Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 37


__ADS_3

"Kenapa sakin hari, Tian dan Susan semakin dekat. Dulu Susan sering pergi sendiri ke kantor menggunakan mobil nya sendiri. Tapi sekarang, Susan malah pergi bersama dengan Tian dengan satu mobil" Batin ku merasa gelisah saat melihat kepergian Susan dan Tian satu mobil.


Mereka tampak akrab sekali membuat aku menaruh rasa cemburu di hati. Bahkan, saat mereka pergi mengantar Sofi ke sekolah nya, itu seperti mereka ini satu keluarga.


Wanita mana yang tidak cemburu melihat kedekatan suaminya bersama wanita lain meski wanita itu adalah mantan adik iparnya? Tetap saja aku merasa tidak suka melihat kedekatan mereka. Sedangkan kedekatan abang ipar dengan adik iparnya saja terkadang bisa membuat mereka jatuh hati dengan lama-kelamaan. Apalagi ini Susan sudah menjadi mantan adik iparnya yang tidak akan ada hubungannya lagi dengan Tian. Yang tersisa hanyalah hubungannya dengan Sofi. Mereka terlihat seperti satu keluarga yang bahagia.


"Kenapa dengan hati ini? Semoga saja firasat ku ini salah Ya Allah. Tolong buang rasa curiga ini jauh-jauh ya Allah" Ujar ku lagi dalam hati.


***


"Sayang, sudah minum susu hamil dan obat nya?" Tanya Tian kepada ku saat kami berada di kamar kami.


"Sudah kok sayang. Tadi bik Ina sudah mengantarkan susu dan obat untuk ku" Jawab ku.


"Ya sudah, hari sudah malam. Sekarang kamu tidur saja. Tidak baik jika ibu hamil tidur nya kemalaman" Ujar Tian kepada ku.


"Kamu mau kemana Tian?" Tanya ku saat Tian bangkit dan pergi menuju pintu ke luar dari kamar.


"Aku mau ke bawah ke ruang keluarga. Tadi aku sedang mengerjakan beberapa pekerjaan di sana dan aku ingin melanjutkan pekerjaanku kembali" Jelas Tian.


"Apa gak sebaiknya besok saja Tian. Hari juga sudah larut. Sebaiknya kita beristirahat" Ujar ku merasa keberatan melihat suami ku itu masih bekerja meski sudah larut seperti ini.


"Gak bisa sayang. Aku harus menyelesaikan nya. Besok aku harus bertemu dengan beberapa klien untuk membahas kerja sama dengan perusahaan kita. Dan berkas itu harus selesai malam ini juga karena besok pagi sudah harus siap dan di gunakan" Jelas Tian.


"Tapi kelihatan nya kamu juga sudah lelah sayang, istirahat saja, jika perlu undur kan saja waktu meeting nya" Saran ku.


"Sayang aku gak mau kamu sakit. Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja seperti ini" Ujar ku lagi.


Tian datang mendekati ku. Lelaki itu duduk di samping ku dan menatap ku lekat-lekat untuk meyakin kan ku.


"Sayang, kamu tenang saja. Aku baik-baik saja kok. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Selagi kamu ada di sisi ku, aku tidak akan sakit kok sayang" Ujar nya lagi menatap bola mataku.


"Tapi Tian... "


"Sudah sayang. Percaya sama aku. Semua ini aku lakukan untuk kehidupan kita. Untuk anak-anak juga. Sekarang, aku hanya membutuhkan doa darimu semoga kerjasama besok berhasil. Karena ini adalah Proyek besar untuk perusahaan kita" Ujar Tian lagi.


"Aku bantuin kamu ya sayang. Setidak nya aku temani kamu di bawah" Tawar ku.


"Sayang coba deh kamu dengar apa yang aku katakan tadi. Kamu istirahat saja! Kamu tidak perlu menemaniku di bawah. Saat ini, kamu sedang hamil tolong jaga dirimu dan anak kita agar tidak terjadi apa-apa kepada kalian nantinya. Kamu tahu sendiri kan sekarang kamu itu dua nyawa. Dan jika kamu tidak cukup tidur, akan terjadi hal yang buruk kepada kamu dan anak kita nanti. Sedangkan orang yang hamil itu harus semua nya serba cukup" Jelas Tian kepada ku.


"Tapi aku kasihan melihat kamu kerja sendirian di bawah selarut ini dan tidak ada yang menemani kamu" Ujar ku dengan nada yang sedih.


