Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 65


__ADS_3

Aku menceritakan semua masalah keluarga kecil ku bersama Fia kakak sepupu ku. Yah saat ini aku ingin berbagi cerita untuk menghilangkan rasa bingung ku dalam mengambil keputusan yang tepat.


***


"Sayang, kamu gak ke sini untuk menjenguk Susan?" Tanya Tian saat menghubungi ku sore itu.


"Maaf sayang aku baru saja pulang dari pengajian. Capek juga mau ke sana. Lagian hari juga sudah sore. Kasihan Sofi di tinggal terlalu lama di rumah" Ujar ku memberi alasan.


"Oh ya sudah jika begitu, Maaf ya sayang malam ini kemungkinan aku akan menginap di rumah sakit lagi"


"Iya" Jawab ku singkat.


"Oh ya sayang, ternyata hasil dari pemeriksaan Susan di rumah sakit ini sama dengan yang di klinik itu. Tapi untung nya miom Susan masih kecil dan tidak terlalu berbahaya. Mungkin satu atau dua hari lagi Susan akan pulang" Jelas Tian padahal aku sama sekali tidak ingin mendengarkan keadaan madu ku itu. Terserah apa hasil nya, yang ku tahu saat ini hati ku sakit mendengarkan apa yang di jelaskan oleh Tian.


"Oh syukur lah jika begitu. Besok jika aku ada waktu, aku akan berkunjung ke sana" Ujar ku dengan berat hati.


"Oke sayang. Ya sudah aku tutup dulu ya telfon nya"


"Iya"


***


Meski perasaan ku sangat berat untuk menjenguk Susan di rumah sakit, tapi karena sudah janji kepada Tian maka aku pun terpaksa ke sana.


"Terima kasih ya Tian sudah merawat ku dengan baik. Aku beruntung mempunyai suami seperti kamu" Piji Susan kepada Tian saat suami nya itu selesai menyuapi nya makan siang.


Deg....


Hati ku kembali terasa teriris saat melihat adegan itu dari bali pintu saat ingin masuk ke ruangan Susan.


Terbayang kembali ketika aku hamil waktu itu. Memang Tian juga perhatian kepada ku, tapi tidak seperhatian nya kepada Susan saat ini. Hingga makan pun di suapi oleh nya.


Hingga pada saat Raffa di rawat di rumah sakit, Tian tidak sepeduli ini kepada anak nya sendiri. Bahkan dia meminta ku untuk menyerah saja. Rasa sakit di hati ku kini semakin besar membayang kan kejadian demi kejadian di hidup ku. Hingga aku pun berpikir bahwa Tian memang sudah mencintai Susan tidak kepada diri ku lagi.


"Begitu perhatian nya kamu Tian kepada Susan. Berbeda jauh antara aku dan Raffa. Meski aku tahu Susan saat sedang sakit, tapi tetap saja aku tidak terima jika Tian lebih perhatian kepada Susan seperti itu.


"Sekarang minum obat nya" Ujar Tian lagi memberikan obat yang harus di minum oleh Susan.


"Terima kasih ya Tian"


"Iya sama-sama. Sekarang kamu istirahat ya" Ujar Tian menyuruh Susan untuk berbaring di tempat tidur.


Sungguh rasa nya aku tidak sanggup melihat adegan itu. Hati ini kembali terasa di tusuk-tusuk. Hingga tidak ku rasa beberapa air bening kini mengalir di pipi ku.


Aku menarik napas ku dalam-dalam dan ku hembus kan kuat-kuat untuk menenangkan hati ku saat ini. Wanita mana yang rela di madu. Mungkin hanya satu dari seribu wanita yang sanggup hidup di madu. Aku menghapus air mata yang sempat mengalir di pipi ku dan berusaha mengikir senyuman di bibir ku.


"Selamat siang" Ujar ku membuka pintu ruangan itu.


"Sayang sudah tiba?" Tanya Tian.


Aku tersenyum kecut kepada nya.


"Bagaimana keadaan mu Susan?" Tanya ku.


"Sudah mendingan kok.. Mungkin besok sudah boleh pulang" Ujar nya lagi.


"Syukurlah jika begitu.. Oh ya ini aku bawain buah-buahan untuk kamu" Ujar ku menyerahkan buket buahan kepada Susan.


