Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 68


__ADS_3

Kembali aku merasa kecewa kepada Tian karena untuk yang kesekian kalinya dia telah mengingkari janjinya kepada aku dan Sofi.


Untuk menghilangkan rasa kecewa di hati putri sambung ku itu aku mengajaknya untuk makan es krim bersama agar mengembalikan mood-nya menjadi ceria.


"Asyik..... Sofi senang banget bisa makan es krim selama dua hari ini" Ujar nya dengan gembira.


"Iya sayang. Ayo kita pergi membeli es krim" Ujar ku menggandeng tangan putri kecil ku itu menuju tempat jual es krim yang ada di wahana itu.


"Sofi mau yang rasa coklat ya ma" Ujar nya.


"Oke sayang. Mama pesan kan es krim nya dulu ya sayang. Kamu tunggu di sini" Ujar ku menyuruh nya untuk tetap duduk di kursi tunggu yang ada di tempat itu.


***


"Tian, kamu mau kemana?" Tanya Susan saat melihat Tian ingin beranjak dari rumah nya.


"Aku harus pergi untuk menemani Fitri dan Sofi. Kasihan mereka aku tinggalkan di taman wahana" Ujar Tian.


Mata Susan membulat mendengar ucapan dari Tian. Ia tidak menyangka bahwa Tian sanggup meninggalkan ku dan juga Sofi demi dirinya.


"Wah, ternyata Tian kini lebih memperhatikan ku dari pada Fitri dan Sofi. Mungkin ini lah hikmah dari sakit yang ku derita saat ini. Di mana aku mendapatkan perhatian dari suamiku seperti apa yang aku harap kan" Batin nya merasa senang.


"Sebenar nya aku tidak mau Tian pergi meninggalkan ku dan aku ingin Tian terus berada di rumah ini bersama ku. Tapi aku tidak mau membuat Tian nanti nya berpikir yang bukan-bukan. Aku harus mengalah saat ini. Karena aku tidak mau nanti nya Tian akan kembali cuek kepada ku" Tambah batin nya lagi.


"Susan, kamu gak apa-apa kan aku tinggal sebentar" Ujar Tian.


"Iya gak apa-apa kok Tian. Kamu pergi saja. Terima kasih karena telah datang ke sini untuk ku. Lagian kamu juga sudah terlalu lama menemaniku kasihan Fitri dan Sofi yang juga membutuhkan perhatian kamu" Ujar Susan terdengar bijak.


"Terima kasih ya Susan, kamu mau mengerti keadaan ku" Ujar Tian langsung beranjak dari sana untuk kembali ke taman wahana tadi.


"San, mau kemana Tian?" Tanya mama Susan saat melihat menantunya pergi meninggalkan rumah itu.


"Tian pergi kembali menjemput Fitri dan Sofi yang ia tinggalkan di taman wahana tadi" Jelas Susan kepada mama nya.


"Lo, kamu gak masalah dia pergi ke sana? Bukan kah kamu sedang sakit saat ini?" Tanya mama nya lagi.


"Ya gak apa-apa lah ma. Lagian sakit ku juga gak terlalu parah-parah amat. Lagian, aku harus mengalah dan tetap berbesar hati di depan Tian. Karena dengan begitu Tian semakin perhatian dan juga simpati kepada ku" Jelas Susan lagi.


"Sekarang coba mama lihat bagaimana Tian sudah berubah dengan memberikan perhatian yang penuh terhadapku. Dan dia rela meninggalkan istri dan juga anaknya itu demi datang ke sini untuk menemaniku" Ucap Susan tersenyum puas karena merasa diri nya menang dari ku.


"Kamu benar. Mama juga merasakan hal yang sama. Jika mama menghubungi nya dan mengatakan keadaan kamu, dia pasti akan bergegas datang ke sini untuk melihat keadaan mu" Ujar mama Susan lagi.


"Iya ma, benar sekali. Karena itu lah aku tidak mau terlalu egois dan membuat Tian berpikir bahwa aku hanya memikirkan keadaan ku saja" Ujar Susan.


"Iya, kamu benar. Kita harus bermain cantik untuk mendapatkan perhatian Tian seutuhnya" Ujar Mama Susan tersenyum senang.


