
Sudah dua minggu kepergian Raffa dari sisi ku. Hingga saat ini aku masih terpukul dengan kepergian anak ku itu.
Pasti setiap ibu yang kehilangan anak akan merasakan hal yang sama seperti apa yang ku rasakan bukan? Terlebih ini adalah anak pertama kita. Jelas ini akan sangat menyakitkan untuk seorang ibu muda seperti ku.
Yah baru saja mendapat permata hati, kini telah di ambil kembali oleh sang pencipta. Terlebih dalam proses mempertahan kan nya itu tidak lah mudah. Dari awal kehamilan hingga dia lahir pun aku masih terus berjuang agar dia terus berada di sisi ku.
Namun, perjanjian nya untuk hidup di dunia ini hanya bertahan beberapa bulan saja. Dan dia pun pergi meninggalkan ku untuk selama nya. Meski begitu aku harus berlapang dada menerima semua ini meski masih berat dan sulit.
"Mama" Ujar Sofi masuk ke kamar ku. Yah Semenjak kepergian Raffa aku selalu mengurung diri di kamar. Aku merasa lebih nyaman berada di kamar ku itu dari pada harus di luar. Karena aku banyak menghabis kan waktu di kamar saat hamil Raffa.
Sehingga berada di kamar membuat ku merasa seolah-olah Raffa masih ada bersama ku.
"Iya sayang ada apa?" Tanya ku saat putri kecil ku itu datang ke kamar ku. Sofi masuk ke dalam kamar ku dan menutup pintu.
Terlihat bahwa gadis itu membawa buku di tangan nya serta alat tulis.
"Mama, apa mama mau membantu Sofi untuk mengerjakan tugas Sofi? Sudah lama mama tidak membantu Sofi mengerjakan tugas. Selama ini tante Susan yang membantu mengerjakan tugas-tugas Sofi" Jelas gadis itu dengan tatapan penuh harapan.
"Iya juga. Selama ini aku memang jarang membantu Sofi mengerjakan tugas sekolah nya. Apa lagi di saat Raffa di rawat. Aku bahkan tidak pernah pulang ke rumah dan berdiam diri di rumah sakit" Batin ku.
"Sini sayang, tugas apa emang nya sayang" Tanya ku mengambil buku tema yang ada di tangan Sofi.
"Ini lo ma, tugas bahasa indonesia. Membuat kalimat gitu ma dari kata yang ada di sini" Jelas Sofi menunjuk halaman tugas yang di berikan oleh guru nya.
"Oh ini, begini ya cara nya sayang" Ujar mu menjelaskan cara membuat kalimat dari kata yang ada di buku tema itu.
Dan seperti biasa nya Sofi bisa memahami penjelasan ku meski aku harus mengulangi beberapa kali penjelasan tersebut. Tidak masalah bagi ku karena memang begini lah putri ku itu.
"Oh begitu ya ma. Sofi ngerti" Ujar nya dengan tersenyum senang.
"Nah, jika sudah mengerti, sekarang coba Sofi kerjakan tugas ini dulu nanti setelah selesai mama periksa" Ujar ku.
"Oke mama" Gadis ku itu mulai mengerjakan soal demi soal yang ada di buku tema nya.
"Sudah mama" Ujar nya memberikan buku tugas kepada ku untuk di periksa.
"Wah, ternyata anak mama pinter ya. Hebat nya mama bangga mempunyai anak yang cantik dan pinter seperti Sofi" Puji ku kepada putri ku itu setelah ku periksa tugas nya.
"Iya dong ma, Sofi juga bangga mempunyai mama seperti mama Fitri" Jawab nya sambil memeluk ku penuh kehangatan.
"Oh ya, tante Susan di mana?" Tanya ku kepada putri ku itu.
Yah tentu saja aku tidak melihat keberadaan Susan karena aku mengurung diri di kamar. Mana ku tahu dia sudah pulang atau belum.
"Tante Susan ada di kamar ma. Katanya sih lagi gak enak badan jadi nya setelah makan malam dia langsung istirahat di kamar"
"Aduh, anak itu kenapa terus-terusan gak enak badan nya? Harus nya dia di periksa lebih lanjut karena sakit nya selalu kambuh seperti itu. Takut nya ada penyakit yang berbahaya" Batin ku.