"Terima kasih ya Fitri.. Merepotkan saja"


"Gak apa-apa tidak merasa di repot kan kok" Ujar ku.


"Apa kamu mau makan buah juga? Aku bukain ya" Ujar Tian menawarkan kepada Susan.


"Nanti saja Tian, aku masih kenyang" Jawab Susan.


Aku yang duduk di Sofa yang ada di ruangan itu merasa tersentak dengan perhatian Tian kepada Susan.

__ADS_1


"Ya Allah seperti nya Tian memang tidak akan bisa bersikap adil. Aku tidak tahan seperti ini. Aku hanya lah manusia biasa dan bukan malaikat yang tidak mempunyai hati. Jelas hati ku merasa sakit saat ini melihat Tian dan Susan begitu mesra nya" Batin ku.


***


"Ada apa kamu ingin bertemu dengan ku?" Tanya Ustad Rendi. Aku mengajak ustad Rendi untuk ketemu di sebuah mesjid. Di mana Ustad Rendi baru selesai memberikan pengajian kepada murid nya yang jadwal pengajian hari ini.


"Maaf sebelum nya? Apa aku menganggu?" Tanya ku lagi.


"Gak, pengajian ku sudah selesai hari ini. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ustad Rendi lagi.


"Sebenarnya aku bingung harus menceritakan kisah ku dari mana. Tapi saat ini aku memang butuh penjelasan kepada Ustad Rendi"


"Panggil saja aku Rendi. Apa yang bisa saja bantu?"


Aku terdiam sejenak memikirkan dari mana awal mula yang harus aku ceritakan kepada Ustad itu.


"Apa boleh saya meminta cerai dari suami ku?"


Ustad Rendi menjadi kaget mendengar niat ku tadi.


"Cerai? Kenapa? Apa kah masalah di dalam keluarga mu sangat besar dan tidak bisa di perbaiki lagi?"


Aku terdiam sejenak memikirkan apa yang di katakan ustad Rendi tadi.


"Rasa nya aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi semua ini. Aku menemani suami ku dengan Bismillah dan kini aku juga akan melepaskan nya dengan Bismillah pula" Ujar ku lagi menunduk. Sungguh keputusan ini memang sangat berat untuk ku amb.il.


"Aku juga bingung harus menjelaskan nya bagaimana. Karena aku pun tidak tahu apa sebenarnya terjadi. Dan aku pun tidak memaksa kamu untuk menceritakan masalah keluarga mu kepada ku. Karena itu hak mu" Jelas ustad Rendi dengan lembut nya.


Aku menarik napas dalam-dalam dan ku hembuskan kuat-kuat untuk memulai cerita kepada Ustad Rendi.


"Begini, aku menikah dengan suami ku karena dia adalah cinta pertama ku" Aku mulai bercerita dari awal hingga akhir.


"Begitu lah cerita nya. Aku benar-benar tidak sanggup hidup di madu. Terlebih aku lihat suami ku itu tidak akan bisa bersikap adil kepada aku. Jelas dia akan lebih memperhatikan istri siri nya dari pada aku. Secara istri nya itu sedang sakit. Memang aku tidak boleh egois. Tapi tetap saja aku ingin suami ku seutuh nya" Jelas ku dengan menitikkan air mata.


"Sebenar nya jika kamu mau meminta pasak dari suami mu itu sah-sah saja. Terlebih kamu sudah tidak bisa menahan luka di hati mu karena ulah suami mu. Tapi apa kamu yakin ingin berpisah? Lebih baik kamu pikirkan baik-baik keputusan mu itu. Aku tidak mau kamu menyesal nanti nya" Nasehat ustad Rendi kepada ku.


"Begini saja, lebih baik kamu melakukan salat istikharah untuk meminta petunjuk dari Allah jalan yang mana yang harus kamu pilih untuk keluargamu dan juga kebahagiaanmu. Karena Allah lah sang maha pemberi petunjuk dan Dialah yang lebih tahu jalan yang terbaik untuk keluarga mu nanti" Nasehat ustad Rendi lagi.


"Saya tidak bisa memberikan jawaban kepada kamu. Karena yang menjalani semua ini adalah kamu. Hanya itulah yang bisa aku berikan kepada kamu" Tambah nya lagi.


