Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 49


__ADS_3

Mama Susan tersenyum licik dan juga bahagia mendapati bahwa Tian telah memberikan Susan rumah.


Keinginan dan harapan nya kini telah terpenuhi. Perlahan namun pasti, dia yakin bisa menguasai harta milik Tian.


***


"Sayang, ayo kita pulang" Ajak Susan kepada suami nya itu setelah ia keluar dari kamar nya untuk berganti pakaian. Di mana tadi gadis itu mengenakan kebaya akad nikah nya dan sekarang telah berganti pakaian biasa yang di pakainya sehari-hari.


"Kita gak bisa pulang bersama Susan. Jika kamu mau pulang, pergi lah pulang duluan karena aku mau pergi ke kantor. Ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan" Ujar Tian.


"Lo Tian, kita ini sudah menjadi suami istri yang sah. Apa kamu tega membiarkan ku pulang sendirian tampa mau mengantar ku pulang?" Ujar Susan dengan nada manja nya.


Tian memijit kening nya yang terasa sedikit pusing karena istri kedua nya itu sama sekali tidak mau mendengar apa yang ia katakan.


"Susan, jika kamu dan aku pulang bersama, jelas itu akan membuat Fitri curiga kepada kita. Karena itu kita pulang nya sendiri-sendiri saja" Jelas Tian lagi.


"Gak ah, aku tetap mau pulang sama kamu. Ini hari pernikahan kita. Yah dan masa bulan madu kita. Masa iya kita gak sama-sama" Ujar Susan cemberut.


"Aku mau ke kantor sebentar Susan, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan" Jelas Tian lagi dengan nada kesal.


"Ya sudah jika begitu, aku mau ikut kamu pergi ke kantor. Aku juga sudah lama tidak pergi ke kantor. Biar aku temani kamu bekerja ya di sana" Ujar Susan dengan mengedipkan mata nya kepada Tian.


"Sebaik nya kamu di rumah saja deh. Nanti kamu capek lagi. Kasihan kandungan mu" Ujar Tian mencoba untuk menghindar dari gadis itu.


"Aduh Tian, biarin saja lah si Susan mengikuti mu ke kantor. Dia itu sekarang sudah menjadi istri mu. Harusnya kamu itu bersyukur karena istri kamu mau menemanimu saat bekerja seperti ini" Mama Susan ikut menyempeli.


"Tapi ma.... "


"Sudah lah Tian, biarin saja lah Susan ikut. Ayo Susan ikut saja suami mu itu" Perintah wanita paruh baya itu.


Tian hanya bisa menghela napas berat nya. Sungguh dia tidak bisa berbuat apalagi terhadap istri keduanya itu. Karena mama mertuanya telah memintanya untuk membawa Susan bersamanya.


"Ya sudah, ayo" Ujar Tian pada akhir nya mengalah.


Tian berjalan duluan meminggalkan Susan dan mama nya menuju ke mobil. Melihat itu, Susan mengajukan jempol nya kepada wanita paruh baya itu.


"Mantap ma" Ujar nya dengan pelan.


Wanita paruh baya itu pun membalas nya dengan mengedipkan sebelah mata nya kepada putri nya itu.


***


Tian duduk di meja kerja nya dan membolak balik beberapa berkas yang harus di tanda tangani nya.


"Oh ya Susan, Apa kamu sudah mendapatkan laki-laki sebagai penggantiku untuk acara resepsi pernikahan besok?" Tanya Tian.


"Sudah kok sayang kamu tenang aja aku sudah mempersiapkan semuanya termasuk lokasi resepsi pernikahan besok. Bukankah kamu telah membaca undangan yang ku bagikan kemarin?" Ujar Susan.


"Bagus lah jika begitu" Jawab Tian dengan dingin.


"Emang kamu gak lihat ya undangan nya?" Tanya Susan


"Gak" Jawab Tian dengan cuek kepada Susan terus melanjutkan pekerjaan nya tadi.


"Kok gitu sih jawaban kamu? Padahal ini semua rencana kamu" Ujar Susan cemberut.


Tian menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat. Sungguh rasa nya ia lelah menghadapi ibu hamil satu ini yang banyak mau nya.


"Jadi kamu mau nya aku bagaimana? Bukan kah kamu sendiri yang bilang, kamu yang akan mengurus semua nya dan aku hanya terima bersihnya" Jelas Tian kepada Susan menatap gadis itu dengan mata lelah nya.


"Ia sih, tapi setidak nya kamu berikan komentar atau masukan juga dengan apa yang aku lakukan"


"Mau komentar atau masukan seperti apa sih yang kamu mau. Secara sekarang undangan itu sudah tersebar. Jika aku meminta untuk di rubah, itu kan tidak mungkin karena semua nya sudah sampai pada mereka yang kamu undang" Jelas Tian terus melanjutkan pekerjaan nya.


Susan tidak bisa menjawab. Ia tampak kesal dengan ucapan Tian yang memang benar ada nya. Tidak mungkin ingin merubah undangan yang telah tersebar kepada orang yang di undang oleh Susan tadi.


