Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 107


__ADS_3

Kami pergi ke hotel yang telah kami tentu kan untuk memboking tempat tersebut sebagai tempat acara pernikahan kami. Aku sengaja memilih tempat itu untuk mengingat momen kami bertemu dulu.


"Ini Function room nya pak" Ujar Manager Hotel itu memperlihatkan function room untuk tempat acara pernikahan kami.


Yah, ruangan itu tampak begitu luas dan juga rapi. Memang cocok untuk tempat acara di sana. Namanya juga hotel berbintang lima. Jelas semuanya terlihat luas dan juga bagus. Dan fasilitasnya tentu saja lengkap.


"Baik lah, kami setuju dan sepakat untuk membooking tempat ini sebagai acara pernikahan kami" Ujar Rendi kepada manajer hotel tersebut.


"Baik lah jika begitu, kami akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara pernikahan bapak dan juga Ibu Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan"


"Baik, Terima kasih atas kerjasamanya" Ujar manager hotel itu lagi dan bersalaman kepada kami berdua.


***


"Sayang mau nonton film apa?" Tanya Rendi kepada putri kecil ku itu saat kami tiba di bioskop.


"Film kartun ya pa. Sofi mau nonton film Moana" Jelas nya.


"Oke sebentar ya papa belikan tiket nya dulu sekalian beli cemilan nya. Kalian tunggu di sini" Ujar Rendi meminta aku dan Sofi menunggu nya di kursi yang tidak jauh dari ruangan bioskop tempat akan kami masuki nanti.


"Ayo sayang kita masuk" Ujar Rendi setelah membeli tiket dan cemilan untuk kami tadi.


Kami pun masuk ke ruangan tempat menonton Film Moana yang akan di putarkan sebentar lagi. Gadis kecil itu terlihat sangat bahagia karena keinginan nya telah terpenuhi. Terlebih saat ini dia merasa seperti keluarga yang utuh karena aku dan Rendi memperlakukan nya seperti anak sendiri.


Dengan perasaan yang bahagia, gadis kecil itu menggandeng tangan ku dan juga Rendi untuk masuk bersama-sama ke dalam ruangan bioskop tersebut.


***


"Ma, apakah Sofi kembali dititipkan kepada Fitri lagi oleh Tian. Karena tidak ada yang menjaganya di rumah?" Tanya Susan kepada mama nya saat giliran mama nya yang menjaga Susan di rumah sakit. Yah seperti waktu itu Tian dan mama Susan bergiliran untuk menjaga Susan di rumah sakit.


"Iya, harus bagaimana lagi Sofi gak ada yang jagain"


"Aduh ma, kenapa mama membiarkan saja Sofi kembali bersama Fitri? Bisa-bisa Tian dan Fitri akan selalu bertemu dan hal itu akan mengakibatkan rasa mereka kembali tumbuh. Apalagi saat ini aku tidak bisa memberikan keturunan kepada Tian. Pasti ada saja alasan Tian untuk meninggalkanku nanti" Jelas Susan masih berpikir buruk tentang suami nya itu.


"Bagaimana mama bisa mencegah nya. Secara mama juga gak bisa menjaga Sofi karena harus menjaga mu. Dan di rumah saat Sofi bersama bik Ina, pasti bik Ina akan selalu sibuk di dapur" Jelas wanita paruh baya itu kepada putrinya.


"Lagian, si nenek lampir itu kemarin juga ada di sini dan dia mendukung Tian untuk menitipkan Sofi kepada Fitri. Karena itu mama nggak bisa berbuat apa-apa dan menuruti aja kemauan Tian"


"Maksud mama, mamanya Tian"


"Iya si tua bangka itu. datang-datang ke sini hanya membuat rusuk dan mencari keributan saja. Mama benar-benar merasa kesal dengan wanita itu. Untung saja ada papa nya Tian, kalau gak mungkin kami sudah bergelut di sini"


"Aduh mama, gak bisa apa mama mengalah saja sama mertua ku itu"


"Iya bisa si mama mengalah tapi lama-lama mama juga nggak tahan dibilang yang nggak-nggak olehnya. Terlebih lagi dia merendahkan kamu. Ya mama nggak terima lah anak mama direndahkan seperti itu" Ujar wanita paruh baya itu lagi kepada putrinya.