***


Tian mencari keberadaan ku dan juga Sofi di taman wahana tadi. Puas laki-laki yang memiliki dua istri itu menjadi keberadaan ku dan juga putri semata wayangnya namun sama sekali tidak berhasil menemukan aku dan Sofi.


"Di mana sih mereka? Apa mereka sudah pulang?" Batin Tian menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal. Laki-laki itu tampak kebingungan mencari keberadaan aku dan Sofi.


Ia merogoh saku celana nya untuk menghubungi ku dan untuk menanyakan di mana keberadaan aku dan Sofi sekarang.


Kring...


Ponsel ku berdering telfon dari Tian masuk ke ponsel ku. Aku merogoh tas yang ku bawa tadi untuk melihat siapa yang menghubungi ku saat ini. Saat ini aku dan putri sambung ku sedang berada di dalam taksi menuju jalan pulang.


"Tian" Ujar ku. Kembali aku tidak menghiraukan panggilan dari suami ku itu.


"Ngapain lagi dia menghubungi ku. Pergi saja sana sama istri siri nya. Jangan lagi mencari ku dan Sofi" Batin ku lagi merasa kesal dengan sikap Tian saat ini.

__ADS_1


"Aduh Fit, kalian di mana sih? Kenapa tidak mengangkat telfon ku. Jangan membuat aku menjadi khawatir begini dong sayang" Batin nya gelisah karena telfon nya tak kunjung ku angkat.


Ting...


Pesan singkat masuk ke dalam ponsel ku.


"Sayang kalian di mana? Apa kalian sudah pulang?" Pesan nya kepada ku.


Aku hanya membaca pesan darinya tanpa berniat untuk membalasnya.


"Sayang kok Wa ku cuma di read sih. Ayo dong sayang balas! Jangan membuat aku merasa khawatir seperti ini dong sayang" Pesan nya lagi.


"Khawatir? Ternyata kamu masih mempunyai rasa khawatir terhadap aku dan Sofi? Aku pikir rasa khawatir itu sudah hilang dan kamu lebih mementingkan Susan dari pada kami" Balas pesan dari ku.


"Sayang kenapa kamu berbicara seperti itu? Jelas aku merasa khawatir terhadap kamu dan Sofi karena kalian begitu berarti bagiku"


"Oh, masih berarti? Berarti seperti apa maksud kamu? Sampai-sampai kamu tega meninggalkan aku dan Sofi di taman Wahana demi istri siri mu itu" Balas ku lagi.


"Sayang aku benar-benar minta maaf. Tolong dong mengerti keadaanku dan posisiku saat ini"


"Mengerti posisi dan keadaanmu? Apa harus aku yang harus mengerti posisi dan keadaanmu? Sedangkan kamu sama sekali tidak mengerti dengan keadaanku dan perasaanku saat ini bersama Sofi" Balas ku dengan penuh emosi.


"Sayang benar-benar minta maaf aku juga tidak tahu harus berbuat apa saat ini yang jelas saat ini susah sangat membutuhkan aku karena dia dalam keadaan sakit dan aku tidak mau menyesal nantinya karena mengabaikannya begitu saja" Balas Tian.


"Oh begitu? Jadi kamu tidak merasa menyesal nantinya karena telah mengabaikan aku dan Sofi meskipun kami tidak sakit tapi kamu juga membutuhkan perhatian kamu dan tetap adil darimu" Balas ku lagi.


"Iya aku minta maaf sayang. Aku janji aku akan perbaiki semuanya dan aku akan berusaha untuk adil terhadap kamu, Sofi dan juga Susan"


"Sudah lah, jangan hanya omong kosong doang. Aku tidak mau mendengar semua janji-janji mu yang hingga saat ini pun kamu tidak bisa menepatinya"


"Aku janji Sayang pasti kali ini aku akan mendapati semua janji-janji kau kepada kamu"


"Sudah lah, saat ini aku tidak membutuhkan janji-janjimu. Yang aku butuh hanya perbuatanmu untuk membuktikan segalanya. Jangankan aku yang orang lain yang masuk dalam kehidupanmu, dengan anakmu saja di mana dia adalah darah dagingmu, kamu tega mengecewakannya begitu saja"


"Tidak perlu kamu mengetahui keberadaan kami. Kami tidak lah begitu penting bagi mu. Urusin saja istri yang kamu banggakan itu"


"Sayang, maaf kan aku" Hanya kata itu yang mampu Tian ungkapkan kepada ku melalui pesan singkat nya. Aku kembali tidak menanggapi pesan dari Tian. Aku lebih memilih untuk tidak meresponnya sama sekali karena hatiku masih terasa sakit dan kecewa kepada suamiku itu.