Mereka pun terdiam satu sama lain. Susan duduk di Sofa yang ada di ruangan kerja Tian.

__ADS_1


"Sayang, Malam ini kamu harus menemani aku ya. Secara ini kan malam pertama kita. Gak mungkin kan kamu membiarkan aku tidur sendirian" Ujar Susan tersenyum menggoda.


"Aku tidak bisa. Karena Fitri ada di rumah. Ia akan curiga seperti kemaren saat aku tidak ada di kamar" Jelas Tian.


"Lo, kok gitu sih, masa malam pertama aku tidak di temani oleh suami ku" Ujar Susan cemberut.


"Kasihan sekali kamu ya nak. Papa mu sama sekali tidak mau menemani kita malam ini" Sindir Susan dengan menggosok-gosok perut nya. Seolah-olah dia berbicara dengan si cabang bayi yang ada di dalam perutnya itu.


Tian menghela nafas beratnya. Laki-laki itu merasa serba salah saat ini. Karena di satu sisi ia harus menjaga perasaanku agar aku tidak curiga. Dan di sisi lain Susan juga membutuhkan perhatiannya karena gadis itu sedang mengandung anaknya.


"Kita lihat saja nanti. Jika ada kesempatan, aku akan menemani kamu sebentar di kamarmu" Jawab Tian mengalah pada akhirnya.


"Benar sayang?" Tanya Susan meminta kepastian dari Tian.


"Iya" Jawab Tian.


Susan kembali tersenyum senang karena pada akhir nya dia berhasil membuat Tian jatuh ke dalam jebakan nya.


"Tentu saja dia tidak akan bisa menolak permintaan ku jika ini mengenai anak nya. Karena aku tahu dia masih merasa bersalah atas kematian Raffa. Dan itu merupakan kesempatan untukku agar dia tidak melakukan hal yang sama kepada anak yang ada di dalam kandungan ini. Karena dia tidak mau apa yang terjadi pada Raffa kembali ia lakukan kepada anak ini" Batin Susan kembali tersenyum puas.


"Sayang, kehadiran kamu di dalam perut mama memang menjadi senjata ampuh untuk meluluhkan hati papamu ini" Batin Susan sambil mengelus perutnya.


Tian masih tampak sangat sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan nya yang masih menumpuk di atas meja kerja nya.


Melihat itu, Susan datang mendekati laki-laki itu dan memeluk nya dari belakang.


"Sayang, apa ada yang bisa ku bantu agar pekerjaan mu cepat selesai" Tawar Susan.


"Gak perlu" Jawab Susan dengan intonasi datar nya.


"Ayo lah sayang, jangan seperti itu. Biasa nya kamu tidak pernah menolak jika aku ingin membantu mu"


Tian menghentikan pekerjaan nya. Dan menatap Susan dengan kesal. Susan melepaskan pelukan nya kepada Tian.


"Jika kamu mau membantu ku, kamu keluar dari ruangan ku ini. Dan pergi ke meja kerja mu selesaikan pekerjaan-pekerjaan mu yang tertunda" Perintah Tian.


"Nah jika begitu, lebih baik kamu diam saja. Dan jangan mengatakan apa pun. Itu sudah sangat membantu ku. Aku sudah cukup pusing dengan masalah-masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Jadi kamu jangan menambah beban pikiran ku" Jelas Tian lagi dengan tega nya.


"Tapi sayang.... Aku kan hanya ingin membantu.... "


"Sudah Susan. Cukup! Tolong diam dan jangan mengatakan apa pun. Biarkan aku mengerjakan pekerjaan ku dengan tenang" Ujar Tian lagi.


Susan menjadi kesal dan kembali ke Sofa dan duduk di sana.


"Apa-apaan sih Tian. Orang hanya ingin membantu juga. Malah seperti itu respon nya. Harus nya dia itu senang istri nya ini mau membantu nya bekerja. Gak seperti istri pertama nya itu. Hanya duduk nyantai di rumah" Batin Susan kesal.


***


"Sayang, sudah pulang?" Tanya ku menyambut kepulangan suami ku itu. Tian mencium puncak kepala ku.


"Susan, kalian barengan?" Tanya ku sedikit heran melihat Susan pulang bersama Tian dengan satu mobil.


"Iya, tadi mobil ku mogok. Jadi nya aku nebeng deh sama Tian karena satu arah juga kan" Jawab nya.


Aku hanya mengangguk mengerti. Benar juga apa yang di katakan Susan. Tian dan Susan satu kantor dan satu rumah tidak salah jika mereka pulang dan pergi bersama. Toh satu arah juga bukan.


"Ya sudah sayang, aku mau ke kamar dan bersih-bersih. Hari ini cukup melelahkan" Ujar Tian langsung menaiki anak tangga menuju ke kamar kami.


Aku menjawab dengan anggukan dan pergi ke dapur untuk membantu bik Ina menyiapkan makan malam untuk kami.


Melihat itu, Susan berlari mengejar Tian. Gadis itu pun menutup pintu kamar kami.


"Susan, kamu apa-apaan sih masuk ke kamar ini? Nanti jika Fitri datang dia akan semakin curiga" Jelas Tian.


