Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 48


__ADS_3

Aku merasa janggal dengan alasan yang di ucapkan oleh Tian malam itu. Entah mengapa aku sulit untuk mempercayai setiap ucapan suami ku itu. Dulu, aku sangat percaya kepada suami ku itu bulat-bulat. Tapi tidak dengan saat ini. Terlebih mendengar cerita dari Sofi dan bik Ina.


"Oh ya sayang, bagaimana dengan Susan? Apa kamu sudah menghubungi nya? Apa benar dia di rumah mama nya?" Tanya ku.


"Iya, tadi aku sudah chat Susan dan benar saja dia berada di rumah mamanya saat ini. Dan katanya besok dia baru akan pulang ke sini" Jelas Tian.


"Oh Syukur lah jika begitu. Aku menjadi lega mendengar nya. Oh ya, aku mau ke kamar Sofi dulu ya. Mau melihat anak itu apa sudah tidur atau belum" Ujar ku.


"Iya" Ucap Tian mengangguk.


Tian mengusap dada nya merasa lega karena aku sama sekali tidak tahu bahwa dia baru saja menghubungi Susan.


"Untung saja Fitri tidak curiga. Jika tidak.... Bisa mati aku" Batin nya. Tian duduk di kursi teras dan meneguk secangkir teh hangat yang ku bawa tadi.


***


Aku membuka pintu kamar putri kecil ku itu. Ku lihat gadis kecil itu terlelap di dalam tidur nya. Aku mendekati nya dan mencium kening gadis kecil ku itu.


"Selamat malam sayang, mimpi yang indah ya" Ucap ku lirih.


Seketika aku kembali teringat kata-kata sofi dan bik Ina tentang hubungan Tian dan juga Susan.


"Ya Allah kenapa aku selalu memikirkan apa yang dikatakan oleh sofi dan juga bik Ina? Sungguh aku tidak bisa menghilangkan pikiran-pikiran ini dari otakku" Batin ku. Tak terasa beberapa air bening kini mengalir di pipi ku.


"Bagaimana nasib ku nanti nya jika benar itu terjadi? Aku sangat menyayangi Sofi seperti anakku sendiri dan aku tidak sanggup untuk berpisah dengannya" Batin ku. Yah jelas saja aku akan berpisah dengan Sofi karena aku tidak mau diselingkuhi oleh suamiku itu. Wanita mana yang rela diselingkuhi oleh suaminya terlebih ini dengan mantan adik iparnya.


Aku juga sadar, bahwa aku ini hanya ibu sambung nya Sofi. Dan tidak ada hak sepenuh nya diri ku terhadap Sofi meski aku sangat menyayangi nya.


***


"Susan, sini sebentar" Ujar ku saat melihat gadis itu baru saja tiba di rumah. Kehadiran nya memang sedang ku tunggu untuk meminta kejelasan tentang apa yang terjadi kepada nya.


Susan datang mendekati ku dan Tian yang sedari tadi duduk di sofa tamu menunggu nya pulang.


"Iya, ada apa?" Tanya nya kepada ku dengan santai nya.


"Silahkan duduk" Ujar ku.


Susan duduk berhadapan dengan aku dan Tian.


"Susan, tidak sengaja aku mendengar mu berbicara di telfon kemaren siang. Dan tidak sengaja juga aku mendengar bahwa kamu sedang hamil" Ujar ku.


Susan yang mendengar pernyataan ku barusan tampak santai dan tidak kaget sama sekali. Yah mungkin karena ia telah di beritahu oleh Tian terlebih dahulu maka nya dia santai seperti ini.


"Apa selama ini kamu mempunyai pacar? Dan apa pacar mu itu tidak mau bertanggung jawab dengan kehamilan mu? Dari pembicaraan mu di telfon kemarin, pacar mu tidak mau bertanggung jawab ya atas kehamilan mu itu" Ujar ku berlagak sok bijak dan sok tahu.


