
Tian berbohong kepada Susan untuk pergi ke rumahku memastikan bahwa acara lamaran tersebut berjalan dengan lancar atau tidaknya.
Ia bilang kepada Susan bawa ada proyek yang harus ditanganinya malam ini juga. Jika tidak maka masa depan perusahaannya dipertaruhkan. Tentu saja susah takut jika mendengar masa depan perusahaan itu dipertaruhkan. Secara jika hal itu terjadi maka bisa-bisa perusahaan Tian menjadi bangkrut dan tentu saja dia menjadi miskin nantinya. Hal itu sangat ditakuti oleh Susan karena dia saat ini sudah menikmati kekayaan dan dia tidak mau hidup sederhana di mana dulunya hidup nya berpapasan.
Susan pun mengizinkan Tian untuk pergi ke kantor untuk menangani beberapa masalah proyek tersebut.
***
Tian memperlambat Mobilnya Jalan depan rumahku. Di mana ia melihat bahwa rumahku sudah sepi seperti tidak terjadi acara apapun.
Mantan suamiku itu melirik jam yang ada di tangannya.
"Sudah pukul sepuluh malam, apa acaranya sudah selesai ya? Masa iya sih acaranya secepat itu selesainya?" Batin Tian bertanya-tanya.
Tian keluar dari mobilnya dan menatap rumahku yang sudah sepi itu.
"Maaf pak, mau tanya, apa bapak tahu bahwa di rumah ini ada acara lamaran? Apa acara tersebut sudah selesai pak?" Tanya Tian pada salah satu tetanggaku yang lewat.
"Iya pak, memang tadi ada acara lamaran di rumah ini dan acaranya sudah selesai" Jelas orang tadi.
"Emangnya ada apa pak? Apa bapak terlambat untuk hadir di acara tersebut?" Tanya orang tadi kepada Tian.
"Iya saya memang di undang untuk acara tersebut. Karena ada urusan penting yang harus saya tangani, sehingga membuat saya terlambat untuk hadir di acara ini" Bohong Tian.
"Oh begitu, sayang sekali pak acaranya telah selesai"
"Baik lah terima kasih atas informasinya"
"Sama-sama pak, jika begitu saya permisi dulu" Ujar orang tadi langsung pergi meninggalkan Tian yang menjawab ucapan orang tadi dengan anggukan.
Beberapa kali Tian menghela nafas beratnya. Laki-laki itu tampak berputus asa mendengar penjelasan dari salah satu tetanggaku yang lewat tadi.
Tian kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Ternyata semuanya sudah berakhir, sudah memang tidak ada harapannya lagi untuk apa kembali bersama Fitri" Ujar Tian mengosok-ngosok wajahnya menyesali semua yang telah terjadi.
Laki-laki itu tampak berputus asa dengan semua yang terjadi saat ini kepadanya. Dengan perasaan yang kecewa laki-laki itu menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan rumahku.
***
"Sayang, kamu sudah kembali?" Sambut Susan saat melihat suaminya kembali ke rumah sakit tempatnya dirawat.
Dengan langkah yang lemah Tian menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Apa kamu tidak berhasil menemukan orang yang bertanggung jawab atas kesalahan di kantor itu?" Tanya Susan penasaran.
"Aku sudah menemukannya. Hanya saja aku tidak habis pikir. Kenapa dia begitu saya suka melakukan ini kepadaku" Ujar Tian.
"Maksud kamu apa? Emangnya siapa yang melakukan hal itu kepada kamu?" Tanya Susan lagi.
"Sudah lah San, jangan di bahas masalah itu sekarang. Aku lelah dan ingin beristirahat sekarang. Besok saja ya kita bahas masalah ini" Ujar Tian langsung memejamkan mata nya.
Melihat sikap suami nya itu, Susan hanya bisa terdiam dan tidak bertanya masalah itu lebih lanjut. Takut nanti dia malah marah kepadanya karena suasana hatinya saat ini sedang tidak baik.
"Aduh, sebenar nya ada apa sih sama Tian. Kenapa dari tadi dia bersikap aneh seperti ini? Apa jangan-jangan ada sangkut paut nya dengan acara lamaran Fitri?" Tebak Susan.
