
Tian telah berhasil menjual rumah Susan harga lima ratus juta rupiah kepada pak Johan sebagai hadiah untuk putrinya yang yang baru saja menikah. Dan pak Johan telah mengirimkan sebagai uangnya ke rekening Tian. Sedangkan sisanya akan dilunasi setelah sertifikat rumah dan tanah tersebut sudah di alih namakan atas nama putrinya pak Johan.
"Syukur lah Tian jika rumah itu telah berhasil terjual. Aku turut bahagia mendengar nya. Jadi nya kamu bisa menutupi dana untuk kebutuhan proyek kamu yang terbenggalai" Ujar Susan tersenyum senang.
Meski hati nya sangat berat untuk melepaskan rumah mewah yang di berikan oleh Tian kepadanya sewaktu mereka menikah dulu, namun apa lah daya suami nya saat ini sedang membutuhkan dana untuk perusahaan nya. Mau tidak mau Susan pun harus merelakan rumah nya itu.
"San, aku ke kamar dulu ya untuk bersih-bersih" Ujar Tian langsung pergi menuju kamar nya.
"Iya sayang, aku akan siapkan makanan untuk kamu" Ujar Susan lagi.
***
"Aduh, perut ku sakit sekali. Ada apa ini?" Ujar Susan tiba-tiba perut nya kini terasa sakit dan nyeri.
"Ah... Aduh sakit" Rintih Susan.
"Bik, bik Ina, tolong bik" Teriak Susan kepada pembantu rumah tangga nya itu.
"Iya buk ada apa?" Ujar bik Ina berlari mendekati majikannya.
"Bik, tolong bik. Perut ku terasa sakit sekali tolong panggilin Tian di kamar bik" Ujar Susan lagi menahan rasa sakit yang teramat di perut nya.
Tampa di suruh untuk yang kedua kali nya, dan dengan perasaan yang berdebar takut jika majikan nya itu terjadi apa-apa, bik Ina pun berlari untuk memanggil Tian yang berada di kamar nya.
Wanita itu terduduk di lantai dapur karena tidak bisa lagi menahan sakit di perut nya itu.
Susan merasa ada yang membasahi paha nya, betapa kaget nya wanita itu saat ia meraba dan melihat bahwa darah segar mengalir di bawah sana.
"Tian.. " Teriak Susan histeris.
***
"Pak, pak Tian" Bik Ina setengah berteriak sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar majikannya itu. Namun, tidak ada jawaban dari dalam kamar.
"Pa, pak Tian" Ucap nya lagi terus mengetuk pintu kamar Tian tanpa berhenti.
"Ada apa bik?" Tanya Tian yang baru saja selesai mandi dan saat ini sedang mengeringkan rambutnya. Lelaki itu langsung membuka pintu dan melihat bahwa pembantunya itu dalam keadaan panik.
"Ada apa bik? Kenapa terlihat panik seperti itu?" Tanya Tian kepada wanita paruh baya itu.
"Itu tuan, anu, buk Susan. Perut nya sakit" Jelas bik Ina dengan terbata-bata.
"Apa perut Susan sakit lagi?"
"Iya pak. Buk Susan sekarang di dapur pak"
Dengan cepat Tian pun langsung berlari menuju dapur untuk melihat keadaan istrinya itu.
***
"Susan, ada apa?" Tanya Tian mendekati istri nya yang terus saja merintih kesakitan.
"Aku juga gak tahu Tian. Tiba-tiba saja perutku terasa sakit. Dan kamu lihat aku pendarahan" Susan memperlihatkan darah segar yang mengalir di pahanya.
"Ya ampun, kita harus segera ke rumah sakit. Bik tolong jagain Sofi ya" Ucap laki-laki itu langsung menggendong istrinya menuju mobil untuk dibawa ke rumah sakit.
"Tolong bilang juga sama mama bahwa kami ke rumah sakit" Tambah nya lagi.
"Baik pak" Ucap bik Ina langsung pergi menuju kamar mama Susan untuk menyampaikan pesannya dari Tian.
