
Ternyata selama ini ustad Rendi menyimpan perasaan untuk ku. Aku juga tidak tahu penyebab nya apa. Tapi itu lah kenyataan nya.
***
Tian sedari tadi hanya melamun di rumah nya. Dia tidak bisa terima jika harus berpisah dari ku. Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketok oleh seseorang.
"Bik, tolong bukain pintu nya" Ujar Tian. Bik Ina langsung membuka pintu rumah megah itu tampa menunggu perintah dua kali.
"Non" Ujar Bik Ina tampak sedikit kaget melihat siapa yang datang.
"Tian nya ada bik?"
"Ada kok non. Silahkan masuk" Ujar bik Ina. Orang tadi pun masuk dengan gaya yang santai.
"Tian" Tegur nya saat tiba di depan suami nya itu.
"Susan kamu ngapain ke sini?"
"Ya untuk menemani kamu dong sayang. Apa lagi? Bukan kah kamu sendirian di rumah ini. Dari pada kamu sendirian lebih baik aku temani" Ujar Susan lagi tersenyum.
Tian kembali diam tidak menjawab perkataan dari Susan tadi.
"Sayang kamu kenapa sih? Kok muka nya di tekuk gitu?"
Tian menghela napas berat nya. Laki-laki itu tampak sangat sedih.
"Aku gak tahu lagi harus bagaimana? Saat ini aku bingung bagaimana lagi cara nya untuk membujuk Fitri"
"Fitri? Ada apa dengan nya? Apa kalian masih marahan?" Tanya Susan berlagak simpati. Padahal di hati nya sangat senang jika hal itu masih terjadi.
"Iya San. Bahkan dia sudah menggugat cerai kepada ku. Itu kamu lihat di atas meja. Ada surat panggilan dari pengadilan untukku dan juga Fitri" Ujar Tian menunjuk di mana surat itu berada.
Susan mengambil surat itu dan membaca nya.
"Ya Ampun, tega sekali Fitri meninta cerai sama kamu. Apa sih yang ada di pikiran nya? Padahal selama ini kamu bersikap adil antara aku dan juga dia" Ujar Susan lagi.
"Bagus, ini lah yang aku harap kan. Ternyata aku berhasil membuat Tian dan Fitri berpisah juga. Dan saat ini aku lah yang menjadi nyonya besar di rumah ini" Batin Susan tersenyum senang.
"Kamu yang sabar ya sayang. Meski Fitri tidak lagi bersama mu, kan masih ada aku yang selalu bersama mu" Ujar Susan mencoba menenangkan hati Tian.
Tian tidak menjawab dia hanya terdiam mendengarkan apa yang di katakan oleh Susan barusan. Pikiran nya sangat kacau saat ini. Susan memeluk Tian untuk memberi ketenangan.
***
Tok... Tok... Tok...
Pintu rumah di ketuk ada tamu yang datang berkunjung malam-malam di rumah Tian.
Susan membuka pintu rumah nya. Kaget melihat siapa yang berdiri di depan pintu itu. Sepasang suami istri paruh baya di sana.
"Om, tante" Ucap Susan dengan wajah pucat nya.
"Siap.... " Ujar Tian melihat siapa yang datang.
"Papa, mama" Ucap nya saat melihat siapa yang bertamu ke rumah nya.
Tian langsung mencium punggung tangan papa dan mama nya.
Dengan tatapan sinis dan tidak suka mama Tian berlalu dari hadapan Susan.
"Silahkan duduk ma, pa" Ujar Tian lagi mempersilahkan kedua orang tua nya duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"Kenapa gak bilang-bilang sih pa jika papa dan mama mau berkunjung" Ujar Tian.
"Sengaja mama dan papa gak kasih tau, jika kami kasih tahu pasti kamu akan menyembunyikan istri siri mu ini" Ujar mama Tian dengan sinis nya.
"Ternyata benar ya kamu sudah menikah siri dengan Susan. Terus di mana Fitri dan Sofi?" Tanya mama nya lagi. Yah awal nya ia tidak percaya apa yang di katakan suami nya beberapa waktu lalu. Karena itu lah dia ingin melihat dengan mata kepala nya sendiri yang sebenar nya.
