
"Fitri, bagaimana keadaan Raffa?" Tanya mama ku yang datang bersama papa ku.
"Sudah agak tenang ma, tadi rewel banget dia. Tuh tertidur pulas" Jawab ku.
Saat ini Raffa sudah pindah ke ruangan rawat inap. Dan besok akan di periksa lebih lanjut oleh dokter yang menangani nya.
"Tuh ma, coba ibu lihat, habis badan nya di penuhi dengan memar dan bintik-bintik. Aku juga gak ngerti buk ini di sebab kan apa" Ujar ku kepada mama memperlihatkan keadaan tubuh Raffa saat itu.
"Iya ya Fit, kok bisa ya seperti ini. Emang nya kamu tidak menyadari kemunculan bintik-bintik dan memar ini?" Tanya ibu ku.
"Aku tahu ma, awal nya timbul bintik-bintik merah ini di kaki nya saja. Waktu itu masih sedikit dan belum ada memar nya ma, aku pikir ini kena gigitan nyamuk atau biang keringat biasa. Namun semakin hari semaki banyak dan sekarang malah timbul memar seperti ini" Ujar ku dengan menitikkan air mata.
"Sabar ya sayang, doa kan jika Raffa baik-baik saja. Semoga saja ini hanya penyakit ringan" Ujar papa ku.
"Iya pa, itu lah yang aku harapkan"
"Tian mama?" Tanya papa ku.
"Tian pulang pa, mengambil beberapa pakaian kami"
"Ma, coba deh lihat wajah polos tak berdosa ini. Sungguh tidak tega saat melihat nya di pasangin infus seperti ini. Hati ini merasa teriris ma" Ujar ku kembali menangis.
"Iya sayang, mama ngerti perasaan mu. Tapi harus bagaimana lagi, ini semua untuk kesembuhan Raffa. Kita berdoa saja kepada Allah semoga Raffa baik-baik saja dan sembuh secepatnya"
"Aamiin" Jawab ku.
"Kalian sudah mengabari keadaan Raffa kepada orang tua nya Tian?"
"Sudah kok pa, Tian sudah menghubungi mereka. Kata nya akan datang secepat nya. Mereka juga sedang di luar kota mengurusi beberapa bisnis nya. Butuh waktu juga mereka kesini" Jelas ku.
"Oh begitu. Oh ya sudah makan kamu nya?" Tanya papa ku.
"Ini sudah waktu nya makan siang" Tambah nya lagi.
"Belum sih pa, aku juga belum lapar. Lagian gak ada nafsu mau makan pa"
"Sayang, jangan seperti itu. Kamu harus makan walaupun sedikit. Nanti kamu bisa sakit. Kamu jaga kesehatan mu dong sayang. Jika kamu sakit, siapa yang akan mengurus Raffa dalam keadaan seperti ini nanti nya?" Ujar mama ku.
"Ya sudah, papa keluar sebentar mencari makanan untuk kita ya" Papa ku pun pergi meninggalkan kami.
Aku masih meratapi wajah polos putra kecil ku itu dengan lekat-lekat. Sedari tadi aku tidak pernah meninggalkan nya. Aku terus saja berada di samping nya untuk menemani nya yang sedang berjuang saat itu.
"Fitri, Tian masih belum kembali?" Tanya papa ku saat kembali membeli makanan untuk kami.
"Belum pa, kata nya dia pergi untuk menjemput Sofi juga" Ujar ku.
"Ya sudah, ini kamu makan dulu. Tenang kan pikiran mu nak. Kamu harus kuat untuk Raffa" Jelas papa ku memberi nasehat kepada ku yang sedang dalam terpuruk saat ini.
"Nanti saja pa. Aku belum lapar" Ujar ku. Sungguh tidak ada rasa lapar sama sekali di perut ku saat ini. Yang ada hanya kesedihan dan rasa takut melihat malaikat kecil ku yang tidak berdosa terbaring tidak berdaya seperti ini. Hati ibu yang mana tidak sedih dan teriris melihat anak nya dalam keadaan seperti ini.
"Sayang makan sedikit ya nak. Mama suapin kamu" Ujar mama ku menyodorkan sesendok makanan yang di belikan oleh papa ku tadi.
"Gak ma, aku belum lapar nanti jika sudah lapar aku pasti akan memakan nya" Jelas ku lagi menolak.
