Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 38


__ADS_3

Hari semakin bertambah, usia kandungan ku semakin besar dan tiba lah saat nya aku melahirkan. Selama sembilan bulan suami ku sama sekali tidak menyentuh ku tahan dengan nafsu nya karena dia tidak mau terjadi sesuatu kepada anak nya yang ku kandung ini.


"Tian..... Tian... " Teriak ku memanggil suami ku yang sedang duduk di kasur tidur kami sedang menyelesaikan pekerjaan yang masih belum kelar dengan laptop nya. Yah saat itu aku ingin buang air kecil di kamar mandi.


Aku merasa perut ku sakit sekali. Sudah beberapa hari aku sakit perut seperti ini. Hanya saja tidak terlalu kuat. Namun, kali ini semakin kuat dan kuat sehingga aku tidak tahan lagi. Terlebih ada cairan yang keluar dari bagian inti ku saat ini. Tentu saja hal itu membuat ku panik.


"Tian... " Teriak ku lagi terduduk di atas lantai kamar mandi menahan sakit di perut ini.


Mendengar aku berteriak, Tian pun bergegas menuju ke kamar mandi. Untung lah Tian


"Sayang ada apa?" Tanya Tian dengan panik. Terlebih melihat ku terduduk di atas lantai seperti itu.


Tian langsung berlari menghampiri ku.


"Aduh, sayang perut ku sakit sekali. Seperti nya aku mau melahir kan" Ujar ku lagi dengan napas yang terhengah-hengah menahan sakit di bagian perut ku.


"Ya sudah jika begitu, kita pergi ke rumah sakit sekarang" Ujar Tian langsung menggendong ku.


"Pak, ada apa?" Tanya bik Ina saat melihat Tian menggendong ku turun dari lantai dua dan membawa ku me mobil.


"Bik, tolong bilang sama Susan dan Sofi. Jika mereka mecari kami, bilang saja kami ke rumah sakit. Seperti nya Fitri mau melahirkan" Jelas Tian kepada bik Ina.


"Baik pak" Jawab bik Ina.


Tian menyalakan mobil nya dan melaju membelah jalan raya menuju rumah sakit terdekat dari rumah kami.


"Sayang, sabar ya. Tunggu sebenar lagi kita akan tiba di rumah sakit" Ujar Tian memberikan semangat kepada ku dan memegang tangan ku agar aku kuat.


***


Kami masuk ke ruangan tempat bersalin. Saat tiba di rumah sakit aku masih pembukaan dua. Hingga kami pun harus menunggu sampai pembukaan sempurna.


"Astaghfirullahaladzim, Lailahaillallah Astaghfirullahaladzim, Lailahaillallah Allahu Akbar" Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut ku dan tak lupa aku mengatur napas agar sedikit lebih tenang.


"Sayang, yang kuat ya sayang" Ujar Tian terus-terusan memberikan semangat dan terus memeluk ku dan mencium ku agar aku semangat.


"Sayang anak mama dan papa, cepat keluar ya sayang. Sama-sama kita berjuang ya nak..... " Ujar ku mengelus perut ku. Saat di elus kembali kontraksi terjadi. Sakit nya luar biasa tidak bisa di ceritakan rasa sakit ini seperti apa.


Pukul enam lewat lima belas menit pagi lahirlah putra kecil kami. Selama selama delapan jam aku berada di rumah sakit berjuang untuk melahirkan seorang putra yang sangat lucu.


Rasa sakit selama delapan jam dan proses melahirkan hilang seketika saat melihat malaikat kecil itu lahir dengan sempurna.


Rasa bahagia dan haru kini menyelimuti hati ku.


"Terima kasih sayang karena kamu telah memberikan ku putra mahkota seperti ini. Anak kita lucu dan sempurna seperti ini" Ujar nya sambil menggendong putra nya.


"Iya sama-sama sayang. Azan kan putra kita ya" Pinta ku. Tian mengazani putra nya dengan menangis terharu.


"Ini sayang, seperti nya dia haus deh" Ucap Tian memberikan putra nya kepada ku.


Aku menggendong putra ku itu.


"Sayang anak mama, kemarin masih di perut sekarang sudah keluar aja ya, Sudah di gendong aja" Ujar mu melihat wajah malaikat kecil yang baru ku lahirkan itu.