"Ya sudah, sekarang sudah pukul sembilan malam. Sofi kembali ke kamar dan beristirahat ya sayang. Besok telat lagi ke sekolah nya. Mama mau ke kamar tante Susan dulu mau melihat keadaan tante mu" Ujar ku kepada Sofi.
"Oke mama, selamat malam ya mama"
"Selamat malam sayang, mimpi yang indah ya nak. Jangan lupa baca doa ya sebelum tidur"
Sofi mengangguk tanda mengerti.
***
Aku mengetuk pintu kamar Susan.
"Susan apa kamu sudah tidur?" Tanya ku dari luar kamar.
Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar Susan.
"Ya sudah mungkin saat ini Susan sudah tidur. Aku tidak boleh mengganggunya. Nanti sakitnya malah tambah parah" Batin ku beranjak dari kamar Susan.
"Sayang" Tegur Tian dari belakang. Aku menoleh.
"Tian, sudah pulang?" Tanya ku kepada suami ku itu.
__ADS_1
"Iya, maaf ya sayang tadi ada sedikit pekerjaan di kantor induk membuat aku jadi telat pulang nya" Jelas laki-laki itu.
"Iya gak apa-apa. Tadi kan kamu sudah mengabari ku" Ujar ku.
"Oh ya kamu sudah makan?" Tanya ku lagi.
"Sudah sayang, tadi aku makan malam bersama bang Budi dan juga papa" Jelas nya.
"Oh begitu. Ya sudah kamu bersih-bersih dulu ya, setelah itu istirahat"
Tian tersenyum dan mencium puncak kepala ku. Laki-laki itu langsung menaiki anak tangga menuju kamar untuk bersih-bersih.
***
Aku berbaring di atas kasur ku mencoba untuk memejamkan mata. Bisa ku rasakan ada seseorang yang menyentuh ku dari belakang. Sentuhan penuh dengan kehangatan dan kerinduan.
Aku berbalik dan melihat ternyata suami ku sedang ingin minta hak nya kepada ku karena selama ini ia telah lama tidak mendapatkan hal itu.
"Sayang, aku rindu kepada mu. Aku sangat merindui mu" Ujar nya lagi dengan mencoba untuk menyelusuri setiap jengkal leher ku.
Namun entah mengapa, aku merasa enggan di sentuh oleh suami ku itu. Aku merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan kepada ku. Terlebih Sofi pernah bilang jika Tian sering pulang ke rumah saat Raffa berada di rumah sakit.
"Terus ketika mama di rumah sakit jagain adik Raffa kemaren Sofi ngerjain tugas nya dengan siapa?" Tanya ku sewaktu aku membantu Sofi mengerjakan tugas tadi.
"Sama tante Susan. Papa juga sering pulang ke rumah. Papa dan tante Susan juga sering keluar bersama waktu itu" Jelas gadis polos itu.
Di tambah saat aku ingat jam tangan Tian ketinggalan di kamar Susan. Hal itu semakin membuat kejanggalan di hati ku.
"Mama, Sofi jadi gak suka deh sama tante Susan. Seperti nya tante Susan mau merebut papa dari Sofi. Waktu itu Sofi pernah lihat tante Susan berpelukan sama papa" Celoteh gadis itu lagi.
"Ha? Berpelukan? Apa maksud dari kata-kata Sofi barusan. Apa selama ini Tian bermain api dengan Susan? Apa kecurigaan ku selama ini benar adanya?" Satu persatu pertanyaan mulai muncul di benak ku saat itu.
"Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi" Ujar ku dalam hati.
Tak hanya mendapat informasi dari Sofi, sebelum aku pergi ke kamar nya Susan tadi, aku pun sempat bertanya kepada bik Ina yang selalu berada di rumah.
Benar saja, bik Ina selalu melihat mereka jalan berdua dan Sofi selalu di tinggal dengan bik Ina. Dan juga bik Ina sering melihat Tian keluar masuk ke kamar Susan.
