Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 31


__ADS_3

Tian sangat senang mendengar kehamilan ku. Dia sangat bersyukur kepada Allah telah memberikan kepercayaan kepada kami. Yah jelas saja dia merasa khawatir apakah dia masih di bisa memberikan keturunan atau tidak nya.


Karena dia pecandu yang sudah menggunakan bertahun-tahun barang haram itu. Jelas saja dia takut mempengaruhi kesuburan ****** nya. Namun, beberapa para ahli mengatakan bahwa kesuburan ****** akan kembali normal saat sang pencandu sudah berhenti mengonsumsi obat terlarang itu.


Dan begitu lah yang di lakukan oleh Tian. Sehingga yah cepat membuahi ku dalam waktu sebulan saja.


***


Susan dan Sofi sibuk bermain di ruang tamu. Dan mereka menghentikan kegiatan mereka saat melihat aku dan Tian turun dari tangga. Terlebih Tian yang terus menggandeng ku. Maklum saja lah mak, nama nya juga aku hamil jelas dia sangat sensitif takut terjadi hal yang buruk kepada ku.


Ibarat kata pepatah malang tidak berbau rejeki tidak berpintu.


"Apaan sih mereka. Sok mesra banget. Apa mereka gak malu berprilaku mesra seperti itu di depan ku dan Sofi?" Batin Susan menatap sinis ke arah kami.


"Tian, Tian ngapain kamu seperti ini? Apa kamu gak ngerti dengan perasaan ku? Aku sakit melihat kamu seperti ini dengan wanita lain. Sungguh tega kamu Tian kepada ku" Batin nya lagi.


Kami sama sekali tidak terlalu memperhatikan tatapan Susan yang tidak suka terhadap kami. Yah kami hanya sibuk dengan diri kami sendiri karena rasa bahagia di hati kami saat ini.


"Mama, papa bahagia kelihatan nya bahagia sekali. Ada apa ma, pa?" Tanya Sofi.


"Papa sama mama ada kabar bahagia untuk kamu" Ujar Tian.


"Kabar bahagia? Apa?"


"Kamu akan mempunyai adik. Saat ini ada adik kamu dalam perut mama" Jelas Tian tersenyum lebar memberi kabar bahagia itu kepada putri sulung nya.


Deg..


Terasa petir menyambar di tengah terik matahari. Begitu lah yang di rasakan Susan. Sungguh dia tidak menyangka bahwa aku akan hamil saat ini. Terlebih dia belum menjalankan aksi wanita cantik nya untuk merayu Tian.


"Sialan. Kenapa dia hamil sih, jika begini, Tian pasti akan semakin lengket kepada nya. Wah aku gak bisa tinggal diam. Aku harus mengatur rencana, tapi apa?" Batin Susan lagi berpikir keras untuk menyusun rencana licik nya.


"Ha? Beneran ma?" Tanya Sofi meminta kepastian kepada ku.


Aku mengangguk membenarkan sambil tersenyum lepas.


"Asyik.... Sofi akan punya adik. Sofi senang banget akhir nya Sofi akan mendapatkan teman di rumah" Ujar Sofi memeluk ku dengan erat.


Aku membalas pelukan putri ku itu dengan penuh kehangatan.


"Tante, Sofi akan punya adik" Ujar gadis kecil itu dengan sangat bahagia.


"Iya sayang, selamat ya" Jawab Susan tampak senyuman yang di paksa kan.


"Selamat ya Tian. Selamat ya Fit. Jaga kandungan kamu baik-baik" Ujar nya dengan suara datar nya karena tidak suka mendengar berita bahagia ini. Bagi nya ini adalah berita yang sangat buruk.


Tian merangkul ku dan mengecup puncak kepala ku dengan sangat hangat nya. Aku tersenyum senang mendapati bahwa suami ku bersikap seperti itu.


"Oh ya sayang, ini rujak untuk mu. Kata nya kamu mau rujak tadi" Ujar Tian memberikan sebungkus rujak yang ada di atas meja ruang tamu rumah ku itu yang sedari tadi memang di bawa nya.


"Wah, terima kasih ya sayang" Ujar ku.


"Iya sama-sama. Pokok nya apa pun yang kamu ingin kan, akan aku penuhi. Kamu bilang aja ya mau apa" Jelas Tian lagi.


