Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 90


__ADS_3

Mama Tian datang berkunjung ke cafe ku untuk bertemu denganku dan juga Sofi yang mana sangat ia rindukan karena sudah lama tidak bertemu.


"Opa... " Teriak Sofi ketika melihat laki-laki paruh baya itu masuk ke dalam cafe ku.


"Sayang opa" Sambut papa Tian dengan pelukan kepada cucu kesayangannya itu.


"Sofi kangen sama opa dan oma. Sofi senang banget opa dan oma berkunjung bertemu dengan Sofi" Celoteh gadis kecil itu lagi.


"Pa" Ujarku sambil mencium punggung tangan mantan papa mertuaku itu.


"Apa kabar nak?" Tanya lelaki paruh baya itu kepadaku.


"Alhamdulillah sehat pa, seperti yang papa lihat saat ini. Papa gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, sehat juga nak seperti yang kamu lihat juga"


"Ayo pa, duduk bersama kami" Ajak ku kepada mantan papa mertuaku itu untuk bergabung bersama kami.


Tanpa diminta yang kedua kalinya siapa dia langsung duduk bersama kami.


"Sebentar ya pa, aku ambilkan makanan dan juga minuman untuk papa" ujarku langsung masuk ke dapur untuk mengambil makanan dan juga minuman yang harus disajikan untuk mantab mertuaku itu. Ya karena yang hadir itu orang yang spesial, maka aku sendirilah yang melayani mereka.


Setelah beberapa menit aku pun kembali dengan membawa makanan dan juga minuman untuk papa Tian.


"Ini pa, Silakan dinikmati hidangannya" Ucap ku dengan tersenyum ramah kepada mantan papa mertuaku ini.


"Terima kasih ya nak"


"Oh ya, papa dan mama nginap di sini?"


"Gak kok, kami pulang. Kasihan Meisi tinggal sendirian di rumah" Jawab wanita paruh baya itu.


"Meisi ada di sini ma? Kenapa gak ke sini saja dia. Yah sudah lama juga tidak bertemu dengan nya"


"Gak mau dia nya, dia mau pergi bersama teman-teman nya keliling kota untuk menikmati masa libur nya" Jelas mama mertua ku lagi


"Oh gitu"


"Fitri, datang lah ke rumah kami di luar kota. Apa salah nya kamu berkunjung ke rumah meski kamu bukan lagi istri nya Tian" Pinta mama Tian kepada ku.


"Iya ma, nanti jika ada waktu aku akan berkunjung ke rumah papa dan mama bersama Sofi" Ujar ku.


"Ya mama sama papa harap di malumin saja kalau aku akhir-akhir ini memang sedang sibuk. Paginya aku mengajar siang nya aku ngurusin cafe hingga malam dan ketika hari libur seperti Sabtu dan Minggu aku pergi kuliah. Jadi aku tidak mempunyai waktu untuk libur" Jelas ku.


"Iya mama dan papa mengerti kok kesibukan kamu. Tapi nanti ketika kamu ada waktu luang, tolong mampir ya ke rumah mama"


"Insya Allah ma agar ku usahakan nantinya" Ucap ku lagi.


"Oh ya pa, bagaimana keadaan Susan? Apa dia sudah siuman?" Tanya ku kepada papa Tian.


"Sudah kok nak,


***


"Kami pulang dulu ya, sayang baik-baik ya sama mama. Nanti jika liburan oma akan menjemput Sofi untuk nginap di rumah oma" Ujar mama Tian kepada Sofi.


"Iya oma, sudah lama juga Sofi tidak berkunjung ke rumah oma dan opa" Ujar gadis kecil itu.


"Iya sayang. Fitri titip Sofi ya" Ujar papa Tian.


"Iya pa" Jawab ku.


Sofi pun Melambaikan tangannya melihat mobil yang dikendarai oleh opa dan omanya itu mulai melaju dengan kecepatan sedang.


