
"Mama... mama" Teriak Susan mencari mama nya.
"Ada apa sih Susan. Datang-datang malah teriak seperti itu" Ujar wanita paruh baya itu.
"Ma, saat ini aku merasa kesal dan sakit hati sama Tian ma. Aku gak mau hal yang aku takutkan terjadi lagi" Ucap gadis itu dengan perasaan yang menggebu.
"Apa maksud kamu?"
"Ma, Tian mau meninggalkan ku ma. Dia mau meninggalkan aku begitu saja setelah semua yang dia lakukan kepada ku. Aku telah menyerahkan segalanya. Tapi dia, dia malah seenak nya kembali dengan istri nya yang kampungan itu" Jelas Susan kesal.
"Yang benar kamu San. Jadi kamu telah menyerahkan semua nya termasuk harga diri mu?" Wanita paruh baya itu tampak kaget mendengar pengakuan dari putri nya itu.
Susan terdiam, ia baru sadar bahwa ia mengucapkan hal yang tidak seharus nya ia katakan kepada mama nya. Karena pengakuannya itu akan membuat mamanya merasa kecewa dan sedih.
"Susan jawab pertanyaan mama. Benar kamu telah memberikan harga diri mu kepada Tian?" Ulang wanita paruh baya itu lagi.
Susan tampak kebingungan dia tidak tahu harus mengatakan apa. Jika jujur dia takut mama nya akan marah kepadanya.
"Susan, jawab dong"
"Maaf aku ma. Aku terlanjur melakukan itu sama Tian. Aku juga gak tahu kenapa aku bisa terbuai dengan sentuhan-sentuhan manis nya. Apa lagi aku tahu dia sudah lama tidak di layani oleh istri nya karena istri nya terus saja berada di rumah sakit dan tidak pernah pulang meski pun sebentar. Aku, aku merasa kasihan kepadanya hingga aku menyerahkan semua ini kepada dia ma" Jelas Susan menangis meminta maaf kepada mama nya.
"Ya ampun Susan. Mama memang meminta mu untuk merebut Tian kembali ke dalam kehidupan kita. Tapi mama tidak benar kan kamu untuk menyerahkan diri mu seperti ini kepada dia. Kenapa sih kamu ini bodoh banget" Ucap mama nya merasa kecewa.
"Maaf kan aku ma. Aku khilaf... Maaf mama"
Wanita paruh baya itu menghembuskan napas berat nya. Mau di marah pun putri nya itu percuma. Semua sudah terjadi putri nya sudah tidak suci lagi.
"Walau bagaimana pun Tian harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi. Kamu itu sudah tidak suci lagi. Mana ada laki-laki yang mau menerima mu karena kamu itu sisa orang" Ujar mama nya.
"Terus bagaimana dong ma, Tian sudah kembali bersama Fitri. Dia pasti tidak mau bertanggung jawab dengan semua ini"
"Kembali atau tidak nya dia bersama Fitri dia tetap harus bertanggung jawab. Apa lagi nanti nya kamu hamil. Hamil anak dia, mau tidak mau, dia harus menikahi mu" Ucap mama Susan dengan benar.
"Mama tidak mau cucu mama nanti akan lahir tanpa seorang bapak. Justru dengan kehamilan mu nanti akan membuat kamu semakin mudah meminta pertanggung jawaban dari Tian" Ujar wanita paruh baya itu tersenyum puas.
***
"Tian, Tian tunggu" Panggil Susan saat melihat Tian pulang dari kantor nya.
"Ada apa Susan. Aku mau ke kamar untuk bersih-bersih dan pergi ke rumah sakit untuk menemani Fitri" Ujar Tian dengan nada dingin nya.
"Oh gitu, tapi kamu makan dulu ya. Aku sudah masakin makan kesukaan kamu" Ujar Susan dengan penuh harapan agar Tian mau mencicipi makanan yang dia masak.
"Nanti saja, aku belum lapar" Ucap Tian mulai menaiki anak tangga.
"Tian" Panggil Susan lagi membuat langkah kaki Tian terhenti.
"Ada apa lagi?"
"Masalah kemaren malam apa kamu serius mengucapkan nya? Kita sudah melakukan sejauh ini lo Tian, aku tidak mau kamu tinggalkan aku begitu saja" Ucap Susan dengan nada sedih.