"Ah sudah lah, lebih baik aku istirahat saja. Yang penting aku tidak perlu khawatir lagi jika Fitri akan menggoda Tian kembali. (arena sebentar lagi dia akan menikah dengan pak Rendi" Ujar Susan berbaring di tempat tidur nya.
***
"Sayang, ayo bangun sudah pukul berapa ini? Nanti kamu malah telat pergi ke kantornya" Ujar Susan membangunkan Tian yang masih terlelap di sofa tempatnya tidur.
Namun, Tian belum juga bangun dari tidurnya. Wanita hamil itu pun mendekati suaminya itu dan mencoba menggoyang-goyangkan dengan suaminya untuk membangunkannya.
"Sayang, ayo bangun katanya kamu harus pergi ke kantor pagi-pagi sekali karena mengurus proyek mu yang bermasalah itu" Ucap nya lagi dengan pelan.
Tian bangun dari perubahannya dan menggosok-gosok matanya yang masih terasa berat. Yah laki-laki itu tampak tidak bisa tidur dengan tenang tadi malam karena memikirkan aku yang akan menikah dengan laki-laki lain.
"Lo, Tian balum berangkat kamu ke kantor? Sudah pukul berapa ini?" Ujar mama Susan masuk ke ruangan itu karena ini adalah gilirannya untuk menjaga Susan hingga Tian pulang dari kantornya nanti.
"Belum ma, tadi malam aku tidak bisa tidur dengan tenang jadinya ya seperti inilah kesiangan" Ujar Susan lagi.
"Ya sudah aku mau pulang dulu untuk bersih-bersih dan berangkat ke kantor" Ujar Tian lagi langsung keluar dari ruangan tempat rawat inap istrinya itu.
__ADS_1
Melihat perubahan sikap Tian yang tidak seperti biasanya membuat wanita paruh baya itu pun heran.
"San, Ada apa dengan suamimu. Kenapa dia sepertinya berbeda ya hari ini?" Tanya mama Susan kepada putri nya.
"Ya ma, dari kemarin sore dia memang sudah seperti itu"
"Kenapa? Apa kalian bertengkar?"
"Gak kok ma, Tian lagi banyak pikiran aja"
"Apa ada masalah di kantor nya?"
"Iya ma, Tian bilang memang ada sedikit masalah di kantornya mengenai proyek yang ia tangani saat ini"
"Lo, kok bisa?"
"Ya aku juga nggak ngerti sih ma yang jelas kata Tian barang yang datang di proyek tersebut tidak sesuai dengan barang yang dipesan dari awal. harganya jauh berbeda dari pesanan Tian. Tapi di laporan tersebut dibuat sesuai dengan harga yang sama dengan yang dipesan oleh Tian artinya ada karyawannya korupsi dengan proyek tersebut"
"Terus?"
"Karena itu ma Tian jadi pusing memikirkan masalah ini. Dia takut nantinya para klien tidak percaya lagi untuk bekerja sama dengannya. Ya jika itu terjadi otomatis dong perusahaan Tian akan terancam. Nah kalau sudah terancam seperti itu artinya Tian akan jatuh miskin. Aku nggak mau mau hidup serba pas-pasan lagi. Dan jika memang proyek ini gagal otomatis dia tidak akan bisa menikahi ku secara resmi. Dan selamanya aku akan menjadi istri sirinya Tian aku nggak mau hal ini terus terjadi sama aku" Jelas Susan panjang lebar.
"Terus, bagaimana dong? Apa pelakunya sudah ketemu?"
"Tadi malam sih Tian sudah pergi ke kantor untuk mencari data-data siapa saja karyawan yang terlibat dalam proyek ini. Dan Tian juga sudah memanggil semua karyawan-karyawan tersebut sehingga katanya sih sudah ketemu siapa dalang di balik semua ini"
"Syukurlah jika begitu. Mama jadi senang mendengar nya. Itu berarti semua masalah proyek Tian telah teratasi. Dan yang tidak jadi bangkrut. Mama juga tidak mau ya seperti dulu lagi yang harus bekerja membanting tulang untuk mencukupi kehidupan mama. Sekarang mama sudah hidup enak setiap bulannya Tian sudah memberikan mama jatah bulanan. Sehingga mama tidak perlu capek-capek lagi berjualan kue seperti dulu"
"Iya ma, aku juga gak mau kerja seperti dulu lagi karena sekarang aku sudah terbiasa hidup enak menjadi nyonya Tian" Ujar Susan lagi.