"Siapa laki-laki itu? Biar nanti aku dan Tian yang akan membantu mu untuk meminta pertanggung jawaban dari nya. Yah walau bagaimana pun, kamu tinggal di rumah kami dan kami pun mempunyai tanggung jawab terhadap mu. Karena mama mu sudah memberikan kepercayaan kepada kami" Jelas ku lagi.


Susan memutar bola mata nya. Gadis itu tampak merasa muak dengan perhatian ku barusan. Ia menatap Tian saat aku bertanya siapa laki-laki itu. Yah jelas dari tatapan nya itu sudah memberikan jawaban bahwa laki-laki itu adalah Tian. Namun, aku sama sekali kurang ngeh dengan kode yang di tunjukkan Susan.


"Iya memang selama ini aku sudah memiliki pacar. Hanya saja aku tidak memberitahu kalian siapa pacar ku itu. Dan terlebih kalian sibuk ngurusin Raffa. Soal anak yang ada di dalam kandungan ku ini, kalian jangan repot-repot membantu ku Karena ayah dari si cabang bayi sudah setuju untuk menikahi ku. Kami akan mengadakan acara pernikahan kami minggu depan" Ujar Susan.


"Wah, bagus lah jika begitu. Aku turut senang jika pacar mu mau bertanggung jawab dengan kehamilan mu itu" Ujar ku merasa lega.


"Iya aku juga senang karena sebentar lagi suami mu akan menjadi akan menjadi milik ku juga" Batin Susan tersenyum senang.


***

__ADS_1


Tiba lah hari yang di tunggu-tunggu oleh Susan. Di mana di hari itu akan du lakukan ijab kobul antara Susan dan juga Tian secara siri.


Hari itu juga hati ku merasa sangat tidak tenang. Entah mengapa aku bisa merasakan hal itu. Mungkin karena feeling seorang istri ya jadi nya bisa merasakan kegelisahan di hati.


Tian tampak bersiap-siap untuk pergi dengan memakai jas hitam dan kemeja berwarna biru di dalam nya. Yah pakaian itu adalah pakaian biasa nya saat ia pergi berangkat ke kantor.


"Sayang aku berangkat ke kantor dulu ya" Ujar nya mencium kening ku seperti biasa nya dia berpamitan. Aku mencium punggung tangan suami ku. Entah mengapa hari itu aku merasa enggan untuk melepaskan kepergian Tian ke kantor.


"Kenapa sayang?" Tanya Tian kepada ku saat aku memperlihatkan wajah sedih ku kepada nya.


"Gak tahu kenapa, akhir-akhir ini aku merasa gelisah. Dan kegelisahan itu semakin kuat hari ini. Ada apa sebenar nya dengan hati ku?" Ujar ku kepada Tian.


Tian tertegun mendengar ucapan ku barusan. Dia sungguh tidak menyangka bahwa aku bisa merasakan kegelisahan ini.


"Maaf kan aku sayang. Aku tahu kegelisahan mu itu sebagai feeling seorang istri terhadap suami nya. Di mana hari ini aku harus menikah dengan Susan. Dan tentu saja kamu merasakan hal itu. Tapi ketahui lah sayang, aku sangat mencintai mu. Rasa cinta ku kepada mu tidak pernah berubah hingga detik ini" Batin Tian melihat ku dengan iba.


"Aku terpaksa menikahi Susan karena keberadaan anak itu. Aku terpaksa melakukan semua ini karena kekhilafan ku waktu itu. Aku benar-benar menyesal sayang" Batin Tian menyesali perbuatan nya.


"Sayang, aku minta maaf kepada mu jika selama ini aku belum bisa menjadi suami yang terbaik untuk mu" Ujar Tian secara tiba-tiba.


Deg....


Hati ku merasa sedikit aneh saat Tian mengatakan hal itu. Seperti ia melakukan kesalahan saja saat mengatakan hal itu.


"Kenapa kamu ngomong seperti itu Tian?" Tanya ku dengan lembut.


