
"Tian, apa benar ini kamu" Tegur seseorang dari belakang saat dirinya hendak masuk ke dalam mobil nya. Tian pun menoleh.
"Eh, Anto" Jawab Tian setelah mengetahui siapa yang menegurnya tadi.
"Ya ampun Tian, aku benar-benar gak menyangka bisa bertemu dengan kamu di sini" Ujar nya lagi menatap dari ujung rambut Tian sampai ujung kaki nya.
"Ternyata sekarang kamu banyak berubah ya" Ujar nya lagi.
"Iya Nto, sekarang aku sudah berbeda Aku banyak berubah karena istri ku" Ucap nya lagi.
"Istri? Kamu sudah menikah lagi?" Tanya nya.
"Iya aku sudah menikah. Hampir dua tahun kami menikah"
"Wah, sudah lama juga ya. Kenapa tidak mengabari ku jika kamu sudah menikah lagi?"
"Yah, kami mengadakan pesta pernikahan nya secara sederhana. Yah kamu tahu sendiri bukan keadaan ku dulu nya bagaimana. Aku masih kecanduan saat itu. Namun, dia masih mau menerima ku untuk menjadi suami nya" Jelas Tian kepada ku.
Anto mengangguk mendengar cerita nya Tian.
"Oh ya Nto. Kebetulan aku baru selesai meeting dengan klain ku di sini. Jadi yah karena kita sudah lama tidak bertemu, bagaimana jika kita ngopi-ngopi dulu dan ngobrol-ngobrol" Ujar Tian memberi saran.
"Benar juga apa kata mu. Lebih baik kita ngobrol. Aku juga ingin tahu bagaimana bisa Tian yang terkenal dengan geng nya dan sebagai ketua geng sembilan jahanam ini bisa berubah" Ujar Anto. Yah Anto adalah teman sekelas nya Tian sewaktu SMP dulu.
Mereka pun pergi ke sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat mereka bertemu untuk ngopi dam ngobrol bersama di sana.
***
"Sekarang kamu kerja di mana Tian?"
"Aku kerja di anak cabang perusahaan yang di bangun oleh papa ku. Yah belum lama juga sih aku kerja di sana"
"Wah ternyata enak juga ya kamu bisa mendapati pekerjaan dengan mudah. Bantuin aku dong untuk mendapatkan pekerjaan di tempat mu" Ujar Anto merayu.
"Emang kamu belum mendapatkan pekerjaan?"
"Emang sih aku sudah mendapat pekerjaan saat ini. Namun ya kamu tahu sendirilah namanya juga kerja serabutan istilah kata kerja orang kampung lah. Jadi penghasilannya kamu tahu sendiri lah kan bagaimana kalau kerja kampung seperti diriku ini yang hanya mengharapkan tenaga" Jelas Anto.
"Emang kamu kerja apa sih?"
"Kedang aku menjadi kuli bangunan. Kedang yah jadi tukang angkat-angkat barang di pasar. Jangan kan mau membeli keinginan ku. Untuk kebutuhan ku sehari-hari pun sudah tidak cukup" Jelas nya lagi dengan raut wajah yang sedih.
"Maklum saja Tian, orang yang tidak mempunyai pendidikan tinggi seperti ku ini, akan sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang enak" Tambah nya lagi.
"Kami gak kuliah?"
"Kuliah, aku kuliah waktu itu. Hanya saja aku tidak selesai kuliah nya. Karena waktu itu papa ku meninggal dan mama ku sakit-sakitan. Yah mau tidak mau, aku harus berhenti kuliah untuk mencari nafkah buat adik-adik ku yang masih kecil-kecil itu" Ujar nya lagi.
Tian terdiam mendengar apa yang diceritakan oleh Anto saat itu. Tian tampak berpikir dan Simpati dengan cerita dan nasib Anto saat ini.
"Jadi sekarang, apa kamu sudah memiliki keluarga?" Tanya Tian penasaran.
"Belum, aku masih sendiri. Boro-boro mau melamar anak gadis orang Tian, untuk diri sendiri saja aku belum mampu untuk memenuhi nya" Ujar Anto lagi.
Kembali Tian hanya terdiam dan merasa simpati dengan apa yang di katakan oleh Anto.