"Terima kasih ya sayang, sudah menjadi anak mama malaikat mama. Terima kasih ya sayang" Ucap ku lagi dengan mencium putra kecil ku itu dengan penuh kasih sayang.


"Mama, papa.... " Teriak Sofi saat masuk kedalam ruangan ku.


"Hai sayang, sudah pulang sekolah nya" Ujar ku menyambut hangat putri ku yang baru saja pulang dari sekolah nya bersama Susan.


"Mama, ini adik Sofi?" Tanya Sofi.


"Iya sayang ini adik Sofi. Adik yang kemarin masih berada di dalam perut mama" Jelas ku.


"Lucu sekali adik kakak ya. Ma adik nya cewek apa cowok?" Tanya Sofi lagi.


"Cowok sayang" Jawab ku.


"Wah, lagi-lagi Allah mengabulkan doa Sofi. Allah telah kasih adik untuk Sofi sesuai dengan keinginan Sofi. Terima kasih ya Allah" Ujar nya lagi.


"Selamat ya Fit atas kelahiran putra pertama mu" Ujar Susan kepada ku.


"Iya terima kasih" Jawab ku.


"Sofi, nanti harus jagain adik nya ya. Harus sayang sama adik nya. Adik juga seperti itu harus sayang dan jagain kakak nya. Harus selalu akur ya nak" Ujar ku memberikan nasehat kepada kedua anak ku itu. Meski ku tahu si bayi yang baru lahir ini belum tahu apa-apa. Namun kakak nya sedikit banyak nya juga sudah mengerti dengan hal itu.

__ADS_1


"Kakak ke sini sudah makan sayang?" Tanya ku kepada Sofi.


"Belum ma. Nih lihat berganti pakaian saja belum ma" Ujar gadis itu lagi.


"Tadi Sofi gak sabar mau bertemu dengan adik. Jadi nya Sofi meminta tante Susan untuk langsung Mengantar Sofi ke sini agar Sofi bisa bertemu dengan adik" Ujar gadis kecil ku itu.


"Ya sudah kalian tunggu di sini ya, papa mau belikan makanan untuk kita" Ujar Tian. Yah hari ini Tian tidak masuk ke kantor karena menemani ku di rumah sakit.


Tian pun langsung pergi meninggalkan kami yang ada di ruangan itu untuk mencari makan siang.


"Sayang, mulai sekarang panggilan nya kakak ya nak. Soal nya Sofi sekarang sudah mempunyai adik" Ujar ku dengan lembut kepada putri ku itu.


"Iya mama, mulai sekarang Sofi di panggil kakak ya dik" Ujar Sofi kepada putra ku itu.


Gadis kecil ku itu mencium adik nya penuh dengan kasih sayang. Bahagia nya diri ku ini memiliki dua anak seperti mereka.


"Selamat siang... " Sapa mama dan papa ku serta mama dan papa Tian datang juga berkunjung melihat cucu baru nya.


"Mama, papa" Ujar ku mencium punggung tangan kedua orang tua ku dan kedua orang tua Tian.


"Fitri, kenapa gak nggak memberi kabar sih sama kami bawa kamu mau melahirkan jika kami tahu kamu pasti akan menemani kamu di rumah sakit ini" Ujar mama ku.


"Maaf ya ma, kami panik saat itu. Dalam kondisi sakit seperti itu kami sama sekali tidak ingat untuk mengabari siapa pun" Ujar ku kepada mereka.


"Ya sudah gak apa-apa yang jelas kalian sudah selamat. Sini Fitri biar mama gendong cucu mama" Ujar mama Tian.


"Susan, kamu di sini?" Tanya papa Tian saat melihat Susan berada di ruangan itu.


"Om, Iya om kebetulan aku bekerja di perusahaan nya Tian sebagai sekretaris nya. Sekalian jemput Sofi sekolah juga tadi jadi nya mampir deh kesini" Ujar nya.


"Oh gitu" Ujar papa Tian manggut-manggut.


"Wah lucu nya pangeran kecil ini" Ujar papa ku.


"Tian mana Fit?" Tanya mama Tian.


"Tian keluar, cari makanan"


Sungguh perasaan ku bahagia melihat orang tua ku dan Tian menimang cucu baru mereka dengan hati yang bahagia. Rasanya hidupku kini telah sempurna dan lengkap karena mempunyai keluarga yang bahagia seperti ini.


