Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 51


__ADS_3

Aku kaget mendengar suami nya Susan itu menyebut-nyebut nama Tian.


"Jika acara nya sudah selesai pasti Tian akan memberikan ku uang nya sesuai perjanjian kami" Ujar nya melalui telfon.


"Tian, Tian siapa yang dia maksud? Apa Tian suami ku? Dan perjanjian seperti apa juga yang ia maksud ini? Ya Allah ada apa semua nya ini?" Batin ku mulai gelisah.


"Ya sayang, nanti aku hubungi kamu lagi. Aku harus kembali ke acara bohongan ini" Ujar laki-laki tadi menutup ponsel nya.


Dengan tidak merasa ragu lagi,. aku pun langsung menghampiri laki-laki itu.


"Apa maksud dari omongan kamu barusan? Tian siapa yang kamu maksud dan perjanjian apa yang kalian lakukan?" Tanya ku dengan detail menguatkan hati untuk menerima kenyataan yang pahit nanti nya.


"Hmm... Anu,. Anu... Itu buk" Kata laki-laki terbata-bata.


"Kamu, kamu tenang saja. Aku hanya ingin tahu kebenaran nya. Dan aku tidak akan mengatakan apa pun kepada siapa pun. Apa Tian yang kamu maksud itu adalah suami ku?" Tanya ku lagi penuh dengan introgasi.


Laki-laki tadi tampak kebingungan harus berbicara apa. Dia masih tampak berpikir harus berbuat bagaimana.


"Kamu katakan saja yang sebenar nya. Atau aku yang akan memberitahu suami ku bahwa aku sudah mengetahui semua nya. Dan aku pastikan kamu tidak mendapatkan sepersen pun dari suami ku" Ancam ku. Yah karena hati ini sudah sangat curiga kepada Tian, maka nya aku berani melakukan hal ini. Meski pun aku belum yakin sepenuh nya bahwa Tian yang di maksud orang tadi adalah Suami ku.


"Jangan buk, jangan lakukan hal itu. Saya sedang membutuhkan uang untuk pengobatan anak saya yang sedang sakit. Karena itu saya setuju untuk melakukan kebohongan ini. Maaf kan saya buk" Jelas laki-laki tadi memohon.


Aku merasa tidak enak hati melihat laki-laki itu memohon kepada ku seperti itu.


"Siapa nama kamu?" Tanya ku mengeluarkan ponsel ku dari tas untuk ku rekam percakapan kami.


"Toni buk"


"Baik lah Toni, sekarang coba kamu jelas kan apa yang sebenar nya terjadi" Pinta ku.


"Maaf buk sebelum nya. Kemaren pak Tian dan buk Susan datang menemui ku. Mereka meminta ku untuk menggantikan pak Tian di acara resepsi pernikahan ini agar ibu dan keluarga pak Tian tidak curiga bahwa buk Susan dan pak Tian sudah menikah secara siri kemarin" Jelas Toni.


Deg....


Terasa petir menyambar mendengar ucapan dari laki-laki itu.. Sungguh aku tidak menyangka bahwa Tian tega melakukan hal ini kepada ku. Memang selama ini aku merasa bahwa Tian dan Susan selingkuh, tapi aku tidak sampai membayangkan bahwa mereka kini sudah menikah secara siri di belakang ku.


"Jadi anak yang di kandung Susan itu adalah anak Tian?" Batin ku mulai bertanya.


Napas ku mulai memburu tidak karuan mendengar itu. Sekujur tubuh ini merasa lemah tidak berdaya. Meski pun hati ini sedari tadi sudah di kuat kan, namun tetap saja rasa nya sulit untuk menerima semua ini.


"Mereka membayar saya agar saya mau menjadi suami bayaran Susan. Maaf kan saya buk. Saya terpaksa melakukan hal ini. Dan tolong jagan bilang-bilang hal ini kepada pak Tian dan juga buk Susan" Pinta orang tadi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu tenang saja. Aku tidak akan mengatakan apa pun kepada mereka. Lanjut kan saja peran yang kamu mainkan. Sekarang, pergi lah kamu masuk ke acara itu" Ujar ku lagi.


"Baik buk, terima kasih ya buk" Ujar Toni langsung masuk ke dalam ruangan tempat acara itu berlangsung.


Aku terduduk di atas kursi yang tak jauh dari tempat ku berdiri. Tatapan ku kosong ke depan. Sungguh aku masih merasa syok dengan kejadian ini.


Begitu pintar nya mereka mengatur skenario hingga membuat semua orang percaya bahwa benar Toni itu adalah suami nya Susan.


"Ya Allah, kuat kan hati ini untuk menerima kenyataan yang ada" Batin ku. Air mata mulai mengalir membasahi pipi ku.


"Apa salah ku Tian? Kenapa kamu tega membohongi ku. Dan kamu Susan, kenapa kamu tega menusuk ku dari belakang. Selama ini aku memang merasa curiga kepada mu. Tapi aku tidak menyangka bahwa rasa curiga itu menjadi kenyataan" Kata ku kepada diri ku sendiri.