Tian masih menyelusuri jengkal demi jengkal leherku. Setelah kesadaran ku kembali, aku pun menolak laki-laki itu.
"Sayang, kenapa?" Tanya Tian kaget melihat reaksi ku. Sungguh dia tidak menyangka mendapatkan penolakan dari ku. Biasa nya aku lah yang meminta dan memulai dengan nya. Namun hari ini aku bersikap berbeda. Aku tidak ingin di sentuh oleh nya.
"Maaf kan aku Tian, aku belum siap. Aku, aku masih terpukul dengan kepergian Raffa. Aku benar-benar butuh waktu" Ujar ku berbohong memberi alasan agar Tian tidak tersinggung dengan penolakan ku.
"Maaf kan aku" Ujar ku lagi sambil menangis. Bukan menangis karena aku belum siap, tapi aku menangis karena rasa sakit di hati mendengar apa yang di ceritakan Sofi dan bik Ina tadi membuat aku semakin sedih sehingga tidak tertahankan lagi.
"Uss.... Sayang sudah jangan menangis Aku tidak memaksa mu jika kamu belum siap. Harus nya aku yang meminta maaf kepada mu dan tidak seenak nya seperti ini" Ujar Tian memeluk tubuh ku.
Entah lah pelukan yang di berikan Tian kepada ku pun kini terasa hambar. Dulu aku merasakan kehangatan dan kenyamanan di dalam pelukan suami ku itu. Namun kali ini aku merasakan hambar tiada kehangatan dan kenyamanan lagi.
"Ya sudah kamu istirahat saja. Jangan memaksa kan diri jika belum siap" Ucap nya lagi.
Aku dan Tian tidur saling membelakangi. Air mata terus saja mengalir di pipi. Hingga sampai aku terlelap.
Melihat aku sudah terlelap Tian pergi ke luar kamar. Ia duduk di kursi teras yang berada di belakang rumah untuk mengambil udara segar.
Sungguh pikiran nya tidak karuan karena hasrat nya belum terpenuhi oleh ku. Tian memijit kepala nya yang terasa pusing.
"Tian" Tegur seseorang dari belakang. Tian menoleh untuk melihat siapa yang menegurnya tadi.
"Susan" Ujar Tian.
"Kamu ngapain di sini sendirian? Sudah malam lo sebaiknya istirahat" Ucap nya.
"Aku masih ingin di sini mau mencari udara segar" Ujar nya.
Susan tersenyum manis melihat sikap laki-laki itu. Sungguh ia tahu bahwa Tian saat ini sedang membutuhkan pelempiasan karena aku bersikap dingin kepada nya.
"Tian, tidak baik kamu di sini sendirian. Apa lagi sudah larut seperti ini" Ujar Susan dengan lembut sekali pun menunjukan suara seksi nya agar Tian jatuh ke dalam pelukan nya.
__ADS_1
Tian tidak menjawab. Laki-laki itu masih diam dengan seribu bahas nya dan masih terus fokus menatap ke depan.
Susan datang mendekati Tian dan memeluk nya dari belakang.
"Sayang, aku tahu kamu sedang membutuhkan pelempiasan. Jika istri mu itu tidak bisa memberikan nya, masih ada aku yang siap untuk melakukan nya dengan suka rela" Bisik Susan ke tengkuk Tian membuat bulu kuduk Tian merinding.
Tian hanya diam tidak mengatakan apa pun kepada Susan. Ia membiarkan saja gadis itu memeluk nya.
"Tian ayo ke kamar ku. Aku akan menemani mu malam ini" Ujar Susan lagi menggoda terus menerus berbisik di tengkuk dan telinga Tian agar hasrat laki-laki itu naik.
"Ayo sayang, jangan merasa kesepian karena ada aku di sisi mu" Ucap nya lagi menarik tangan Tian untuk masuk ke kamar nya.
Seperti tersihir dan terhipnotis oleh gadis yang bernama Susan itu membuat Tian mengikutinya masuk ke dalam kamar gadis itu.
Yah mungkin karena suami ku itu telah kebelet ya maka nya dia begitu mudah di rayu. Terlebih aku tidak melayani nya karena mendengar cerita dari Sofi dan bik Ina.