"Mama juga bilang sama dia untuk berpikir sebelum berbicara. Karena sebenarnya Tian lah yang telah membawa sial di dalam kehidupan setiap istri-istrinya"


"Maksud mama apa?"


"Ya coba kamu pikir, dulu sama kakakmu si Santi sampai meninggal dunia saat menikah dengan Tian. Terus Fitri juga mengalami hal yang buruk seperti kandungan nya bermasalah lah bahkan anak nya sampai meninggal. Dan sekarang kamu juga mengalami hal yang serupa. Yah mama sih bermaksud mengatakan hal itu kepada mama mertuamu itu untuk menyadarkan dia agar dia tidak menyalahkan kamu sepenuhnya dalam hal ini. Dan juga untuk membuatnya berpikir bahwa Tian juga salah dalam hal ini. Eh, bukannya dia berpikir terbuka tentang hal ini dan bisa menerima kamu, malah dia meminta kamu untuk berpisah dengan Tian secepatnya jika takut mengalami kesialan lagi. Mama bener-bener heran deh sama mama mertuamu itu. Terbuat dari apa sih hatinya?" Ujar wanita paruh baya itu lagi.


"Ya sudah lah ma, jangan di pikirkan lagi masalah itu. Yang jelas aku gak akan pergi dari kehidupan Tian. Aku akan selalu bersama Tian dalam keadaan apa pun" Jelas Susan penuh dengan keyakinan.


"Saat ini aku harus sembuh. Aku harus keluar dengan cepat dari rumah sakit ini. Karena aku mau Sofi kembali kepadaku sehingga tidak ada alasan lagi untuk Tian bertemu dengan Fitri secara terus-menerus" Ujar Susan penuh keyakinan.


"Aku gak mau memberikan mereka peluang sedikit pun untuk bersama meskipun ada Sofi" Tambah nya lagi. Yah wanita itu selalu berpikir bahwa aku akan selalu merebut Tian darinya. Dia sangat takut kehilangan suami nya itu. Padahal aku sama sekali tidak pernah sedikit mu terlintas untuk merebut mantan suami ku itu dari nya. Yah bagiku kisah cintaku dan Tian sudah selesai semenjak kami memutuskan untuk berpisah.


"Selamat pagi ibu Susan" Sapa dokter yang masuk untuk memeriksa keadaan wanita itu.


"Selamat pagi dok" Jawab kedua ibu dan anak itu.


"Bagaimana keadaan ibu Susan pagi ini? Apa sudah merasa baikan?"


"Ya dok, pagi ini tubuh saya merasa sedikit enakan"

__ADS_1


"Syukurlah. Sebentar ya buk kita periksa dulu" Ujar dokter tadi mulai memeriksa keadaan Susan.


"Jahitan operasi nya pun terlihat bagus ya buk, sudah mulai mengering. Besok ibu sudah di perbolehkan pulang" Ujar dokter itu lagi.


"Ya dok terima kasih ya dok"


"Ya sama-sama buk. Saya permisi dulu" Ujar dokter tadi keluar dari ruangan Susan.


"Syukurlah ma aku sudah di perbolehkan pulang. Dengan begitu aku akan segera meminta Tian untuk menjemput Sofi" Ujar Susan lagi.


"Iya nak, syukurlah. Setelah ini, kamu harus bisa menjaga penampilan kamu. Kamu harus merawat diri agar suami mu tidak berpaling ke wanita lain" Ujar mama Susan.


"Iya ma, mama tenang saja. Aku gak akan membiarkan Tian untuk di rebut sama siapa pun. Tian hanya milik ku"


"Bagus lah jika begitu. Mama akan selalu mendukung mu" Ujar wanita paruh baya itu.


***


Tian tiba di rumah sakit untuk bergantian menjaga Susan setelah dia pulang dari kantor nya.