"Sayang, makan sedikit saja nak. Nanti kamu bisa sakit nak. Kasihan Raffa, dia pasti akan sedih melihat mu seperti ini" Ujar mama ku.
"Makan ya nak?" Tambah nya lagi sambil kembali menyodorkan makanan ke dalam mulut ku.
Meski saat itu aku sama sekali tidak nafsu untuk makan, tapi mendengar apa yang di katakan oleh mama ku membuat ku luluh. Aku pun membuka mulut ku dan menelan makanan yang di suapi oleh mama ku itu.
"Sayang, kamu yang kuat. Jangan lemah seperti ini. Jika kamu lemah, siapa yang akan menguatkan Raffa nanti nya. Kamu lah ibu nya yang bisa menguatkan diri nya agar cepat sembuh nak" Jelas mama ku.
"Iya ma, mama doain aku ya ma agar aku bisa kuat mengahadapi semua ini"
"Pasti sayang, pasti mama akan selalu mendoakan mu"
"Papa, mama" Ujar Tian saat tiba di rumah sakit.
"Sudah lama ma, pa tiba nya?" Tanya nya lagi.
"Belum juga lama nak. Sofi di mana?" tanya mama ku.
__ADS_1
"Sofi di rumah ma. Dia tinggal bersama bik Ina. Kasihan juga jika dia di nawa ke sini" Ujar Tian.
"Iya benar, lebih baik dia di rumah saja. Di sini juga banyak virus yang tidak baik untuk anak seusia nya" Ujar papa ku.
Tian datang mendekati ku yang sedari tadi tidak beranjak duduk di samping putra ku itu.
"Sayang, bagaimana keadaan nya? Apa dia rewel lagi seperti tadi?"
"Gak kok sayang, semenjak kamu pergi hingga sekarang dia tertidur pulas" Ucap ku.
"Syukur lah kalau begitu. Sungguh tidak tega melihat nya dalam keadaan seperti ini" Ucap Tian.
***
Besok pagi nya, aku dan Tian sangat deg degan saat dokter melakukan tes pemeriksaan terhadap Raffa. Untunglah dari semalam mama dan papaku terus berada di rumah sakit bersama aku dan Tian untuk bergantian menjaga Raffa. Sehingga kami bisa beristirahat secara bergantian di malam itu.
Hari ini papa dan Tian libur dari kantor nya. Dan di pagi ini juga papa dan mama Tian berangkat menuju ke rumah sakit tempat Raffa di rawat.
Di rumah, ada Susan yang bisa mengurus Sofi dan juga ada bik Ina di sana. Jadi aku dan Tian merasa sedikit lega karena tidak keteteran menjaga Raffa dan Sofi. Hingga aku dan Tian fokus ke Raffa saja yang sedang sakit saat itu.
"Buk, pak saat ini yang harus kita lakukan untuk mengetahui penyakit yang di derita anak ibu dan bapak berupa melakukan tes pemeriksaan darah dan tes sumsum tulang belakang" Jelas dokter tadi.
Tes pemeriksaan darah, dokter mencari kelainan dari jumlah sel darah putih. Pengidap leukemia umumnya memiliki kadar sel darah putih lebih banyak dibanding normal.
Tes sumsum tulang belakang dokter menggunakan jarum tipis panjang untuk mengambil sampel jaringan sumsum tulang belakang. Kemudian, sampel diperiksa lebih lanjut di laboratorium untuk menentukan jenis kanker yang dialami.
Deg..
Sungguh hancur hati ini saat mendengar rangkaian tes yang akan di lakukan oleh Raffa. Bagaimana bisa anak sekecil itu harus melakukan tes seberat ini? Sungguh aku tidak bisa membayangkan anak ku yang akan kesakitan saat melakukan rangkaian tes itu. Kembali beberapa air bening membasahi pipi. Aku tidak bisa berkata sepatah kata pun. Hati ini sangat hancur. Aku hanya bisa menangisi semua ini.
"Tes pemeriksaan darah dan sumsum tulang belakang? Ya Allah sebenarnya apa yang terjadi kepada putra ku? Penyakit apa yang di derita nya? Apa separah itu hingga melakukan tes seperti ini?" Batin ku bergejolak.
