
Tian menyetir mobil nya dengan rasa bersalah di hati nya. Harus nya ia tidak melakukan hal yang buruk itu lagi kepada Susan. Terlebih saat anak nya sekarat saat itu. Dia malah asyik-asyikan bertukang dengan selingkuhan nya itu.
"Maaf kan papa Raffa. Maaf kan papa" Ujar nya lirih penuh dengan kesedihan di hati nya.
***
Tian berlari ke saat ia sudah tiba di rumah sakit. Ia berlari secepat nya ke ruangan Raffa di rawat.
Terlihat di sana ada aku, orang tua ku dan juga orang tua nya Tian sudah hadir di sana.
"Raffa" Ujar nya lirih melangkah dengan tertatih mendekati tubuh mungil yang sudah tidak bernyawa itu.
"Sayang papa, maaf kan papa nak. Papa gak ada di samping kamu di saat-saat terakhir mu" Ujar nya lagi memeluk tubuh mungil itu dan mencium nya.
"Yang sabar ya nak, ikhlas kan Raffa saat ini dia sudah tidak sakit lagi" Ungkap papa Tian menepuk-nepuk pundak anak nya.
"Aku merasa bersalah pa. Aku banyak bersalah kepada putra ku" Ucap Tian lagi menangis sejadi-jadi nya.
Sungguh laki-laki itu sangat merasa bersalah dengan kepergian Raffa. Di mana saat Raffa di rawat dan berjuang melawan penyakit nya, ia malah meminta aku untuk menyerah dan tidak mau berjuang bersama-sama untuk kesembuhan Raffa. Dan di tambah saat Raffa sedang kritis dia malah enak-enakan bercumbu dengan Susan tampa menghiraukan aku yang terus-terusan untuk mengabari Raffa sedang kritis.
Namun, semua sudah terlambat Raffa telah pergi untuk selama nya. Mau di ulangi kembali pun tidak ada gunanya.
"Sayang" Tian datang mendekati ku. Memeluk ku dengan rasa penyesalan di hati nya.
"Maaf kan aku sayang. Aku gagal, aku gagal sebagai seorang ayah dan suami" Ucap nya lagi. Sebenar nya aku merasa janggal dengan ucapan nya barusan. Namun, rasa kesedihan du hati ini membuat aku enggan untuk bertanya lebih lanjut.
***
Aku duduk lemah di sofa yang berada di ruangan tamu saat acara pemakaman Raffa telah selesai. Sungguh aku belum bisa terima kepergian putra ku. Masih terbayang dengan jelas raut wajah nya di ingatan ku. Rasa nya aku ingin gila mengingat semua kesedihan di hati ini.
"Sayang, ayo makan sedikit. Dari tadi kamu belum makan lo, nanti kamu sakit" Ujar Tian menyodorkan sesuap nasi ke dalam mulut ku.
"Gak Tian, aku belum lapar" Ucap ku masih dengan tatapan kosong ke arah depan.
"Ayo lah sayang makan sedikit saja. Nanti kamu bisa sakit sayang" Ujar nya lagi.
"Mama" Ujar Sofi datang mendekati ku.
Aku memeluk tubuh gadis kecil itu dan mencium puncak kepala nya.
"Sayang maaf kan mama ya. Mama begitu sibuk dengan kesembuhan adik Raffa sampai-sampai mama lupa dengan mu. Maaf kan mama" Ujar ku kembali memeluk tubuh itu dengan erat nya.
"Gak apa-apa kok ma. Adik Raffa lebih membutuhkan mama dari pada Sofi. Mama jangan sedih lagi. Pasti adik Raffa sudah bahagia di surga" Ujar nya.
Aku tersenyum kecut mendengar ucapan dari gadis kecil yang ada di pangkuan ku itu.
"Mama jangan sedih lagi ya" Ulang nya lagi menghapus air mata ku.
"Terima kasih ya sayang sudah memberikan semangat kepada mama. Mama beruntung memiliki anak sepintar dan sebaik kamu" Ujar ku lagi.
Sofi tersenyum senang mendengar aku memuji nya seperti itu.
"Mama Sofi janji Sofi akan selalu jagain mama. Mama gak sendirian kok" Ucap nya lagi.
Aku kembali tersenyum dan memeluk tubuh putri ku itu.