"Padahal dulu nya kamu anak yang pintar lo Nto. Kamu selalu mendapat rangking di sekolah setidak nya masuk ke dalam rangking lima besar" Ujar Tian lagi.
"Yah namanya juga nasib Tian, sepintar apa pun, jika tidak memiliki pendidikan yang tinggi yah mana bisa hidup enak. Kamu tahu sendiri lah kan bagaimana dunia kerja sekarang. Paling rendah ya sarjana. Kalau tidak ada gelar itu, susah untuk mencari pekerjaan yang enak" Jelas nya lagi.
__ADS_1
"Terus orang tua mu dan adik-adik mu di mana?"
"Mereka ada di kampung. Aku di sini merantau untuk mencari pekerjaan. Meski hanya mengikuti orang-orang kampung ku di mana mereka mendapatkan proyek membangun sekolah yang tidak jauh dari tempat ini" Jelas nya lagi.
"Ya kamu tahu sendiri bukan pekerjaan sepertiku ini tidaklah terus-terusan ada. Terkadang ada terkadang tidak dan ya jika proyek nya sepi, aku di sini membantu para pengunjung di pasar untuk mengangkut barang-barangnya ke tempat kendaraan mereka. Setidaknya aku bisa mengirimkan uang untuk adik-adikku di kampung dan juga untuk ibuku berobat" Ujar nya.
"Hingga saat ini aku sama sekali tidak kepikiran untuk menikah terlebih dahulu. Yang aku pikirkan saat ini adalah untuk membahagiakan adik-adikku di kampung dan juga untuk kesembuhan ibuku. Kamu tahu sendiri aku adalah satu-satunya anak laki-laki di rumah itu dan juga aku anak yang pertama. Jadi akulah pengganti tulang punggung keluarga di rumahku itu" Jelas Anto.
"Emangnya ibu mu mengidap penyakit apa?"
"Sewaktu aku kecil Ibuku memang mempunyai riwayat penyakit sesak nafas. Tapi saat itu sakit nya tidak lah separah saat ini. Yah mungkin faktor usia nya juga membuat nya seperti ini" Jelas Anto kepada Tian.
"Begitu ya" Ujar Tian berpikir.
"Bagaimana Tian, apa ada pekerjaan di kantor mu. Jadi apa pun itu aku akan terima. Yang penting aku mendapatkan penghasilan setiap bulan nya dan gaji ku itu jelas ada nya. Tidak seperti ini jika sepi, aku sama sekali tidak bisa membeli makanan" Jelas nya lagi.
Tian tampak berpikir.
"Begini saja, Besok kamu datang ke kantorku dan masukkan lamaran kerja di sana. Tapi maaf lowongan yang ada di kantorku itu hanyalah sebagai OB tidak masalah kan? Jika kamu hanya bekerja sebagai OB? Dan nanti jika ada lowongan untuk penambahan karyawan kantor, aku akan mengajukan kamu sebagai karyawan kantorku yang baru. Namun untuk saat ini kamu bekerja sebagai OB terlebih dahulu. Enggak apa-apa kan? " Tanya Tian.
"Gak apa-apa. Itu tidak masalah. Yang penting saat ini aku mendapatkan pekerjaan yang tetap. Aku bisa mengumpulkan uang untuk ibu ku berobat" Ujar Anto merasa senang.
"Terima kasih Tian, kamu sudah membantu ku"
"Iya sama-sama. Oh ya sebentar" Ujar Tian mengambil sesuatu di dalam tas kerja nya.
"Ini,. untuk membawa ibu mu berobat" Ujar Tian menyerahkan sejumlah uang yang ada di dalam dompet nya.
"Gak perlu Tian, Kamu membantuku untuk bekerja di perusahaan milikmu saja aku sudah merasa senang dan sangat berhutang budi kepadamu. Tidak perlu kamu memberikan aku uang seperti ini untuk pengobatan ibu ku. Aku tidak mau menyusahkan mu dan membuatmu repot" Ujar Anto merasa keberatan dengan bantuan uang yang di berikan oleh Tian.
"Sudah, kamu terima ini untuk membantu pengobatan ibu mu. Hanya ini yang bisa ku bantu saat ini. Semoga saja ibu mu cepat sembuh dari sakit nya" Ujar Tian memaksa.