"Sayang kenapa tidak di balas?" Pesan nya lagi.


Mendapati pesannya tidak direspon sama sekali olehku, Tian pun mencoba untuk menghubungiku berkali-kali agar mengetahui di mana keberadaan ku dan Sofi saat ini.


Aku memilih untuk menonaktifkan nomor ponselku agar Tian tidak menghubungiku saat ini. Karena aku masih membutuhkan waktu sendiri dan menyenangkan hatiku yang tenang ku yang gundah saat ini.


"Malah nomor nya gak aktif. Kemana sih kalian Fitri. Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi. Apa mereka sudah pulang ya?" Batin Tian boleh menebak keberadaan ku dan juga Sofi.


"Lebih baik aku pulang untuk memastikan bahwa mereka benar-benar sudah pulang atau belum" Ujar Tian langsung pulang ke rumah megah nya.


***


"Ma, kita mau ke mana ma? Ini kan bukan jalan menuju pulang" Ujar Sofi.


"Iya sayang, kita jangan pulang dulu ya. Kita pergi ke danau dulu untuk menenangkan pikiran di sana. Mumpung masih ada waktu untuk kita habis kan waktu bersama" Ujar ku. Yah aku emang sengaja tidak pulang langsung saat itu karena aku tahu Tian pasti akan mencari ku dan Sofi di rumah. oleh. Karena itu aku memutuskan untuk mengajak Sofi jalan-jalan ke danau buatan yang ada di kota itu. Karena aku belum siap untuk kembali bertemu dengan Tian. Karena jika aku menemuinya dalam keadaan hatiku seperti ini, maka aku akan semakin emosi kepadanya. Dan pasti akan terjadi pertengkaran yang semakin hebat antara aku dan Tian.


***


"Bik apa kah Fitri dan Sofi sudah pulang?" Tanya Tian kepada bik Ina saat dirinya sudah tiba di rumah megahnya itu.


"Lo, bukan kata di ibu Fitri dan non Sofi pergi bersama bapak dari tadi mereka belum pulang loh pak" Jelas bik Ina.


"Iya tadi ada masalah sedikit sehingga membuat kami berpisah sebentar namun setelah itu aku mencari mereka di taman Wahana Tadi mereka sudah tidak ada di sana. Dan nomor ponselnya Fitri juga tidak bisa dihubungi" Jelas Tian lagi.

__ADS_1


"Ya ampun, di mana sih mereka? Bibi jadi ikut khawatir" Ujar ikut cemas dengan keadaanku dan Sofi yang hingga saat ini belum pulang.


"Apa mereka masih di jalan ya atau terkena macet? Sehingga membuat mereka tak kunjung tiba di rumah" Ujar bik Ina.


"Tidak mungkin dong bik, jika mereka kena macet, pasti aku juga. Dan pastinya juga aku tidak akan tiba di rumah saat ini" Jelas Tian kepada wanita paruh baya itu.


"Iya juga ya pak. Terus kenapa ke mana dong?" Wanita paruh baya itu tampak berpikir.


"Apa mereka pergi ke wisata lainnya untuk menghabiskan waktu bersama?" Ujar bik Ina.


"Iya, bisa jadi sih bik mereka pergi ke tempat lain karena hari juga masih siang" Ujar Tian.


"Terlebih aku dan Fitri tadi ini sedang ada masalah dan dia lagi marah kepadaku. Tentu saja dia lebih memilih untuk mencari tempat sebagai penenang hatinya yang sedang kecewa terhadap ku saat ini" Batin Tian.