"Baik lah dokter, lakukan yang terbaik untuk anak kami. Kami akan turuti semua pengobatan yang terbaik untuk anak kami asalkan dia sembuh" Ujar Tian.
"Baik lah pak, Kita akan melakukan tes nya sekarang ya pak" Ujar dokter tadi.
"Sabar sayang, semua pasti akan baik-baik saja" Ujar mama ku memeluk ku dengan erat nya.
Tian datang mendekati ku. Mengusap pundak dan kepalaku dengan lembut untuk memberi semangat kepadaku agar aku tidak lemah seperti.
"Sayang, doa kan saja anak kita baik-baik saja. Semoga hasil tes nanti tidak mengecewakan" Ujar Tian kepada ku.
Aku terus menangis di dalam pelukan ibu ku.
***
"Tian, Fitri. Buk, pak" Ujar Papa Tian saat tiba di rumah sakit dan masuk keruangan tempat Raffa di rawat.
"Bagaimana keadaan Raffa apa baik-baik saja?" Tanya nya lagi.
"Belum tahu pa. Tadi sudah di lakukan pemeriksaan tulang sumsum belakang dan tes darah. Kami masih menunggu hasil nya" Jawab Tian.
Mama Tian datang mendekati Raffa yang masih tertidur pulas.
"Sayang cucu oma, yang kuat ya sayang. Kasihan sekali kamu sayang masih kecil sudah seperti ini" Batin mama mertua ku. Yah dia tidak mau mengungkapkan gejolak di hati nya melihat bayi ku seperti itu. Begitu pun dengan mama dan papa ku.
Karena mereka tahu saat ini aku sedang rapuh. Jika mereka lemah dan menangis di hadapan ku pasti aku nya semakin terpuruk dan putus asa.
"Sabar ya sayang. Semoga hasil nya baik-baik saja" Ujar mama mertua ku memberikan semangat kepada ku.
Aku mengangguk mendengar apa yang di katakan mama mertua ku itu.
***
"Kepada orang tua nya Raffa, dokter ingin bertemu dengan kalian" Ujar Suster yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
"Hasil tes nya sudah keluar dan dokter ingin menjelaskan bagaimana keadaan Raffa" Ucap nya lagi.
Aku dan Tian bergegas bangkit dari tempat duduk kami.
"Ma, pa tolong jagain Raffa ya" Pinta ku.
__ADS_1
"Iya sayang" Jawab mama ku.
Aku dan Tian pun pergi ke ruangan dokter untuk mengetahui hasil tes yang di lakukan putra ku tadi.
***
"Selamat siang dok" Sapa Tian mengetuk pintu ruangan itu.
"Iya silahkan masuk" Ujar dokter yang berada di dalam ruangan.
"Silahkan duduk" Ujar dokter tadi kepada kami berdua.
"Dok bagaimana hasil dari pemeriksaan anak kami? Sebenar nya penyakit apa yang di alami anak kami itu dok?" Tanya ku tidak sabaran.
"Begini buk, pak, dari hasil tes yang di lakukan dapat di simpulkan bahwa putra bapak mengidap penyakit luekimia" Jelas dokter tadi.
Deg....
Terasa petir menyambar di tengah terik matahari yang aku rasa kan begitu pun dengan Tian. Semakin hancur rasanya hati kami mendengar anak kami di vonis penyakit yang berbahaya seperti itu. Marah, sedih, kecewa semua nya bergabung menjadi satu di hati kami.
"Dok, kenapa bisa anak kami mengalami penyakit seperti itu? Bukan kah dia masih kecil dok? Bagaimana bisa bayi yang usia nya belum sampai empat bulan sudah mengalami penyakit itu?" Tanya ku.
"Ibu, penyakit ini bisa menyerang siapa saja. Tidak hanya orang dewasa anak-anak juga bisa terserang penyakit ini. Bahkan ada kasus bayi yang baru saja berusia empat belas hari sudah mengidap penyakit ini" Jelas dokter itu lagi.
"Gejalanya, wajah pucat seperti tanda kekurangan darah atau anemia, lalu lebam-lebam, perdarahan di bawah kulit seperti muncul bintik-bintik merah, perdarahan seperti mimisan dan gusi berdarah yang tak kunjung membaik. Itu gejala awal yang di alami oleh pengidap penyakit tersebut. Apa anak ibu mengalami hal demikian akhir-akhir ini?" Tanya dokter itu lagi.
