Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 105


__ADS_3

Tian kembali menghubungi ku untuk meminta bantuan kepada ku menjaga Sofi. Hal itu di sebab kan karena Susan kembali masuk ke rumah sakit untuk menjalani operasi kembali. Tentu saja aku menyambut kedatangan putriku itu dengan hati yang sangat senang karena aku sudah lama tidak menghabiskan waktu bersamanya.


***


"Mama" Ucap Susan memeluk ku saat diri nya dan juga Tian tiba di rumah ku.


"Eh sayang mama sudah sampai" Ujar ku menyambut kedatangan putri ku itu dengan penuh kehangatan.


"Sofi kangen sama mama"


"Sama sayang, mama juga kangen sama Sofi"


"Fit, maaf ya aku kembali merepotkan kamu"


"Gak masalah kok Tian, aku malah senang jika Sofi berada di dekat ku" Ujar ku lagi.


"Ya sudah, kalau begitu aku permisi dulu ya"


"Gak mampir dulu?" Tawar ku basa basi.


"Gak, aku harus kembali ke rumah sakit untuk menemani Susan di sana"


"Oh ya, bagaimana operasi Susan? Apakah lancar?"


"Alhamdulillah lancar Fit"


"Alhamdulillah, aku turut senang mendengarnya. Semoga sukses cepat pulih ya" Ujar ku.


"Aamiin, terima kasih atas doanya. Kalau begitu aku permisi dulu ya. Titip Sofi"


"Iya" Jawab ku singkat.


"Sayang, papa pergi dulu ya. Kamu baik-baik di sini bersama mama" Ujar Tian sambil mencium puncak kepala putrinya itu.


"Iya papa" Jawab Sofi tersenyum.


Tian pun pergi meninggalkan aku dan juga Sofi yang masih berdiri di ambang pintu. Selangkah dua langkah dia berlalu dari hadapan kami, ia pun kembali menoleh ke belakang untuk melihat keadaanku dan juga Sofi. Bisa kulihat senyuman terukir di bibirnya. Kemudian dia kembali lagi berjalan menuju mobil nya.


Tian menarik napas nya dalam-dalam dan menghembuskan nya kuat-kuat.


"Sebenar nya aku malu meminta bantuan lagi kepada kamu Fit. Karena kemarin aku sudah berkata kasar kepada mu. Tapi sekarang aku masih meminta bantuan lagi kepada mu. Seharus nya aku tidak bersikap seperti itu kemarin. Meski aku sudah bersikap kasar dengan mu kemarin. Tapi kamu masih mau membantu ku seperti ini" Ujar nya lagi penuh penyesalan.


"Aku benar-benar menyesal karena bersikap seperti itu kepada mu Fit" Ujar nya lagi.


Tian menyalakan mobil nya dan melaju membelah jalanan menuju kembali ke rumah sakit.


"Sayang, ayo kita masuk" Ujar ku mengajak putri ku itu masuk ke rumah.


***


Aku dan Sofi memutuskan untuk pergi ke cafe untuk mengontrol keadaan cafe.


Aku dan Sofi bersenda gurau. Yah sudah lama aku tidak bergurau bersama putri ku itu.


"Assalamualaikum Fit" Ujar Rendi datang berkunjung ke cafe ku sore itu.


"Waalaikumsalam" Jawab aku dan Sofi serentak.


Rendi terlihat kaget melihat Sofi bersama ku saat itu. Dia merasa heran kepada gadis kecil itu ada bersama ku.


"Fit, Sofi... " Tanya nya dengan heran.


"Iya Sofi" Ujar ku tersenyum.


"Ma, Sofi mau ke sana dulu ya, mau main perosotan" Ujar gadis kecil itu lagi. Aku mengangguk mengizinkan. Yah di cafe ku itu memang terdapat perosotan dan juga beberapa mainan lain nya yang bisa di main kan anak-anak. Yah sengaja aku membuat tempat bermain anak-anak seperti itu. Agar para orang tua yang membawa anak nya, bisa menikmati waktu nya dengan santai karena anak-anak nya sibuk bermain di tempat bermain itu. Bisa makan dengan tenang, bisa minum dengan tenang, bahkan bisa berkumpul dengan teman-teman nya dengan tenang karena anak-anak nya di sibukkan dengan permainan yang ada.