***


Susan yang baru selesai menjalani operasi menggerakkan dengan pelan jemarinya pertanda dia sudah sadar.


"Susan" Tegur mamanya saat menyadari bahwa jemari putrinya itu sudah bergerak.


Pelan-pelan Susan membukakan matanya untuk memastikan dia berada di mana saat ini.


"Ma sekarang kita berada di mana?" Tanya Susan kebingungan karena perubahan tempat dirinya berada.


"Kita sekarang berada di ruang pemulihan. Syukurlah kamu sudah sadar nak. Mama sangat khawatir dengan keadaan kamu" Jelas wanita paruh baya itu mengusap lembut rambut putrinya.


"Apa operasinya berjalan dengan lancar ma? Terus bagaimana keadaan bayiku?"


"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar sayang. Kamu sekarang sudah tidak mengidap penyakit miom lagi dan bayimu juga baik-baik saja di dalam kandunganmu. Itu dokter hanya melakukan pengangkatan pada miom mu tidak dengan kandungan" Jelas mama Susan kepada putrinya.


"Hanya saja, untuk beberapa waktu ke depan kamu harus tinggal di rumah sakit ini hingga dokter benar-benar memastikan bahwa kamu bisa pulang karena kondisi mu sudah membaik. Saat ini dokter harus memantau perkembangan pada janin mu" Tambah mama Susan lagi.


"Terus di mana Tian saat ini ma?"


"Tian sedang keluar sebentar untuk mencari makan siang"

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini sebentar ya mama mau panggilin dokternya dulu" Ujar wanita paruh baya itu langsung keluar dari ruangan putrinya untuk memanggil dokter yang menangani operasi putrinya itu.


Setelah beberapa menit, wanita baru bayar itu pun kembali dengan seorang dokter bersamanya. Dokter tadi pun memeriksa keadaan Susan.


"Syukurlah bu Susan sudah siuman. kami sudah berhasil mengangkat miom yang ada di dalam rahim bu Susan. Meski begitu kami harus terus memantau keadaan bu Susan dan juga janin yang ada di dalam kandungan bu Susan. Karena takutnya akan timbul miom yang baru di sana. Oleh karena itu bu Susan untuk beberapa waktu ke depan harus menginap di rumah sakit ini sampai benar-benar miom itu dipastikan tidak ada lagi di rahim ibu dan rahim ibu dinyatakan bersih" Jelas Dokter tadi kepada kedua ibu dan anak itu.


"Terima kasih dok" Jawab mama Susan.


"Ya sudah saya permisi dulu ya. Sebentar lagi bu Susan akan dipindahkan di ruangan bu Susan" Ujar dapat tadi langsung keluar dari ruangan tersebut.


***


"Susan, kamu sudah sadar?" Tanya Tian yang baru saja masuk ke ruangan itu setelah beberapa lama dia pergi dan Susan pun sudah kembali ke ruangan nya semula.


Susan mengangguk.


"Kamu dari mana?"


"Aku mencari makanan untuk mama. Oh ya kamu sudah makan?"


"Belum"


"Ya sudah aku suapin ya" Ujar Tian mengambil makanan yang di berikan oleh pihak rumah sakit tadi.


"Ma, ini makanan untuk mama" Ujar Tian memberikan sebungkus makanan yang dibawanya tadi kepada mama mertuanya itu.


"Ya sudah, pergi ke kantin dulu ya untuk makan siang. Tolong kamu jagain Susan ya Tian" Ujar wanita paruh baya itu langsung meninggalkan kedua pasangan suami istri itu.


Tian pun langsung menyuapi Susan makan siangnya.


***


"Ya ampun, entah apa nasib ku ini. Kedua putri ku sama-sama jatuh cinta dan menjadi istri dengan orang yang sama. Dulu Santi meninggal dunia karena pendarahan saat melahirkan Sofi. Sekarang malah Susan yang mengidap penyakit miom. Apa semua ini disebabkan oleh Tian ya? Semua istri nya jadi tidak sehat seperti ini bahkan sampai meninggal. Dulu dengan si Fitri juga Fitri ada gangguan kehamilan nya. Di mana kandungan Fitri itu lemah. Apa ini Tian penyebab semua ini ya?" Batin mama Susan bertanya-tanya lagi.