***


Sudah hampir empat bulan aku keluar dari rumah sakit. Dan tentu saja aku sudah bisa melayani suami ku dengan baik saat masa nifas ku habis.


"Ya ampun, kenapa ini? Kenapa kulit Raffa bintik-bintik seperti ini sih? beberapa hari yang lalu dia mimisan dan gusi nya berdarah. Sekarang seperti ini? Apa anak ku ini terkena cacar air ya?" Ujar ku dengan panik.


Sungguh aku sangat panik melihat keadaan ku saat ini. Yah aku takut terjadi sesuatu kepada putra ku itu.


"Ya Allah bagaimana ini? Aku harus telfon Tian" Ujar ku langsung menghubungi Tian dengan rasa cemas di hati. Sedang kan Raffa terus saja menangis.


"Hallo, Tian apa kamu bisa pulang sekarang? Raffa sakit Tian. Tiba-tiba saja di kulit nya timbul bintik-bintik seperti merah dan memar" Ujar ku lagi.


"Ya apun sayang, ya sudah aku pulang sekarang kamu tunggu di rumah kita bawa Raffa ke rumah sakit ya" Ujar Tian ikutan panik.


"Kita ketemuan nya di rumah sakit aja ya Tian. Aku akan bawa Raffa ke rumah sakit sekarang" Ujar ku.


"Ya sudah kamu hati-hati di jalan nya ya"


"Iya" Jawab ku.


Aku langsung turun ke bawah untuk menuju rumah sakit.


"Bik, nanti jika Sofi pulang, bilang ya aku ke rumah sakit membawa Raffa" Ujar ku saat ber pas-pasan dengan bik Ina di ruang tamu.


"Den Raffa kenapa buk?" Tanya bik Ina bingung.


"Gak tahu bik, tiba-tiba saja kulit nya timbul bintik-bintik merah dan lebam. Kemaren juga dia mimisan dan gusi nya berdarah" Jelas ku lagi.


"Ya ampun buk, semoga den Raffa baik-baik saja ya buk" Ujar bik Ina.


"Aamiin semoga saja ya bik. Ya sudah aku pergi dulu. Tolong sampaikan kepada Sofi nanti agar dia tidak mencari ku" Ujar ku lagi.


"Baik buk"


***

__ADS_1


Aku terus saja mondar mandir di depan pintu IGD menunggu dokter keluar dari ruangan itu untuk memberi kabar kepada ku bagaimana ke adaan putra ku itu.


"Ya Allah semoga putra ku baik-baik saja. Semoga tidak terjadi sesuatu kepada nya" Doa ku dalam hati.


"Sayang" Tegur Tian saat tiba di rumah sakit.


"Sayang" Ujar ku berlari kecil memeluk suami ku yang baru tiba.


"Bagaimana keadaan Raffa apa dia baik-baik saja?" Tanya Tian.


"Belum tahu, dokter masih memeriksa nya. Dari tadi mereka belum keluar sama sekali" Ujar ku.


"Ya Allah. Semoga saja putra kita baik-baik saja" Ujar Tian.


"Aamiin. Itu yang di harap kan" Ucap ku.


"Dok, bagaimana keadaan anak kami, apa yang sebenar nya terjadi?" Tanya Tian saat melihat dokter baru keluar dari ruang IGD.


"Untuk saat ini, kami belum bisa memastikan apa penyakit yang di alami oleh anak bapak dan ibu. Kami harus melakukan beberapa tes kepada anak bapak dan ibu agar bisa mengetahui penyakit apa yang sebenarnya diderita oleh anak bapak dan ibu" Jelas dokter tadi.


"Baik lah dokter lakukan yang apa saja untuk anak kami. Yang penting anak kami bisa sembuh dari penyakit nya" Ujar Tian.


Aku sama sekali tidak bisa berkata apa-apa. Mulut ini seperti terkunci dan badan ini sangat lemah seperti tidak mempunyai tulang sebagai penyangganya mendengar penjelasan dari dokter tadi. Di mana putra kecilku yang masih berusia kurang dari empat bulan harus melakukan berbagai tes untuk mengetahui penyakit apa yang diderita oleh Putraku itu.