"Lo, bukan kah Sofi kata nya gak boleh bersama mu lagi Fit? Terus kenapa dia di izinin bersama kamu lagi?" Tanya Rendi masih bingung dengan hal itu.


"Iya, Aku senang Sofi masih di berikan izin untuk bersama ku"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena Susan menjalan kan operasi lagi. Ternyata miom nya kemarin masih ada akar nya. Dan bayi nya juga tidak bisa di selamat kan lagi. Karena itu lah Susan harus menjalani operasi lagi. Untuk mengangkat bayi nya dan juga rahim nya itu. Jadi Sofi sendirian di rumah dan tidak ada yang menjaga nya. Ada sih bik Ina, tapi kan bik Ina sibuk di dapur" Jelas ku lagi tersenyum melihat putriku yang sedang asyik bermain di hadapanku.


Rendi tersenyum kagum menatap ku.


"Masyaallah Fitri, kamu benar-benar wanita yang baik. Kamu sama sekali tidak marah apalagi dendam dengan mantan suamimu itu" Puji Rendi di dalam hati nya melihat sikap ku itu.


"Sebagian orang pasti tidak akan mau membantu orang yang telah membuat dirinya sakit hati yang berkata kasar seperti itu kepadanya. Tapi berbeda dengan kamu. Aku merasa beruntung telah memiliki dirimu yang pemaaf itu" Tambah nya lagi di dalam hati nya.


***


"Ma, bagaimana keadaan Susan? Apa dia sudah sadar?" Tanya Tian kepada mama mertua nya saat tiba di rumah sakit.


"Tadi dia Sudah sadar, dan dia berteriak histeris karena masih tidak terima bahwa rahim nya di angkat. Karena itu dokter memberikan nya obat penenang" Jelas mama mertua Tian itu.


"Tian, Sepertinya kamu harus selalu berada di sisinya Susan saat ini. Karena saat ini dia benar-benar terpukul atas kehilangan bayinya dan juga rahimnya. Oleh karena itu kamu harus berada di sisinya untuk memberikan dia dukungan" Pinta wanita paruh baya itu lagi.


"Iya ma, aku pasti akan selalu menemani Susan. Aku gak akan meninggalkan nya ma"


"Mama sangat berharap sama kamu Tian, untuk memenuhi janji mu. Tetap setia bersama Susan meski dia tidak bisa memberikan mu keturunan lagi" Jelas wanita paruh baya itu lagi kepada menantunya.


"Iya ma, aku akan memenuhi janji ku" Ujar Tian meyakini mama mertua nya itu.


"Oh ya ma, papa sama mama ku di mana?"


"Mama juga tidak tahu. Tadi papamu bilang mau keluar untuk mencari makanan. Sedangkan mama kamu tak tahu perginya ke mana"


"Oh ya, jadi kamu menitipkan Sofi di bersama Fitri?"


"Jadi ma, Aku baru saja pulang untuk menitipkan Sofi bersama Fitri"


"Aku merasa bersalah sama Fitri. Kemarin, aku memintanya untuk tidak terlalu berharap agar Sofi selalu bersamanya. Namun di saat aku membutuhkan dia seperti ini dia mau membantuku dan tidak marah sama sekali terhadapku" Jelas Tian.


"Harus nya aku tidak berkata kasar seperti itu kepadanya. Dia benar-benar wanita yang tidak pendendam. Dia mau membantu ku saat aku dalam kesusahan seperti ini"


Wanita paruh baya itu terdiam dan tampak berpikir mendengar apa yang dijelaskan oleh Tian kepadanya.


"Aduh gawat ini. Bisa-bisa si Tian kembali lagi bersama Fitri. Secara dia memuji Fitri seperti itu. Dan Fitri jelas-jelas masih bisa memberikan keturunan untuk nya" Batin mama mertua Tian itu lagi.


***


Malam pertunangan ku dan Rendi telah tiba. Aku mengenakan kebaya yang kami pesan di salah satu butik terkenal di kota itu.