"Oh ya ma, mama tahu ternyata tadi malam itu ada acara lamaran di rumah Fitri"
"Acara lamaran? Emang nya Fitri mau menikah lagi?"
"Iya ma, dan mama tahu siapa laki-laki nya?"
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya karena dia memang tidak tahu siapa calon suamiku.
"Apa? Pak Rendi?" Tanya wanita paruh baya itu kaget mendengar kenyataan yang ada.
"Jadi selama ini apa yang kita pikirkan itu benar bahwa pak Rendi dan Fitri itu memiliki hubungan?"
"Yah biarin aja lah ma, justru aku senang pada akhirnya Fitri akan menikah dengan laki-laki lain. Itu artinya dia tidak akan bisa mengganggu Tian lagi. Yah namanya juga janda ma, jelas dong kangen dibelai sama laki-laki" Ujar Susan seenak nya.
"Lagian mama heran deh sama pak Rendi. Apa sih yang dilihat dari Fitri itu? Seorang wanita janda seperti itu di minati. Seperti tidak ada wanita lain saja di dunia ini" Ujar mama Susan.
"Ya aku juga gak tahu ma"
"Apa dia gak takut nanti Fitri juga memoroti harta nya. Secara Tian sudah di poroti kemaren"
"Ma, jangan ngomong seperti itu"
"Emang nya kenapa?"
"Mama tahu, ternyata Fitri itu anak orang kaya. Rumah nya itu tidak kalah besar nya dengan rumah Tian" Ucap Susan.
"Ha serius kamu?"
"Iya ma, waktu itu aku ke rumah nya bersama Tian untuk menjemput Sofi. Aku pikir ia orang yang hidup sederhana seperti kita. Tapi ternyata ya anaknya orang kaya" Ujar Susan.
Yah mereka memang tidak pernah tahu asal usul ku. Jadi mereka selama ini seenak nya menilai ku. Terlebih ketika Tian memberikan harta gono gini kepada ku. Jelas hal itu semakin membuat mereka yakin bahwa aku ini hanya memoroti harta Tian saja.
"Wah, ternyata selama ini kita salah menilai Fitri" Ujar mama Susan.
"Selamat pagi ibu. Mari kita periksa keadaannya dulu ya" Ujar dokter yang menangani Susan masuk ke ruangan itu untuk memeriksa perkembangan kesehatan Susan dan juga janin yang ada di dalam rahimnya.
"Iya silahkan dok" Jawab mama Susan.
Dokter tadi pun memeriksa keadaan Susan seperti biasanya.
"Sepertinya keadaan bu Susan sudah mulai membaik ya. dan besok kita akan melakukan pemeriksaan terhadap janin yang ada di dalam rahim Susan. Jika semuanya baik-baik saja, maka dalam waktu satu atau dua hari bu Susan sudah diperbolehkan pulang" Jelas dokter yang berjenis kelamin perempuan itu kepada kedua ibu dan anak itu.
"Syukurlah jika semuanya baik-baik saja" Ucap mama Susan senang mendengar kabar baik tersebut.
__ADS_1
"Oke, sebentar lagi suster akan menjemput bu Susan untuk masuk ke ruang pemeriksaan" Jelas dokter tadi lagi.
"Baik dok terima kasih" Ucap Susan dan mama nya.
"Iya sama-sama, saya permisi dulu" Ucap dokter tadi keluar dari ruangan Susan.
