Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 80


__ADS_3

Malam itu Tian mengatakan akan mengantar Sofi ke rumah ku. Gadis kecil itu akan menginap di rumah ku. Tentu saja aku merasa senang dan bahagia saat mengetahui hal itu. Di mana aku memang sangat merindukan mantan anak sambung ku itu yang telah aku anggap sebagai putri ku sendiri.


"Mama... " Teriak nya turun dari mobil langsung memeluk ku.


"Iya sayang" Aku membalas pelukan itu tak lupa ku kecup kening nya dengan penuh kasih sayang.


"Sofi kangen sama mama"


"Iya sayang, mama juga kangen sama kamu" Ujar ku.


"Fit" Tegur Tian.


"Iya" Jawab ku tersenyum.


"Ini pakaian Sofi. Aku titip Sofi di sini ya"


"Iya, makasih ya kamu tidak membatasi ku untuk bertemu dengan Sofi" Ujar ku mengambil tas yang berisi pakaian Sofi yang di berikan Tian tadi.


"Iya sama-sama"


"Ayo masuk dulu"


"Terima kasih, tapi maaf aku gak bisa. Aku harus kembali ke kantor" Jawab nya lagi.


"Oh ya sudah kalau gitu. Hati-hati" Ujar ku.


Tian langsung masuk ke dalam mobil nya dan langsung mengendarai mobil nya menjauh dari rumah ku. Aku dan Sofi masuk ke rumah setelah melihat Tian menjauh.


"Fitri, kamu benar-benar wanita hebat. Kami begitu sayang kepada Sofi selayaknya anak sendiri. Kenapa maaf kan aku yang telah mengecewakan mu" Ujar Tian sambil terus menyetir kendaraan nya.


"Aku benar-benar bodoh karena telah melepaskan wanita seperti kamu" Tambah nya lagi.


***


"Sayang, kamu sudah makan siang?" Tanya ku sama Sofi.


"Belum ma, tadi waktu pulang sekolah, Sofi langsung di antar ke rumah mama. Karena papa harus segera kembali ke kantor"


"Kalau gitu, ayo kita makan siang sama-sama. Kebetulan mama sudah masakin makanan kesukaan kamu"


"Wah, asyik... " Sorak nya langsung berlari ke meja makan.


***


"Mama" Tegur Sofi saat aku sedang berselancar dengan ponsel ku.


"Iya sayang" Jawab ku meletakan kembali ponsel ku di atas nakas yang berada di samping tempat tidur ku.


"Boleh Sofi tanya sesuatu sama mama?"


"Boleh dong sayang. Mau tanya apa?"


"Apa benar papa dan mama telah berpisah? Papa dan mama tidak menjadi suami istri lagi? Papa dan mama tidak bisa tinggal bersama lagi" pertanyaan dami pertanyaan telah berhasil keluar dari mulut mungil gadis itu.


Deg...


Sontak aku kaget mendengar pertanyaan dari gadis kecil itu. Secara dari mana dia tahu bahwa aku dan Tian sudah bercerai.


"Apa Tian yang mengatakan semua ini?" Tanya ku dalam hati.


"Sayang, kamu tahu dari mana hal itu?"


"Dari tante Susan. Tante Susan yang ngomong itu sendiri sama Sofi"


"Susan, benar-benar dia itu tidak bisa menjaga rahasia. Kenapa dia harus bilang hal seperti itu kepada Sofi. Apa dia tidak memikirkan perasaan Sofi? Di mana sih perasaan nya?" Batin ku merasa geram dengan sikap Susan yang ceplas ceplos begitu.


"Ma, berarti mama bohong dong sama Sofi"


"Bohong, bohong gimana sih sayang?"


"Mama bilang sama Sofi, mama akan kembali lagi ke rumah jita semua urusan mama selesai di sini. Tapi nyata nya mama gak akan mungkin kembali lagi ke rumah" Ujar gadis kecil itu dengan sedih.