***
Susan menutup pintu kamar nya rapat-rapat. Dan membuka satu persatu kain yang menutupi tubuh nya.
Terekspos dengan sempurna gunung kembar dengan permen berwarna merah muda di puncaknya membuat siapa pun ingin mencicipi rasa manis permen itu.
Susan berjalan mendekati Tian yang sudah duduk terpesona dengan pemandangan yang begitu indah di depan nya.
"Sayang, lupakan masalah mu sejenak. Aku akan membuat mu melayang ke surga" Ujar nya beraksi melayani Tian dengan permainan-permainan panas nya di ranjang.
Sungguh suami ku itu kembali terbuai dengan pesona gadis itu. Ia tidak bisa lepas dari jeratan maut gadis itu karena selalu bisa memuaskan hasrat nya.
***
Aku menggosok-gosok maya ku yang terasa berat. Ku lihat jam yang berada di dinding kamar ku
"Sudah pukul satu dini hari" Ujar ku menguap karena terbangun dari tidur ku. Sungguh malam ini aku tidak bisa tidur dengan tenang karena memikirkan apa yang Tian lakukan bersama Susan selama ini.
Aku menoleh ke belakang apa kah Tian masih ada di kasur dan tertidur. Betapa kaget nya aku karena Tian tidak berada di tempat nya.
"Tian, kemana dia? Apa dia di kamar mandi atau kemana?" Batin ku mulai gelisah.
Aku pergi ke kamar mandi untuk melihat keberadaan suami ku itu.
"Gak ada, kemana dia? Apa dia...." Aku tidak berani melanjutkan pikiran ku itu. Sungguh aku tidak bisa membayangkan bahwa itu akan terjadi.
"Ya Allah semoga pikiran ku salah" Batin ku.
Aku pergi ke luar kamar ku menuju dapur dengan harapan Tian berada di dapur entah sedang mengambil minuman atau makan. Begitu lah harapan ku. Namun, yah tentu saja Tian tidak ada di dapur itu karena dia berada di ruangan lain.
Pikiran ku semakin kalut dan kepalaku terasa pusing memikirkan keburukan itu.
"Astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim" Ujar ku bekali-kali untuk menghilangkan pikiran buruk ini dan mencoba untuk berpikir dengan positif.
"Mungkin Tian berada di kamar Sofi untuk melihat keadaan anak nya" Batin ku melewati kamar Susan dan kembali naik ke atas untuk pergi ke kamar Sofi.
Aku membuka pintu kamar Sofi dengan harapan Tian berada di sana. Tapi, tetap saja hasil nya nihil. Tian tidak berada di kamar putri nya itu.
"Ya Allah, apa Tian bersama Susan. Apa dia... " Ujar ku mulai menitikkan air mata.
Dengan langkah berat dan lemah aku mencoba kembali turun ke lantai pertama untuk memastikan apakah dugaan ku benar atau tidak.
Aku menyelusuri anak tangga rumah megah itu dengan langkah yang lunglai. Sungguh rasa nya aku tidak sanggup melangkah menuju kamar itu karena takut hati ini akan terasa sakit. Namun, aku harus memastikan bahwa pikiran ku saat ini salah.
Aku ragu untuk membuka pintu kamar Susan. Beberapa kali aku menarik napas dalam-dalam dan ku hembuskan kuat-kuat untuk memberikan kekuatan di hati ini agar bisa menerima kenyataan yang ada di dalam sana walau pun itu menyakitkan.
"Ya Allah, apa aku harus melakukan nya atau bagaimana?" Batin ku penuh keraguan.
Tok.. Tok.. Tok
Pada akhir nya aku berani mengetuk pintu kamar itu. Tidak ada jawaban sama sekali di dalam kamar.
"Bismillahirohmanirohim" Ucap ku langsung membuka pintu kamar dengan paksa karena pintu itu pun tidak di kunci.
__ADS_1
Aku membulatkan mata ku saat melihat apa yang berada di dalam kamar itu. Napas ku menderu sejadi-jadi nya. Jantung ku terasa berdetak sangat cepat menerima kenyataan yang aku lihat