
Susan menghubungi Tian untuk meminta Tian datang ke rumah nya. Namun Tian menolak nya karena dia merasa keadaan sekarang tidak tepat untuk berkunjung ke rumah istri siri nya itu.
***
Sebulan aku menahan rasa sakit di hati ini. Meski selama sebulan ini Tian tidur di rumah dan menemani ku, tapi dia selalu pulang terlambat. Dan ku tahu dia pergi ke rumah istri siri nya itu untuk sekedar berkunjung sebentar dan menemani nya sebentar saja.
"Baru pulang kamu?" Tanya ku melihat Tian pulang. Ku lihat jam di dinding di ruang tamu. Ternyata sudah pukul sebelas malam.
"Ternyata masih sama dia pulang larut malam" Batin ku. Aku menghela napas ku karena lelah sekali dengan sikap Tian itu. Aku pikir dia akan berubah, tapi nyata nya tetap saja dia seperti itu. Meski begitu, Tian selalu jujur dan ngomong kepada ku bahwa dia pergi ke rumah Susan.
Meski hati ku sakit, tapi aku biar kan saja dia pergi ke sana tampa bermaksud untuk membalas pesan nya.
"Sayang aku bersih-bersih dulu ya di kamar" Ucap nya langsung berlalu meninggalkan ku.
Aku hanya bisa mengangguk memberi respon kepada suami ku itu.
Aku pun mengikuti jejak langkah suami ku Yah aku pun ingin pergi untuk beristirahat di kamar.
Baru saja aku duduk di atas kasur ku,
"Sayang, apa masih ada makanan di dapur. Perut ku lapar" Ucap Tian kepada ku.
"Ha? Kamu belum makan? Aku pikir kamu sudah makan bersama istri siri mu itu" Sindir ku.
"Sengaja aku tidak makan di sana. Aku ingin makan malam bersama mu. Dan setidak nya jika kamu sudah makan, temani aku makan di dapur ya" Pinta nya lagi.
Sejujur nya aku lelah sekali dan ingin beristirahat. Karena hari ini aku seharian menghabiskan waktu untuk mengemas rumah, pergi ke sekolah nya Sofi untuk menghadiri acara sekolah nya, dan pergi untuk tausiah. Setelah itu aku pun pergi ke rumah papa dan mama ku untuk menghadiri acara syukuran di sana karena papa ku memenangkan proyek besar. Karena itu lah papa ku berniat untuk membagikan sedikit rejeki nya kepada mereka yang membutuhkan.
Sebenarnya, aku malas untuk memberitahu Tian tentang acara di rumah papa ku, tapi bagaimana pun Tian masih suami ku. Jadi ya aku harus mengabari nya. Setelah itu terserah dia mau datang atau tidak. Tapi pada akhir nya dia tidak datang sama sekali.
Pulang nya dari rumah papa aku pun mengajari Sofi untuk mengerjakan tugas nya.
"Sayang, sekarang kamu tidur ya hari sudah pukul sembilan malam, nanti kamu kesiangan sekolah nya" Ujar ku kepada putri ku setelah selesai mengerjakan tugas nya.
Melihat putri kecil ku itu sudah tertidur lelap, aku pun mengambil ponsel ku sambil berselancar di sosial media untuk sekedar mencari informasi sekalian menunggu Tian pulang.
"Ya sudah, aku panasi makanan nya dulu ya" Ujar ku. Meski dalam keadaan lelah.
"Terima kasih ya sayang" Ucap nya. Aku pun langsung pergi menuju ke dapur dan memanasi makanan sisa makanan tadi.
***
Tian duduk di samping ku. Aku pun menyajikan makanan di dalam piring Tian.
"Ini silahkan" Ujar ku lagi menyerah kan makanan yang ku ambil tadi kepada Tian.
"Tian ada yang mau aku katakan kepada kamu" Ujar ku.
"Mau bicara apa? Ngomong aja"
"Kita bersama dengan keadaan baik-baik. Jadi aku juga ingin kita berpisah dengan baik-baik juga" Ucap ku.
__ADS_1
Tian tersedak mendengar ucapan ku itu.
"Apa sih maksud kamu Fitri?" Tanya nya dengan mata yang mulai memerah.