"Sayang, maaf kan mama ya nak. Mama bilang seperti itu karena mama gak mau melihat Sofi sedih"

__ADS_1


"Gak apa-apa kok ma. Lagian Sofi ngerti kok kenapa mama melakukan hal itu. Lagian Sofi juga gak mau maksain mama pasti nanti nya mama akan terus merasa sakit" Ucap nya lagi.


"Terima kasih ya sayang sudah mengerti keadaan mama"


"Iya mama sama-sama" Kami pun saling berpelukan.


***


"Sayang, kenapa masih di luar sih, sudah malam begini juga. Ayo masuk istirahat" Tegur Susan saat melihat Tian masih berada di teras belakang rumah nya.


"Kamu duluan aja" Jawab Tian dengan dingin.


Susan menghela napas berat. Kemudian Susan datang mendekati Tian dan duduk di samping suaminya itu.


"Aku akan menemani kamu di sini. Lagian rumah juga terasa sepi karena Sofi tidak ada di rumah ini" Ujar Susan sok perhatian.


Tian menatap Susan yang duduk di sampingnya dengan kesal. Sontak kejadian tadi malam terbayang lagi di benaknya di mana Sofi mengatakan bahwa Susan lah yang telah mengatakan bahwa aku dan dia telah bercerai.


"Jangan sok perhatian kamu sama Sofi. Seharus nya kamu itu senang karena Sofi bersama Fitri"


"Lo, Tian kok kamu ngomongnya gitu sih bagaimanapun Sofi itu putriku juga. Jelas aku merasa kesepian jika dia tidak ada di rumah. Aku sayang lo sama Sofi, selain dia anak sambung ku, dia juga keponakanku" Bela Susan.


"Oh ya, Jika kamu sayang sama Sofi Ngapain juga kamu ngomong ke dia kalau aku dan Fitri sudah bercerai? Kamu tahu kan hal itu akan membuat psikolognya terganggu. Kemarin kamu mengatakan kalau aku dan kamu sudah menikah sehingga membuatnya terguncang. Dan sekarang kamu mengatakan aku dan Fitri bercerai. Hal itu membuat dia semakin terguncang. Kenapa kamu harus mengatakan itu semua sekarang? Sekarang belum saatnya untuk mengatakan semuanya kepada Sofi. Dia masih kecil dan dia belum bisa mengerti tentang semua ini" Tegur Tian kepada istri sirinya itu.


Susan terdiam mendengar Tian marah kepadanya.


"Maafkan aku Tian. Aku melakukan semua itu karena aku tidak mau Sofi berharap banyak kepada Fitri. Lagian aku merasa cemburu karena Sofi lebih dekat dengan Fitri dari pada aku. Maafkan aku ya Sayang jika caraku ini salah untuk membuat Sofi berpisah dengan Fitri" Ujar Susan dengan raut wajah menyesal.


"Kamu tidak bisa memaksa Sofi untuk menerima kamu sebagai mamanya saat ini. Sofi sedang terluka karena mengetahui kita sudah menikah waktu itu. Dia butuh waktu untuk menerima semuanya dan kamu tidak bisa memaksanya untuk menerima semua ini secepat itu" Ujar Tian.


"Ya sayang, aku minta maaf. Aku menyesal" Ujar Susan mencoba mengeluarkan air mata buayanya.


"Sudah kamu jangan menangis lagi. Aku harap kamu bisa belajar dari semua kesalahan kamu. Jika kamu ingin Sofi menerima kamu seperti dulu lagi. Cobalah untuk mengerti keinginannya dan pahami situasinya. Jangan kamu memaksa dia untuk menerima segalanya secepat itu" Ujar Tian mulai melembutkan suara nya.


"Iya sayang maafkan aku" Ujar Susan lagi.


***


"Waalaikumsalam, eh ustad Rendi" Ujarku setelah melihat siapa yang datang menegurku.


"Sendirian?"


"Iya, sendirian. Ustad sendirian juga di sini?"


"Lagi-lagi panggil saya ustad. Panggil saya Rendi saja" Ujar Ustad Rendi dengan tersenyum ramah.