Tian menarik napas berat nya dan memijit keningnya yang mulai terasa pusing.
"Susan, tolong ya jangan membahas masalah ini dulu. Saat ini aku harus pergi ke rumah sakit untuk menemani Fitri di sana. Jadi aku mohon sama kamu kita akan membahas masalah ini nanti saja"
"Nanti kapan sih Tian? Aku membutuhkan kepastian saat ini. Kamu tahu sendiri kan keadaanku seperti apa saat ini? Kamu telah merenggut semuanya dan seenaknya kamu meninggalkan aku begitu saja. Aku tidak bisa menerima hal itu" Ucap Susan meminta kepastian kepada Tian.
"Susan, tolong ya, saat ini aku sedang pusing dengan masalah keluarga ku. Jadi aku meminta pengertian dari mu untuk bersabar" Jelas Tian meminta pengertian kepada Susan. Tian pun langsung pergi meminggalkan Susan yang masih berdiri terpaku di sana.
"Enak aja kamu Tian. Kamu meminta aku bersabar dan mengerti dengan situasi mu. Tapi kamu sama sekali tidak mengerti dengan keadaan ku saat ini. Aku ini wanita Tian aku butuh kepastian. Oke aku akan sabar menunggu mu. Tapi jika dalam waktu satu bulan ini kamu belum juga memberikan aku kepastian, kamu lihat saja. Aku akan membongkar semua nya kepada Fitri. Dan aku pastikan rumah tangga mu akan semakin hancur" Batin Susan menggenggam erat tangan nya dan menggigit graham nya karena rasa amarah yang menggebu-gebu di hati nya.
***
"Papa, papa mau kemana lagi?" Tanya Sofi saat melihat papa nya turun dari tangga dengan pakaian yang rapi. Gadis kecil itu sedang bermain bersama Susan di sofa yang berada di ruang tamu.
__ADS_1
Tian datang menghampiri putri kecil nya itu.
"Sayang, papa mau pergi ke rumah sakit nak mau jenguk adik Raffa dan menemani mama Fitri di sana. Kamu gak apa-apa kan papa tinggal bersama tante Susan" Ujar Tian dengan lembut kepada putri nya itu.
"Iya papa, gak apa-apa. Lagian Sofi sudah terbiasa juga tinggal bersama tante Susan. Papa pergi saja temani mama dan adik Raffa di sana" Ujar gadis kecil itu dengan penuh pengertian.
"Terima kasih ya sayang, papa pergi dulu" Ujar Tian mencium puncak kepala anak nya.
"Iya papa hati-hati di jalan" Jawab gadis kecil itu.
"Susan, aku titip Sofi ya. Tolong jagain dia baik-baik" Ujar Tian.
"Iya" Jawab Susan dengan ketus.
Yah gadis seksi yang cantik itu tampak masih kesal dengan Tian yang tidak memberinya kepastian. Tapi walau bagaimana pun dia harus bertahan dan terus berusaha agar impian nya bisa terpenuhi bersama mama nya nanti.
***
Susan berlari ke kamar mandi. Gadis itu tampak muntah-muntah dengan wajah yang pucat.
"Tante, tante kenapa?" Tanya Sofi melihat tante nya terus-terusan bolak balik ke kamar mandi.
"Gak tahu juga sayang. Kepala tante pusing dan tante mual. Sepertinya tante tidak enak badan deh" Ujar Susan.
"Ya sudah tante istirahat saja. Tante tidak perlu mengantar Sofi ke sekolah. Nanti Sofi telfon papa biar papa saja yang mengantarkan Sofi ke sekolah" Ucap gadis kecil itu lagi.
"Ya ampun kenapa beberapa hari ini aku merasa aneh pada diri ku ya? Apa jangan-jangan aku... " Batin Susan tidak bisa melanjutkan perkataan nya.
Susan meraih kalender yang berada di atas nakas tempat tidur nya.
"Ya ampun aku sudah telat dua minggu. Apa benar aku hamil?" Batin nya lagi mulai bertanya-tanya.
Sementara itu, gadis kecil itu meraih ponsel nya dan menekan nomor ponsel papa nya.
"Hallo" Terdengar jawaban dari seberang.
"Iya sayang kenapa?"
"Papa, papa kapan pulang ke rumah? Sepertinya hari ini tante Susan tidak bisa mengantar Sofi ke sekolah. Papa bisa kan mengantar Sofi?"