"Hmm anu ma, pa... Itu" Jawab Tian terbata-bata.
"Anu, anu apa?" Bentak papa nya Tian.
"Si Fitri dan Sofi sedang menginap di rumah orang tua nya" Jawab Tian dengan gugup.
"Pantas saja menantu ku itu pergi. Siapa yang tahan satu rumah dengan pelakor yang tidak tahu diri ini" Ucap mama Tian lagi.
__ADS_1
"Maksud tante? Saya? Tante saya bukan pelakor ya"
"Oh ya? Saya tidak pelakor lo tante"
"Oh, ternyata kamu merasa ya saya ngomongin kamu? Terus jika kamu bukan pelakor, jadi nya apa? Perempuan murahan yang merusak rumah tangga orang? Yang menggoda suami orang?" Ujar mama Tian dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Sudah ma, di sini tidak hanya Susan yang salah. Tian juga salah, dia juga mudah tergoda dengan rauan wanita ini" Ujar papa Tian. Yah dia juga tahu bahwa diri nya dulu pernah tergoda dengan wanita lain sehingga membuat mereka bercerai. Hanya saja papa Tian meminta kembali kepada mama nya kerena wanita itu hanya lah mengincar harta nya saja. Untung kebusukan wanita selingkuhan nya papa Tian itu cepat terbongkar. Dan papa Tian pun kembali lagi bersama mama nya Tian.
"Kapan mereka pulang Tian?"
"Mereka tidak akan pulang tante. Fitri telah mengajukan gugatan kepada Tian dan lusa sidang pertama mereka" Jelas Susan.
"Apa? Jadi kamu dan Fitri akan berpisah? Terus bagaimana dengan Sofi? Pasti anak itu akan kembali terguncang"
"Tante sama om tenang saja ya, kan ada aku yang bisa jagain Sofi"
"Diam kamu perempuan murahan. Sofi tidak akan mau sama kamu. Terbukti saat ini dia lebih memilih untuk ikut sama mama nya dari pada tinggal bersama kamu di sini" Ujar mama Tian lagi.
Susan menatap kesal kepada mama mertua nya itu.
"Jika aku tidak memikirkan Tian di sini, pasti sudah ku tendang si tua bangka ini dari rumah ku" Batin nya lagi.
"Kasihan cucu dan menantu ku. Pa bagaimana ini?" Ujar mama Tian kepada suami nya.
"Ya harus bagaimana lagi ma. Papa sudah menasehati Tian untuk cepat memilih salah satu di antara kedua nya. Tapi nyatanya dia tetap egois dan tidak mau memilih salah satu. Tidak salah jika Fitri yang menggugat cerai kepadanya. Secara dia sudah terlalu lama menderita" Jelas papa Tian.
"Pa, apa yang harus aku lakukan saat ini pa, ma. Aku tidak mau pisah dari Fitri. Aku sangat mencintai nya" Ujar Tian terdengar memohon.
"Mama dan papa tidak tahu harus bagaimana. Ini semua adalah keputusan Fitri. Dan salah kamu, kamu yang telah bermain api di belakang nya. Sejujur nya papa dan mama merasa kecewa terhadap mu" Ujar papa Tian dengan bijak.
Tian tampak frustasi dia benar-benar tidak mau pisah dari ku.
"Ya sudah, surat panggilan mu lusa kan? Papa dan mama akan berusaha hadir di sana" Ujar papa Tian.
"Kami pamit dulu" Tambah nya lagi.
"Gak nginap di sini aja pa, ma?"
"Nginap di sini? Bareng sama pelakor? Ogah, gak sudi" Ucap mama Tian lagi.
***
"Susan kamu ngapain ke sini?" Tanya Tian saat Susan masuk ke dalam kamar ku dan Tian.
"Lo, apa salah nya aku tidur di sini. Bukan kah ini kamar utama untuk kita"
"Kamar kamu di bawah Susan"
"Lo, Kamu kan suami ku Tian, apa salah nya aku tidur di kamar ini bersama suami ku" Susan terus mendekat kepada Tian.