***
"Tian" Susan menarik Tian ke dalam kamar nya saat Tian baru saja lewat di depan kamar nya.
Susan menutup pintu kamar nya dan mengunci nya.
"Ada apa?" Tanya Tian bingung dengan sikap Susan saat ini.
Susan memeluk tubuh Tian dengan erat.
Pelukan itu di tepis oleh Tian.
"Kamu apa-apaan sih San. Kamu tahu saat ini aku sedang berkabung karena kepergian Raffa. Kamu ngapain bersikap seperti ini" Ujar Tian dengan kesal.
"Aku hanya ingin menghibur mu dan memenangkan mu di saat kamu sedih seperti ini" Jawan Susan dengan wajah yang tidak bersalah.
__ADS_1
"Saat ini aku hanya butuh ketenangan bersama istri ku. Aku harus berada di sisi nya karena dia sedang rapuh saat ini. Jadi tolong jaga sikap mu" Ujar Tian dengan tegas.
"Terus aku? Apa aku tidak membutuhkan mu? Aku juga saat ini sedang membutuhkan mu karena aku sedang hamil. Apa kamu lupa hal itu?"
"Aku tidak lupa akan hal itu. Aku selalu mengingat bahwa kamu sedang mengandung anakku. Tapi di saat ini situasinya sedang berbeda. Aku sedang kehilangan anakku kamu harus bisa mengerti situasi ini dong. Jangan seenak kamu saja" Ujar Tian mulai emosi.
"Tian kamu gak perlu khawatir tentang kepergian nya Raffa. Masih ada anak mu di dalam kandungan ku. Dia bisa menjadi pengganti Raffa" Ucap Susan memegang tangan Tian dan meletakan nya di perut nya.
"Aku tahu, tapi kamu harus ingat Susan. Bagaimana pun Raffa tidak bisa di gantikan dengan siapa pun" Ujar Tian menarik kembali tangan nya.
Tian langsung keluar dari kamar Susan dengan perasaan kesal di hati nya.
Saat Tian keluar dan menutup pintu kamar nya Susan aku pun lewat dan hampir bertabrakan dengan nya.
"Tian, kau ngapain di kamar Susan?" Tanya ku heran melihat suami ku itu keluar dari kamar gadis itu.
"Oh, itu aku sedang memeriksa keadaan ya Susan. Karena kemarin dia sedang sakit dan aku takut nanti penyakitnya semakin parah makanya aku mau melihat keadaan nya. Dan syukurlah saat ini keadaannya sudah mulai membaik" Ujar Tian berbohong.
"Oh iya, kemarin kamu mengantar Susan rumah sakit untuk diperiksa. Terus Apa kata dokter?" tanya aku kepada suamiku itu. Karena kemarin aku belum sempat menanyakan keadaan Susan sebab terlalu fokus untuk mengurus Raffa.
"Susan hanya mengalami flu dan nggak enak badan seperti biasa. Mungkin karena terlalu kecapean. Kata dokter jika dia istirahat dengan cukup,maka ia akan segera membaik" Ujar Tian berbohong lagi kepadaku.
"Oh begitu" Jawab ku, ingin masuk ke kamar Susan.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Tian masih berdiri di depan pintu kamarnya Susan tanpa menghindar sedikitpun.
"Aku mau masuk mau lihat keadaan Susan bagaimana. Kenapa? Apa ada masalah jika aku mau menjenguk Susan?" Tanya ku sedikit curiga.
"Oh, gak kok. Silahkan" Ujar Tian membuka pintu kamar Susan.
Aku tersenyum ramah melihat Susan terbaring di tempat tidurnya memang terlihat seperti orang sedang sakit.
Aku berjalan menuju kasurnya dan duduk di sana untuk berbicara dengan Susan.
"Bagaimana keadaan mu? Apa sudah mendingan?" Tanya ku.
"Sudah kok Fit. Aku hanya kecapean saja" Jawab nya.
"Gak apa-apa kok Fit. Santai saja. Bagaimana pun Sofi itu adalah keponakan ku satu-satu nya. Aku sama sekali tidak merasa keberatan atau apa lah itu untuk nya" Jawan Susan tersenyum manis.
"Terima kasih ya Susan" Ujar ku.
"Iya sama-sama" Jawab nya.