"Iya sayang"


"Ya sudah, aku mau berangkat ke kantor dulu ya. Sudah lewat waktu makan siang ini"


Aku mengangguk.


"Sofi, putri kesayangan papa. Jaga mama baik-baik di rumah ya. Jangan membiarkan mama bekerja terlalu capek. Oke sayang" Ujar Tian lagi kepada putri nya.


"Oke pa, papa tenang saja Sofi pasti akan menjaga mama dengan baik" Ujar nya lagi.


"Pinter, papa berangkat dulu ya" Ujar Tian lagi kembali mengecup kening ku dan Sofi.


Semakin membakar lah api cemburu di hati Susan melihat adegan itu. Gadis itu memutar bola mata nya. Merasa benar-benar muak dengan adegan yang ada di hadapan nya itu.


"Oke, tidak masalah. Saat ini memang kamu yang menang Fit. Kamu yang mendapatkan perhatian nya Tian. Namun, suatu saat nanti, aku pasti akan merebut semua yang seharus nya menjadi milik ku ini. Ingat roda kehidupan akan berputar. Jadi kamu jangan merasa senang dulu" Batin Susan menatap sinis kearah ku.

__ADS_1


Tanpa sengaja aku melihat tatapan sinis Susan kepada ku. Sontak raut senyuman yang ada di bibir ku tadi menjadi hilang seketika. Aku merasa aneh dengan tatapan Susan itu. Feeling ku mengatakan Susan tidak suka kepada ku. Terbukti dia menatap ku dengan penuh kebencian seperti itu.


"Da sayang" Ujar Tian masuk ke dalam mobil nya begitu pun dengan Susan ikut masuk ke dalam mobil nya.


Aku melambai tangan ku dan berusaha tersenyum mengantar kepergian suami ku itu ke kantor nya.


"Kenapa Susan seperti itu ya menatap ku? Apa aku ada salah kepada nya? Apa dia tidak suka kepada ku?" Batin ku mulai bertanya.


"Mama" Tegur Sofi membuat lamunan ku terhenti.


"Iya sayang" Jawab ku.


"Ayo kita masuk ma. Mama harus banyak istirahat ya" Ajak nya lagi.


"Iya sayang" Aku pun mengikuti langkah kaki gadis kecil itu.


Sungguh hati ini merasa tidak enak jika Susan menatap ku seperti tadi. Kalian pasti merasa tidak enak juga kan apa bila ada orang menatap kita dengan sinis seperti itu. Pasti kalian bertanya-tanya kenapa orang itu seperti itu kepada kita. Apa kita ada salah atau bagaimana?


"Ha sudah lah jangan terlalu aku pikirkan. Mungkin itu hanya perasaan ku saja. Tidak baik berprasangka buruk kepada orang. Terlebih aku sedang hamil muda, jangan terlalu memikirkan hal yang bukan-bukan" Batin ku membuang jauh-jauh pikiran yang merusak hati ku itu.


***


"Tian, nanti sepulang kerja kamu jadi kan mengantar kan aku pulang?" Tanya Susan meminta kepastian.


"Jadi dong bukan kah aku sudah bilang untuk mengantar mu pulang tadi" Ujar Tian masih fokus mengemudi mobil nya.


"Emang nya kenapa?"


"Ya bukan apa-apa sih, siapa tahu kamu mau pulang cepat karena mendengar istri mu hamil itu. Yah mau lengket terus begitu menjadi suami yang siaga" Ujar nya lagi. Susan bermaksud untuk menyindir Tian yang sok romantis itu kepada ku. Namun Tian tidak merasa bahwa kata-kata itu adalah sindiran.


Susan mengambil lipstik nya di dalam tas selempang nya. Bermaksud ingin mengoles lipstik yang berwarna nude itu ke bibir nya yang seksi.


Secara langsung timbul niat di hati rencana licik nya saat itu. Dengan sengaja ia menjatuhkan lipstik itu di bawah mobil tepat nya di kaki Tian.


"Ops... Yah jatuh deh" Ujar nya lagi.


"Oh sebentar" Ujar Tian meminggirkan mobil nya dan berhenti.


Susan pun meraih lipstik yang jatuh di kaki Tian. Ia sengaja mengambil lipstik itu dengan posisi yang sangat dekat untuk menggoda Tian.