"Emang nya tante mu kenapa?"
"Gak tahu juga sih pa. Kata tante dia sedang tidak enak badan. Dari tadi muntah-muntah terus" Ucap nya.
"Ya sudah kalau begitu. Sebentar lagi papa akan pulang sekalian papa akan membawa tante mu ke rumah sakit" Jelas Tian lagi.
"Oke papa"
"Da sayang" Tian menutup ponsel nya.
"Ada apa Tian? Sofi kenapa?" Tanya ku heran.
"Susan sedang tidak enak badan. Dari tadi dia muntah-muntah terus. Aku harus pulang untuk mengantar Sofi ke rumah sekolah dan membawa Susan ke rumah sakit. Sekalian aku berangkat ke kantor" Jelas Tian.
"Kamu gak apa-apa kan aku tinggal sendirian? Nanti siang aku akan datang ke sini lagi" Tambah nya lagi.
"Iya gak apa-apa kok sayang. Nanti juga mama datang ke sini menemani ku"
"Ya sudah, aku pergi dulu ya. Nanti Sofi telat lagi ke sekolah nya" Ucap Tian mencium puncak kepala ku.
Aku mengangguk.
***
"Tian, seperti nya aku hamil" Ujar Susan mendadak saat mereka dalam perjalanan ke rumah sakit setelah mengantar Sofi ke sekolah nya.
__ADS_1
"Apa? Tidak mungkin kamu hamil" Ujar Tian kaget.
"Tidak mungkin bagaimana? Kita melakukan itu bersama-sama. Dan aku sudah telat dua minggu. Apa yang membuat mu mengatakan bahwa aku tidak hamil?" Tanya Susan emosi mendengar penolakan dari Tian.
Tian kembali memijit kepala nya yang tiba-tiba merasa pusing. Ia sungguh tidak menyangka hal ini akan terjadi. Masalah Raffa saja belum selesai kini tambah masalah baru dengan Susan hamil.
"Bagaimana ini Tian? Aku tidak mau anak ku lahir tanpa seorang ayah. Anak ini tidak bersalah Tian" Jelas Susan lagi.
"Kamu tenang dulu. Kita akan pastikan dulu apa benar kamu hamil atau tidak nya. Kamu jangan berpikir yang bukan-bukan" Jelas Tian mencoba menenangkan Susan.
***
"Selamat ya bapak ibu, istri bapak hamil lima minggu" Ucap dokter tempat mereka melakukan pemeriksaan.
"Di usia trimester pertama seperti ini, memang wajar jika kita merasakan mual dan muntah. Secara saat ini terjadi perubahan hormon pada tubuh wanita hamil" Jelas dokter itu lagi.
Tian hanya bisa terdiam mendengar penjelasan dari dokter tadi. Ia tidak bisa berkomentar apa pun. Sungguh dia kaget dengan kenyataan yang terjadi.
"Ini resep obat nya ya pak. Silahkan di ambil di apotik. Minum obatnya dengan teratur ya. Dan jika masih muntah-muntah berkepanjangan kembali konsultasi kesini. Nggak masalah jika muntah-muntah, ibu makan nya sedikit demi sedikit tapi sering agar ada nutrisi yang masuk ke dalam tubuh ibu dan juga janin yang dikandung oleh ibu" Jelas dokter tadi.
"Baik dok terima kasih" Ucap Susan.
***
"Tian, bagaimana ini? Aku tidak mau anak ini lahir tampa ayah. Kamu harus bertanggung jawab dengan semua ini" Ucap Susan menangis.
"Kamu tenang dulu Susan. Aku pasti akan menikahi mu. Tapi gak sekarang, saat ini aku harus fokus dengan pengobatan Raffa"
"Terus aku harus menunggu sampai kapan Tian? Apa sampainya perutku ini semakin membesar atau bayi ini lahir? Tian semakin hari perutku semakin membesar dan orang-orang akan membicarakan ku nantinya. Kamu juga harus mengerti dong dengan kondisiku saat ini. Kita melakukannya bersama-sama masa iya kamu harus memberikan aku beban sendirian seperti ini" Ujar Susan menangis.
