Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 72


__ADS_3

Papa Tian merasa kecewa kepada sikap Tian yang telah merahasiakan pernikahan sirinya selama ini kepada keluarganya.


Selama ini laki-laki paruh baya itu berpikir bahwa keluarga putranya baik-baik saja. Tapi ternyata dia salah putranya telah bermain api di tengah keluarga kecil nya.


Papa Tian pergi meninggalkan dia dalam keadaan kecewa di hatinya.


***


"Fitri, Fitri" Ujar Tian mencari keberadaan ku di rumah megah itu.


Namun tidak ada jawaban dari ku saat itu. Tian pun mencari bik Ina untuk menanyakan keberadaan ku.


"Bik, di mama Fitri?" Tanya nya.


"Ibu di halaman belakang pak" Tian langsung pergi ke halaman belakang untuk mencari keberadaan ku di sana.


Aku sedang duduk sambil membalas beberapa pesan dari grup tausiah ku. Yah grup tausiah itu pun mengadakan tanya jawab tentang seputar agama di sana. Tidak hanya menunggu saat di adakan tausiah saja kita bisa bertanya.


"Ternyata kamu di sini" Ujar Tian melihat ku. Bisa ku lihat bahwa raut wajah nya sedang tidak bersahabat saat ini.


"Tian, sudah pulang?" Tanya ku mencoba menyambut nya dengan ramah.


"Iya aku sudah pulang, kaget melihat aku pulang?"


Aku mengerut kening ku heran dengan sikap Tian yang tiba-tiba ketus seperti itu.


"Kamu kenapa? Kenapa seperti itu raut wajah nya?" Tanya ku heran.


"Apa maksud kamu menceritakan semua nya kepada papa?" Tanya Tian.


"Cerita? Cerita apa maksud kamu?" Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Tian katakan itu.


"Kamu jangan pura-pura tidak mengerti"


"Lo, emang aku benar-benar enggak ngerti maksud kamu apa" Ujar ku lagi.


"Apa maksud kamu menceritakan bahwa aku sudah menikah siri bersama Susan kepada papaku" Jelas Tian lagi kepadaku.


"Menceritakan kamu pada papa?Kapan? Perasaan aku nggak pernah ceritakan apapun kepada papamu"


"Bohong, jika bukan kamu yang menceritakan nya, terus dari mana papa tahu tentang semua itu"

__ADS_1


"Apa sih maksud kamu Tian. Aku benar-benar tidak menceritakan apa pun kepada papa mu. Jika kamu menyalahkan ku seperti ini, tidak masalah bagi ku. Lagian kamu yang salah di sini bukan aku. Kamu yang telah bermain api, dan sekarang kamu marah kepada ku setelah papa mu tahu segalanya? Hebat sekali kamu sekarang ya" Ujar ku lagi ikutan emosi.


"Di sini, aku lah telah tersakiti, di duakan dan di hianati malah kamu yang marah-marah gak jelas seperti ini sama aku. Eh Tian, serapat-rapat nya kamu menyimpan bangkai, pasti ketahuan juga. Dan sekarang bangkai yang kamu simpan sudah tercium bau nya oleh papa mu" Ujar ku lagi.


"Kamu ini sekarang benar-benar keterlaluan ya" Ujar Tian.


"Keterlaluan? Keterlaluan mana aku dari kamu? Jika kamu meminta ku bersikap biasa saja seperti dulu, aku minta maaf. Aku gak bisa melakukan hal itu" Ujar ku lagi.


"Terus jika bukan kamu yang memberi tahu papa? Terus siapa?"


"Ya mana aku tahu. sekarang aku bingung sama kamu. Kamu menuduh aku yang bukan bukan. Apa ini hanya rencanamu saja untukmu aku menjadi bersalah jelas-jelas yang salah selama ini adalah kamu. Jika ini adalah rencana kamu, yah aku terima. Tidak masalah untuk ku. Dan jika kamu mau menceraikan aku juga sekarang aku juga akan siap. Karena aku juga sudah muak dengan semua ini" Ujar ku lagi penuh emosi.