Kebaya berwarna coklat muda dengan brokat yang menjadi hiasan di setiap helai benang nya membaluti tubuh ku. Dan seperti biasanya aku memakai rok batik. Hells berwarna hitam setinggi lima cm menghiasi kakiku.


Kali ini aku mencoba untuk mengenakan hijab sesuai dengan permintaan Rendi calon suami ku. Yah laki-laki itu meminta ku untuk belajar mengenakan hijab.


"Ma, ini beneran mama?" Tanya Sofi melihat ku dengan tatapan heran.


"Iya sayang tentu saja ini mama. Jika bukan mama siapa lagi?" Tanya ku mencubit lembut pipi tembem gadis.


"Wah, mama cantik sekali" Puji nya kepada ku.


"Benar kah?"


"Iya mama, benar mama cantik sekali seperti bidadari turun dari surga" Puji nya lagi.


"Ih, anak mama ini pintar banget ya memuji nya. Anak mama ini juga cantik kok. Gak kalah cantik sama mama" Balas ku tersenyum senang kepada putri ku itu.


"Hehehe iya dong ma. Siapa dulu mama nya mama Fitri" Ujar nya lagi.


"Papa Rendi pasti terpana melihat kecantikan mama. Pasti papa Rendi semakin cinta sama mama" Ucap nya lagi.


"Ih.... Anak mama ini, masih kecil sudah pinter cinta-cintaan ya"


Sofi hanya tersenyum malu mendengar ucapanku itu.


"Sayang sudah siap?" Tanya mama ku masuk ke dalam kamar ku.


"Sudah kok ma" Jawab ku.


"Masyaallah cantik sekali anak mama. Aura kebahagiaanmu terpancar sangat jelas sayang. Sehingga kecantikan kamu semakin bertambah juga" Puji mama ku.

__ADS_1


"Aamiin, alhamdulillah jika mama melihat ku seperti itu" Ucap ku tersenyum senang mendengar pujian dari wanita paruh baya itu kepadaku.


"Ya sudah ayo kita turun pihak laki-laki sudah tiba dan sedang menunggu kamu di bawah" Ucap mama ku.


Aku dan juga mama serta Sofi menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah rumah ku untuk melaksanakan acara pertunangan ku dan juga Rendi. Aku merasa grogi saat semua tamu yang hadir di sana menatapku.


"Aduh, kenapa mereka menatapku seperti itu sih? Apa ada yang salah dengan penampilanku malam ini?" Batin ku bertanya-tanya.


"Sofi, ma, Kenapa mereka semua menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Tanya ku kepada kedua wanita yang berbeda usia itu dimana mereka berada di sampingku.


"Gak ada yang salah kok mama dengan penampilan mama malam ini. Mereka menatap mama seperti itu karena mama terlihat sangat cantik malam ini" Jelas Sofi kepada ku berbisik.


"Iya sayang, benar apa yang di katakan Sofi tadi. Kamu benar-benar cantik malam ini" Jelas mama ku lagi.


Aku tersenyum malu mendengar ucapan dari kedua wanita yang berada di kedua samping ku itu.


"Masyaallah cantik sekali kamu. Aku jadi pangling lo" Puji Rendi kepada ku.


"Kamu bisa aja bang. Jangan terlalu memujiku seperti itu dong bang. Nanti malah aku terbang tinggi" Ujar ku sedikit bercanda kepada calon Suamiku itu agar aku tidak terlalu kelihatan grogi.


"Baik lah karena semuanya sudah berkumpul, maka kita akan mulai acara kita pada malam hari ini" Ujar pembawa acara.


Rangkaian demi rangkaian acara pertunangan kami telah terlaksanakan dengan sempurna.


"Selamat ya Fitri dan nak Rendi atas pertunangan kalian. Semoga acara pernikahan kalian nanti berjalan dengan lancar" Ujar mantan mama mertua ku. Yah aku memang mengundang mantan mama mertuaku dan juga papa mertuaku untuk hadir di acara pertunangan kami. Tak lupa Tian dan juga Susan pun aku undang untuk datang di acara pertunangan kami itu.