"Baik lah terima kasih untuk nasehat nya. Jika begitu aku pulang dulu. Kasihan anak ku sudah menunggu lama" Ujar ku mengundur diri.


"Kasihan kamu Fitri. Sungguh besar cobaan yang kamu hadapi. Kamu sudah kehilangan anak mu, dan kini suami mu pun telah di rebut oleh orang lain. Semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk kamu. Dan semoga jalan itu akan membuat kamu bahagia nanti" Ujar ustad Rendi setelah melihat ku pergi.


Laki-laki itu merasa simpati kepada ku. Dia merasa kasihan dan iba kepada ku.


***


"Benar apa yang di katakan ustad Rendi. Aku harus melakukan salat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah. Dan semoga Allah akan memberikanku petunjuk secepatnya. Karena sejujurnya aku sudah tidak tahan untuk menghadapi semua ini" Kata ku kepada diri ku sendiri.


Di sepertiga malam aku terbangun dari tidurku mengambil wudhu untuk melakukan salat istikharah. aku juga tidak tahu kenapa aku bisa lupa seharusnya aku menceritakan semua salahku kepada Allah yang Maha Pencipta dan sang Maha Pemberi Petunjuk karena dialah yang tahu segala yang terbaik untukku dan juga keluargaku.


"Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosa ku. Saat ini. Hati ku sangat rapuh. Aku butuh petunjuk dari mana untuk menghadapi semua ini tolong berikanlah aku jalan yang terbaik dalam menghadapi masalah di keluargaku" Doa ku setelah selesai melakukan solat istikharah.


"Aku tidak mampu untuk membagi suami kepada siapapun. Hatiku hancur, hatiku sakit melihat mereka berdua seperti ini. Terlebih aku mendengar sendiri jika Tian tidak akan pernah meninggalkan Susan dalam keadaan apapun. Itu artinya semua omongan yang dikatakan Tian itu berbohong" Doa ku lagi sambil menangis.


"Tolong berikan lah aku petunjuk ya Allah. Aku yakin jalan yang Engkau berikan adalah jalan yang terbaik" Ujar ku lagi mengakhiri doa ku di malam itu.


***


"Mama, papa masih di rumah sakit menemani tante Susan?" Tanya Sofi saat kami sedang sarapan bersama.


"Iya sayang"


"Kenapa sih papa terus-terus saja menemani tante Susan? Apa papa nggak sayang lagi sama kita? Kenapa kita selalu tinggal terus sama papa?" Ujar gadis kecil itu dengan wajah yang sedih.


"Kok ngomongnya begitu sih sayang? Papa sayang kok sama kita. Hanya saja saat ini tante Susan sedang membutuhkan papa"

__ADS_1


"Bukannya ada nenek yang bisa menemani tante Susan di sana? Lagian apa salahnya sih papa pulang sebentar untuk melihat keadaan kita. Ini papa sama sekali tidak pulang. Sepertinya papa lebih sayang sama tante Susan dan adik yang ada di dalam kandungan tante daripada kita. Sofi benci sama papa" Ujar nya lagi dengan rasa kecewa di hati nya.


"Sayang, kenapa ngomong seperti itu sih Nak. Nggak boleh berbicara seperti itu kepada papa. Nanti jika papa dengar gimana? Pasti dia akan merasa sedih" Nasehat ku lagi memberikan pengertian kepada putri ku.


Meski aku pun merasa hal yang sama seperti apa yang di rasakan putri sambung ku itu. Tapi tetap saja aku harus memberikan nya pengertian tidak mengompori nya. Meski jika di turut rasa hati ingin sekali aku menceritakan tentang perasaanku kepada putri sambungku itu untuk meluahkan rasa sakit hati yang aku rasakan saat ini terhadap papanya.


Tapi aku masih memikirkan perasaan dan psikolog putriku itu. Dan aku tidak mungkin membuatnya untuk benci kepada papa kandungnya sendiri.


"Sayang, kamu harus mengerti keadaannya sekarang yang seperti apa. Apa kamu nggak kasihan sama tante Susan yang sedang sakit saat ini? Dan kita yang sehat harus memberi support kepada dia agar tante kamu cepat sehat" Ujar ku tersenyum ramah.