Yah aku benar-benar sudah lelah dengan semua ini. Aku yang di salah kan karena papa nya tahu tentang keburukan nya. Dan jika benar pun aku melakukan nya, apa itu salah? Secara dia lah yang bersalah karena telah berselingkuh. Salah jika aku menceritakan kelakuan Tian kepada papa nya? Karena jika sesuatu yang buruk nanti terjadi di antara keluarga ku, keluarga Tian tidak menyalahkan aku seenak nya. Karena di sini Tian lah yang salah.


"Kenapa kamu berbicara tentang masalah cerai sih? Aku tidak ada niat sama sekali untuk menjatuhkan talak sama kamu. Apa kamu yang meminta hal itu terjadi?"


"Jika kamu bertanya seperti itu, maka. Jawaban dari ku adalah iya. Karena aku sudah muak dengan semua ini. Aku lelah di sakiti oleh mu" Ujar ku emosi.


"Gak Fitri, maaf kan aku. Aku tidak bermaksud untuk menuduh mu seperti ini. Aku sangat mencintai mu"


"Stop, jangan berbicara masalah cinta kepada ku. Karena cinta mu itu semu. Semua nya tidak lah nyata. Cinta mu hanya manis di bibir saja. Tidak di hati mu" Ujar ku lagi.


"Fitri, aku mohon jangan tinggalkan aku dan Sofi. Sofi sangat membutuhkan mu. Semenjak kehadiran kamu dia tampak bahagia. Hari-hari nya penuh dengan warna seperti sekarang. Aku tidak mau melihat nya muram lagi seperti dulu"


"Fitri, tolong jangan berbicara seperti itu. Aku, aku... "


"Sudah stop ya, tolong jangan di lanjutkan lagi. Aku tidak mau mendengarkan apa pun dari mulut mu. Ingat aku bertahan karena Sofi bukan karena rasa cinta kepada mu. Karena cinta ku sama kamu itu sudah mati" Ujar ku lagi langsung pergi meninggalkan Tian di sana yang masih terbengong.


Aku benar-benar kecewa kepada nya. Tanpa mencari kebenaran nya terlebih dahulu dia menuduh ku seperti itu kepada ku. Dia yang salah, malah aku yang di salahkan seperti ini. Siapa yang terima coba.


Aku menghapus air mata ku. Padahal tadi aku ingin menyambut kepulangan nya. Tapi karena sudah di tuduh seperti itu aku jadi mengurungkan niat ku. Rasa kecewa di hati ini semakin besar dan menjadi-jadi.


Aku berlari menuju kamar ku. Ingin rasa nya aku mengemasi barang-barang ku dan pergi dari rumah yang menyakitkan ini. Tapi wajah gadis kecil itu masih terbayang di pelupuk mata ku. Aku seperti buah simalakama. Bingung harus berbuat apa.


Aku tidak peduli jika Susan merasa menang karena telah mendapatkan Tian seutuh nya. Yang aku pikirkan saat ini adalah kebahagiaan ku saja. Tapi, gadis kecil ku itu tidak bisa ku kesampingkan begitu saja. Dia memang sangat membutuhkan aku saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan. Apa aku meminta hak asuh Sofi saja di pengadilan nanti nya? Tapi apa mungkin aku menang? Secara Sofi bukan lah putri kandung ku" Batin ku merasa gelisah.


Yah aku memang ingin sekali mendapatkan hak asuh Sofi. Karena aku tidak mau Sofi berpisah dengan ku. Namun aku sadar Tian tidak akan mungkin setuju dengan semua ini. Sedangkan jika Sofi itu memang anak kandung ku saja pasti Tian akan tetap memperjuangkan hak asuh nya. Dimana-mana ketika perceraian itu terjadi pasti akan seperti itu.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung harus berbuat apa" Batin ku lagi.

__ADS_1


***


Tian masuk ke dalam kamar Sofi. Laki-laki itu mendekati putri nya yang sedang terlelap di tempat tidur nya. Di tatapnya wajah polos putri nya itu dengan penuh perasaan.


"Maaf kan papa ya sayang. Papa tidak bisa menjadi papa yang baik untuk kamu. Papa belum bisa membuat kamu bahagia. Hanya rasa kekecewaan yang terus menerus papa berikan kepada mu. Papa benar-benar minta maaf sayang" Ucap Tian dengan sedih kepada putri nya itu.


