
Ingin rasa nya gadis kecil itu mengatakan apa yang di Susan lakukan kepada nya tadi. Tapi dia takut mengatakan sejujurnya karena di ancam oleh mama tiri nya itu.
"Kok diam sih sayang?"
"Sofi hanya kangen sama mama pa" Ujar nya berbohong.
Tian tersenyum mendengar ucapan gadisnya itu. Dia tahu bahwa Sofi sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Namun dia tidak mau memaksa gadis itu untuk bercerita kepadanya. Ia akan sabar menunggu hingga gadis itu tiap menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya sudah, sekarang Sofi ke kamar ya bersih-bersih sudah mulai gelap" Ujar Tian.
Sofi pun langsung berlari menuju kamar nya tampa di minta untuk yang ke dua kalinya oleh papa nya.
"Ada apa sebenar nya sama putri kecil ku itu. Kenapa dia seperti menyembunyikan sesuatu ya?" Batin Tian bertanya-tanya.
***
"Bik, apa bibi tahu apa yang terjadi sama Sofi? Kenapa anak itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu ya?" Tanya Tian mencoba untuk mencari tahu.
"Hmm.... Anu pak, itu"
"Ada apa bik?"
"Maaf pak, sebenar nya tadi non Sofi di marahin sama buk Susan lantaran parfum yang di beli oleh nya pecah. Non Sofi tidak sengaja menjatuhkan parfum itu pak" Jelas bik Ina meski dengan takut ia menceritakan hal yang sebenar nya kepada majikan nya itu.
Tian terdiam mendengar apa yang di katakan oleh pembantunya itu.
"Seperti nya Susan sekarang benar-benar berubah. Sudah tiga kali dia berbuat kesalahan terhadap Sofi. Ini tidak bisa aku biar kan. Padahal Sofi itu adalah keponakan nya juga. Bagaimana bisa dia setega itu kepada keponakan nya?" Batin Tian.
"Maaf pak, saya permisi mau melanjutkan pekerjaan lagi" Ujar bik Ina.
Tian mengangguk memberi izin.
"Jika seperti ini terus, Sofi malah akan semakin jauh dari ku. Dan dia malah lebih dekat dengan Fitri" Batin Tian lagi.
***
"Pak Rendi" Tegur ku saat pak Rendi datang ke cafe yang kami dirikan sama-sama.
__ADS_1
"Buk Fitri" Jawab nya.
"Ada yang mau saya sampaikan kepada bapak"
"Ada apa?"
"Sebaiknya kita bicarakan ini di ruangan saya saja pak. Gak enak nanti jika di dengar oleh karyawan" Ujar ku.
Pak Rendi pun setuju dah mengikuti ku ke ruangan ku.
***
"Ada apa?" Tanya pak Rendi setelah kami tiba di ruangan ku.
Aku mencoba untuk mengatur napas ku yang tak karuan saat ingin menyampaikan apa yang mau ku katakan tadi.
"Hmm... Begini pak Rendi. Aduh bagaimana ya?" Ucap ku gelisah.
"Ada apa buk? Kelihatan nya gelisah sekali" Ujar nya melihat ku gelisah dan tidak tahu harus ngomong nya di mulai dari mana.
"Maksud ibu, ibu menerima lamaran saya?"
Aku mengangguk.
"Maaf ya pak, jika saya memberikan jawaban nya terlalu cepat. Ini belum sampai waktu nya saya sudah memberikan jawaban nya" Ujar ku.
"Alhamdulillah buk, saya senang mendengar nya. Ini lah yang saya harapkan. Saya selalu berdoa dengan menyebut nama ibu di setiap solat. Ternyata Allah maha baik. Dia telah mengabulkan doa saya" Ujar pak Rendi.
"Dalam waktu secepatnya saya akan membawa keluarga saya untuk meminang ibu Fitri menjadi pendamping hidup saya" Jelas pak Rendi. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.
"Mama... " Teriak Sofi masuk ke ruangan ku langsung memeluk ku.
"Sayang, kok bisa ada di sini? Sama siapa?" Tanya ku membalas pelukan putri ku itu.
"Sama kakek ma. Tadi papa mengantar Sofi ke rumah nenek. Tapi mama gak ada katanya mama di cafe, maka nya Sofi meminta kakek mengantar kan Sofi ke sini" Jelas nya kepada ku.
"Sofi kangen sama mama. Sofi boleh kan nginap di rumah mama lagi?" Tanya gadis itu.
__ADS_1
"Boleh dong sayang. Rumah kakek dan nenek akan selalu terbuka untuk Sofi. Tapi bukankah saat ini jadwal Sofi masih bersama papa"
Gadis kecil itu kembali menunduk dengan raut wajah yang sedih membuat aku tidak enak untuk melanjutkan pertanyaan kepadanya.
"Ya sudah, Sofi sudah makan belum? Oh ya kakek mana?" Tanya ku mengubah topik pembicaraan agar gadis itu tidak sedih lagi.
"Sofi belum makan kok ma, tadi setelah pulang sekolah Sofi langsung di antar papa ke rumah kakek. Dan kakek lagi di luar ada ngobrol sama teman nya" Jelas putri ku itu.
"Oh gitu ya sudah ayo kita makan dulu. Sudah waktu nya makan siang juga ini. Mari pak Rendi" Ajak ku lagi kepada pak Rendi.
***
"Pa, dari mana saja baru nongol" Tanya ku ketika melihat lelaki paruh baya itu baru masuk ke cafe ku.
Pak Rendi yang melihat kehadiran papaku langsung mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu.
"Ternyata ada nak Rendi juga di sini" Ujar papa ku.
"Itu di depan tidak sengaja papa bertemu dengan teman sekolah papa dulu. Jadi ya kami ngobrol-ngobrol di sana" Jelas papaku itu.
"Kenapa tidak dibawa masuk saja sih pa ke cafe ini? Dari pada ngobrol di luar lebih enak ngobrol di dalam cafe"
"Dia nya lagi buru-buru. Katanya ada urusan penting yang harus di selesaikan. Jadi ya kami nggak bisa ngobrol terlalu lama"
"Tadi Tian ke rumah dan mengantar Sofi. Katanya Sofi mau menginap di rumah kita. Terus dia langsung pergi. Kata nya ada urusan kantor yang harus diselesaikan secepatnya" Jelas papa ku.
"Oh gitu, ya udah gak apa-apa. Aku malah senang jika Sofi terus-terusan nginap di rumah kita. Jadi ada teman tidur aku nya" Ujar ku tersenyum senang.
"Ya sudah, Sofi, mau ikut kakek pulang atau tetap di sini?" Tanya papa ku kepada Sofi yang masih asyik menyantap makanan yang ku sajikan untuk nya tadi.
"Gak apa-apa pa, Sofi nanti pulang nya bersama ku saja" Ujar ku.
"Ya sudah papa pulang dulu. Nak Rendi pulang dulu ya"
"Iya om hati-hati di jalan ya" Ujar nya kepada papa ku.
Papaku hanya mengajukan jempolnya sebagai jawaban dari perkataan pak Rendi tadi.
__ADS_1