***
"Ada apa bik?" Tanya wanita paruh baya itu membuka pintu kamar nya yang terus saja di ketuk oleh pembantu rumah tangga putri nya itu.
"Itu nyonya besar, buk Susan sama pak Tian ke rumah sakit. Tiba-tiba saja perut buk Susan sakit dan mengalami pendarahan" Jelas bik Ina lagi.
"Ya ampun, kok bisa sih? Ya sudah saya segera ke sana sekarang" Ucap wanita paruh baya itu langsung bergegas menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi putrinya itu.
***
__ADS_1
"Suster, Sus tolong istri saya" Teriak Tian saat mereka tiba di rumah sakit. Dua orang perawat pun datang dengan membawa tempat tidur pasien untuk membawa pesan ke ruang UGD.
"Aduh, Tian sakit sekali perut ku" Ujar Susan yang terbaring di atas tempat tidur di mana beberapa suster dan juga Tian mengiring nya menuju ke ruang UGD.
"Sabar ya sayang. Kamu harus bertahan" Ujar Tian memberi semangat sambil memegang tangan istri nya itu.
"Maaf pak, bapak harap tunggu di sini ya" Ujar salah satu Suster tidak mengizinkan Tian untuk masuk ke ruangan UGD.
Tian tampak cemas memikirkan keadaan istri dan juga anak yang ada dalam kandungan Susan. Tentu saja dia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap keduanya.
"Ya Allah semoga Susan dan anak ku baik-baik saja" Doa Tian kepada sang pencipta.
"Tian, Tian. Bagaimana keadaan Susan? Apa baik-baik saja" Ujar mama Susan datang ke ruangan UGD untuk melihat keadaan putri nya itu. Wanita baru banyak itu tampak cemas memikirkan putrinya yang sedang berjuang di dalam sana.
"Belum tahu ma, dokter sedang menangani nya di dalam sana. Belum ada kabar sama sekali dari mereka" Ujar Tian.
"Ya ampun, kok bisa sih Susan mengalami pendarahan seperti ini? Bukan kah miom nya sudah di angkat dan bukan kah dia sudah terbebas dari penyakit itu" Ujar mama Susan lagi.
"Aku juga gak mengerti ma. Yang jelas kita berdoa saja kepada sang pencipta agar Susan dan bayi nya baik-baik saja" Jelas Tian lagi.
"Aamiin"
***
"Bik, kok rumah sepi? Papa sama tante juga nenek kemana?" Tanya Sofi saat melihat keadaan rumah nya sepi seperti itu.
"Semua nya pergi ke rumah sakit non. Buk Susan sakit lagi" Jawab bik Ina.
"Tante sakit lagi?"
"Iya non"
"Non mau makan? Bibi siap kan makanan nya" Ucap bik Ina lagi.
"Iya bik. Sofi lapar"
"Sebentar ya non bibi ambilin makanan nya" Wanita baru beli itu langsung pergi untuk mengambil makanan yang telah disiapkan untuk putri majikannya itu.
"Makasih ya bik" Jawab Sofi. Namun tampak raut kesedihan di wajahnya.
"Non, kok sedih sih? Ada apa?"
"Sofi sendirian lagi bik di rumah ini. Jika ada mama Fitri, pasti dia selalu menemani Sofi di sini. Dan Sofi pasti tidak akan kesepian lagi. Sofi kangen sama mama bik" Ujar gadis itu lagi dengan penuh kesedihan.
Bik Ina pun ikut sedih melihat putri kecil ku itu merindukan diri ku.
"Ya Allah kasihan sekali kamu non. Baru juga bahagia karena mendapatkan keluarga lengkap, kini malah mendapatkan kesedihan" Batin bik Ina.
"Non jangan sedih ya. Kan ada bibi yang menemani non di sini. Bibi akan selalu bersama non" Ujar bik Ina mencoba untuk menghibur gadis kecilku itu agar tidak merasa sedih lagi.