"Ya Allah kuatkan lah aku. Bantu aku untuk menghadapi semua ini" Ujar ku lagi berdoa. Deraian air mata terus saja mengalir di pipi.


"Lo, sayang kok kamu malah di luar sih? Ayo masuk ke dalam" Ujar Tian yang sedari tadi sendang mencari ku.

__ADS_1


Mendengar dia memanggil sayang kepada ku membuat aku merasa jijik dan muak. Karena sayang yang ia katakan sudah di bagi dengan orang lain.


"Sayang kamu menangis?" Tanya Tian mendekati ku dan mencoba untuk menghapus air mata ku.


Aku menepis tangan nya dan mencoba untuk menghindar.


"Sayang, kenapa? Apa yang membuat mu sedih?" Tanya Tian.


"Aku hanya teringat kepada Raffa" Ujar ku berbohong.


"Sayang, ikhlas kan saja kepergian Raffa. Dia sudah tenang di sana" Ujar Tian dengan lembut.


"Iya aku sudah mengikhlaskan kepergian Raffa. Dan sebentar lagi juga aku pasti akan mengikhlaskan kepergianmu" Ujar ku dalam hati.


"Saat ini aku hanya menguatkan hati ku untuk memutuskan segala sesuatu yang menjadi keputusan ku kelak. Aku temani mu dengan Bismillah. Maka aku lepaskan mu dengan Bismillah juga" Batin ku menatap sayu kepada Tian.


"Sayang, kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Tian merasa heran.


"Tian,. masih ingat pepatah lama yang mengatakan bahwa sepandai-pandai nya tupai melompat,. Pasti akan jatuh juga" Ujar ku langsung masuk meninggalkan Tian yang masih bingung dengan ucapan ku itu.


"Apa sih masuk kamu Fitri?" Ujar Tian bingung.


Aku sama sekali tidak menanggapi pertanyaan nya. Aku terus saja masuk ke ruangan itu dengan perasaan hati yang terluka.


"Maaf kan aku mama, maaf kan aku papa. Aku tidak mendengar nasehat dari kalian berdua waktu itu. Aku hanya mengikuti keinginan ku yang penuh keyakinan bahwa Tian akan berubah. Yah dia memang berubah dan terlepas dari narkoba nya. Namun, ia kembali terjerat di dalam kemaksiatan dengan berselingkuh bersama Susan. Meski aku tidak tahu entah sejak kapan perselingkuhan mereka bermula" Batin ku menatap iba ke arah papa dan mama ku yang turut hadir di acara pernikahan nya Susan itu.


***


Aku dan Tian kembali ke rumah kami setelah selesai menghadiri pernikahan Susan dan suami palsu nya itu.


"Iya, Fit. Izin kan aku dan Toni menginap di rumah ini untuk satu malam ini saja ya. Besok pagi, aku dan Toni baru akan pergi ke rumah baru kami" Jelas Susan.


"Kenapa di rumah ini? Bukan kah di rumah mama mu juga bisa untuk kamu tempati satu malam?" Ujar ku merasa heran.


"Iya, itu karena barang-barang ku masih ada di sini. Besok setelah aku pindah jadi nya aku langsung membawa barang-barang ku ke rumah baru kami. Iya kan sayang?" Tanya Susan kepada suami palsu nya.


Toni tampak tidak nyaman dengan adegan nya itu. Laki-laki itu tampak gelisah karena takut jika aku membocorkan semua nya.


"Ya sudah, masuk lah" Ujar ku mempersilahkan mereka masuk.


"Bilang saja jika kamu mau menikmati malam pertama mu dengan suami ku" Batin ku melihat kedua orang yang berlainan jenis kelamin itu masuk ke dalam kamar Susan.


***


"Ini bayaran untuk mu. Sekarang kamu boleh pergi. Nanti aku akan memberi alasan kepada Fitri bahwa kamu ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa di tinggalkan" Ujar Susan memberikan sebuah amplop yang berisi uang sesuai dengan kesepakatan mereka kepada Toni.


Aku merekam adegan itu yang memang sengaja ku tunggu-tunggu dari tadi. Aku membuka sedikit pintu kamar Susan yang tidak di kunci untuk bisa mengambil rekaman vidio dari ponsel ku sebagai bukti.


"Terima kasih buk. Jika begitu saya permisi dulu" Ujar Toni bergegas keluar dari kamar Susan.


Dengan cepat pula aku bersembunyi di balik meja hias yang tidak jauh dari kamar Susan agar Toni dan Susan tidak mengetahui keberadaan ku.


"Sudah dua bukti yang aku dapat kan. Aku rasa kamu tidak akan bisa mengelak lagi Tian" Batin ku.


***


Seperti biasa nya aku bangun di sepertiga malam untuk melakukan solat tahajud agar Allah memberikan ku petunjuk atas permasalahan ku saat ini.

__ADS_1


Aku berbalik melihat kasur ku. Ternyata Suami ku tidak ada di tempat nya.


"Kemana dia? Tidak salah lagi pasti berada di kamar Susan" Batin ku. Niat nya aku mau solat menjadi batal lantaran Suami ku tidak ada di samping ku.