"Ah sudah lah, jangan terlalu aku pikirkan semua itu. Yang jelas saat ini aku harus berhasil membuat Susan bisa merebut semua kekayaan yang ada pada Tian. Setelah itu aku akan meminta Susan meninggalkan Tian karena tidak ada gunanya lagi bersama laki-laki itu. Lagian aku mau memberikan pelajaran kepada mama Tian yang berani-beraninya telah menghina anakku seperti tadi. Aku tidak terima semua itu" Ujar mama Susan kesal.


***


"Alhamdulillah, makanan nya sudah habis" Ujar Tian senang.


"Ya Alhamdulillah"


"Ini sekarang minum obat nya ya" Tian memberikan beberapa obat yang ada di atas meja samping tempat tidur Susan itu kepada istri sirinya untuk diminum.


"Maafkan aku ya San, aku jadi berpikir semua penyakit yang kamu alami saat ini adalah karena aku. Apa aku pembawa sial ya?" Tanya Tian menunjukkan kepalanya merasa tidak enak hati dengan apa yang terjadi kepada istri sirinya itu.


"Kenapa kamu bisa ngomong seperti itu si Tian? Semua ini sudah takdir. Jadi kamu tidak boleh ngomong seperti itu"


"Sepanjang hari aku memikirkan hal itu. Karena dulu saat aku menikah dengan Santi, Santi meninggal karena melahirkan Sofi. Fitri kandungannya lemah dan hingga pada akhirnya Raffa pergi meninggalkan kami karena penyakitnya. Sekarang kamu yang menjadi istriku malah mengidap penyakit ini. Apa semua ini gara-gara aku" Ujar Tian menundukkan kepalanya karena merasa sedih dengan kondisi yang dialami saat ini.


"Jangan kamu menyalakan diri kamu seperti itu dong sayang. Semua ini memang sudah jalannya. Dan kita sebagai manusia hanya bisa menjalani semua garis takdir yang ditentukan oleh sang pencipta" Ujar Susan terdengar bijak kepada suaminya itu.


"Aku benar-benar merasa bersalah kepada kamu aku takut apa yang menimpa sama Santi akan terjadi lagi kepadamu. Aku tidak mau menyesal untuk yang kesekian kalinya"


"Sayang" Panggil Susan dengan lembut mengangkat wajah Tian yang menunduk saat itu karena merasa bersalah kepada Susan agar suaminya itu bisa menatap bola matanya.


"Apa pun, yang terjadi saat ini semua itu sudah takdirnya kamu harus percaya sama aku. Aku ikhlas kok menjalani semua ini. Lagian mungkin ini teguran yang Tuhan berikan kepadaku karena kesalahan-kesalahanku terdahulu" Ujar Susan lagi dengan mantap.


Tian hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan dari istrinya itu.


***


Semua persiapan untuk acara lamaranku telah diselesaikan oleh keluargaku hari itu. karena malam itu keluarga Pak Rendi akan datang untuk melamar ku menjadi pendamping hidupnya.


Tentu saja aku merasa deg-degan karena akan dilamar oleh seorang laki-laki yang bisa dikatakan baik budinya dan juga agamanya. Sehingga aku yakin nantinya dia bisa menjaga pernikahan kami sebaik-baiknya dan tentu saja dia tidak akan berselingkuh dan menghianati ku karena dia adalah seorang ustad yang tahu sedikit banyaknya tentang agama.


"Ma" Tegur Sofi masuk ke dalam kamarku. Ya saat ini gadis itu masih bersamaku karena Tian masih menemani Susan di rumah sakit.


"Iya sayang" Jawab ku lembut kepada putri ku itu.