"Ya Allah, apa sebenarnya yang terjadi kepada mu nak? Penyakit apa sebenarnya yang kamu derita? Kenapa harus melakukan tes pemeriksaan seperti ini segala? Ya Allah, aku mohon angkat lah penyakit yang ada pada anak ku. Bila perlu biarkan lah penyakit itu berpindah kepada ku. Kasihan anak ku ya Allah. Dia masih kecil. Dia belum menikmati hidup di dunia ini. Tolong anak ku ya Allah" Doa ku dalam hati terus menangis tiada henti di pelukan suami ku.


"Baik lah, jika kalian setuju kita akan melakukan tes pemeriksaan besok dan Bapak silakan ikut kami untuk menandatangani beberapa Dokumen untuk tes pemeriksaan yang akan dilakukan besok" Ujar dokter tadi.


"Baik lah dokter" Ujar Tian.


"Dok, apa anak kami sudah bisa di kunjungi?" Tanya ku.


"Iya boleh buk" Ucap dokter tadi memberi izin. Aku pun langsung masuk ke dalam ruangan tempat anak ku di rawat itu.


Saat ku buka pintu ruangan itu dan melihat tubuh kecil yang tertidur pulas dengan infus di tangan nya membuat hati ini terasa teriris. Sungguh rasa nya tidak tega melihat bayi yang masih belia itu kena infus seperti itu. Beberapa air mata ku jatuh di pipi. Kembali aku menangis melihat putra ku itu.


"Ya Allah cobaan apa ini? Bantu lah anak ku ya Allah. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi kepada nya" Doa ku mendekat kepada putra ku itu.


Aku menatap wajah nya yang polos tidak berdosa. Tertidur dengan pulas dalam mimpi indah nya.. Sesekali bisa ku lihat dia tersenyum saat tidur nya.


Sungguh kembali hati ini terasa sedih di saat iya sakit seperti ini pun masih bisa tersenyum dan masih bisa kuat menghadapi segala yang dideritanya.


"Sayang" Tegur Tian kepada ku saat selesai menandatangani dokumen yang di katakan dokter tadi.


"Bagaimana keadaan nya?" Tanya nya lagi.


"Dia sedang tertidur pulas. Bermimpi indah dalam tidur nya. Tuh kamu lihat, dia tersenyum" Ujar ku tersenyum meski air mata terus saja mengalir.


"Iya semoga saja hasil tes besok dia tidak mengalami penyakit yang serius ya" Ujar Tian.


"Aamiin"


"Sayang aku mau menghubungi papa dan mama dulu ya untuk mengabari mereka jika Raffa sedang di rawat" Ujar Tian.


"Iya, Sayang"


Tian keluar dari ruangan IGD untuk menghubungi keluarga ku dan juga keluarga nya.


***


"Hallo, papa" Ujar Tian saat telfon nya telah di angkat oleh papa nya.


"Iya Tian ada apa?"


"Pa, saat ini Tian dan Fitri berada di rumah sakit. Raffa sakit pa" Ujar Tian.


"Apa? Sakit apa si Raffa?" Papa Tian kaget.


"Belum ada kejelasan dari dokter nya pa. Dokter akan melakukan beberapa tes pemeriksaan untuk Raffa besok agar mengetahui penyakit apa sebenar nya yang di alami oleh Raffa" Jelas Tian.


"Yang jelas pagi tadi secara tiba-tiba kulit Raffa muncul bintik-bintik merah dan juga memar dan beberapa hari yang lalu juga Raffa mengalami mimisan dan pendarahan di bagian gusinya. hanya saja mimisan dan pendarahan di bagian gusinya itu tidak terlalu lama dan bisa diatasi. Tapi kali ini ketika bintik-bintik seperti ini dan juga memar kami sangat panik dan langsung membawa Raffa ke rumah sakit agar ditangani lebih lanjut oleh dokter" Jelas Tian.


"Ya Allah kasihan sekali cucu ku itu. Semoga saja besok hasil pemeriksaannya tidak terjadi sakit yang serius kepada Raffa" Ujar papa Tian.


"Aamiin semoga saja pa"

__ADS_1


"Nanti papa dan mama akan segera ke sana"


"Baik pa" Tian menutup ponsel nya.


__ADS_2