"Syukur lah ma, aku sudah boleh pulang. Doain ya ma semoga janinku baik-baik saja"
"Iya dong sayang, pasti mama akan mendoakan yang terbaik untuk kamu dan juga calon pewaris tahta Tian ini"
"Aku sudah nggak sabar pengen pulang. Aku harus bisa membuat Sofi dekat lagi kepada kita. Dengan begitu tidak ada alasan lagi untuk Tian datang ke rumah Fitri. Karena Sofi sudah ada bersama kita"
"Iya kamu benar"
***
"Hallo Assalamualaikum ma" Ucap ku kepada mantan mama mertuaku itu saat dia menghubungiku di pagi ini melalui video call-nya.
"Waalaikumsalam. Fitri apa Sofi masih bersamamu?"
"Iya ma, Sofi masih bersamaku kok. Mama mau ngomong sama Sofi?"
"Iya, mama mau ngomong sama cucu kesayangan mama itu"
"Sebentar ya ma, Sofi nya lagi di kamar mandi"
"Sayang, Sofi anak mama. Ini ada oma mau ngomong" Ujar ku sedikit berteriak kepada putriku yang sedang berada di kamar mandi.
"Iya ma sebentar" Jawab Sofi pula sedikit berteriak dari dalam kamar mandi.
"Sebentar ya ma" Ucap ku lagi kepada mama Tian itu.
"Iya sayang gak apa-apa. Oh ya mama mau mengajak Sofi untuk menginap di rumah mama minggu ini. Apa boleh?"
"Lo kok mama tanya nya sama aku sih ma? Sofi kan cucu mama. Jelas boleh dong jika dia nginap di rumah oma nya" Ujar ku lagi.
"Iya sih. Tapi mama mau minta izin nya sama kamu juga. Secara saat ini Sofi nya sama kamu"
"Aku gak masalah kok ma jika Sofi sama mama. Mama hanya perlu minta izin sama Tian" Ujar ku.
"Iya mama akan menghubungi nya nanti"
"Oma" Ujar gadis kecil itu.
"Sayang cucu oma, sudah rapi aja mau ke sekolah nya"
"Iya dong oma, Sofi mau jadi pelukis terkenal. Jadi kata mama Fitri Sofi harus rajin belajar agar cita-cita Sofi bisa terwujud" Celoteh gadis kecil itu.
"Wah, pinter nya cucu oma. Begitu dong sayang, oma jadi senang mendengar nya. Oh ya, minggu ini oma jemput Sofi ya. Sofi kan udah lama nggak nginep di rumah oma. Oma kangen sama Sofi kangen cerita-cerita, kangen tidur bareng sama Sofi. Mau ya?" Ujar wanita paruh baya itu kepada cucunya.
"Asyik... Sofi juga kangen sama oma tentu saja Sofi mau untuk nginep di rumah oma"
"Wah, kalau begitu Oma akan menjemput Sofi sabtu sore ya. Kita akan menghabiskan waktu bersama. Sofi pasti sudah lama kan nggak jalan-jalan" Ucap oma nya lagi.
"Gak juga sih oma, kemaren Sofi juga jalan-jalan sama mama Fitri dan keponakan keponakannya. Seru lo oma, karena ramai-ramai bermain di sana" Jelas gadis itu lagi.
"Oh ya, bagus dong jika begitu"
"Iya oma, Sofi senang banget bisa jalan-jalan bareng-bareng seperti itu"
"Wah bagus dong jika begitu. Oma jadi senang melihat Sofi senang seperti ini"
"Ya sudah sekarang Sofi sarapan ya karena sebentar lagi Sofi akan berangkat ke sekolah"
"Iya oma. Sofi sarapan dulu ya" Ucap gadis kecil itu langsung berlari menuju meja makan.
"Fitri, terima kasih ya karena telah merawat Sofi dengan baik dan juga telah membuat Sofi bahagia seperti ini"
"Ya ampun ma, jangan mengucapkan terima kasih kepadaku seperti itu dong ma. Aku ini mamanya Sofi. Meski antara aku dan Tian sudah tidak ada ikatan apapun, Tapi aku tetap menganggap Sofi itu seperti anakku. Jelas dong aku ingin membahagiakan putriku"
"Iya, terima kasih ya karena kamu sudah menyayangi Sofi seperti anak kamu sendiri" Ucap wanita paruh baya itu lagi.
"Iya ma, sama-sama" Jawab ku tersenyum.
__ADS_1