"Aku minta maaf kepada kamu Tian. Sejujurnya aku tidak bisa lagi untuk mempertahankan segalanya. Aku sudah lama menunggu kamu agar kamu bisa memberikan keputusan antara aku atau pun Susan. Tapi nyatanya kamu tetap juga tida bisa memilih antara kami berdua. Aku tidak mau hidup di madu. Aku tidak mau hidup di duakan. Apa lagi selama sebulan ini, kamu pergi pagi untuk berkerja, dan pulang larut seperti ini. Kamu sama sekali tidak ada waktu untuk aku dan Sofi" Ujar ku dengan lembut agar Tian tidak tersinggung dengan ucapan ku.
"Kamu tidak bisa adil Tian, tidak akan pernah bisa adil. Bahkan selama beberapa bulan ini aku pun tidak pernah bersatu dengan mu. Aku tidak bisa memenuhi nafkah batin mu karena aku selalu terbayang penghianatan mu kepada ku. Aku tidak bisa melupakan itu begitu saja Tian. Dari pada kamu berdosa karena tidak bisa adil, lebih baik aku yang mengalah" Ujar ku lagi.
"Gak Fitri, aku gak mau pisah dari kamu. Aku cinta sama kamu Fitri" Ucap nya lagi terdengar memohon.
"Maaf Tian, aku tidak bisa seperti ini terus menerus. Aku sudah terlalu terluka selama ini. Semakin aku tahan, maka semakin dalam luka itu" Ujar ku lagi.
Tian hanya menunduk diam tidak bisa memberikan respon apa pun Yang tadi nya dia begitu semangat menyodorkan makanan ke dalam mulut nya, kini perlahan mulai kehilangan selera makan nya.
"Tolong lepaskan aku Tian, aku tidak bisa seperti ini terlalu lama" Ucap ku lagi dengan menatap mata suami ku meminta nya melepaskan ikatan ini.
"Tapi, bagaimana dengan Sofi. Pasti Sofi akan terpuruk karena telah kehilangan kamu. Dia begitu dekat dengan mu.
"Aku sudah memikirkan hal itu. Jika kamu berkenan tolong izinkan Sofi untuk tinggal bersamaku. Jika dia sedang merindukan aku entah itu seminggu sekali atau dua minggu sekali" Pinta ku.
Tian masih memikirkan permintaan ku itu.
"Tian, lepaskan lah aku. Saat ini Susan lebih membutuhkan kamu dari pada aku. Jangan terlalu egois seperti ini Tian. Jangan membuat aku semakin tersiksa"
***
"Selamat pagi mama" Ucap Sofi menyapa ku saat aku menyiapkan sarapan pagi.
Aku sudah memutuskan untuk pisah rumah hari ini dengan Tian. Namun, aku juga bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Sofi agar putri sambung ku itu mengerti dan Tidak sedih.
Ku urungkan niat ku terlebih dahulu. Karena aku takut gadis kecil itu akan kehilangan selera makan nya dan kehilangan semangat nya untuk sekolah.
Kembali aku teringat perkataan ku tadi malam.
"Tian, aku meminta izin dengan ku Besok aku akan pergi menginap ke rumah papa. Aku sudah tidak bisa lagi tinggal di rumah ini" Ujar ku lagi.
"Dan aku juga minta izin sama kamu saat kamu masih berada di kantor, biar aku yang menjemput Sofi dari sekolah nya dan membawa nya ke rumah papa hingga kamu pulang nanti nya" Pinta ku.
"Jika itu yang menjadi keputusan mu, aku terima saja. Aku tidak bisa memaksa mu karena aku tidak mau membuat mu semakin tersiksa. Tapi ketahui lah Fitri, cinta ini masih tersimpan rapi untuk mu"
Aku hanya tersenyum mendengar kata gombal dari suami ku itu.
"Bukannya tersimpan rapi, tepatnya sudah terbagi. Di mana kamu tidak akan akan tetap membagikan cintamu kepada aku dan Susan dan tidak bisa memilih diantara kami berdua. Kamu benar-benar egois" Batin ku sinis menatap Tian.
"Fitri" Panggilnya lagi setelah lama terdiam.
"Ada apa?"
"Kamu boleh pergi ke rumah orang tuamu. Untuk berapa lama aku tidak mempermasalahkan nya. Tapi aku mohon sama kamu untuk kembali lagi ke rumah ini" Ucap nya setelah lama berpikir dan ternyata ia berubah pikiran.
"Lo, tadi bukannya kamu setuju"
__ADS_1
"Aku hanya setuju Jika kamu pergi menginap ke rumah orang tuamu untuk menenangkan pikiranmu. Tapi aku tidak bisa mengizinkanmu untuk pergi dalam hidupku" Ucapnya lagi.