"Ini dia" Ujar Susan saat sudah mendapatkan lipstik nya. Namun saat ini posisi mereka sangat sekat hingga berjarak beberapa senti saja.


Tampa di sadari tatapan mata kedua nya bersatu. Perasaan deg degan dan debaran di hati muncul di kedua nya. Yah Susan memang sengaja untuk merayu Tian agar jatuh ke dalam perangkap nya.


Lama mereka saling menatap satu sama lain. Belahan dada yang terekspos dengan sempurna berada sangat dekat dengan Tian. Tentu saja laki-laki itu sedikit tergoda. Yah secara Tian juga laki-laki yang normal. Kucing mana yang tidak tergoda meski hanya di tawari ikan asin. Begitu lah kira-kira.


Hati Susan tersenyum puas mendapati Tian menatap nya lekat demi kian. Arti nya rencana nya kini mulai berjalan sempurna.


Hingga gadis itu mulai mendekati wajah Tian. Semakin dekat, dan semakin dekat. Tian hanya terdiam memaku. Sesaat ia terpesona dengan pesona indah yang ada di depan nya.


Siapa yang tidak tertarik kepada wanita cantik ini. Secara paras nya yang cantik dengan bentuk lekukan tubuh seksi sempurna membuat laki-laki mana pun pasti akan terpesona.


Susan semakin mendekat kan wajah nya kepada Tian.


"Wah, ternyata Tian sama sekali tidak memberikan penolakan" Batin nya tersenyum puas mendapati Tian bersikap seperti itu.


Semakin dekat, semakin dekat hingga deru napas kedua nya kini mulai terasa di pipi nya masing-masing. Hanya berjarak tiga senti lagi bibir kedua nya menyatu, Tian langsung sadar dan memalingkan wajah nya.


"Susan, jangan seperti ini" Ujar Tian membuat rencana gadis itu kembali sadar.


Susan kembali duduk di posisi semula nya. Hati nya sangat kesal karena untuk yang kesekian kali nya rencana nya kembali gagal.


"Maaf Tian, aku tidak bisa mengendalikan diri ku. Sungguh aku sangat merindukan kehangatan seorang laki-laki. Bersama mu aku merasa nyaman dan merasa terlindungi. Yah mungkin karena kamu sudah ku anggap seperti abang ku sendiri" Jelas Susan dengan alasan yang tidak masuk akal itu. Yah jika dia menganggap Tian sebagai abang nya, ngapain juga dia ingin menggoda Tian agar melakukan ciuman hangat itu.


Jika menganggap sebagai abang jelas bertindak seperti abang dan adik seperti manja-manja gitu. Bukan melakukan hal yang tidak pantas seperti itu bukan.


Tian hanya tersenyum mendengar apa yang di katakan Susan. Memang laki-laki itu tidak berpikir bahwa gadis itu sengaja untuk menggoda nya. Ia malah percaya bahwa gadis itu memang menganggap nya sebagai abang. Hal itu di sebab kan rasa bersalah nya kepada Santi.


"Tian, jika kamu mau kan menjadi abang ku? Jika aku dalam kesusahan atau sedang butuh teman untuk curhat, kamu bisa kan menjadi teman curhat ku selayak nya seorang abang? Jujur saja semenjak kepergian kak Santi, aku merasa kesepian. Rasa nya tidak ada yang peduli dan sayang kepada ku di dunia ini" Ujar Susan lagi meneteskan air mata buaya nya.

__ADS_1


Dengan polos dan bodoh nya Tian percaya dengan ucapan dan air mata buaya gadis itu. Dia menarik kepala Susan ke dalam dada bidang nya.


"Maaf kan aku ya Susan. Karena ku, Santi pergi. Dan aku akan menjaga mu selayak nya seorang adik" Ujar Tian mencoba menenangkan perasaan gadis itu.


Susan tersenyum puas mendapati Tian jatuh ke dalam perangkap nya.


Ternyata air mata buaya yang di keluarkan nya sangat ampuh membuat Tian terjebak tampa menaruh curiga kepadanya.


"Satu perangkap untuk Tian telah berhasil aku laksanakan. Tian telah berhasil masuk ke dalam perangkap ku ini. Sekarang aku tinggal melancarkan rencana-rencana ku yang lain" Batin nya tersenyum puas.