"Sayang tidak apa-apa kok. Lagian ada Susan juga di bawah membantu ku. Secara dia adalah sekretaris ku, dan kami pun mengerjakan proyek ini sama-sama nanti nya" Jelas Tian.


Deg....


Seketika rasa perih di hati kini muncul lagi saat nama gadis itu di berhasil keluar dari mulutnya Tian.


"Susan?" Tanya ku.


"Iya Susan. Kenapa sayang? Bukankah Susan selama ini memang sudah tinggal bersama kita? Kenapa kamu kelihatan kaget seperti itu?" Ujar Tian heran.


"Iya aku tahu kok Susan sudah lama tinggal bersama kita. Tapi, aku merasa aneh saja" Ujar ku.


"Aneh? Aneh bagaimana?"


"Aneh melihat kamu dan Susan sekarang semakin dekat. Aku... Aku merasa kalian itu... "


"Kalian itu bagaimana sih?" Tanya Tian melihat aku tidak melanjutkan perkataan ku.


Aku terdiam mendengar pertanyaan dari Tian. Aku tidak tahu harus mengatakan perasaanku ini seperti apa. Karena aku tidak mau nantinya Tian akan berpikir yang tidak-tidak terhadapku.

__ADS_1


"Hmm... " Ujar ku menyusun kata-kata untuk ku katakan kepada Tian.


"Sayang kenapa sih? Coba dong kamu cerita kepadaku tentang perasaan kamu saat ini! Apa sih yang membuat kamu gelisah seperti ini?" Ujar Tian mulai melontarkan pertanyaan demi pertanyaan kepada ku.


"Apa kamu masih memikirkan hal yang sama dengan yang kemarin-kemarin tentang aku dan Susan?" Tian mulai menebak.


Aku diam tidak bisa menjawab apa yang di tanyakan oleh suami ku itu.


"Benar kan kamu mempunyai pikiran yang sama tentang aku dan Susan seperti kemarin-kemarin?" Ulang Tian lagi menyelidiki.


Aku menarik nafas ku dalam-dalam dan kau hembuskan kuat-kuat untuk menghilangkan rasa kegelisahan di hati ini.


"Sayang, kamu jangan berpikir seperti itu kepada ku. Aku hanya cinta nya sama kamu. Percaya lah kamu tidak akan terganti" Yakin Tian lagi kel


Pada ku.


"Nggak tahu kenapa, hati ini mempunyai perasaan yang sangat gelisah ketika melihat kamu dan Susan bersama. Terlebih kamu dan Susan akhir-akhir ini terlihat dekat dan sangat akrab. Itu yang membuat perasaan di hati ini gelisah. Aku takut suatu saat nanti kamu bisa tergoda dan berpaling kepadanya" Jelas ku lagi kepada suami ku itu.


Tian tersenyum mendengar perkataan ku barusan.


"Sayang, coba deh kamu tatap mataku! Apa kamu bisa melihat ada wanita lain di mata ini? Jelas tidak. Yang ada hanyalah wajahmu menghantui setiap langkahku ketika aku jauh darimu" Jelas Tian mencoba untuk meyakinkan ku.


"Aku dan Susan hanyalah sebatas teman kerja saja. Di mana antara karyawannya dan juga bosnya. Dan jika di rumah itu hubungan kami seperti kakak dan adik sayang, tidak lebih. Kamu jangan terlalu berpikir yang bukan-bukan terhadap aku dan Susan. Ingat kondisi kamu saat ini seperti apa. Jangan sampai pikiran-pikiran buruknya itu akan merusak dirimu dan juga anak kita nantinya" Jelas Tian kepada ku dengan tatapan keyakinan nya.


Aku terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Suamiku itu.


"Sayang, percaya kepadaku sayang harus berapa kali aku mengatakan kepada kamu bahwa di hati ini tidak ada orang lain selain kamu. Tolong kamu mengerti hal itu" Jelas Tian lagi.


"Apa salah aku mempunyai rasa cemburu seperti ini?" Tanya ku.


"Tidak sayang, perasaan cemburu itu tidaklah salah. Bahkan aku suka kamu cemburu seperti ini, itu artinya kamu sayang kepadaku dan takut akan kehilanganku" Ujar nya lagi tersenyum manis.