"Sayang, kamu mau mandikan, aku pun mau mandi. Ayo kita mandi bersama-sama. Kita sudah menjadi suami istri. Apa salah nya sih kita mandi bersama" Ujar Susan menggoda.


"Jangan macam-macam ya kamu San. Ini kamar aku dan Fitri. Kamu jangan bertindak sesuka mu seperti ini dong" Jelas Tian lagi dengan penuh kekesalan.

__ADS_1


"Ya ampun Tian, jangan marah-marah dong seperti itu. Kita kan pengantin baru, jadi harus menikmati di setiap momen kebersamaan kita"


"Menikmati momen itu juga ada waktu dan tempat nya. Jangan seperti ini dong.. Cepat keluar" Perintah Tian sedikit membentak.


"Sayang... " Ujar Susan dengan suara manja nya.


"Cukup ya Susan. Jangan sampai aku bertindak kasar kepada mu. Sudah ku katakan tadi aku sudah cukup lelah dengan semua ini. sabar ku juga ada batasnya" Tegas Tian mulai terdengar mengancam.


Melihat pada keseriusan di wajah nya Tian, Susan pun mulai takut dan mengalah.


"Ya ampun, seperti nya Tian serius dengan ucapan nya. Aku gak boleh terlalu memaksa kehendak ku lagi. Bisa-bisa Tian akan menceraikan aku saat ini juga. Kan nggak lucu baru sehari saja menikah sudah diceraikan" Batin Susan.


"Seperti nya aku harus mengalah" Tambah nya lagi.


"Oke, aku akan keluar. Tapi tolong tepati janji mu malam ini. Temani aku sebentar saja agar aku bisa merasakan sebagaimana pengantin baru pada umum nya" Ucap Susan.


Tian memegang kepalanya yang terasa pusing karena sikap dan keras kepala istri keduanya itu.


"Terserah kamu. Nanti aku akan usahakan untuk bisa menemani kamu sebentar. Tapi tolong keluar dari kamar ini sekarang juga" Perintah Tian lagi.


"Oke sayang" Ujar Susan langsung keluar dari kamar ku.


Aku yang kebetulan lewat dari dapur ke meja ruang tamu untuk mengambil gelas kotor yang ku bawa tadi merasa heran saat melihat Susan turun dari anak tangga.


Yah karena Susan kamar nya di lantai bawah. Di lantai atas hanya ada kamar aku dan Sofi.


"Dari mana kamu Susan?" Tanya ku saat Susan mau membuka pintu kamar nya.


Susan menghentikan kegiatan nya dan berbalik melihatku.


"Oh, itu, aku, aku dari.... Kamarnya Sofi ya... Dari kamar Sofi. Karena sudah lama aku gak melihat nya. Jadi kangen" Ujar susah memberi alasan.


"Emang nya Sofi ada di kamar?" Tanya ku.


"Oh ada" Jawab Susan.


Aku mengerut kening ku mendengar ucapan gadis itu. Jelas tampak gadis itu sedang berbohong.


"Oh ya? Sofi gak ada di kamar nya San. Dia di jemput sama opa dan oma nya untuk jalan-jalan hari ini" Jelas ku.


Wajah Susan tampak pucat pasi karena ketahuan sedang berbohong kepada ku.


"Oh, gak ada maksud ku. Ya sudah aku masuk ke kamar dulu ya Fit. Besok jangan lupa datang di acara resepsi pernikahan ku" Ujar Susan mengalihkan pembicaraan dan langsung masuk ke dalam kamar nya.


"Apa yang di sembunyikan Susan sebenar nya?" Batin ku kembali curiga.


Aku melanjutkan pekerjaan ku dengan membawa gelas tadi ke dapar.


***


"Ya ampun, untung saja aku bisa mengelak. Pasti Fitri curiga dengan ku saat ini" Ucap Susan berkata kepada diri nya sendiri.


"Tapi setelah di pikir-pikir, bagus juga jika Fitri semakin curiga. Itu akan membuat ku semakin mudah untuk memisahkan Fitri dan Tian. Dan pada akhir nya aku lah yang akan menjadi nyonya di rumah ini" Ujar Susan lagi tersenyum puas.


***


"Sudah selesai bik masak nya?" Tanya ku kepada bik Ina.


"Tinggal sedikit lagi ini buk" Jawab wanita paruh baya itu.


"Emang nya ada acara apa buk, ibu masak makanan sebanyak ini?" Tanya bik Ina penasaran.


"Gak ada acara apa-apa kok bik. Hanya saja papa dan mama Tian akan makan malam di sini. Saat ini mereka sedang membawa Sofi jalan-jalan. Jadi yah ketika mereka sudah pulang nanti, kita bisa makan malam bersama" Jelas ku kepada wanita paruh baya itu lagi.


"Oh begitu ya buk. Pantas saja dari tadi bibi sama sekali tidak melihat non Sofi. Ternyata sedang jalan-jalan sama oma dan opa nya"


"Iya bik, kasihan juga si Sofi karena sudah lama tidak pergi jalan-jalan" Jawab ku sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2