"Iya ma. Maafin Sofi ya ma" Ujar nya merasa bersalah.


"Ya Allah apa jadi nya jika aku berpisah dari Tian. Bagaimana keadaan Sofi nanti nya.. Dia begitu sayang kepada ku dan mendengar semua nasehat ku. Aku juga tidak bisa membayangkan jika aku harus berpisah dari putri sambungku ini yang sangat aku sayangi" Batin ku merasa sedih memikirkan hal yang buruk akan terjadi kepada keluarga.


"Tapi aku juga tidak mau hidup terus-terusan di madu. Ya Allah tolong lah diri ku. Apa yang harus aku lakukan" Doa ku lagi dalam hati.


"Oh ya ma, lusa akan di adakan lomba di sekolah. Lomba lukis, dan Sofi ikut lomba itu. Kata buk guru orang tua juga bisa hadir di acara itu untuk memberi dukungan kepada para peserta yang ikut lomba. Apa mama bisa hadir?" Tanya Sofi penuh Harapan.


"Bisa dong sayang. Jelas mama bisa. Mama akan usahain untuk bisa hadir di acara Sofi besok. Dan mama akan memberikan dukungan yang sepenuhnya kepada putri mama yang cantik ini" Ujar ku tersenyum.


"Tapi, apa papa bisa hadir ya ma di acara itu. Sofi juga pengen papa hadir untuk memberi dukungan kepada Sofi. Jika papa juga ikut hadir, pasti Sofi akan semakin semangat dan Sofi yakin akan menang" Ujar nya lagi penuh keyakinan.


"Pasti sayang. Pasti papa akan datang di acara itu. Dan pasti papa akan memberikan dukungan kepada Sofi" Ujar ku lagi.


"Nanti mama akan bilang sama papa ya untuk meluangkan waktu agar bisa hadir di acara nya kamu" Tambah ku lagi.


"Benar ma?"


"Iya sayang"


"Asyik.... Pasti Sofi akan semakin semangat karena kehadiran mama dan papa"


Gadis kecil itu tampak senang sekali karena membayangkan kedua orang tuanya akan hadir di acara perlombaannya itu.


"Pasti Tian akan hadir di acara itu. Nggak mungkin dia nggak hadir di acara anaknya sendiri. Terlebih anaknya meminta support darinya. Dia nggak mungkin mengecewakan anak semata wayang nya ini" Batin ku.


***


"Tian, apa Susan jadi pulang hari ini?" Tanya ku saat aku menghubungi Tian.


"Iya, nanti siang dia akan keluar dari rumah sakit"


"Oh syukur lah jika begitu. Itu arti nya besok kamu gak perlu untuk menjaga Susan lagi kan?"


"Iya besok aku akan pulang ke rumah. Dan sesekali aku akan tetap menjenguk Susan di rumah nya"


"Hmm... "


"Kok gitu respon nya? Apa kamu tidak suka aku menjenguk Susan?"


"Gak, bukan begitu. Hanya saja kamu bisa kan memberikan sedikit waktu mu untuk Sofi besok?"


"Sofi? Emang nya ada apa?"


"Besok di sekolah Sofi akan di adakan perlombaan. Dan Sofi ikut lomba melukis. Para orang tua di harapkan hadir untuk memberikan support kepada anak-anaknya agar mereka semakin semangat untuk mengikuti lomba itu" Jelas ku.


"Apa kamu bisa hadir besok?" Tanya ku lagi.


"Oh, jelas dong aku bisa hadir di sana. Aku akan memberikan support dan semangat kepada putri kecilku itu"


"Syukur lah jika kamu bisa hadir. Sofi pasti akan senang karena kehadiran kamu di sana" Ujar ku lagi.


"Ya sayang. Tapi untuk malam ini, aku masih menemani Susan ya di rumah nya. Gak masalah kan sayang?"


"Jika aku mengatakan tidak boleh, apa kamu akan menuruti nya?" Batin ku.


"Sayang kok diam. Apa kamu marah?"

__ADS_1


"Gak kok. Gak masalah bagi ku. Ya sudah besok ketemu di sekolah nya Sofi ya" Ujar ku menutup ponselku.


__ADS_2