Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 9


__ADS_3

Aku pun memutuskan untuk bersama Tian dan Sofi untuk pergi ke taman bermain. Tak lupa aku mengabari kepada orang tua ku bahwa hari ini aku akan pulang telat. Yah jika aku tidak mengabari mereka, pasti mereka akan khawatir kepada ku.


***


Sofi tampak sangat menikmati permainan demi permainan yang ada di taman bermain itu. Gadis kecil itu tampak bahagia sekali. Gadis cilik itu menjelajahi satu persatu permainan yang ada di sana. Di mulai dari ayunan, perosotan, dan lain-lain sebagainya. Sedangkan kami hanya duduk di bangku pinggir taman sambil mengawasi Sofi dari jauh.


"Tampak nya dia begitu bahagia bermain di sini" Ujar ku tersenyum menatap gadis kecil itu.


"Iya, dia sangat suka di sini. Dulu sih yang sering membawa nya papa ku. Semenjak papa pindah ke luar kota untuk mengurusi bisnis baru nya, jadi nya gak ada deh yang mau membawa nya ke tempat ini. Aku juga sering sibuk dengan urusan ku di kantor" Ujar nya.


Aku mengangguk mengerti.


"Oh ya Fit. Apa kamu sudah memikirkan apa yang aku tanyakan kemarin kepada mu?" Tanya nya pada ku.


Mendengar pertanyaan itu aku langsung terdiam dan berpikir. Aku bingung harus menjawab apa. Secara, kami sekeluarga baru akan mengadakan rapat keluarga malam ini. Dan dia sudah bertanya pula.


"Hmm.... Gimana ya?" Aku berpikir.


Tian tersenyum melihat ku kebingungan seperti itu.


"Ya sudah jika kamu belum mendapatkan jawaban nya tidak apa-apa. Aku akan menunggu jawaban dari mu dengan setia" Ujar nya dengan lembut.


"Terima kasih karena kamu mengerti" Ujar ku berusaha tersenyum.


Tian membalas senyuman ku.


"Oh ya, setelah ini kita pergi makan siang sama-sama ya" Ajak nya lagi.


"Tapi.... "


"Sudah jangan mencoba memberikan alasan. Ikut saja bersama kami. Lagian anggap saja kita melakukan pendekatan. Pendekatan kepada ku dan Sofi" Ujar nya kembali tersenyum.


Kembali aku hanya bisa tersenyum membalas apa yang di katakan oleh Tian.


Entah lah aku masih ragu terhadap laki-laki itu. Mungkin jika kalian pikir aku plin plan, memang benar aku memang seperti itu. Sekarang hati ini terbagi menjadi dua. Di satu sisi tentu saja aku masih mengharapkan cinta pertama ku itu. Tapi di sisi lain yah kalian tahu sendiri kenapa keraguan itu muncul di hati ini bukan?

__ADS_1


"Papa... " Teriak bocah itu dari jauh sambil melambaikan tangan nya.


Tian pun membalas lambaian tangan putri kecil nya itu.


Gadis kecil itu pun berlari ke arah kami.


"Papa, aku bahagia sekali hari ini. Kita seperti keluarga lengkap ya. Ada mama dan buk Fitri sebagai mama ku" Ujar nya dengan wajah polos nya.


Deg...


Aku merasa tersentak dengan apa yang di katakan oleh gadis kecil itu. Di mana dia pasti sangat merindui sesosok mama nya yang belum pernah ia temui. Yah, sejak lahir dia sudah kehilangan mama nya. Tentu saja dia sangat merindukan mama nya yang belum pernah merasakan kasih sayang dari mama nya.


Aku tersenyum memandang gadis kecil nan polos itu dengan tatapan sedih. Tidak terbayang jika aku berada di posisi nya saat ini. Pasti dia sangat kesepian. Papa nya sibuk kerja, di rumah dia hanya di temani sama pembantu nya. Yah sungguh sedih nasib gadis kecil ini.


"Buk Fitri, ibu sering-sering ya pergi-pergi bersama kami seperti ini. Sofi senang deh kita seperti ini. Jadi nya Sofi seperti punya mama deh" Ujar nya polos.


Kembali aku hanya bisa tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh Sofi.


***


"Inshaallah yakin bang. Lagian dia sudah berubah juga kan?" Ujar ku mantap.


"Yakin kamu dia sudah berubah?" Abang ke empat ku menyempeli.


Aku tertunduk dan mengangguk pelan.


Untuk sesaat kami hanya terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Kami larut dalam pikiran masing-masing.


"Dek, coba deh kamu pikir baik-baik. Abang tahu dia cinta pertama mu dan hingga saat ini kamu masih mencintai nya. Tapi orang seperti apa yang kamu cintai itu? Bagaimana nasib mu sama dengan istri nya nanti" Ujar abang ke tiga ku.


Kembali aku tertunduk lesu.


"Iya, kami sebagai keluarga mu tentu tidak mau hal-hal yang buruk terjadi kepada mu. Kami hanya ingin yang terbaik untuk mu" Ujar abang ke lima ku.


"Nah, itu lah ibu katakan kepada nya kemaren. Tapi ayah kalian itu setuju juga dengan keputusan dari adek kalian ini" Ibu ku pun ikut bersuara.

__ADS_1


"Harus bagaimana lagi, abang bilang seperti itu karena memang Fitri lah yang menjalani kehidupan nya kelak. Dia yang tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk nya. Dan jika pilihan nya salah, dia tidak bisa menuntut kita kelak" Jelas ayah ku.


"Ya sudah terserah saja. Jika itu keputusan ayah kami sebagai anak-anak ayah ikut-ikut saja. Semoga saja pilihan kamu benar dek" Ujar abang ke dua ku.


***


"Selamat pagi buk Fitri" Ujar Tian yang tiba-tiba hadir di depan pintu kelas ku membawa buket bunga berwarna merah untuk ku. Jelas saja aku kaget melihat laki-laki itu yang muncul secara tiba-tiba.


Lagian aku juga merasa tidak enak kepada guru-guru di sana karena kehadiran Tian. Secara ini kan sekolah, bukan tempat umum melihat Tian yang bertingkah seperti anak ABG itu.


Hari ini bukan hari piket ku. Jadi aku tidak menunggu kedatangan anak-anak di gerbang sekolah seperti kemaren. Jadi aku hanya duduk di kelas saja menunggu waktu masuk untuk belajar.


"Pagi" Jawab ku tersenyum kecut.


"Di cariin di gerbang sekolah, ternyata kamu di sini" Ujar nya masuk ke dalam kelas ku.


"Iya hari ini bukan jadwal piket ku" Jelas ku.


"Boleh aku masuk?"


Aku hanya mengangguk memboleh kan dia masuk.


Tian masuk dan memberikan buket bunga itu kepada ku.


"Terima kasih" Ujar ku senang.


"Fitri, bagaimana? Apa sudah mendapatkan jawaban nya?"


"Aduh ternyata Tian memang gak sabaran sekali mendengar jawaban dari ku" Batin ku.


"Sebenar nya aku sudah membahas masalah ini kepada keluarga ku dan meminta pendapat mereka. Dan mereka pun setuju dengan niat baik mu. Mereka meminta kamu untuk melamar ku jika kamu serius dengan ku" Jelas ku.


"Benar kah itu" Ujar nya penuh dengan semangat.


Aku hanya mengangguk membenarkan apa yang aku katakan tadi.

__ADS_1


__ADS_2