"Justru aku yang harus berterima kasih kepada mu dan kepada Raffa. Karena keadaan Raffa lah yang membuat aku bisa memikat hati Tian untuk jatuh ke dalam pelukan ku" Batin Susan tersenyum senang.
"Ya sudah kamu istirahat ya. Aku keluar dulu" Ujar ku.
Aku mengerutkan kening ku saat ku lihat ada benda yang tidak asing bagi ku. Benda itu yang aku berikan kepada suami ku saat ia berulang tahun. Yah jam tangan berwarna hitam tergeletak di atas nakas nya Susan.
Aku mengambil jam tangan itu. Ku pandangi suami ku yang masih berdiri di ambang pintu kamar nya Susan.
"Tian, kenapa jam tangan ini ada di kamar nya Susan?" Tanya ku heran.
Tian pucat pasi. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan ku. Aku sedikit curiga kepada nya.
"Oh itu, kemaren jam tangan Tian terjatuh di depan pintu kamar ku saat dia mengantarkan ku ke rumah sakit. Saat aku ingin memanggilnya dia sudah pergi kembali ke rumah sakit" Jawab Susan berbohong. Padahal jam tangan itu memang sengaja di lepas oleh Tian saat mereka memadu kasih tadi malam.
Meski aku masih janggal dan belum bisa menerima alasan yang di berikan Susan kepada ku, aku hanya bisa mengangguk dan tidak mau memikirkan hal itu terlalu jauh karena saat ini pikiran ku sedang tidak stabil karena kepergian Raffa.
"Pantesan aku cariin jam tangan ku ternyata ada di kamu" Ujar Tian langsung mengambil jam tangan nya.
"Sayang, ayo keluar biarkan Susan beristirahat dengan tenang" Ucap nya mengajak ku keluar dari kamar gadis itu.
Aku pun mengangguk setuju dengan ucapan suami ku itu. Aku pun keluar dari kamar gadis itu dan menuju ke kamar ku untuk beristirahat.
"Terima kasih karena kamu telah memberikan alasan kepada Fitri dan membuat nya percaya" Ujar Tian kepada Susan saat melihat ku telah jauh dari mereka.
"Iya sama-sama Sayang. Sesuai janji ku, aku akan menjaga rahasia kita asal kamu tidak meninggalkan ku dan menikahi ku secepat nya"
Tian tidak menjawab. Laki-laki itu langsung pergi meninggalkan gadis itu sendirian di kamar nya.
__ADS_1
***
"Mama" Sofi membuka pintu kamar ku. Ku lihat ada Tian juga berdiri di sana dengan membawa makanan dan juga minuman yang ada di tangannya.
"Sayang" Ucap ku tersenyum menyambut kedatangan putriku itu.
"Ini, papa bawain mama makanan. Sekarang mama makan ya! Karena dari tadi mama belum ada makan sedikitpun. Nanti mama sakit, Sofi nggak mau mama sakit" Ujar nya dengan raut wajah yang sedih.
Aku tersenyum menatap wajah polos gadisku itu yang begitu perhatian kepadaku dan menyayangiku sepenuh hati nya.
"Iya sayang mama makan ya" Ujar ku mengambil nasi yang dibawa oleh Tian tadi dan menyodorkannya ke dalam mulutku. Agar putri kecilku itu tidak merasa sedih.
"Mama mau papa suapin?" Tanya Tian mencoba untuk menghibur ku.
"Iya mama, biarkan papa suapin mama ya" Pinta gadis itu. Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Tian pun menyodorkan sesuap demi sesuap nasi ke dalam mulut ku.
Ternyata dari tadi ada sepasang kuping yang sedang menguping pembicaraan kami di kamar. Yah karena pintu kamar tertutup dengan rapat membuat nya tidak bisa mengintip apa yang kami lakukan. Jadinya dia hanya bisa menguping pembicaraan kami.
Orang tadi merasa geram dan cemburu kepada ku. Karena Tian perhatian kepadaku melebihi dari dirinya.
Yang tidak lain adalah Susan mantan adik ipar nya Tian. Gadis itu menggenggam erat-erat tangannya dan menggigit gerahamnya kuat-kuat karena merasa terlalu cemburu dengan kemesraan keluarga kecilku.