"Aku hanya takut Tian. Secara kamu dan Susan itu tidak ada ikatan darah. Hati orang tidak ada yang bisa menebak dan menjamin nya" Ujar ku lagi.


"Yah maksud ku..."


Aku tidak jadi melanjutkan perkataan ju saat mendengar ponsel Tian berdering.


"Hallo" Ujar Tian mengangkat telfon nya.


"Iya, sebentar lagi aku ke sana" Ujar Tian lagi menutup ponselnya.


"Sayang, kamu istirahat ya. Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Kamu harus tidur dengan cukup" Ujar Tian.


"Tapi sayang.... "


"Sayang, dengar lah ucapan ku"


Aku hanya terdiam tidak bisa menjawab dan hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang di katakan oleh suami ku itu.


"Kamu istirahat ya, jangan memikirkan hal yang bukan-bukan yang tidak akan terjadi di dalam keluarga kecil kita " Jelas Tian lagi membaringkan ku.


"Selamat malam sayang, mimpi yang indah ya" Ucap nya sambil mencium kening ku dan menyelimuti ku.


Tian keluar dari pintu kamar kami dan menutup kembali pintu itu. Tak lupa laki-laki itu mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur di kamar kami.


***


"Kenapa lama sekali sih? Aku lelah menunggu mu" Ujar Susan protes melihat Tian baru datang menemuinya.


"Gak, hanya ada urusan sedikit saja sama Fitri. Biasa urusan rumah tangga" Jelas Tian lagi dengan santai nya.

__ADS_1


"Urusan keluarga bagaimana? Apa ada sangkut pautnya dengan ku?" Tanya Susan.


"Maksud kamu. Apa?"


"Iya apa yang kalian bahas tadi ada sangkut paut nya dengan ku kan? Aku tahu dari awal, Fitri sama sekali tidak menyukaiku dan dia berpikir yang bukan bukan tentangku" Ujar Susan memang benar ada nya.


"Kenapa kamu bisa mempunyai pikiran seperti itu terhadap Fitri? Kamu salah paham. Fitri tidak seperti itu kok kepadamu. Ia sama sekali tidak pernah berpikir yang bukan-bukan terhadap kamu" Tian berbohong demi kebaikan ku dan Susan.


"Kamu bohong. Aku tahu kok Fitri itu mempunyai pikiran buruk terhadapku. Kamu tidak perlu berbohong seperti itu kepadaku" Jelas Susan lagi.


"Tian, asal kamu tahu ya, jika tidak ada Sofi di rumah ini, mungkin aku sudah pergi dari rumah ini. Karena aku tidak mau terjadi salah paham antara kamu dan juga Fitri. Dan nantinya akan membuat kalian bertengkar. Aku tidak mau membuat keluarga kecil kalian bertengkar dan berantakan karena aku" Jelas Susan.


"Tidak Susan. Kamu jangan berpikir seperti itu. Kamu hanya salah paham. Dan jika nantinya Fitri itu mengatakan hal yang akan membuat kamu tersinggung, aku harap kamu bisa memakluminya. Karena ia kamu tahu sendiri bukan bahwa Fitri saat ini sedang berbadan dua dan dia mempunyai hormon yang turun naik membuatnya seperti ini" Jelaskan meminta pengertian terhadap Susan.


Susan menghembuskan nafas beratnya seolah-olah saat ini dia sedang merasa teraniaya karena sikapku yang tidak menyukainya berada di rumahku itu.


"Maafkan aku yang Tian karena kehadiranku di rumah ini membuat kalian bertengkar dan telah membuat kamu dan Fitri terjadi kesalahpahaman aku benar-benar minta maaf" Ujar Tian meminta pengertian terhadap Susan agar susu bisa memaklumi keadaanku saat ini.


"Bahkan ini lah yang aku ingin kan. Tidak hanya salah paham di antara keluarga kamu, tapi aku ingin terjadi pertengkaran hebat di antara kamu dan Fitri sehingga membuat kamu dan Fitri berpisah. Di saat itu terjadi, aku yang akan datang saat kamu sedang bersedih. Aku yakin dengan kehadiran mu saat itu akan membuat hati mu meluluh dan bisa menerima aku sebagai istrimu nanti" Batin Susan tersenyum puas.


"Sudah lah jangan bahas tentang hal itu lagi. Lebih baik kita membahas hal yang berfaedah seperti mengerjakan pekerjaan kita ini. Di mana pekerjaan ini akan memberikan kita income yang lebih besar untuk masa depan perusahaan kita" Jelas Susan lagi.