"Aku merasa belum bisa menjadi suami yang terbaik untuk mu. Dengan kesalahan-kesalahan ku kemaren di mana aku membiarkan mu berjuang sendirian untuk kesembuhan Raffa. Dan masih banyak lagi kesalahan yang aku lakukan yang membuat mu kecewa" Jelas Tian menitikkan air mata nya. Laki-laki itu mencium punggung tangan ku merasakan kesalahan di hati nya yang begitu dalam.


"Sayang, kamu ngomong apa sih? Kamu itu sudah menjadi suami yang terbaik di dunia ini. Kamu juga sudah menjadi papa yang baik untuk Raffa dan Sofi" Ujar ku merasa tidak enak hati karena melihat Tian merasa bersalah seperti itu.


"Sayang andai kamu tahu apa yang aku lakukan. Pasti kamu tidak akan mengatakan hal seperti ini. Pasti kamu akan mengatakan hal yang sebalik nya" Batin Tian.


***


"Sayang, akhir nya kamu datang juga. Ini pakaian pengantin untuk kamu" Ujar Susan. Yah acara ijab kabul di lakukan di kediaman mama nya Susan. Susan tampak sudah siap dengan acara itu di mana ia sudah mengenakan baju kebaya berwarna putih dengan rok batik yang memperlihatkan bentuk tubuh nya yang seksi. Mahkota di kepala nya pun menambah kesan kecantikan gadis itu.


Gadis itu memberikan baju kurung laki-laki berwarna senada dengan nya kepada Tian.


"Pakai ya sayang, cepat sedikit pak penghulu nya sudah menunggu" Ujar Susan mengedipkan sebelah mata nya kepada Tian.


Tian melihat baju itu dengan perasaan yang sedih. Dia sungguh tidak pernah menyangka pada akhir nya menikah dengan mantan adik ipar nya itu. Meski terpaksa, namun tetap saja mereka akan menikah.


"Sayang, kenapa malah bengong? Ayo pakai baju nya" Ujar Susan lagi.


Dengan langkah yang berat Tian pun masuk ke dalam kamar dan langsung mengenakan pakaian yang di berikan oleh calon istri nya itu.


***


"Baik lah, apa semua sudah siap?" Tanya penghulu itu kepada Susan dan Tian. Mereka berdua mengangguk.


"Susan, apa kah kamu bersedia menikah dengan Tian?" Tanya nya lagi.


Susan mengangguk sambil tersipu malu tanda setuju untuk menikah dengan Tian.


"Baik lah jika begitu. Silahkan kalian mengucapkan istighfar secara bersama-sama" Perintah penghulu tadi.


Tian dan Susan pun mengucapkan istighfar secara bersama-sama.

__ADS_1


"Sekarang coba kalian membaca syahadat bersama-sama"


Kembali mereka mengucapkan syahadat secara bersama-sama.


Setelah selesai mengucap kan syahadat, Tian dan penghulu tadi berjabat tangan menikah kan mereka berdua secara siri.


Dengan deraian air mata, Tian mengucapkan ijab kabul dengan lancar nya meski hati terasa berat dan teriris.


"Alhamdulillah, sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri" Ujar penghulu tadi setelah membaca doa untuk kedua mempelai.


Susan mencium punggung tangan nya Tian. Tian sama kali tidak melihat gadis itu saat mencium tangannya. Laki-laki itu berpaling muka dari Susan sambil membayangkan wajahku di pelupuk matanya karena merasa bersalah atas apa yang terjadi.


Sungguh ia tidak bisa menghindari pernikahan ini karena ada si cabang bayi. Dan tidak mungkin juga dia meminta Susan untuk menggugurkan kandungan itu karena anak itu sama sekali tidak bersalah.


***


"Tian, terima kasih ya kamu sudah mau menikahi Susan. Mama merasa senang sekali karena kamu mau bertanggung jawab" Ujar wanita paruh baya itu tersenyum senang setelah semua para tamu yang hadir pulang.


Yah mereka hanya mengundang penghulu dan beberapa saksi sebagai saksi pernikahan mereka berdua secara siri. Tidak lupa fotografer sebagai mengabadikan momen penting itu.