Aku tersenyum mendengar ucapan dari ustad Rendi tadi.


"Tapi tidak enak jika saya hanya memanggil nama saja. Bagaimana saya memanggil dengan sebutan bapak saja. Karena ya bagaimanapun kita mengajar di tempat yang sama. Tidak mungkin kita hanya memanggil dengan sebutan nama saja bukan pasti tidak enak didengar sama anak-anak"


"Ya sudah, terserah kamu saja tapi saya tidak nyaman jika dipanggil dengan sebutan ustad. Karena saya masih belajar tentang ilmu agama dan belum sempurna seperti ustad-ustad yang lain"


Aku hanya bisa menanggapi perkataan dari ustad Rendi itu dengan senyuman.


"Oh ya, Boleh saya bergabung?"


"Oh silakan pak" Jawabku mempersilahkan ustad Rendi duduk berhadapan denganku.


Aku dan ustad Rendi ngobrol-ngobrol ringan dengan ustad Rendi. Seputar sekolah, bisnis bahkan tentang agama. yah ustad Rendi juga sedang mengembangkan bisnis berupa kuliner yang telah memiliki cabang beberapa di berbagai daerah kota Pekanbaru.


"Wah, Saya turut senang mendengar perkembangan bisnis yang dijalani oleh pak Rendi. saya juga sedang belajar untuk berbisnis. Di mana saya baru saja membuka sebuah cafe yang berada di seberang sana"


"Wah, Selamat ya, jika kamu mau bertanya tentang seputar bisnis, kamu boleh bertanya sama saya saja. Saya akan mengajarkan kamu apa yang saya ketahui" Ujar Ustad Rendi menawarkan jasanya.


"Baik lah, nanti jika saya butuh bantuan, saya akan meminta bantuan sama bapak. Terima kasih atas tawaran nya" Ujar ku tersenyum ramah.


"Oh ya maaf jika saya lancang. Bagaimana proses perceraian mu?"


Aku menghela napas berat mendengar pertanyaan dari ustad Rendi itu. Yah walau bagaimana pun dia juga adalah guru pengajian ku. Aku juga sering curhat dengan nya untuk meminta nasehat agar tidak salah langkah nanti nya.


"Sekarang saya dan Tian sudah resmi bercerai"


"Terus bagaimana dengan anak sambung mu?"

__ADS_1


"Meski kami sudah berpisah, tapi Tian tidak menghalangi saya untuk bertemu dengan Sofi. Sekarang saja Sofi menginap di rumah saya" Jelas ku lagi.


"Syukurlah jika begitu. Saya turut senang mendengar nya"


***


Aku dan ustad Rendi semakin dekat dan akrab. Kini cafe ku telah resmi di buka. Ustad Rendi juga membantu ku untuk grand opening cafe ku hari ini.


Aku mengundang beberapa kenalan untuk hadir di acara ku. Yah tak lupa aku juga mengundang Tian untuk datang beserta orang tua nya.


Mereka dengan senang hati hadir di acara ku itu. Tak ketinggalan Susan istri siri nya.


"Dasar janda kegenitan. Baru juga cerai dari Tian sudah dekat-dekat dengan laki-laki lain" Batin Susan melihat sinis kearah ku yang sibuk menyambut kedatangan para tamu bersama ustad Rendi. Yah ustad Rendi juga menanam saham di cafe ku saat mendengar aku buka cafe itu.


"Lumayan besar juga ya cafe Fitri. Yah bagaimana pun cafe ini juga ada uang nya Tian. Tian juga sudah memberikan sebagian saham nya untuk mantan istri nya itu" Batin Susan lagi.


"Fitri, selamat atas Grand Opening cafe barumu. Aku ikut senang karena kamu bisa membuka usaha baru" Ucap Tian kepada ku bersalaman.


"Terima kasih, ini semua tidak akan berhasil jika tidak ada bantuan dari pak Rendi" Ujar ku.