"Sekarang, non makan ya, jangan sedih-sedih seperti ini lagi. Nanti jika mama Fitri tahu, pasti mama Fitri akan sedih melihat non seperti ini" Ujar wanita paruh baya itu lagi.
Gadis itu masih memperlihatkan raut wajah kesedihannya di hadapan pembantu rumah tangga itu.
"Emang nya, non mau melihat mama Fitri sedih?"
"Gak bik, Sofi nggak mau melihat mama sedih. Sofi mau melihat mama bahagia selalu" Ucap gadis itu.
"Ya sudah, sekarang non makan ya" Ujar nya lagi.
"Atau gak bibi suapin"
Gadis kecil itu pun mengangguk setuju untuk disuapi sama wanita paruh baya itu.
***
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Tian saat dokter yang menangani Susan keluar dari ruangan UGD itu.
"Begini pa, menurut hasil pemeriksaan kami, penyakit miom yang dialami oleh bu Susan masih meninggalkan sisa di rahim tersebut. Hal itu menyebabkan bayi yang ada di dalam kandungan bu Susan tersebut meninggal dunia. Jadi kita harus segera melakukan operasi sesar untuk pengangkatan bayi dan juga rahim bu Susan secepatnya" Jelas dokter itu lagi.
__ADS_1
"Kok bisa dok? Bukankah waktu itu hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Susan telah bersih dari penyakit itu dan juga anak yang ada dalam kandungan Susan tumbuh dengan baik" Tanya mama Susan.
"Iya buk, memang waktu itu hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Bu Susan telah bersih dari penyakit tersebut .Tapi itu tidak menjamin bahwa bu Susan benar-benar bersih. Karena itu kami sebagai dokter di sini menyarankan kepada ibu Susan agar selalu melakukan cek kontrol tiap minggunya untuk memastikan bahwa memang tidak ada lagi akar yang tersisa. Karena akar tersebut bisa terlihat setelah beberapa lama tidak langsung bisa dilihat saat itu juga" Jelas dokter itu lagi.
"Jadi rahim Susan harus di angkat dok?"
"Iya, rahim buk Susan harus segera diangkat karena akar dari miom tersebut sudah mulai menyebar dan takutnya akan semakin parah" Jelas dokter itu lagi.
"Jika rahim Susan diangkat, itu arti nya Susan tidak akan bisa hamil lagi" Batin mama Susan.
"Dan itu arti nya juga Tian bisa saja mencari alasan untuk menikah lagi karena Susan tidak bisa memberikan Tian keturunan. Bahkan kecil kemungkinan Susan akan mendapatkan harta Tian" Tambah wanita paruh baya itu lagi berkata kepada dirinya sendiri.
"Aduh, bisa gagal aku menjadi orang kaya raya mendadak" Batin mama Susan lagi hanya memikirkan harta kekayaan dan tidak memikirkan anaknya yang sedang sakit saat ini.
"Ya sudah dok, lakukan saja yang terbaik untuk istri saya. Saya akan menuruti apa yang terbaik menurut dokter demi kesembuhan istri saya" Jelas Tian lagi kepada dokter yang berjenis kelamin laki-laki tadi.
"Baik lah jika begitu. karena kita harus melakukan operasi secepatnya untuk bu Susan, maka ada beberapa dokumen yang harus bapak tanda tangani. Mari pak ikut saya" Ajak dokter tadi. Tian pun mengikuti jejak langkah dokter yang menangani istrinya tadi.
"Dok, apa anak saya sudah bisa saya jenguk?"
"Oh silahkan buk"
"Ma, titip Susan ya, aku mau mengurus beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani" Ucap Tian meninggalkan mama mertua nya itu.
"Iya Tian" Jawab wanita paruh baya itu dan masuk ke ruangan putri nya yang sedang di tangani di dalam ruangan itu.
***
"Ma, apa yang terjadi sama aku ma?" Tanya Susan saat melihat mama nya berada di samping nya.