"Tapi ini kamar aku dan Fitri"
"Fitri tidak ada di sini Tian. Aku juga ingin merasakan tidur di kamar utama ini. Bukan kah aku ini istri mu. Dan kamu juga bilang akan bersikap adil antara Aku dan Fitri bukan?" Ujar susah duduk di samping Tian. Di mana saat itu Tian sedang duduk di atas kasurnya dan sedang menatap foto dirinya bersamaku dan juga Sofi di ponselnya.
"Sialan, masih juga melihat foto nya Fitri. Padahal udah mau pisah juga, masih saja Fitri menghantui suamiku ini" Batin Susan merasa kesal dengan kelakuan suami nya itu.
"Aku gak boleh tinggal diam. Aku harus bisa membuat Tian melupakan Fitri selama nya" Tambah nya lagi dalam hati.
***
"Jadi kamu beneran akan berpisah sama Tian? Terus Sofi gimana?" Tanya kakak ku saat aku berkunjung ke rumah nya.
"Iya kak, aku sudah tidak bisa bertahan lagi di rumah tangga yang seperti ini" Jawab ku dengan menyeduh secangkir teh hangat yang disajikan oleh kakakku tadi.
"Kakak benar-benar tidak menyangka dek ternyata Tian seperti itu kelakuannya. Kakak hanya bisa mendoakan semoga keputusan kamu ini bisa membuat kamu bahagia nantinya"
"Aamiin makasih kakak" Ucapku kepada kakak kandungku itu. Yah aku sudah menceritakan semua yang aku alami di dalam rumah tanggaku bersama kakakku dan juga keluargaku. Jadi mereka tahu apa penyebab aku berpisah dari Tian.
"Terus bagaimana dengan Sofi?"
Aku menghela nafas berat mendengar pertanyaan dari kakakku itu.
"Aku juga bingung kak. Tapi yang jelas aku mau minta kepada Tian agar tidak melarang ku untuk bertemu dengan Sofi nantinya" Ujar ku dengan raut wajah yang sedih.
"Kasihan sekali Sofi. Pasti batin nya akan kembali terguncang dengan perpisahan kalian" Ujar kakak ku.
__ADS_1
"Yah, harus bagaimana lagi kak. Satu bulan aku menunggu keputusan dari Tian untuk memilih antara aku dan Susan. Tapi nyatanya hingga detik ini dia tidak bisa memilih antara kami berdua. Aku tidak bisa hidup di madu. Terserah Susan berpikir bahwa dia telah menang karena telah mendapatkan Tian seutuhnya aku tidak peduli. Yang penting saat ini aku hanya ingin mencari kebahagiaanku sendiri" Ujar ku lagi.
Ting...
Ponsel ku berdering pertanda ada pesan singkat yang masuk.
Aku membuka dan membaca nya. Ternyata itu dari grup tausiah ustad Rendi.
"Wah, ternyata ada tausiah hari ini. Ya sudah aku pulang dulu ya" Ujar ku kepada kakak ku.
"Tausiah? Kamu ikut tausiah?"
"Ya kak. Aku sengaja ikut tausiah untuk mencari kesibukanku agar aku bisa lebih mencari ketenangan di hati dan jiwaku. Yah masalah demi masalah yang aku hadapi membuat batinku terasa terguncang. Dan semenjak ikut tausiah ini, iman ku kepada sang pencipta sedikit demi sedikit bertambah. Sehingga bisa membuatku menghadapi masalah ini dengan tenang dan lapang dada" Ucap ku.
"Oh, begitu Ya sudah kamu hati-hati di jalan ya" Pesan kakak ku. Aku hanya menjawab dengan menganggukkan kepala ku.
***
Hari persidangan telah tiba. Aku bersiap-siap pergi menuju kantor pengadilan agama untuk memenuhi panggilan. Sungguh hati ini merasa gelisah untuk memenuhi panggilan tersebut. Karena di hati masih ada rasa cinta untuk suamiku itu.
"Bismillahirohmanirohim semoga persidangan hari ini berjalan dengan lancar" Doa ku dalam hati.