"Aku sama sekali tidak merasa keberatan atau apa lah itu. Aku Justru merasa senang karena aku bisa membantu mu dan keluargamu yang sedang membutuhkan pertolongan ku" Ujar Tian.
"Ayo terima saja niat baikku ini. Hanya ini yang bisa ku bantu untukmu dan juga keluargamu" Ujar Tian lagi.
Dengan paksaan Tian, akhir nya Anto mengalah dan terima saja niat baik nya Tian untuk pengobatan ibu nya yang sedang sakit di kampung.
"Terima kasih banyak Tian. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang baik seperti mu" Ujar Anto memuji suami ku itu.
"Iya sama-sama"
"Oh ya, kamu belum menceritakan tentang keluarga mu yang baru. Siapa wanita yang telah berhasil membuat seorang Tian ini berubah dengan sangat drastis seperti ini?" Tanya Anto penasaran.
"Dia adalah salah satu murid di SMP kita dulu juga. Tepatnya kakak kelas kita. kamu pasti kenal dengan nya. Karena para siswa di sekolah kita itu dulu tidak lah terlalu banyak" Jelas Tian.
Yah aku memang saat Anto masuk itu aku sudah menjadi kakak kelas nya Tian. Aku pernah bercerita bahwa Tian juga tinggal kelas saat duduk di kelas satu SMP. Yah karena terlalu nakal nya dia membuat nya tinggal kelas. Nah di saat itu lah dia bertemu dengan Anto dan satu kelas dengan nya.
Dan memang murid di sekolah SMP kami waktu itu sedikit. Di mana kelas satu itu terdiri dari dua lokal di mana setiap lokalnya berisi tiga puluh siswa kelas dua juga duan lokal dengan siswa yang berjumlah tiga puluh juga. Dan kelas tiga itu dua lokal juga dan berisi dua puluh delapan orang setiap lokalnya.
Sekolah kami memang terletak di pelosok desa. Dari jalan besar masuk gang berjarak seratus kilo meter baru lah bertemu dengan sekolah kami itu. Dan sekolah kami itu juga di kelilingi oleh kebun sawit. Itu lah yang mungkin membuat sekolah kami kurang di minati oleh anak-anak seusia SMP waktu itu.
"Kakak kelas kita? Siapa?" Tanya Anto penasaran.
"Fitri"
"Fitri? Fitri yang mana ya? Yang tomboi itu?"
"Bukan, bukan yang tomboi. Yang satu lagi. Yang manis dan pintar itu lo. Sewaktu lomba cerpen antara kecamatan dia yang mendapat rangking dua itu lo. Masih ingat?" Ujar Anto mulai ingat.
__ADS_1
"Oh Fitri yang itu, kenal-kenal" Ujar Anto setelah berhasil mengingat orang siapa yang dan maksud.
"Wah, ternyata dia jodoh mu ya Tian. Padahal waktu itu banyak juga lo teman-teman kita yang suka sama dia. Secara dia manis dan juga pintar"
"Iya aku juga tidak menyangka aku bisa berjodoh dengannya dan aku sangat bersyukur kepada Allah Karena aku telah dipertemukan dan dipersatukan kepada wanita yang sangat aku cintai itu yang telah membuat aku berubah seperti ini" Ujar Tian lagi.
"Alhamdulillah kamu bisa mendapatkan jodoh yang tepat dan yang terbaik yang diberikan oleh Allah kepadamu. Di mana dia bisa menuntun mu menjadi orang yang lebih baik lagi. Aku senang dan aku bahagia mendengar hal itu" Ujar Anto merasa senang di hatinya melihat orang yang dulu nya sangat nakal dan bisa berubah seperti ini.
Sungguh benar apa yang di kata orang-orang, jika Allah berkehendak, maka semua nya akan mudah dan akan kembali menuju jalan yang benar.
"Terus bagaimana dengan anak mu? Apa dia menyukai ibu baru nya?" Tanya Anto.
"Fitri itu wanita yang sangat baik. Hatinya sangat tulus. Terlebih dia suka dengan anak-anak. Yah dulu nya dia memang menjadi guru salah satu TK di kota ini. Dan semenjak aku menikah dengan nya, dia pun berhenti menjadi guru TK itu. Dan fokus untuk mengurusi keluarga kecil kami" Jelas Tian.
