Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 15


__ADS_3

"Assalamualaikum" Terdengar suara ucapan salam dari depan pintu rumah kami.


"Waalaikumsalam" Jawab ku sambari membuka pintu. Terlihat gadis manis berambut panjang berdiri di depan pintu bersama dengan wanita dan pria paruh baya.


"Eh, mama, papa" Sapa ku mencium punggung tangan kedua mertua ku. Yah meski mereka sudah resmi bercerai tetap saja mereka kompak dan selalu bersama dalam mengurusi anak dan cucu nya.


Bukan kah kebanyakan orang seperti itu? Tidak bisa bersama bukan berarti tidak bisa untuk mengurusi anak-anak nya bersama bukan?


"Sayang mama" Kata ku lagi mencium kening gadis kecil itu dengan hangat dan kerinduan. Yah aku memang sangat rindu dengan gadis manis itu. Hampir dua bulan aku tidak bertemu dengan nya.


"Ayo masuk" Ajak ku.


"Tian, Tian" Teriak ku kepada suami ku.


"Coba deh kamu lihat siapa yang datang berkunjung" Kata ku lagi.


"Ayo ma, pa silahkan duduk" Tawar ku lagi.


Tian turun dari lantai atas rumah megah itu. Yah kebetulan hari ini hari minggu jadi dia libur bekerja. Jadi untuk hari ini dia ada di rumah selama dua puluh empat jam.


"Mama, papa" Ujar Tian mencium punggung tangan kedua mama dan papa nya.


"Ini malaikat kecil papa. Sudah lama tidak bertemu. Kangen sekali sama gadis kecil ini" Kata nya lagi langsung memeluk dengan hangat anak semata wayang nya itu.


"Oh ya, sebentar aku buatkan minuman dulu" Kata ku.


"Mau ikut. Sofi juga mau bantu mama" kata gadis manis itu.

__ADS_1


"Boleh dong, ayo kita buatkan minuman yang manis semanis Sofi anak kesayangan mama" Kata ku lagi mencubit gemes pipi tembam anak itu. Kami pun beranjak meninggalkan ketiga orang itu.


Setelah selesai kami membuat minuman, Aku dan Sofi pun kembali ke ruang tamu dan menyajikan minuman itu kepada mama, papa dan juga Tian.


"Papa, coba deh teh buatan Sofi. Pasti enak dan akan membuat papa ketagihan" Ucap nya penuh percaya diri.


"Mana? Sini papa cobain teh buatan gadis kecil papa ini" Jawab Tian. Sofi memberikan secangkir teh kepada papa nya.


"Gimana pa? Enak?" Tanya nya lagi setelah melihat Tian meneguk teh yang di sajikan nya.


"Iya enak, manis sama seperti anak papa yang manis ini" Ujar Tian memuji.


Sofi tersenyum senang berlari ke arah ku dan memeluk ku.


"Mama, kata papa enak teh buatan mama. Padahal yang buatin teh nya mama bukan Sofi. Sofi hanya temanin mama saja di dapur" Bisik gadis itu di telinga ku.


Aku tersenyum sambil mengajukan jempol ku kepada anak sambung ku itu.


"Tentu saja boleh. Sofi akan membuatkan teh yang super enak untuk papa Sofi" Ujar gadis itu tersenyum senang.


Mendengar percakapan kedua ayah dan anak itu kami pun tersenyum senang.


"Oh ya Tian, Fitri. Maaf kan papa ya, waktu pernikahan kalian kemaren papa tidak sempat untuk hadir. Banyak pekerjaan yang harus papa selesaikan secepat nya waktu itu" Jelas papa Tian merasa tidak enak hati.


"Gak apa-apa kok pa. Kami ngerti kok dengan kesibukan papa. Terlebih papa sedang membangun bisnis baru di luar kota. Tentu saja di sana papa akan sangat sibuk menyiapkan segala sesuatu nya" Ujar ku memberikan pengertian kepada papa mertua ku.


"Oh ya, Satu lagi yang mau papa sampaikan kepada kalian. Berhubungan papa sedang membangun pekerjaan di luar kota, dan papa juga akan menetap di sana secara papa sudah membeli rumah di sana. Jadi rumah ini akan papa hadiahkan kepada kalian. Dari pada rumah ini tidak di huni. Jadi alangkah baik nya jika rumah ini di tempati oleh kalian" Jelas papa tian lagi.

__ADS_1


"Beneran pa? Terus bagaimana anak-anak papa yang lain? Aku takut mereka akan komplen dan tidak setuju dengan keputusan papa ini" Ujar Tian merasa keberatan.


"Yah bukan apa-apa sih pa, aku hanya tidak mau nanti terjadi kesalahpahaman dan pertengkaran antara saudara-saudara ku" Tambah nya lagi.


"Untuk masalah itu kamu tenang saja. Papa sudah membagikan harta-harta papa secara adil kepada kalian anak-anak papa. Jadi papa yakin tidak akan terjadi pertengkaran kepada kalian nanti nya" Ujar papa Tian penuh keyakinan.


"Lagian kalian baru menikah dan belum mempunyai rumah sendiri bukan? Dulu sewaktu abang-abang mu dan kakak mu menikah papa sudah menyiapkan rumah untuk mereka untuk di tempati oleh keluarga kecil mereka masing-masing. Dan sekarang giliran kamu. Jadi papa rasa sudah adil kan hadiah pernikahan kalian berupa rumah mewah masing-masing" Jelas mertua ku itu.


Tian dan aku hanya tersenyum mendengar penjelasan dari papa mertua ku itu. Yah memang setiap anak-anak dari mertua ku sudah di berikan rumah mewah satu persatu setelah mereka menikah sebagai hadiah nya. Dan sekarang giliran Tian yang mendapatkan rumah itu.


"Jika memang ini sudah adil menurut papa, aku setuju-setuju saja" Ujar Tian.


"Oke dalam beberapa waktu ke depan kita akan rapat untuk pembagian saham kepada kalian masing-masing" Ujar papa Tian.


Tian mengangguk setuju.


"Oh ya Tian, apa istri mu ini sudah ada tanda-tanda hamil? Mama pengen banget menimang cucu dari kamu Fitri" Kata mama Tian. Mendengar itu aku terdiam dan memandang ke arah Tian. Tian hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Lo, kenapa? Apa kamu belum bisa terlepas dari candu mu?"


"Ma, kami menikah baru juga beberapa bulan. Jadi harap maklum ya ma jika belum ada rejeki nya. Semua itu kan butuh proses" Ujat Tian memberikan pengertian.


"Iya mama Tahu, tapi benar kan kamu sudah bisa terlepas dari candu mu itu kan Tian?" Tanya mama Tian meminta kepastian dari putra nya itu.


"Iya ma, aku masih dalam proses untuk melepaskan diri ma. Mama dan papa tolong doain aku ya semoga aku tidak terjerat lagi dengan benda itu" Ujar Tian.


"Bagus lah jika begitu Tian. Mama dan papa merasa senang mendengar nya. Mama dan papa hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian ya" Ujar mama Tian tersenyum senang.

__ADS_1


"Mama gak sabar menimang cucu lagi. Secara cucu mama semua sudah pada besar-besar. Mereka sudah sibuk dengan kegiatan nya sendiri. Yang paling kecil hanya Sofi dan sebentar lagi dia pasti juga akan sibuk karena sekolah nya" Ujar mama Tian lagi.


"Iya ma, doain saja ya ma" Ujar Tian.


__ADS_2