"Sayang sudah pulang?" Ujar Susan melihat suami nya masuk ke ruangan nya.


"Iya, bagaimana keadaan mu?" Tanya Tian.


"Sudah enakan kok. Dan kata dokter aku sudah boleh pulang besok"


"Syukurlah jika kamu sudah di perbolehkan pulang"


"Karena Tian sudah tiba, mama pulang dulu ya" Ujar wanita paruh baya itu Pertamina kepada anak dan menantunya.


"Iya ma, hati-hati di jalan ya" Ujar Tian dan Susan.


Wanita paruh baya itu pun keluar dari ruangan Susan dan pulang ke rumah Tian.


"Tian, kamu kenapa menitipkan Sofi kepada Fitri sih? Bukan kah kamu sudah janji sama aku kalau kamu gak akan mengantarkan Sofi ke rumah Fitri lagi" Tanya Susan kepada Tian.


"Tapi kan Tian, mama ada untuk menjaga Sofi"


"Mama kan menjaga kamu juga di rumah sakit ini hingga aku pulang kerja. Dan gak mungkin kan aku meminta mama untuk membawa Sofi ke rumah sakit. Sedang kan kamu tahu sendiri bahwa anak-anak di bawah usia dua belas tahun di larang untuk ke rumah sakit ini" Jelas Tian lagi.


Sofi tampak terdiam mendengar ucapan dari suami nya itu.


"Benar juga sih apa yang di katakan Tian. Ya sudah lah jika begitu. Mau marah atau apa pun itu semua ini sudah terjadi. Yang penting besok aku sudah boleh pulang dan Sofi harus kembali bersama ku" Batin Susan.


"Tian besok aku sudah di perbolehkan pulang, kita jemput Sofi ya" Pinta Susan mencoba merayu agar Tian tidak tersinggung nanti nya.


"Beberapa hari lagi saja kita jemput Sofi nya ya. Gak enak jika kita menjemput Sofi secepat itu"


"Gak enak gimana sih Tian?"


"Ya gak enak saja San, secara ketika dalam kesusahan aku meminta bantuan sama Fitri untuk menjaga Sofi. Setelah semuanya membaik dengan cepat kita menjemput Sofi. Yah kita membutuhkan Fitri dalam kesusahan saja. Sedangkan ketika tidak dalam kesusahan kita menjadikan nya musuh" Jelas Tian.


"Aku gak enak hati jika seperti itu" Ujar nya lagi.


"Aku tahu kamu pasti merasa aku sering menghubungi Fitri atau pun sering bertemu dengan Fitri dengan alasan untuk menanyakan kabar Sofi. Tapi aku tidak pernah melakukan hal yang kamu pikirkan itu. Aku menjaga perasaan mu. Jadi aku minta tolong sama kamu, jangan pernah kamu berpikir demikian lagi kepada ku" Ujar Tian.


"Seandainya pun benar aku yang masih mempunyai perasaan kepada Fitri, tapi Fitri tidak akan pernah mau kembali kepada ku. Karena saat ini dia sudah menjadi tunangan orang. Dan Sebentar lagi mereka akan menikah. Jadi kamu jangan berpikir yang buruk terhadap Fitri dan aku" Tambah Tian lagi.


"Fitri sudah bertunangan?"


"Iya dia sudah bertunangan beberapa hari yang lalu. Aku tidak bisa hadir di sana karena harus menjaga mu di sini" Jelas Tian.


"Syukurlah jika Fitri sudah bertunangan. Dan dia sebentar lagi akan menjadi istri orang. Jadi hati ini akan tenang dan tidak perlu selalu ketakutan dan was-was seperti ini" Batin Susan tersenyum senang.


"Namun, meski Fitri sudah menikah nanti nya, aku harus tetap was-was karena bisa saja wanita lain yang akan merebut Tian dari ku" Batin Susan lagi.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" Tanya Tian.


"Belum sih Tian"


"Ya sudah aku suapin ya"


Susan mengangguk setuju. Tian pun menyuapi istri nya itu hingga makanan nya habis.