"Kamu yang sabar ya San. Bayi kamu tidak bisa di selamat kan lagi. Ternyata miom mu masih belum bersih, ada akar yang masih tersisa di sana. Hingga membuat rahim mu harus di angkat" Jelas mama Susan.
"Maksud mama, aku gak akan bisa hamil lagi?" Susan kaget mendengar kenyataan itu.
"Iya nak, begitu lah. Kamu yang sabar ya"
"Gak ma, aku gak mau. Aku gak mau rahim ku di angkat. Dan anak ku pasti masih hidup ini semua salah ma. Aku gak mau seperti ini" Ujar Susan histeris.
"Sabar sayang sabar" Mama Susan memeluk putri nya untuk menenangkan hati wanita itu.
"Susan" Tegur Tian saat diri nya masuk ke ruangan UGD tempat Susan di rawat setelah ia selesai mengurus beberapa dokumen yang harus di tanda tangani.
"Tian, tian semua ini bohong kan? Anak kita baik-baik saja kan Tian?" Tanya Susan kepada suami nya itu.
Tian terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari istri nya itu.. Laki-laki itu hanya menunduk sedih.
"Tian, jawab dong. Jangan diam aja. Aku gak mau rahim ku di angkat. Aku gak mau Tian. Itu arti nya aku tidak akan bisa hamil lagi. Aku gak bisa memberikan kamu keturunan" Ujar Susan memohon agar suaminya itu membatalkan operasi yang akan ia lakukan beberapa jam ke depan.
"Maaf kan aku Susan, aku melakukan semua ini hanya untuk menyelamatkan kamu. Rahimmu harus segera diangkat karena jika tidak pakar miom mu akan menyebar ke seluruh tubuh kamu. Hal itu membuat kamu lebih dalam bahaya"
"Tidak, Tian aku tidak mau. Aku harus mempertahan kan rahim ini" Ujar Susan masih dengan keras kepala nya. Wanita itu menangis histeris agar Tian bisa mengabulkan permintaannya.
"Susan, bagaimanapun keadaan kamu aku akan selalu bersama kamu dan aku janji aku tidak akan meninggalkan kamu" Janji Tian kepada istri nya itu.
"Kamu bohong, kamu pasti akan meninggalkan aku karena aku tidak bisa memberikan kamu keturunan lagi"
"Tidak San, aku janji dan aku bersumpah akan selalu bersama kamu dan setia bersama mu dalam keadaan apa pun meski kamu tidak bisa memberikan aku keturunan lagi" Ujar Susan tidak setuju bahwa rahimnya di angkat.
"Kamu gak boleh seperti ini Susan, ini semua demi kebaikan kamu juga. Pokok nya aku sebagai suami mu mau yang terbaik untuk mu. Kamu harus dengan apa yang aku katakan" Ujar Tian kepada istri nya itu.
"Tapi Tian"
"Gak ada tapi-tapi yang jelas aku melakukan ini semua untuk menyelamatkan mu" Potong Tian lagi dengan cepat dan langsung keluar dari ruangan Susan.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Susan pun setuju dengan keputusan nya Tian.
"Ma, aku gak mau melakukan hal itu ma. Aku gak mau rahim ku di angkat" Ujar Susan merengek kepada mama nya.
"Mama juga gak tahu harus berbuat apa San. Yang jelas saat ini kamu harus melakukan nya demi keselamatan kamu juga"
__ADS_1
"Tapi ma, aku tidak akan bisa memberikan Tian keturunan lagi. Pasti tidak ada alasan Tian untuk bertahan dengan ku. Secara alasan dia bertahan karena anak yang ada di dalam kandungan ku ini" Ucap Susan terus mengeluarkan air mata nya.
"Kamu yang sabar ya sayang. Doa kan saja semoga Tian tidak melakukan hal yang kamu pikirkan itu. Semoga Tian menepati setiap janji nya kepada kamu" Ujar mama Susan memeluk putri nya dengan penuh kasih sayang.