"Oh ya, apa bukankah ini sudah masuk makan siang. Apakah bapak mau makan siang di rumah? jika iya akan bibi siapkan" Tawar wanita paruh baya itu kepada majikannya.


"Nanti saja bik. Aku belum lapar saat ini" Ujar Tian kepada bik Ina.


"Jika begitu, bibi permisi ke belakang dulu ya pak. Mau melanjutkan pekerjaan di sana"


"Iya"


***


Aku duduk di kursi yang ada di pinggir danau bersama Sofi.


"Ma di sini ternyata enak juga ya suasananya sejuk dan asri membuat Sofi betah berada di sini" Ucap putri sambung ku itu.


"Iya sayang memang di sini tempat yang paling tepat untuk menenangkan hati. Mama ketika ada masalah dan hati mama sedang gundah, mama akan duduk di sini sambil menikmati pemandangan yang ada di sini untuk mengembalikan suasana hati mama agar kembali ceria" Jelas ku.


"Ma, ada permainan bebek di sana. Kita ke sana yuk Sofi pengen deh naik bebek itu" Ucap Sofi sambil menunjuk ke arah bebek mainan yang ada di danau itu.


"Ayo, kita ke sana" Ujar ku setuju. Aku dan Sofi pergi menaiki bebek mainan itu. Betapa bahagia nya gadis itu menaiki bebek mainan itu.


"Ma, baru kali ini lo Sofi naik bebek mainan seperti ini. Selama ini Sofi tidak pernah pergi ke danau seperti sekarang" Ucap nya lagi.


Emang selama aku menikah dengan Tian kami belum pernah mengajaknya pergi ke danau buatan seperti ini untuk menghabiskan waktu bersama. Karena di saat itu kami selalu menghadapi masalah-masalah di dalam pernikahan kami. Jadi nya kami sama sekali tidak memikirkan waktu liburan dan membuat gadis kecilku itu bahagia menikmati masa libur nya. Selama ini Tian dan juga keluarganya hanya membawa Sofi berlibur ke taman bermain ataupun taman wahana yang ada di kota itu.


"Sekarang kita sudah berada di sini. Jadi mari kita menikmati masa berdua kita untuk menenangkan hati yang sedang gundah saat ini" Ucap ku dengan tersenyum ramah kepada putri sambung ku itu.


***


"Sudah pukul lima sore, kalian belum juga pulang. Sebenarnya kalian berada di mana sih?" Batin Tian gelisah karena aku dan Sofi tak kunjung pulang ke rumah.


kembali Tian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan mencoba untuk menghubungiku lagi. Namun hingga saat itu pun ponselku masih tidak bisa dihubungi karena aku masih menonaktifkan ponselku.


"Masih tidak aktif ponselnya ke mana sih kalian? Aku benar-benar merasa cemas" Ujar Tian yang dari tadi mondar-mandir di depan teras menunggu kepulangan aku dan juga Sofi.


***


"Sayang, ayo kita pulang hari juga sudah sore" Ajak ku kepada putri sambung ku itu.


"Yah, padahal Sofi masih mau berada di sini. Sofi merasa nyaman di sini ma" Ujar nya lagi.


"Tapi sayang, hari sudah sore. Dan wisata ini pasti akan tutup sebentar lagi"


"Ya sudah. Ayo kita pulang ma"


"Oke sayang. Ayo kita pulang" Aku menggandeng tangan mungil gadis itu menuntun nya untuk keluar dari wisata danau buatan itu.


"Ma, Terima kasih ya ma, Karena mama sudah Sofi dan membuat Sofi merasa bahagia hari ini. Sofi sangat bersyukur mempunyai mama seperti mama Fitri yang sudah menyayangi Sofi dan selalu ada untuk Sofi dalam keadaan apapun" Ucap nya memelukku dengan erat kami berada di dalam mobil taksi yang ku pesan tadi.

__ADS_1


"Iya sayang, sama-sama mama juga merasa bahagia karena mempunyai anak sebaik dan sepintar Sofi. Mama juga bersyukur karena tadi pertemukan dengan anak seperti kamu sayang" Ucap ku memeluk putri sambung ku itu dengan penuh kasih sayang. Aku dan Sofi sama-sama tersenyum bahagia dan penuh cinta.


__ADS_2