"Oh ya kenalin ini pak Rendi dia juga pemilik cafe ini. Kami membuka cafe ini bersama-sama. Pak Rendi kenalin ini Tian mantan suami saya. Dan ini istri nya Susan" Ujar ku memperkenalkan mereka. Mereka pun saling salaman.


"Wah kelihatan nya pak Rendi ini juga kaya raya deh. Penampilan nya kekinian sekali. Ternyata Fitri ini hebat juga ya dalam memikat laki-laki" Batin Susan tersenyum sinis.


"Mama.... " Sofi berlari ke arah ku dan langsung memeluk ku. Dia datang bersama papa dan mama ku.


"Hay sayang" Jawab ku menyambut pelukan gadis kecil itu.


"Selamat ya ma atas grand opening cafe mama. Sofi doain semoga cafe mama ini akan berkembang dengan baik. Aamiin"


"Aamiin makasih ya sayang" Jawab ku lagi.


"Papa... " Gadis itu beralih memeluk papa nya dan di sambut hangat oleh Tian.


"Sayang" Tegur Susan tersenyum berharap diri nya pun mendapat pelukan dari anak sambung nya itu.


Bukan nya memeluk Susan, Sofi malah kembali berjalan ke arah ku.


"Lo sayang, kok gitu sih? Itu mama Susan mau di peluk sama kamu" Bisik ku.


"Gak mau, Sofi benci sama tante Susan"


"Sayang gak boleh gitu dong. Bagaimana pun mama Susan itu sudah menjadi mama mu. Sofi harus hormat sama dia seperti Sofi hormat sama mama" Ujar ku mencoba membujuk putri ku itu.


"Tante Susan jahat. Dia telah merebut Papa dari mama dan juga Sofi"


"Sayang gak boleh gitu dong ngomong nya. Mama sama papa jodohnya tidak lama. Sekarang jodoh papa sama mama Susan. Sofi harus bisa menerima semua ini dengan lapang dada. Ini sudah takdir dari Allah untuk kehidupan kita. Dan kita harus menerimanya dengan ikhlas" Ucap ku mencoba memberi nasehat kepada putriku itu.


Sofi tampak diam dan berpikir mendengar apa yang aku ucapkan.


"Sekarang salim sama mama Susan nak" Pinta ku.


Sofi itu langsung mendengar perkataanku dia pergi ke arah Susan dan mencium punggung tangan Susan kemudian kembali lagi kepada ku. Aku tersenyum senang melihat putri sambung ku itu.


"Fitri, aku tidak mengerti bagaimana cara nya kamu bisa membuat Sofi mendengar semua perkataan mu. Bahkan aku sebagai papa kandung Sofi saja tidak bisa membuat nya menurut seperti ini" Batin Tian menatap ku dengan kagum.


"Sayang mama, Selamat ya atas cafe baru mu. Mama doain semoga cafe nya laris manis" Ucap dari mama Tian kepada ku.


Yah meski aku dan Tian sudah berpisah, namun silaturahmi kami tetap terjaga. Karena bagaimanapun persaudaraan kami tidak bisa diputuskan begitu saja.


"Ini mama bawain buket bunga untuk mu" Mama Tian menyerahkan satu buket bunga kepadaku. Aku menyambutnya dengan senang hati.


"Terima kasih ya ma"


"Sama-sama sayang"


"Semakin ke sini, kamu semakin cantik dan menarik Fitri. Kamu telah lahir menjadi wanita yang mandiri dan sukses seperti ini. Sungguh aku laki-laki yang bodoh telah melepaskan kamu begitu saja" Batin Tian menatap ku dengan kagum.


"Biasa aja kali menatap mantan istri nya. Ingat istri mu sedang berdiri di samping mu" Bisik Susan menyindir kepada Tian.


Tian sadar cepat-cepat ia mengalih pandangan nya.


"Ya sudah semua nya, ayo silahkan di cicipi makanan yang telah kami sediakan" Ujar ku.

__ADS_1


__ADS_2