Aku menuruni tangga menuju kamar Susan. Perasaan ku gelisah dan tidak karuan saat itu. Memang aku sudah mengetahui semua nya. Tapi tetap saja hati ini terasa sakit saat nanti nya melihat suami ku bersama wanita lain dengan mata kepalaku sendiri.


Dengan pelan aku membuka pintu kamar Susan yang tidak di kunci. Mungkin Susan memang sengaja tidak mengunci kamar nya agar Tian mudah keluar masuk di kamar nya ketika aku sudah tertidur.


Ku lihat Tian sedang berdiri di jendela membelakangi ku yang berdiri di ambang pintu.. Begitu pun dengan Susan duduk di atas tempat tidur nya membelakangi ku juga.


Deg...


Hati ku merasa kembali teriris karena suami ku memang benar berada di kamar gadis itu.


"Sekarang, apa mau mu? Aku sudah menikahi mu secara siri sesuai keinginan mu. Tapi mengapa kamu terus-terus saja mengancam ku" Ujar Tian masih berdiri di depan jendela.


"Aku hanya ingin perhatian dari mu Tian. Malam ini adalah malam pertama kita. Kemaren malam kamu tidak datang menemani ku masa malam ini juga" Jawab Susan.


"Tidak mungkin aku terus-terusan menemani mu. Secara aku memiliki istri yang lain yaitu Fitri. Aku tidak mau membuat nya curiga karena terus-terusan bersama mu" Ujar Tian.


"Fitri lagi, Fitri lagi. Kenapa sih selalu dia yang kamu penting kan. Terus bagaimana dengan ku yang sedang mengandung anak mu ini. Aku juga butuh perhatian dan kasih sayang dari mu sebagai suami ku" Ujar Susan bangkit dari duduk nya dan berdiri di belakang Tian.


"Hubungan kita itu hanya khilaf Susan. Aku sama sekali tidak mencintai mu. Hanya saja aku sudah terlanjur membuat mu hamil. Jadi dengan terpaksa aku menikahi mu dan bertanggung jawab atas anak yang tidak berdosa itu" Ujar Tian.


Aku menutup mulut ku yang terbuka lebar mendengar perdebatan mereka.


"Aku sudah ingin berubah saat itu. Aku ingin kembali kepada keluarga ku. Tapi nyata nya kamu hamil. Terlebih ketika kamu membohongi ku dengan mengatakan perut mu bermasalah, namun kamu buat aku terjerumus di dalam lubang yang salah hingga kematian Raffa pun aku tidak berada di samping nya saat itu" Jelas Tian menangis menyesali perbuatan nya.


Aku menangis tertahan mendengar apa yang di katakan suami ku itu.


"Ternyata sudah selama itu mereka selingkuh, bahkan sebelum kematian Raffa. Astaghfirullahaladzim kenapa kamu tega melakukan hal ini kepadaku Tian?" Batin ku merasa teriris.


"Memang kamu berpikir bahwa kamu sedang khilaf waktu itu. Tapi khilaf mu itu sudah terlanjur Tian. Sehingga telah menghasilkan anak yang tidak berdosa di dalam perut Susan. Tidak mungkin kamu menelantarnya begitu saja" Batin ku lagi


"Kemasi barang mu. Besok kamu sudah harus pindah ke rumah yang telah aku belikan untuk mu" Ujar Tian.


"Ha? Bahkan kamu sudah mempersiapkan rumah untuk istri siri mu" Batin ku terus saja menangis mendengar kenyataan itu langsung dari mulut Tian.


"Iya aku akan pergi ke rumah baru ku. Tapi tolong kamu juga harus sering berkunjung di sana. Karena aku juga istri mu yang sedang hamil anak mu. Aku juga membutuhkan perhatian dari mu selayak nya wanita hamil pada umum nya" Pinta Susan.


Tian menghela napas berat nya.


"Aku akan berusaha untuk bersikap adil kepada..... " Ujar Tian berbalik dan tidak melanjutkan perkataan nya karena melihat ku berdiri di ambang pintu dengan air mata membasahi pipi.


Melihat Tian seperti itu Susan pun ikut berbalik untuk mengetahui apa yang membuat Tian berhenti berbicara.


"Fitri? Sayang sejak kapan kamu berada di sana?" Tanya Tian dengan wajah yang kaget.


"Cukup lama aku di sini untuk mendengar semua pembicaraan kalian" Ujar ku menghapus air mata yang mengalir di pipi.


"Sayang dengar kan aku dulu. Biarkan aku menjelaskan semua nya. Semua ini hanya salah paham" Ujar Tian mencoba mendekati ku.


"Stop di sana. Jangan mendekat lagi. Semuanya sudah jelas. Tidak perlu kamu capek-capek menjelaskan semua nya. Karena itu hanya membuang tenaga mu saja" Ujar ku mengangkat tangan meminta Tian untuk berhenti di sana.


"Sayang... "


"Stop, sekarang tugas mu menjaga istri siri mu yang sedang hamil ini. Jangan hirau kan aku" Ujar ku langsung berlari menuju kamar ku.

__ADS_1


__ADS_2