Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 114


__ADS_3

Aku dan juga Rendi memberi kabar bahagia ini kepada mama dan juga papaku. Jelas kedua orang tuaku merasa bahagia dengan berita kehamilanku ini. Rangkaian doa untuk si cabang bayi terus-menerus di lontarkan oleh papaku dan juga Rendi agar anak yang ada di dalam rahimku ini menjadi anak yang sholeh ataupun solehah.


"Pokok nya kamu harus menjaga kandungan kamu ini baik-baik. Dan semua kegiatan mu di kurangi. Termasuk kuliah, kamu tahu kan bahwa kamu pernah mengalami kandungan lemah saat mengandung Raffa. Mama gak mau hal itu terjadi lagi" Ujar mama ku kepada ku.


"Iya ma, dokter bilang kandungan ku baik-baik saja kok. Seperti nya waktu itu Raffa memang hanya ingin sebentar bersama ku ma. Perjanjian nya bersama sang pencipta hanya sebentar" Jelas ku lagi kepada mama ku.


"Ya meski bagaimana pun, tetap saja kamu harus berhati-hati. Mama gak mau apa yang terjadi saat kamu bersama Tian, akan terjadi juga kepada pernikahan kamu saat ini"


"Ya ampun mama, gak mungkin dong bang Rendi seperti itu. Lagian yang perempuan di rumah ini hanya aku, mama dan juga bik Surmi. Gak mungkin kan mama dan bik Surmi menggoda bang Rendi" Ujar ku sambil tersenyum geli mendengar ucapan mama ku barusan.


"Iya juga ya"


"Mama tenang saja ma, aku sudah melarang Fitri untuk tidak terlalu sibuk dengan kegiatan nya. Urusan cafe aku yang akan menghendel nya, kuliah nya juga begitu. Aku meminta nya untuk mengganti kuliah nya dengan kuliah online saja. Dan jika mengajar dia bisa bersama ku untuk pergi dan pulang nya. Aku juga bisa menjaga nya di sekolah ma" Ujar Rendi dengan mantap.


"Ya Allah bang, segitu nya sampai di kawal dua puluh empat jam"


"Ya harus dong. Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu dan juga anak kita" Ujar Rendi sambil mencolek hidung ku.


"Oh ya, kita harus memberi kabar bahagia ini kepada papa dan mama ku. Pasti mereka akan sangat senang karena mendapatkan cucu pertama dari anak semata wayang nya" Ujar Rendi penuh semangat.


"Sebentar ya sayang aku mau mengambil ponsel ku dulu" Rendi pun pergi kembali ke kamar ku untuk mengambil ponsel nya.


"Anak itu benar-benar sangat bahagia mendapat kan berita ini. Melihat kebahagiaan kamu dan Rendi sekarang mama merasa bersyukur kepada Allah karena kamu telah di pertemukan dengan jodoh yang baik untuk kamu nak" Ujar mama ku melihat Rendi yang semakin jauh dari pandangan kami.


"Iya, papa juga merasa senang kamu sekarang sudah bahagia dan tidak tertekan lagi"


"Ya ma, pa alhamdulillah semoga cinta bang Rendi kepada ku gak pernah pudar. Dan hanya aku satu-satu nya wanita di dalam hati nya"


"Aamiin" Jawab kedua pasangan suami istri itu.


***


"Assalamualaikum pa" Ujar Rendi saat panggilan nya di terhubung dengan orang tua nya.


"Waalaikumsalam, Iya ada apa Ren" Tanya laki-laki paruh baya itu yang berada di seberang.


"Pa, aku ada berita yang bahagia untuk kita"


"Berita bahagia? Apa itu Ren?"


"Sebentar lagi papa dan mama akan mendapatkan cucu" Ujar Rendi dengan raut wajah yang berseri-seri.


"Maksud kamu Fitri hamil?"


"Iya pa, alhamdulillah Allah telah mempercayai ku dan juga Fitri untuk menjadi orang tua pa"


"Alhamdulillah nak, papa sama mama turut bahagia mendengar berita ini" Ujar lelaki paruh baya itu.


"Iya ma, pa. Semoga anak ini akan membawa keberkahan untuk keluarga kita dan semakin membuat keluarga kita erat" Ujar Rendi.

__ADS_1


"Aamiin"


***


Seperti yang di katakan oleh Rendi aku tidak lagi mengontrol cafe. Tidak juga masuk kuliah seperti biasa nya. Kuliah ku online saja saat ini.


"Sayang, aku mau pulang dari cafe, kamu mau menitipkan makanan apa?" Tanya Rendi kepada ku.


"Seperti nya saat ini aku belum menginginkan apa-apa deh bang" Ujar ku.


"Beneran gak ada yang mau kamu makan saat ini?"


"Iya bang, saat ini aku belum menginginkan apa-apa"


"Ya sudah nanti jika kamu mau makan sesuatu kabari abang saja ya. Abang akan segera membeli nya dan berusaha mencari nya untuk kamu dan anak kita"


"Iya bang, makasih ya sayang sudah menjadi suami siaga untuk ku"


"Jangan bilang terima kasih sayang. Sudah sewajar nya aku seperti ini karena kamu adalah istri ku" Ujar Rendi kepada ku.


"Ya sudah kamu hati-hati di jalan ya sayang" Ujar ku kepada suami ku itu.