"Iya kamu benar. Lebih baik melanjutkan pekerjaan kita ini karena harus hari sudah semakin larut dan besok kita akan berangkat ke kantor pagi-pagi sekali untuk menyelesaikan dan untuk mengadakan meeting bersama klien yang berasal dari Jakarta itu" Ujar Tian lagi.


"Semoga saja Fitri semakin cemburu dan akan membuat mereka berpisah dan aku, aku akan merebut Sofi dan Tian untuk kembali kepada ku" Batin Susan lagi.


Mereka pun melanjutkan pekerjaan nya lagi.


"Tian, Sebentar ya aku mau ambil cemilan di dapur dulu ya. Aku kelaparan, jika tidak makan, aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Lumayan kan, bekerja sambil memakan cemilan karena energi kita saat ini sudah terkuras dan harus kita isi dengan makanan untuk memulihkan pikiran kita" Jelas Susan.


Tian hanya mengangguk mengizinkan terus fokus pada laptop dan beberapa dokumen untuk nya itu" Ujar Susan lagi.


"Nah ini dia, ada nasi goreng di dapur" Ujar pesan dengan membawa dua buah piring nasi goreng yang dibuatnya tadi.


"Wah, seperti nya enak ni" Ujar Tian.


"Iya dong siapa dulu yang memasak nya"


Tian hanya tersenyum mendengar ocehan dari Susan.


Tian mengambil nasi goreng itu dan menyodorkan ke dalam mulutnya namun terus bekerja sambil makan.


Melihat itu membuat Susan mengeluarkan idenya. Di mana dia ingin menyuapi Tian untuk makan sambil bekerja seperti anak kecil saja di mana ibunya selalu menyuapi makanan sambel anak itu bermain.


"Susan, ngapain?" Tanya Tian melihat Susan mengambil piring yang berisi nasi goreng untuknya.


"Aku hanya ingin membantumu dengan menyuapi mu makan dan kamu akan terus bekerja seperti ini. Bagaimana"


"Gak perlu Susan, Terima kasih. Aku bisa kok menyuapi diriku sendiri lagi. Dan alangkah lebih baiknya setelah kamu makan nanti kamu istirahat saja biar aku yang menyelesaikan semua pekerjaan ini" Ujar Tian lagi.


"Gak apa-apa kok Tian. masih bisa kok temenin kamu untuk menyelesaikan pekerjaan kamu ini dan membantumu. Tidak mungkin kan aku sebagai sekretaris mu membiarkan kamu bekerja sendirian seperti ini. Jadi alangkah baiknya aku membantumu sedikit demi sedikit. Seperti saat ini yang aku akan menyuapi kamu makanan agar tenaga kamu kembali pulih dan pikiran kamu kembali jernih. Karena perut sudah terisi dengan sempurna" Ujar Susan lagi.


"Gak perlu kok ada acara suap-suapan segala. Karena aku masih mempunyai tangan dan aku masih bisa menyuapi diriku sendiri untuk makan" Jelas Susan.


Susan mengambil piring yang ada di tangan Tian dan tidak memperdulikan apa yang dikatakan Tian. Yang jelas saat ini dia bisa menyuapi Tian makan.


Bukankah Ini merupakan kesempatan yang naik untuk mengambil hati Tian dan juga untuk membuat Tian dan diri nya semakin dekat. Karena itu dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang bagus ini dan membiarkan Tian itu jatuh kembali ke dalam pelukan nya.


Karena terlalu sibuk bekerja dan tidak terlalu fokus maka Tian membiarkan saja Susan menyuapi nya makan. Yah karena perut sudah keroncongan dan pekerjaan ini tidak bisa di tinggalkan. Karena ia ingin menyelesaikan pekerjaan nya ini secepatnya.


Susan terus menyuapi Tian seperti anak kecil tanpa menghentikan menyelesaikan pekerjaannya itu. Hingga nasi goreng yang ada di dalam piringnya kini habis karena dilahap olehnya.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat Susan sangat bahagia. Karena sedikit banyaknya Tian mulai bisa menerimanya dan juga mulai dekat dengannya. Hal itulah yang diharapkan oleh Susan dengan begitu dia akan lebih mudah untuk mengambil hati yang enggak bisa menjadi miliknya.


__ADS_2