"Papa tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mu jika mama mu nanti beneran akan pergi di dalam hidup kita. Pasti kamu akan merasa sedih kembali seperti dulu lagi. Tapi papa juga tidak bisa memilih di antara kedua nya. Papa benar-benar bingung harus bagaimana nak. Papa tidak tahu harus berbuat apa" Ujar Tian lagi mengelus lembut rambut putri nya itu yang sedang terlelap. Tak terasa beberapa air bening mengalir di pipi nya. Sungguh laki-laki itu memang tampak kebingungan atas permasalahan yang di buat buat nya saat ini. Tian mengecup kening Sofi dan keluar dari kamar nya. Serta kembali menutup pintu kamar putri nya itu.


***


"Hallo Tian, apa malam ini kamu tidak datang ke rumah ku? Apa kamu masih menemani Fitri dan Sofi di sana?" Tanya Susan menghubungi Tian malam itu.


"Iya, aku belum bisa menemani kamu di sana. keadaanku dan Fitri masih belum membaik. Jadi aku harus tetap berada di sini untuk membujuk Fitri dan juga Sofi agar hubungan kami kembali seperti dulu" Jelas Tian.


"Oh gitu. Padahal aku sangat rindu sama kamu. Anak yang ada di dalam kandunganku ini juga merindukan papanya. Aku ingin bersama kamu malam ini Tian" Ujar Susan dengan nada manja nya.


"Maaf Susan. Aku gak bisa menemani kamu. Aku tidak mau membuat Fitri dan Sofi kembali kecewa. Aku harus memperbaiki keadaan di rumah ini dulu baru aku bisa menemani kamu di sana"


"Tapi sampai kapan Tian? Aku gak bisa menunggu terlalu lama. Kamu tahu sendiri kan keadaan ku seperti apa saat ini?"


"Iya aku tahu dan aku mengerti. Tapi kamu juga harus mengerti keadaan ku saat ini dong San. Saat ini aku dalam keadaan di sudut kan. Terlebih papa juga sudah tahu tentang pernikahan kita"


"Apa? Papa kamu tahu tentang pernikahan kita? Kok bisa? Siapa yang memberi tahu papa mu tentang masalah ini?" Tanya Susan kaget.


"Aku juga tidak tahu dari mana papa bisa tahu. Yang jelas papa sudah kecewa dengan ku. Dan dia juga meminta ku untuk memilih satu di antara kalian" Jelas Tian dengan penuh putus asa.


"Terus apa jawaban mu?"


"Aku belum bisa memberi jawaban apa pun. Aku bingung karena aku tidak bisa memilih di antara kalian berdua" Jelas Tian lagi.


"Kamu yang sabar ya sayang. Ada aku di sini menemani mu dalam keadaan apa pun Kamu jangan pernah merasa sendiri" Ucap Susan untuk menghibur suami siri nya itu.


"Terima kasih ya San. Kamu selalu mendukung ku saat ini. Saat ini aku benar-benar bingung dengan Fitri. Dia sama sekali tidak bisa mengerti keadaan ku. Malahan dia semakin marah kepada ku" Jelas Tian lagi.


"Kamu yang sabar ya Tian, semua ini pasti akan baik-baik saja. Aku yakin hal itu" Ucap Tian.


"Lagian, ini lah yang aku harap kan. Semakin kamu bertengkar dengan Fitri, semakin membuat hubungan kalian hancur. Dan cepat atau lambat peceraian itu pasti terjadi. Dan aku lah yang akan menang dalam pertarungan ini" Batin Susan bahagia.


"Iya Susan. Kamu istirahat saja ya, jaga kesehatan mu jaga juga bayi yang ada di dalam kandungan mu itu. Jika keadaan di sini sudah mulai membaik, aku akan datang menemani mu di sana" Ujar Tian lagi.


"Iya sayang. Kamu juga ya di sana jaga kesehatan. Jangan terlalu memikirkan masalah ini. Dan semoga masalah ini cepat berlalu" Ucap Susan terdengar bijaksana.

__ADS_1


"Iya terima kasih San" Tian menutup ponsel nya.


__ADS_2