Aku meminta izin untuk tidak masuk mengajar hari ini karena akan menghadiri persidangan.
"Sudah siap sayang?" Tanya mama ku dan papa ku. Yah mereka akan mengantar dan menemani ku di persidangan nanti.
Saat ini aku memang membutuhkan orang-orang terdekat ku untuk memberikan semangat kepada ku.
"Sudah ma, ayo kita berangkat" Jawab ku mencoba untuk tersenyum meski hati gelisah.
Kami pun pergi ke kantor pengadilan setelah mengantar Sofi ke sekolahnya.
***
"Fitri" Panggil Tian saat melihat ku turun dari mobil.
Aku menoleh ke sumber suara yang memanggilku tadi. Terlihat Tian, Susan serta kedua orang tuanya Tian datang mendekatiku.
"Fitri, sayang, tolong jangan tinggalin aku ya. Aku mencintai kamu dan tidak mau berpisah dari mu" Ucap nya memohon kepada ku.
"Susan, apa kamu ini masih menjadi istri nya Tian?" Tanya papa ku menatap ke arah Susan.
Susan mengangguk membenarkan.
"Masih kok om?"
"Terus, Apa kamu tidak merasa cemburu atau sakit hati saat Tian mengungkapkan rasa cintanya kepada anakku?" Tanya papa ku lagi.
Susan tampak menunduk dan berpikir dengan pertanyaan dari papa ku itu.
"Tentu saja aku cemburu. Namun harus ku tahan karena tidak mau membuat Tian nanti nya berpikir buruk kepada ku" Batin Susan.
"Gak kok om, Bukan kah ini sudah menjadi resiko ku sebagai istri kedua dan istri sirinya Tian. Dimana aku harus rela bagi suami kepada Fitri" Ucap Susan berlaga sok bijak.
"Fitri apa kah kamu yakin dengan keputusan mu ini? Apakah tidak ada rasa cinta sedikitpun di hatimu untukku lagi?"
"Rasa cinta itu sesungguhnya masih ada untukmu Tian. Tidak mudah untuk ku melupakan kamu. Di mana kamulah cinta pertamaku. Dan kita sudah menjalin pernikahan selama kurang lebih tiga tahun. Tidak mungkin kenangan-kenangan kita bisa terhapus dan begitu saja" Batin ku.
"Jelas rasa itu masih ada Tian. Tapi aku tidak bisa bertahan lagi karena terus-terusan tersakiti di hati. Aku telah memberikan kamu kesempatan. Di mana kamu berjanji akan menceraikan Susan setelah anak itu lahir. Tapi nyatanya kamu tidak bisa menepati janjimu. Bagaimana bisa kamu menceraikan Susan sedangkan rasa cinta mu kepada Susan mulai muncul" Ujar ku menitikkan air mata.
"Fitri apa semua ini tidak bisa di bicarakan baik-baik nak tampa harus berpisah" Tanya mama mertua ku dengan lembut.
"Maaf ma, aku hanya manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran" Jawab ku.
"Sekarang aku mau tanya sama kamu. Kamu mau pilih aku atau dia?" Tanya ku kepada Tian.
Tian terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan ku.
"Tidak bisa jawab kan? Sudah lah Tian aku sudah tahu jawaban nya apa. Aku sudah mendengarkan semua nya saat di rumah sakit kemaren" Ucap ku lagi.
"Selamat bertemu di pengadilan Tian" Ujar ku langsung berlalu di hadapan Tian yang sebentar lagi menjadi mantan istri ku.
Susan tersenyum senang melihat pertengkaran kami. Sungguh dia merasa di atas awan karena sebentar lagi akan menjadi nyonya besar Tian. Dan jelas dia akan menguasai semua harta Tian nanti nya.
"Semoga persidangan ini cepat selesai. Aku sudah tidak sabar menjadi nyonya besar Tian.. Tidak peduli dengan mertua yang bawel dan cerewet ini. Secara aku gak tinggal dengan mereka. Jadi aku tidak terus-terusan mendengan ocehan nya" Ujar Susan.
__ADS_1