"Iya dok. Sudah hampir dua bulan anak saya mengalami mimisan dan gusi berdarah. Sudah itu sembuh dan kembali lagi" Ujar ku.
"Nah itu memang gejala awal nya buk"
"Terus apa yang harus di lakukan untuk kesembuhan anak kami dok?" Ujar Tian.
"Kita akan melakukan beberapa metode pengobatan seperti kemoterapi, terapi imun, terapi target, radioterapi, dan transplantasi sumsum tulang" Jelas dokter tadi.
Kemoterapi yaitu metode pengobatan dengan menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker. Obat yang diberikan dapat berbentuk tablet minum atau suntik infus, misalnya cytarabine dan fludarabin.
Terapi imun atau imunoterapi, yaitu pemberian obat untuk meningkatkan sistem imun tubuh dan membantu tubuh melawan sel kanker. Jenis obat-obatan yang digunakan misalnya interferon
Terapi target, yaitu penggunaan obat-obatan untuk menghambat produksi protein yang digunakan sel kanker untuk berkembang. Jenis obat yang digunakan salah satunya imatinib.
Radioterapi, yaitu prosedur untuk menghancurkan dan menghentikan pertumbuhan sel kanker dengan menggunakan sinar radiasi berkekuatan tinggi.
Transplantasi tulang sumsum yaitu prosedur penggantian sumsum tulang yang rusak dengan sumsum tulang yang sehat.
Deg...
Kembali lagi aku kaget dan sangat kaget mendengar penjelasan dari dokter tadi. Bagaimana bisa aku melihat putra ku yang masih sangat kecil itu melakukan pengobatan demi pengobatan seperti itu. Di mana bayi seusia nya masih menikmati masa tumbuh kembang dengan baik, tapi dia harus menjalani pengobatan seperti itu.
Jantung ini terasa berhenti berdetak mendengar pengobatan yang harus di lakukan oleh anak ku itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia menangis nanti nya saat melakukan pengobatan itu.
"Ya Allah kasihan putra ku. Dia masih sangat kecil sudah mendapatkan cobaan penyakit seperti ini. Aku sungguh tidak bisa melihat nya seperti ini ya Allah. Jika bisa, biarkan aku yang menginap penyakit nya ini. Ganti kan saja penyakit itu pada tubuhku. Aku sanggup menyerahkan segalanya untuk putraku itu ya Allah. Sungguh aku tidak bisa melihat menderita seperti ini. Dimana seharusnya dia menikmati masa tumbuh kembangnya namun saat ini dia harus menjalani pengobatan-pengobatan seperti itu" Batin ku.
"Dok tolong lakukan yang terbaik untuk anak kami. Saya sanggup bayar berapa pun demi kesembuhan putra kami" Ujar Tian kepada dokter tadi.
***
"Bagaimana Tian, Fitri. Apa hasil nya?" Tanya papa ku.
Aku sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Mulut ku terkunci aku masih syok mendengar penjelasan dokter tadi. Kata-kata mengidap penyakit luekimia itu masih terngiang di telingaku membuat perasaan dan hatiku merasa hancur.
"Fitri kok diam, apa sebenar nya terjadi" Ulang mama ku lagi.
"Ma, kata dokter, Raffa mengalami penyakit luekimia" Tian lah yang bisa berbicara saat ini.
"Ya Allah, kenapa bisa? Bayi sekecil ini sudah mengidap penyakit seperti itu. Bagaimana bisa ini terjadi?" Ujar mama Tian pun terlihat syok mendengar apa yang di ucapkan oleh Tian
"Gak tahu juga sih ma, nama nya juga penyakit ma bisa menyerang siapa saja. Bahkan tadi dokter bilang ada kasus bayi yang baru berusia empat belas hari sudah mengidap penyakit tersebut. Tapi kata dokter Raffa masih ada harapan untuk sembuh dengan menjalani beberapa pengobatan" Jelas Tian lagi.
"Ya Allah semoga saja Raffa akan sebuh ya. Kamu yang sabar ya Fitri, Tian. Papa dan mama akan Membantu biaya pengobatan Raffa" Jelas papa ku.
"Iya papa juga begitu. Papa dan mama akan turut membantu biaya pengobatan Raffa" Jelas papa Tian.
__ADS_1