi terus bersama kami. Apa laki ikut kami berpergian seperti ini. Secara bisa menghilangkan segala fitnah jika kami hanya pergi berdua" Jelas Rendi kepada putri kecil ku itu.


Yah, tentu saja Rendi menjaga nama baik ku agar aku tidak di pandang sebelah mata oleh orang-orang. Secara jika kami pergi berdua tentu orang-orang berpikir miring tentang ku. Karena itu lah dia suka mengajak Sofi bersama kami.


"Beneran pa?" Tanya gadis kecil itu meminta keyakinan kepada calon papa mertuanya itu.


"Iya sayang tentu saja benar. Kamu tidak pernah menganggu kami kok sayang" Ujar ku menyepeli.


"Sayang, pokok nya mama dan papa akan selalu senang jika Sofi selalu bersama kami. Papa dan mama sayang sama Sofi" Ujar ku dengan penuh perasaan kepada putri ku itu.


"Sofi juga sayang sama papa dan mama" Ujar nya lagi.


"Oh ya, nanti setelah kita selesai melihat hotel, kita akan makan malam di luar ya. Kita juga gak pernah makan di luar bersama-sama" Ajak Rendi kepada kami.


"Wah beneran pa?" Tanya Sofi penuh dengan rasa gembira di hati. Yah saat ini dia merasakan seperti keluarga yang utuh di mana aku dan Rendi begitu perhatian dan menyayanginya selayak nya anak sendiri. Anak kecil mana yang gak merasa bahagia di perlakukan istimewa seperti itu bukan?


"Tentu saja benar dong sayang. Kapan sih papa bohong sama kamu" Ujar Rendi lagi.


"Wah, Sofi senang banget bisa makan di luar sama mama dan papa"


"Sofi boleh kok memilih mau makan di tempat yang Sofi suka"


"Kalau begitu, Sofi mau makan nya di mall aja pa. Setelah itu Sofi juga pengen nonton bioskop. Apa boleh pa?"


"Tentu saja boleh dong sayang. Kita akan makan malam di mall dan menonton bioskop nanti"

__ADS_1


Sofi semakin bahagia mendengar ucapan dari papa Rendi itu.


Kami pun tiba di hotel yang kami maksud dan mengadakan kerjasama pihak hotel sebagai tempat resepsi pernikahan kami. Setelah itu kami pun pergi ke mall dan juga nonton bioskop seperti yang Sofi mau.


__ADS_2