Sofi datang mendekatiku dan duduk di sampingku Yang dari tadi aku duduk di atas kasur tempat tidurku. Bisa ku lihat raut gadis itu sedang sedih.


"Kenapa sayang?" Tanya ku dengan lembut kepada putri ku itu.


Sofi hanya terdiam mendengar pertanyaan ku itu. Gadis kecil itu tampak memikirkan apa yang mau di ucapkan nya kepada ku.


"Kok diam? Ada apa sayang" Tanya ku lagi.


"Ma, apa benar mama mau menikah lagi?" Tanya nya dengan lembut menatap bola mata ku.


Bisa ku lihat ada raut kesedihan di wajah gadis itu. Aku tersenyum ramah dengan putri ku itu.


"Emang nya kenapa sayang?"


"Tadi, kak Dina bilang kalau mama mau menikah lagi sama pak Rendi. Apa itu benar ma?"

__ADS_1


"Jika mama menikah dengan pak Rendi apa Sofi tidak mengizinkan nya?"


"Bukan begitu ma, Sofi mau mama bahagia. Jika mama tidak bisa bahagian bersama papa, mama boleh kok mencari kebahagiaan bersama orang lain. Tapi.... "


"Tapi kenapa sayang?"


"Apa nanti setelah mama menikah Sofi masih bisa bersama mama? Pasti nanti nya mama akan lupa sama Sofi dan sibuk dengan keluarga baru nya seperti papa. Sofi akan kesepian" Ujar gadis itu lagi dengan sedih nya.


"Sayang mama, bagaimana pun mama ini tetap mama nya Sofi meski mama sudah menikah dengan pak Rendi. Rasa sayang mama ke Sofi tidak pernah berubah. Rasa sayang itu akan tetap ada dan selamanya di hati mama untuk Sofi. Sofi masih bisa kok nantinya bermain di sini bersama mama ataupun menginap di rumah mama. Mama tidak keberatan sama sekali kok sayang" Jelas ku dengan menatap bola mata gadis itu.


"Lagian, Siapa bilang papa itu sibuk dengan keluarga barunya? Papa masih sayang kok sama Sofi dan selalu mikirin Sofi. Hanya saja saat ini mama Susan sedang sakit sayang dan dia sangat membutuhkan papa untuk menemaninya dan memberikannya semangat di rumah sakit. Sofi kan tahu sendiri di rumah sakit itu tidak boleh ada anak kecil karena anak kecil itu rentan dengan penyakit. Makanya Sofi dititipkan sama papa ke mama. Tapi bukan berarti papa itu tidak sayang sama Sofi dan sibuk dengan mama Susan. Karena keadaan yang mengharuskan papa melakukan hal itu. Dan seharusnya putri mama satu ini, yang cantik jelita mengerti dengan keadaan papanya" Tambah ku lagi.


Gadis kecil itu hanya terdiam sambil menatap bola mataku dalam-dalam. Meminta kepastian apakah benar ucapanku itu atau tidak.


Melihat gadis itu hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, aku pun kembali mengucapkan kata-kata yang pernah ku ucapkan padanya dulu.


"Sayang, masih ingatkah dengan apa yang mama katakan kemarin?"


Sofi menatapku dengan tatapan heran dan kebingungan.


"Meski mama tidak berada di sampingmu saat ini, tapi mama akan selalu ada di hati kamu. Begitu juga sebaliknya meskipun Sofi tidak berada di samping mama saat ini. Namun Sofi akan selalu ada di hati mama untuk selamanya. Karena rasa sayang mama ke Sofi itu tidak akan pernah berubah begitu juga rasa sayang Sofi ke mama bukan" Ujar ku kepada Sofi putri kecil ku itu.


Sofi kembali tersenyum mendengar ucapanku itu. Kata-kata itu mampu mengobati rasa kesedihan di hatinya yang membutuhkan kasih sayang kedua orang tua yang lengkap.