"Tida hanya aku yang berubah, anak ku Sofi jug sangat berubah karena nya. Kamu tahu dulu nya Sofi itu sangat sulit untuk menerima materi pelajaran, namun saat bersama Fitri, dia menjadi anak yang pintar. Sungguh Fitri itu membawa perubahan di keluarga ku" Ujar Tian tersenyum senang mengingat nya.
"Terlebih saat ini Fitri sedang mengandung anak kedua ku. Sungguh rasa bahagia ini semakin berlipat ganda" Jelas Tian lagi.
"Alhamdulillah Tian, aku sangat senang mendengar berita ini. Aku begitu bahagia" Ujar Anto.
"Terima kasih Anto, aku harap semoga kamu juga bisa menemukan jodoh yang terbaik untuk mu nanti nya. Dan semoga saja ibu mu cepat sembuh ya" Ujar Tian.
"Ya sudah aku pamit dulu. Aku harus kembali ke kantor ku" Ujar Tian mulai bangkit dari duduk nya.
"Oh ya, ini kartu nama ku dan di sana ada alamat kantor ku. Besok kamu datang saja ke kantor ku ya" Ujar Tian lagi menyerahkan kartu nama nya kepada Anto.
"Terima kasih Tian" Ujar Anto mengambil kartu nama itu.
"Iya sama-sama" Ujar Tian berlalu dari hadapan nya Anto.
"Aku benar-benar tidak menyangka Tian begitu berubah saat ini. Ternyata kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Seperti Tian, dulu nya dia sangat nakal tapi sekarang dia berubah. Bahkan hati nya sangat baik. Dia mau membantu teman nya dalam kesusahan saat ini. Sungguh Fitri berhasil membuat Tian berubah sangat drastis" Ujar Anto kepada diri nya sendiri melihat kepergian Tian dari hadapan nya itu.
"Dan di saat kita berpikir orang itu akan sukses karena dia baik, pintar justru itu belum tentu benar ada nya. Karena seperti Tian ini saja lah contoh nya. Dulu dia nakal sekarang sudah berubah. Kita tidak tahu ke depan nya nasib seseorang itu seperti apa" Ujar nya lagi.
***
"Tian, dari tadi aku nungguin kamu, ternyata baru kembali ke kantor nya sekarang" Ujar Susan masuk ke dalam ruangan Tian.
"Ada apa Susan?"
"Ini tadi setelah aku menjemput Sofi dari sekolah nya aku membeli mue brownis ini untuk mu. Yah sengaja untuk cemilan kamu sambil bekerja" Ujar Susan lagi tersenyum dengan penuh perhatian.
"Ya ampun Susan. Gak perlu kamu repot-repot membawa kan ku cemilan seperti ini. Jika aku mau, aku bisa kok beli sendiri. Aku tidak mau membuat mu repot. Kamu sudah sudi menjaga Sofi dengan baik itu sudah cukup bagi ku" Ujar Tian lagi.
"Ya ampun Tian, nggak perlu sungkan dan merasa kamu itu merepotkan aku seperti itu dong. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan olehmu dan aku tidak keberatan jika memberikan perhatian lebih kepada kamu dan Sofi. Secara kita kan masih keluarga. Karena Sofi masih ada ikatan darahnya kepada kamu dan juga aku sebagai tantenya" Ujar Susan meyakini Tian.
"Setidak nya kita ini sebagai adik dan abang, wajar bukan saling perhatian seperti ini?" Jelas nya lagi.
"Iya kamu benar. Terima kasih ya Susan. Kamu memang gadis yang baik. Sofi beruntung mendapatkan tante sebaik kamu" Ujar Tian lagi dengan tulus.
"Iya sama-sama. Aku juga beruntung men
dapatkan keponakan yang cantik dan pintar seperti Sofi itu" Ujar Susan tersenyum.
"Dan aku pun sebentar lagi akan sangat bahagian dan beruntung karena akan mendapatkan kamu di dalam hidup ku. Aku akan rampas kembali apa yang seharus nya menjadi milik aku" Batin Susan.
"Ya sudah, aku permisi keluar dulu ya. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan" Ujar Susan lagi.
Tian hanya mengangguk memberi izin.
__ADS_1