Tapi yang hadir hanya mama dan papa Tian. Sedangkan Tian tidak bisa hadir karena harus menunggu Susan yang sedang terbaring di rumah sakit.


"Maaf ya Fit, aku gak bisa hadir di acara pertunangan kalian di malam ini. Aku harus menunggu Susan yang sedang dirawat di rumah sakit saat ini" Pesan nya kepada ku saat aku mengundang nya untuk hadir di acara pertunangan kami itu.


"Ya, gak apa-apa aku mengerti kok dengan keadaan kamu sekarang. Semoga Susan cepat pulih ya" Balas ku kepada mantan suamiku itu.


"Iya, terima kasih atas doamu. Dan semoga acara pertunangan kalian berjalan dengan lancar. Dan semoga acara resepsinya pun nanti akan berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan apapun" Ucap Tian kepada ku.


"Aamiin, terima kasih ya Tian atas doamu" Balasku mengakhiri pesan singkat kami berdua.


"Terima kasih ya ma atas doanya untuk kami berdua" Ujar ku kepada mantan mama mertuaku itu.


Tidak hanya mereka semua para tamu yang hadir juga mengucapkan selamat atas pertunangan kami berdua.


***


"Alhamdulillah acara nya berjalan dengan lancar" Ujar mama ku dan juga papa ku saat kami berkumpul di ruang tamu dan saat para tamu hadirin telah pulang ke rumah nya masing-masing.


"Iya, pa Mama juga bersyukur karena acaranya telah berjalan dengan lancar. Semoga acara pernikahan nya nanti juga berjalan dengan lancar ya. Dan Semoga tidak ada hambatan sama sekali di acara pernikahannya Fitri dan juga Rendi nantinya" Doa mama ku.


"Aamiin itu lah yang kita harap kan semua" Ujar ku beserta saudara-saudaraku yang hadir di acara pertunangan kami itu.


"Ma, pa dan semua nya aku pamit untuk ke kamar dulu ya sudah malam juga. Kasihan Sofi nanti tidurnya kemaleman dan bisa-bisa dia telat nanti ke sekolahnya" Ujar ku berpamitan dengan keluargaku yang sedang ngumpul di ruang tamu rumah kedua orang tua kami itu.


"Iya nak, pergi lah bawa Sofi tidur. Gak baik juga dia bergadang malam-malam begini" Ujar mama ku mengizinkan.


Aku dan Sofi pun pergi ke kamar ku untuk beristirahat menghilangkan rasa lelah di tubuh karena seharian mempersiapkan rangkaian acara pertunangan kami.


***


"Alhamdulillah akhirnya aku dapat berbaring juga" Ucap ku menghempaskan tubuhku di atas kasur karena merasa lelah seharian.


Sofi pun mengikuti ku dan merebahkan tubuhnya di sampingku.


"Mama capek ya" Tanya gadis kecilku itu.


"Iya sayang, mama capek banget. Kaki mama terasa pegel juga" Ujar ku memijit kakiku yang terasa lelah karena seharian beraktivitas.


"Sofi pijitin ya mama. Biar pegel mama berkurang" Ucap nya lagi. Dengan penuh perhatian kepadaku.


"Terima kasih sayang, tapi nggak perlu kamu mijitin mama. Mama nggak apa-apa kok. Nanti dibawa istirahat juga pasti akan hilang pegelnya lebih baik sekarang kamu beristirahat ya" Ucap ku kepada putri kecilku itu.


"Tapi, katanya kaki mama pegel biar Sofi pijitin"


"Iya Kaki mama emang pegel. Tapi hari sudah larut seperti ini lebih baik kamu tidur karena besok kamu harus bangun pagi-pagi untuk ke sekolah. Ini sudah lewat waktunya kamu tidur loh sayang. Kamu tidur ya" Ucapku lagi dengan penuh kasih sayang kepada putri kecilku itu.

__ADS_1


"Iya deh jika itu mau mama Sofi akan turutin semua keinginan mama" Ucap nya lagi langsung berbaring di sampingku dan mencoba untuk memperjamkan matanya di malam ini.


__ADS_2