"Ini obat nya" Ujar Tian menyerahkan obat yang harus di minum oleh Susan. Susan pun meminum obat tersebut.


***


"Selamat pagi sayang mama" Sapa ku kepada putri kecil ku itu saat ku lihat diri nya telah bangun dari tidur nya.


"Pagi mama" Jawab nya menggosok-gosok mata nya yang masih terasa berat.


"Ayo siap-siap mandi dan sarapan. Nanti telat ke sekolah nya lo" Ujar ku dengan lembut.


"Iya ma" Jawab Sofi.


"Ya sudah, mama siapin sarapan nya dulu ya untuk putri kesayangan mama ini. Nanti setelah selesai bersiap-siap, Sofi langsung ke bawah ya sayang"


"Oke mama" Jawab nya langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Aku pun langsung mengemas tempat tidur ku itu setelah Sofi membersihkan diri. Setelah selesai baru lah aku pergi ke dapur untuk mempersiapkan sarapan untuk putri kecil ku itu.


***


"Wah, cantik dan wangi sekali anak mama" Sapa ku saat melihat Sofi datang menghampiri ku.


"Iya cucu nenek memang cantik" Ujar mama ku pula.


Mendengar aku dan mama ku memujinya, gadis kecil itu pun tersenyum bahagia. Di rumah ku itu dia di perlakukan memang seperti keluarga inti. Meski pun aku dan Tian tidak bersama lagi, tetap saja aku dan keluarga ku menganggap Sofi sebagai keluarga inti kami. Yah anak seusia Sofi tidak mempunyai salah apa pun. Dan dia tidak pantas untuk di buat musuh karena dia tidak tahu apa-apa.


"Ayo sayang duduk di sini mama ambilin sarapan nya ya" Ujar ku. Sofi duduk di tempat yang telah aku sediakan.


"Kakek mana ma?" Tanya nya karena tidak melihat papa ku bersama kami.


"Oh kakek, sedang olahraga lari maraton palingan sebentar lagi akan pulang" Jawab mama ku.


"Wah, lari maraton. Sofi boleh ikut?"


"Tentu saja boleh sayang. Tapi nanti ya ketika hari minggu. Sofi kan tidak sekolah baru bisa ikut kakek lari maraton. Jika waktu sekolah gak boleh sayang, nanti Sofi malah telat ke sekolah nya" Jelas ku.


"Iya juga sih ma. Ya sudah hari minggu besok, Sofi mau ikut kakek ya lari maraton nya"


"Oke sayang mama juga akan ikut bersama Sofi dan juga kakek. Jika lari nya ramai-ramai, pasti lebih seru" Ujar ku lagi.


"Iya ma, nenek ikut juga dong"


"Gak sayang, nenek di rumah saja. Capek lari-lari itu" Jelas wanita paruh baya itu.


"Ya sudah sarapan dulu ya. Setelah itu kita pergi ke sekolah" Ujar ku.


"Iya mama" Sofi langsung menyodorkan sesuap demi sesuap nasi goreng yang telah aku sediakan untuk putri kecilku itu.


Aku dan juga mamaku pun ikut makan bersamanya. Tak lama papaku pun pulang dari olahraga maraton nya.


"Wah sudah pada sarapan saja nih. Gak nunggu kakek lagi" Protes papa ku.


"Habis nya nasi goreng buatan mama bau nya enak si kek. Jadi nya membuat selera makan Sofi lapar dan gak bisa menahan nya. Jadi Sofi sarapan duluan deh" Ujar Sofi.


"Wah, kalau begitu kakek juga mau dong nasi goreng buatan mama Fitri. Kebetulan kakek juga merasa lapar karena energi kakek telah terkuras. Boleh kan?"


"Boleh dong kakek. Pasti nanti kakek akan lahap memakan nasi goreng buatan mama dan pasti akan meminta lagi"

__ADS_1


Aku dan mama ku hanya tersenyum mendengar Sofi yang terus-terusan memuji ku seperti itu.


__ADS_2