"Dasar gak jelas" Batin ku kesal.
"Ayo ma kita berangkat" Ujar Sofi setelah selesai sarapan pagi nya.
"Ayo sayang" Ujar ku mengandeng tangan kecil putri ku itu.
Pagi ini Tian bilang mau berangkat ke kantor nya agak kesiangan. Dia ingin beristirahat dengan nyaman di rumah. Karena akhir-akhir ini dia tidak bisa tidur dengan tenang. Jadi nya sengaja aku biarkan dia tidur dengan pulas dan tidak ku bangunkan dia seperti biasanya.
"Papa mana ma? Apa papa nggak pulang tadi malam?" Tanya Sofi tidak melihat keberadaan papanya di pagi itu.
"Papa ada kok di kamar masih tidur. Dia kelihatan capek karena akhir-akhir ini pulang larut malam. Jadinya untuk hari ini papa berangkat kerjanya agak siangan. Sudah biarkan saja papa beristirahat, kasihan papa" Bohong ku.
Aku mengantar Sofi ke sekolahnya tak lupa aku telah memasukkan beberapa pakaianku ke dalam koper untuk ku bawa ke rumah orang tuaku. Yah kali ini aku benar-benar ingin menginap ke rumah orang tuaku. Tidak ada gunanya lagi aku pergi menginap ke hotel atau di manapun itu. Karena saat ini kedua orang tuaku sudah tahu keadaan rumah tanggaku seperti apa.
"Mama bawa koper mau kemana?" Tanya gadis polos itu saat melihat ku memasukan koperku ke dalam bagasi mobil.
"Aduh, Kenapa aku tidak masuk kopernya dari tadi sih? Sofi kan jadi bertanya deh sama aku. Bodohnya aku" Maki ku kepada diri ku sendiri.
"Oh ini, Untuk beberapa hari mama mau nginap di rumah nenek. Nanti Sofi boleh kok ikut mama jika mau" Ujar ku menawarkan agar putri ku itu tidak merasa curiga.
"Beneran ma? Sofi boleh nginap di rumah nenek ikut mama?"
"Iya boleh dong sayang, secara itu kan nenek nya Sofi juga. Kenapa gak boleh?" Ujar ku tersenyum.
"Asyik.... Sofi mau ma ikut mama nginap di sana"
"Ya sudah nanti sepulang sekolah kita langsung ke rumah nenek"
Aku akan mengatakan sama Tian bahwa Sofi akan ikut bersama ku di rumah papa dan mama ku agar dia tidak khawatir kepada putri nya itu.
***
"Hallo pa" Ujar Tian saat mengangkat ponsel nya di mana papa nya yang menelepon nya.
"Tian, papa tidak mau basa basi lagi, Apa kamu sudah mendapat keputusan untuk masalah keluargamu itu"
"Belum pa, aku tidak bisa memilih diantara kedua"
"Ya ampu Tian, harus berapa lama sih kamu membuat Fitri tersiksa seperti ini? Papa benar-benar heran sama kamu. Jika kamu seperti ini kamu pasti akan kehilangan mutiara yang paling berharga di dalam hidupmu dan kamu pasti akan menyesal nantinya. Papa tidak mau kamu seperti papa dulunya"
"Coba lah kamu pikirkan baik-baik. Jangan hanya karen rakus mu itu, kamu akan kehilangan kedua nya" Tambah laki-laki paruh baya itu lagi.
Tian kembali terdiam mendengar nasehat dari papa nya itu. Laki-laki yang memiliki dua istri itu tampak berpikir dengan apa yang dikatakan oleh papa nya.
"Pikir kan lah itu baik-baik Tian. Jangan terlalu serakah menjadi orang.. Sudah satu bulan papa menunggu keputusanmu. Tapi sampai saat ini belum ada kabar darimu tentang masalah ini. Makanya Papa menghubungi kamu untuk memastikan apakah kamu sudah memiliki keputusan atau belum? Tapi ternyata kamu masih tidak bisa memberikan keputusan" Ujar papa Tian lagi.
"Pokok nya papa tidak mau tahu. Kamu harus memberikan keputusanmu secepatnya kepada papa" Titah lelaki paru baya itu.
"Baik pa" Hanya itu yang bisa Tian katakan saat itu.
__ADS_1