"Kurang ajar Tian, kamu tidak memperlakukan aku seistimewa nya Fitri. Padahal aku sedang mengandung anak nya. Harus nya dia itu lebih memperhatikan aku dari pada wanita itu. Gak bisa di biarin. Aku harus bertindak secepat nya pokok nya Tian harus menikah dengan ku secepat nya.
Ting....
Ponsel Tian berbunyi tanda pesan masuk. Tian membaca pesan di ponsel nya.
"Tian, bisa bantu aku mengambilkan makanan? Anak kamu lagi pingin di suapin sama papa nya" Pesan dari Susan.
"Kamu apa-apaan sih. Saat ini aku sedang bersama keluarga ku" Balas Tian.
"Iya, aku tahu. Tapi bukan kah sebentar lagi aku juga akan menjadi keluarga mu. Tepat nya istri kedua mu? Salah jika aku ingin bermanja dengan papa dari anak ku? Sayang ingat ya Raffa pergi karena kurang perhatian dari mu. Jangan sampai kamu melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan ke Raffa dengan anak yang ada di dalam kandungan ku ini. Apa kamu mau menyesal untuk yang ke dua kali nya? Atau apa kamu mau Fitri tahu tentang hubungan kita" Pesan Susan terdengar mengancam.
"Sialan Susan. Bisa-bisa nya dia mengancam ku seperti ini" Batin Tian kesal dengan perbuatan Susan kepadanya.
"Tian, kamu kenapa?" Tanya ku melihat perubahan raut wajah suami ku itu.
"Sebentar ya sayang. Ada beberapa dokumen yang mau ku ambil di mobil dan mau ku foto untuk ku kirimkan ke klien ku" Lagi-lagi Tian berbohong.
"Sofi, jagain mama ya. Sofi sekarang yang suapin mama makan ya. Pastikan makanan mama habis" Ujar Tian memberi perintah kepada putri nya.
"Iya papa" Jawab gadis itu lagi.
Tian keluar dari kamar kami.
***
Susan tersenyum puas melihat Tian masuk ke kamar nya dengan membawa makanan untuk nya.
"Terima kasih ya sayang kamu begitu perhatian kepada ku dan juga anak kita" Kata Susan dengan wajah yang tidak bersalah sama sekali.
"Susan, tolong hentikan semua nya. Aku capek di ancam-ancam sama kamu seperti ini. Kamu terus-terusan menuntut ku untuk memperlakukan mu selayak nya aku memperlakukan Fitri. Kamu itu harus ingat.... "
"Ingat apa?" Potong Susan.
"Ingat bahwa aku ini bukan siapa-siapa kamu? Bukan istri kamu begitu? Kamu juga harus ingat dong Tian bahwa yang ada di dalam perut ku ini juga hasil dari mu. Aku hanya butuh perhatian kepada kamu selayak nya wanita sedang hamil. Kita melakukannya secara suka sama suka dan rela sama rela. Tentu saja aku tidak mau menanggung kesulitan ini sendiri. Kamu juga harus turut andil memperlakukan aku sebagaimana kamu memperlakukan istri kamu yang sedang hamil" Ujar Susan.
"Sayang" Susan mengelus tubuh Tian dengan lembut nya.
"Aku ini hanya lah wanita lemah yang sedang jatuh cinta kepada suami orang yaitu kamu. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa seperti ini. Yang jelas rasa cinta ku ini tulus sehingga aku rela menyerahkan segala nya" Ujar Susan dengan lembut.
"Sayang, aku kangen sama kamu. Kangen sekali" Ujar nya lagi mengecup bibir Tian dengan hangat.
Seperkian detik Tian tersadar dan melepaskan tautan itu dari bibir nya.
"Tidak Susan. Jangan seperti ini. Fitri sedang berada di rumah dan aku tidak mau membuat nya kecewa" Ujar Tian mencoba menjauh dari Susan.
"Sayang, kamu telah membuat nya kecewa. Jadi apa salah nya melanjutkan hal itu lagi" Ujar Susan seenak nya.
"Gak, gak. Itu makanan mu" Ujar Tian langsung keluar dari kamar gadis itu.
__ADS_1
"Tian, Tian sampai kapan kamu bisa menolak pesona ku. Aku yakin kamu pasti akan luluh kembali" Ujar Susan tersenyum mengejek.