"Iya aku akan berhati-hati di jalan kok sayang. Doa kan aku ya semoga selamat sampai tujuan"


"Iya sayang. Doa ku kan selalu menyertai setiap langkah mu" Ujar ku mengakhiri percakapan kami di ponsel waktu itu.


***


"Seperti nya bang Rendi sangat lelah. Aduh tapi perut ku lapar banget. Pengen deh makan telor ceplok" Batin ku. Aku pun bangun dan pergi ke dapur untuk memasak telor ceplok ala kadar nya untuk menghilangkan rasa ngiler ku dan juga rasa lapar di perut ku malam ini.


Perlahan aku membuka pintu kamar agar Rendi tidak terjaga dari tidur nya.


"Mau kemana?" Tegur Rendi mengaget kan kan ku.


"Eh bang, maaf jika aku membuat mu terbangun" Ujar ku merasa tidak enak hati.


"Gak kok sayang. Emang nya kamu mau kemana sih? Kenapa gak membangunkan ku jika menginginkan sesuatu" Ujar Rendi dengan lemah lembut.


"Aku gak tega mau membangunkan mu bang. Secara kamu kelihatan lelah sekali"


"Gak apa-apa kok sayang, bagaimana pun aku harus menjadi suami yang siaga untuk mu. Emang nya kamu mau kemana?"


"Aku lapar bang. Aku mau pengen makan telor ceplok" Ujar ku kepada suami ku itu.


"Oh telor ceplok. Ya sudah aku buatin ya untuk kamu"


"Gak usah deh bang. Aku bisa kok buat sendiri. Kamu istirahat saja"


"Gak apa-apa kok sayang. Apa salah nya jika aku memanjakan istri ku saat keadaan nya seperti ini" Ujar Rendi beranjak dari tempat tidur nya. Dan langsung menuju dapur.

__ADS_1


Aku mengikuti jejak langkah suami ku itu dari belakang. Yah aku mengikuti nya menuju dapur untuk membuat ku makanan berupa telor ceplok.


***


"Kamu cukup duduk di sini saja ya. Biar aku yang membuat kan telor ceplok spesial untuk istri dan calon anak ku tercinta" Ujar nya mencolek hidung ku dan meminta ku duduk di meja makan. Sedang kan suami ku itu sibuk di dapur untuk membuatkan ku telor ceplok.


Aku tersenyum melihat lelaki itu sibuk memasak di dapur.


"Alhamdulillah ya Allah semoga saja rasa cinta bang Rendi ini tidak berubah terhadap ku. Aamiin" Batin ku lagi.


"Ini dia telor ceplok spesial untuk orang yang spesial" Ujar Tian kepada ku.


"Terima kasih ya sayang"


"Iya, sekarang silah kan kamu nikmati masakan dari suami mu tercinta ini" Ujar nya lagi menyajikan masakan yang di buat nya tadi.


Aku langsung menyantap makan tersebut. Entah mengapa aku yang tidak terlalu doyan dengan telor ceplok menjadi sangat doyan memakan nya. Aku sangat lahap memakan telor tersebut. Entah karena bawaan bayi yang ada di perut ku ini jadi nya aku sangat menyukai masakan dari suami ku itu. Yah mungkin anak ini tahu bahwa yang memasak makanan ini adalah ayah nya. Karena itu anak ini sangat doyan dengan masakan ayah nya itu.


"Pelan-pelan dong sayang makan nya. Nanti kamu keselek" Ujar Rendi kepada ku.


"Gak tahu kenapa rasa makan telor ceplok ini sangat sesuai dengan selera ku. Lain kali tolong di buatin lagi ya telor ceplok nya" Ujar ku kepada suami ku itu dengan tersenyum manis.


"Pasti dong sayang, aku pasti akan membuat kan nya lagi untuk mu. Apa sih yang gak buat istri tercinta ku ini" Aku tersenyum mendengar ucapan dari suami ku itu. Yah suami ku itu memang paling bisa membuat hati ku senang.


"Mau lagi?" Tanya Rendi.


"Gak, sudah kenyang juga. Sudah tiga kali aku menambah nasi nya" Ujar ku lagi.


Aku pun menguap kini rasa ngantuk mulai menghantui ku.


"Ngantuk?" Tanya Rendi melihat ku menguap. Aku menjawab nya dengan mengangguk.


"Ya sudah jika begitu, ayo kita kembali ke kamar" Ajak Rendi kepada ku.


***


"Rendi, Fitri di mana? Biasanya dia selalu ada si cafe ini" Tanya Susan saat melihat Rendi yang ada di cafe tersebut.


"Oh Fitri sedang di rumah, dia saat ini harus banyak-banyak beristirahat" Jelas Rendi.


"Emang dia sakit?"


"Gak, hanya saja dia sedang hamil muda. Jadi nya tidak bisa terlalu banyak beraktifitas" Ujar Rendi kepada Susan.


"Oh gitu ya, selamat ya atas kehamilan Fitri. Semoga anak dan ibu nya selalu sehat" Ucap Susan kepada Rendi meski bisa di lihat raut kesedihan di wajah nya karena dia tidak bisa hamil lagi.


"Oh ya mau pesan apa?" Tanya Rendi kepada Susan.


"Oh gak apa-apa aku pesan sendiri aja di saja" Ujar Susan menunjuk ke arah kasir tempat pemesanan makanan.

__ADS_1


"Ya sudah jika begitu aku pergi ke ruangan ku dulu ya" Ujar Rendi berlalu dari hadapan Susan.


__ADS_2