"Kamu yang sabar Susan. Aku janji aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi kepada kamu. Karena bagaimanapun janin yang kamu kandung adalah anakku. Tapi aku mohon sama kamu agar kamu lebih bersabar dan aku akan menikah mu ketika keadaan Raffa sudah membaik nantinya" Jelas Tian meminta pengertian kepada Susan.
"Setidak nya aku akan menikahi mu secara siri dulu" Tambah Tian lagi.
"Tenang kan pikiran mu. Aku tidak akan pergi karena kamu telah mengandung anakku. Jangan berpikir yang bukan-bukan karena aku tidak mau janin ini terganggu nanti nya" Ucap Tian memeluk Susan agar tenang dan berhenti menangis.
Tian menyalakan mesin mobilnya dan melaju membelah jalan raya mengantar Susan pulang ke rumah.
"Ya ampun. Apa yang aku lakukan, saat ini aku telah menambah satu masalah lagi di dalam keluarga ku. Masalah kesembuhan Raffa belum selesai malah aku menambah masalah baru di mana saat ini Susan sedang mengandung anakku" Batin Tian sambil terus fokus menyetir mobil nya.
"Bagaimana nantinya jika Fitri tahu? Apa dia akan memaafkanku dan menerima semua ini atau bahkan dia akan meninggalkanku? Tidak, tidak aku tidak mau hal itu terjadi. Aku tidak mau Fitri meninggalkanku karena aku sangat mencintainya dan tidak mau kehilangannya. Aku harus bagaimana saat ini?" Tambah nya lagi dengan penuh kebingungan.
"Tapi, aku juga tidak mungkin meninggalkan Susan dalam keadaan seperti ini. Bayi yang ada di dalam kandungan Susan tidak berdosa sama sekali. Tidak mungkin aku meluangkan kesalahanku dan memberi hukuman kepada anak yang tidak berdosa ini" Ujar nya lagi dalam hati.
"Aku benar-benar pusing dan bingung harus bagaimana" Tambah nya lagi.
"Syukurlah ternyata aku hamil anak nya Tian. Aku senang dengan kehamilan ku ini. Dengan begini, Tian tidak akan mungkin bisa meninggalkan ku. Dia tidak mungkin tega mengorbankan anak yang tidak berdosa ini" Batin Susan tersenyum dengan puas.
"Aku harus memberikan kabar baik ini kepada mama. Dan terserah nanti nya dia mau menikahi ku seperti apa. Mau siri atau tidak, tetap saja Tian akan menjadi milik ku. Dan aku yakin Fitri tidak akan terima jika Tian menikah denganku. Dia akan meninggalkan Tian dan disaat hal itu terjadi, Tian sepenuhnya menjadi milikku. Aku hanya perlu bersabar untuk meraih kemenangan nantinya" Batin nya lagi.
***
"Sekarang kamu istirahat saja di kamar. Jika perlu apa-apa, kamu minta saja sama bik Ina ya. Aku harus ke kantor dulu" Ujar Tian setelah mengantarkan Susan ke dalam kamar nya dan beranjak dari sana.
"Tian, tunggu" Ucap Susan menarik tangan Tian membuat langkah kaki laki-laki itu terhenti.
"Ada apa?"
"Apa kamu tidak mau mengucapkan sesuatu kepada anak kita dan mencium keningku sebelum kamu pergi ke kantor?" Ujar Susan meminta diri nya di perlakukan sebagai seorang istri.
Tian menarik nafasnya dalam-dalam dan dihembuskannya kuat-kuat. Sejujurnya dia enggan melakukan hal itu. Namun demi anak yang ada di dalam kandungannya Susan mau tidak mau ia pun harus melakukannya.
Tian mencium puncak kepala Susan dan mengelus perut Susan dengan terpaksa.
"Aku pergi dulu. Kamu baik-baik di rumah" Ucap nya lagi langsung meninggalkan Susan yang terbaring di kasur nya.
__ADS_1
"Akhirnya, aku akan menjadi nyonya Tian. Aku sungguh tidak sabar menunggu hari kebahagiaan itu terjadi. Aku akan menjadi nyonya besar di rumah megah ini. Dan Fitri, wanita kampung itu akan aku singkir kan dari rumah ini. Karena aku tidak mau ada dua nyonya besar di rumah ku ini. Hanya aku dan harus aku sebagai nyonya besar nya" Ujar Susan tersenyum licik membayangkan hal itu sesuai dengan harapan nya.