"Ya ma" Ujar Tian dengan raut wajah yang tidak senang.


"Jadi nya besok hanya resepsi pernikahan kalian ya" Ujar mama nya lagi.


Tian mengangguk.. Lalu mereka pun terdiam larut dalam pikiran masing-masing.. Tian memikirkan tentang kesalahan nya terhadap ku, sedangkan wanita paruh baya itu memikirkan bagaimana mendapatkan harta nya Tian.


"Tian, ada yang mau mama bicarakan sama kamu" Ujar mama nya lagi.


"Ada apa ma?"


"Begini, hmm.... Bagaimana ya harus ngomong nya" Wanita paruh baya itu tampak salah tingkah untuk mengatakan apa yang ada di pikiran nya.


"Ada apa ma? Ngomong aja"


"Hmm... Begini Tian, apa nanti Susan akan tetap tinggal di rumah kalian? Secara di rumah itu ada Fitri dan pasti Fitri akan curiga karena Susan yang sudah menikah pun masih tinggal di rumah kalian" Ujar wanita paruh baya itu nyengir.


"Ngerti kan maksud mama bagaimana nya?"


"Iya ma, aku ngerti apa maksud mama. Mama tenang saja aku sudah memikirkan segalanya. Aku telah membeli rumah untuk Susan agar bisa Susan tepati di sana bersama anaknya. Jika perlu mama pun boleh tinggal bersama Susan. Apalagi dalam keadaan Susan seperti ini. Dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya di rumah itu. Karena aku tidak bisa terus-terusan berada di rumah itu untuk menemaninya" Jelas Tian.


"Wah ternyata Susan akan mendapatkan rumah mewah dari Tian. Aku tidak menyangka bahwa anakku itu akan mendapatkan rumah mewah secepat ini" Batin wanita paruh baya itu.


"Susan boleh menempati rumah barunya saat resepsi pernikahan besok selesai" Ujar Tian lagi.


"Wah terima kasih ya Tian. Kamu sudah mau memikirkan keadaan Susan ke depannya bagaimana. Dengan begitu mama tidak perlu khawatir lagi. Karena Susan sudah memiliki rumah sendiri tidak perlu satu rumah dengan istri pertamamu itu"


Tian mengangguk sambil tersenyum kecut kepada mama mertuanya itu.


"Oh ya Tian meskipun kamu dan Susan itu nikahnya secara siri, mama harap kamu bisa bersikap adil juga terhadap Susan. Apa yang Fitri dapatkan dari kamu, mama harap kamu akan memberikannya juga kepada Susan. Walau bagaimanapun Susan itu sudah menjadi istrimu dan dia juga akan menjadi tanggung jawabmu" ujar wanita paruh baya itu dengan lembut kepada menantunya.


"Iya ma, Aku akan berusaha bersikap adil kepada kedua istriku. Semoga saja aku bisa menjadi suami yang baik di atas yang terbaik untuk kedua istriku itu"


"Oh ya ma, tolong rahasiakan pernikahan aku dan juga Susan kepada siapapun termasuk kepada keluargaku. Karena aku tidak mau mereka tahu dan kecewa dengan perbuatanku ini" Ujar Tian terdengar memohon kepada mertuanya itu.


"Iya kamu tenang aja Mama pasti akan merahasiakan pernikahan kamu dengan Susan sebaik-baiknya" Jawab wanita paruh baya itu.


"Ya iyalah aku harus merahasiakan pernikahan kalian dengan keluargamu. Karena aku tahu jika nanti keluargamu tahu, maka papamu pasti akan marah kepadamu dan akan menarik semua harta yang pernah dia berikan kepada kamu. Tentu saja jika hal itu terjadi akan membuat kamu jatuh bangkrut dan aku akan mendapatkan imbasnya juga. Karena tidak mendapatkan sepersen pun harta dari mu. Nah sebelum itu terjadi aku akan berusaha membuat Susan untuk merebut hartamu secepat nya" Batin mama Susan tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2