"Sayang, dengerin mama deh seharusnya Sofi itu bersyukur karena Sofi memiliki dua mama dan juga dua papa yang akan menyayangi Sofi dan melindung Sofi selamanya dari kejahatan apapun"


Bisa aku lihat Sofi hanya mengukir senyumannya yang tampak dipaksakan.


"Sofi, ada papa mu tuh di bawah" Ujar Ijal keponakanku datang memberitahu bahwa Tian sedang berada di bawah untuk bertemu dengan Sofi.


"Papa?"


"Iya" Jawab Ijal lagi langsung meninggalkan kamu yang masih berada di dalam kamarku itu.


"Ayo sayang kita ke bawah temuin papa. Sudah mama bilang kan papa itu sayang sekali sama Sofi. Sudah beberapa hari ini dia tidak melihat keadaan Sofi dan pasti dia merasa kangen kepada kamu sayang. Makanya dia datang ke sini untuk bertemu denganmu dan melihat keadaan kamu bagaimana" Jelas ku sambil tersenyum lembut kepada putriku itu.


Sofi pun tampak gembira mendengar berita bahwa papanya datang untuk berkunjung melihat keadaannya.


"Ayo sayang" Ucapku lagi menggandeng tangan mungil Putri Tian itu untuk bertemu dengan papanya yang sedang menunggunya di bawah.


***


"Papa" Teriak gadis kecil itu berlari menuju papanya dan disambut oleh papanya dengan pelukan hangat dan juga ciuman di puncak kepalanya.


"Sayang, papa kangen sama kamu sayang. Maafin papa ya aku harus menitipkan kamu sama mama Fitri. Karena tidak mungkin kan papa membawa kamu ke rumah sakit. Sedangkan di rumah kamu tinggal sendirian bersama bik Ina" Jelas Tian lagi.


"Iya pa, gak apa-apa. Sofi senang kok berada di sini bersama mama Fitri di sini ramai orangnya. Sehingga Sofi tidak merasa kesepian" Jelas nya lagi.


"Oh ya Tian, ayo masuk ngapain juga masih berdiri di luar sana" Ucap ku mempersilahkan Tian masuk ke rumahku.


"Terima kasih" Ujar Tian masuk rumahku dan langsung duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


Tian terlihat bingung karena tidak biasanya di rumahku itu ramai dengan saudara-saudaraku beserta keluarganya.


"Ramai sekali di rumah ini? Emangnya ada acara apa" Tanya Tian penasaran.


"Malam ini akan diadakan acara lamaran" Jelas ku.


"Lamaran siapa? Apa salah satu dari keponakanmu akan dilamar sama pacarnya?" Tanya Tian masih dengan penasarannya.


"Bukan Tian, Kamu kan tahu sendiri bahwa keponakanku itu semuanya masih sekolah dan nggak mungkin kan dilamar atau melamar orang"


"Terus siapa?"


"Aku"


Deg....


Sontak seperti petir menyambar yang menghantam hati Tian saat ini mendengar aku akan dilamar oleh seorang laki-laki.


"Kamu di lamar?" Tanya lagi masih belum percaya.


Aku mengangguk membenarkan apa ya ditanya kan nya tadi kepadaku.


"Siapa? Maksudku siapa laki-lakinya?" Tanya nya lagi.


"Kamu pasti kenal dengan siapa laki-laki yang akan melamar ku nanti. Karena kamu sudah pernah ketemu dengan dia"


Tian mengerutkan keningnya mencoba untuk mengingat-ingat siapa saja yang pernah ia temui di mana saat ini orang tersebut sedang dekat denganku.


"Siapa ya?" Tanya nya lagi.


"Pak Rendi" Ucapku pada akhirnya.


"Pak Rendi? Pak Rendi yang Ustad itu? Yang mengajar di tempatmu? Yang memiliki beberapa cabang usaha kulinernya dan dia juga yang kemarin memberikan kamu sedikit modal untuk membuka cafe mu itu Iya Dia orangnya?"

__ADS_1


__ADS_2