Tian menyalakan mobil nya dan melaju membelah jalan raya menuju kantor nya.


***


"Terima kasih ya Tian kamu sudah mengantar ku pulang. Ayo mampir dulu" Tawar Susan mengajak Tian singgah ke rumah nya.


"Maaf San, aku harus pulang. Kasihan anak dan istri ku menunggu di rumah" Tolak Tian.


"Eh, ada nak Tian" Wanita paruh baya berupa mama nya Susan dan Santi keluar dari dalam rumah.


"Ayo nak masuk dulu" Ajak nya kepada Tian.


"Maaf buk lain kali saja. Aku harus pulang" Ujar Tian mencoba menolak.


"Lo, kok gitu sih. Kamu sudah tiba lo di rumah kami. Masa iya sih gak mau mampir ke rumah kami. Apa kamu gak menganggap kami ini sebagai keluarga mu lagi? Mentang mentang Santi sudah tidak ada di dunia ini"


Tian menghela napas berat nya. Ia merasa tidak enak hati saat wanita paruh baya itu berkata seperti itu.


"Ya sudah ma, aku mampir tapi aku gak bisa lama-lama" Ujar Tian mengalah. Yah meski hati nya berat untuk mampir, namun ia mengalah juga karena perkataan yang keluar dari mulut mertua nya tepat nya mantan mertua.


"Silahkan masuk" Ujar wanita paruh baya itu tersenyum puas penuh dengan kemenangan karena berhasil telah membuat Tian mampir ke rumah nya.


Susan mengajukan jempol kepada mama nya.


"Mantap" Ujar nya pelan.


Wanita paruh baya itu tersenyum membalas apa yang di katakan putri nya itu.


"Silahkan duduk" Tawar Susan.


"Ya sudah mama buatkan minuman sebentar ya"


"Gak usah ma, aku hanya sebentar kok. Gak perlu di buatkan minuman" Tolak Tian lagi.


"Lo kenapa? Tamu itu memang seharus nya di sugukan minuman. Gak mungkin kan tidak di sugukan minuman?" Ujar wanita paruh baya itu lagi.


"Tapi ma.... "


"Kenapa? Gak sudi kamu meminum minuman dari kami? Atau bagaimana?" Potong mama Susan.


"Bukan begitu ma, hanya saja aku buru-buru dan harus pulang. Kasihan anak dan istri ku sudah menunggu di rumah"


"Aduh Tian, kamu kan sekali-sekali datang ke rumah ini. Sudah lama juga kan kamu gak mampir di rumah kami. Lagian kami masih keluarga mu. Pasti istri mu akan mengerti dengan hal itu. Dia tidak akan marah kok sama kamu" Jelas mama Susan lagi.


"Sebentar nya mama buatin minuman dulu" Wanita paruh baya itu pun berlalu ke dapur untuk membuatkan minuman.


Tian tampak gelisah, sejujurnya ia merasa tidak nyaman berada di rumah itu. Meski tubuh nya berada di rumah itu, namun pikiran nya telah pulang ke rumah bersama anak dan istri nya.


"Ini nak Tian minuman nya, silahkan di minum" Ujar mantan mama mertua Tian itu menyajikan secangkir minuman di meja.


"Terima kasih"


"Oh ya Tian, bagaimana kabar Sofi. Sudah lama mama tidak bertemu dengan cucu semata wayang mama itu Susan bilang kamu mengizinkan Sofi untuk bersama kami minggu besok"


"Alhamdulillah Sofi sehat kok ma. Sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang pintar. Semua itu karena Fitri yang telah sabar mendidik nya" Ucap Tian apa ada nya.


"Hmm... Lagi-lagi Fitri, lagi-lagi Fitri. Apaan sih Tian. Jika aku yang mendidik Sofi juga dia pasti akan menjadi anak yang pintar. Terlalu membanggakan istri nya begitu membuat aku ingin muntah" Batin Susan kesal.


"Dan aku memang mengizinkan Sofi untuk bersama kalian. Walau bagaimana pun kalian masih keluarga nya Sofi dan mempunyai ikatan darah dengan Sofi gak mungkin aku melarang nya untuk berkumpul bersama nenek dan tante nya" Jelas Tian lagi.

__ADS_1


__ADS_2