Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 41


__ADS_3

Susan merasa puas karena perlahan Tian jatuh ke dalam pelukan nya. Begitu pun dengan mama nya. Mereka sangat bahagia perlahan rencana mereka berhasil.


"Ternyata pengorbanan dan kesabaran kamu selama ini tidak sia-sia" Ujar wanita paruh baya itu.


"Iya ma, kita akan mendapatkan apa yang seharus nya milik kita" Ujar Susan.


***


"Ya Allah angkat lah penyakit anak ku. Jika bisa aku meminta, biarlah aku yang menggantikan posisi anak ku saat ini. Sungguh aku tidak tega melihat nya seperti ini" Doa ku di sepertiga malam saat selesai melakukan solat di tengah malam.


Kembali aku menangis. Sungguh air mata ini sudah kering karena terus saja mengalir membasahi pipi.


"Fitri" Tegur mama ku yang sedari tadi menemani ku di rumah sakit.


Aku menghapus air mata ku agar mama ku tidak mengetahui bahwa aku sedang menangis.


"Mama" Jawab ku melepaskan mukena yang ku pakai tadi.


"Kamu belum tidur nak?" Tanya nya.


"Sudah kok ma, tadi aku sudah tidur dan terbangun mau buang air kecil. Terus aku solat deh" Jelas ku.


"Tian belum datang?" Tanya mama ku mencoba untuk mencari keberadaan suami ku itu.


"Belum ma, sepertinya dia tidak akan datang malam ini. Kata nya ada pekerjaan yang harus di selesaikan malam ini juga" Jelas ku lagi.


"Nggak seharusnya begitu juga dong nak. Bagaimanapun dia harus menemani kamu di saat keadaan seperti ini. Ini dari tadi mama sama sekali tidak melihat batang hidung nya" Ujar mama ku lagi.


Yah memang akhir-akhir ini Tian sepertinya berubah dia sama sekali tidak menampakkan diri di rumah sakit. Dia sudah jarang berkunjung ke rumah sakit melihat Raffa.


Aku pun tidak tahu apa penyebab dari perubahan sikapnya itu. Apa mungkin dia tidak bisa melihat Rafa kesakitan seperti ini? Atau adakah penyebab lain yang membuatnya berubah drastis seperti ini?


Entahlah aku pun tidak tahu.


"Apa ada kalian ada masalah nak? Akhir-akhir ini mama lihat Tian jarang ke rumah sakit" Ujar mama ku lagi.


"Entah lah ma, aku juga nggak tahu. Kemarin dia pernah bilang kepadaku bahwa aku menyerah saja untuk pengobatan Raffa. Karena dia tidak tega melihat Raffa terus-terusan menjalani pengobatan seperti ini katanya itu membuat Raffa semakin tersiksa" Ujar ku menitikkan air mata.


Sungguh hati ini merasa sangat sedih. Bahkan double kesedihan yang kurasakan saat ini. Di mana anakku satu-satunya sedang berjuang melawan penyakitnya, dan aku saat ini sedang membutuhkan suamiku untuk menguatkan ku dan mendukungku agar aku tetap tegar. Namun suamiku malah memintaku untuk menyerah dan pasrah dengan keadaan putraku saat ini.


Bener apa kata mama mu. Harusnya dia turut andil dalam pengobatan anakku saat ini. Karena Raffa bukan hanya anakku melainkan anaknya. Bagaimanapun dia harus tetap bertahan dan selalu menguatkan Raffa agar bisa bertahan. Bukan malah menyerah seperti ini.


Toh Raffa saja masih kuat dan tidak menyerah dalam menghadapi sakit nya. Terbukti hingga saat ini dia masih bertahan.


"Sudah lah nak. Kamu jangan terlalu memikirkan apa yang di katakan oleh Tian. Mungkin saat ini dia terpukul dengan keadaan anak kalian saat ini. Jadi nya dia bersikap seperti itu. Yang jelas saat ini kamu lah yang harus kuat untuk kesembuhan Raffa" Jelas mama ku menguatkan ku.


"Terkadang aku juga ingin menyerah ma dengan semua ini. Aku juga tidak tega melihat keadaan Raffa saat ini. Tapi setelah aku pikir-pikir kembali bahwa Allah itu tidak akan mengecewakan hamba nya yang sedang berusaha Oleh karena itu aku bertahan sampai detik ini" Jelas ku lagi.


"Iya sayang mama mengerti dengan perasaan mu. Jika mama berada di sisi mu, mama juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang kamu lakukan. Kamu yang sabar ya nak. Mama akan selalu ada di samping mu" Ujar mama ku memberikan semangat kepada ku.


"Iya ma, terima kasih ya ma sudah menemani ku" Ujar ku memeluk erat mama ku agar hati ini merasa tenang.


"Iya sayang sama-sama" Ucap mama ku menancapkan kecupan hangat di pipi ku.


***


"Ini aku buatin masakan spesial untuk kalian" Ujar Susan menyajikan makanan yang di masakan nya dia atas meja makan rumah Tian. Mereka akan mengadakan makan malam bersama.


"Wah, Sofi seperti nya masakan tante mu ini kelihatan nya enak" Ujar Tian kepada putri nya itu.


"Iya pa, papa benar. Sofi jadi semakin lapar deh" Ucap gadis kecil itu.


"Sebentar ya sayang, tante ambilkan makanan nya" Ucap Susan.


Susan mengambil menyendok makanan untuk Tian dan Sofi.


"Silahkan di nikmati" Ucap nya lagi.


Tian dan Sofi menyodorkan sesuap demi sesuap nasi ke dalam mulut mereka menikmati makanan yang di masak oleh Susan.


"Wah, ternyata tante mu ini pinter masak juga ya" Puji Tian.


"Iya pa, benar enak banget deh masakan tante Susan" Tambah Sofi lagi.

__ADS_1


Semakin tersenyum puas lah Susan mendengar kedua ayah dan anak itu memuji nya.


"Aku memang sudah lama belajar masak. Karena aku ingin nanti nya ketika aku sudah menikah, aku akan memasak makanan untuk suami ku. Aku tidak mau anak dan suami ku makan masakan orang lain" Jelas Susan memberikan kode kepada Tian.


Tian tersenyum melihat Susan. Dia mengerti maksud dari apa yang di katakan Susan barusan.


Hanya saja ia tidak bisa memberikan jawaban yang pasti karena saat ini hati nya masih bimbang dengan keadaan nya saat ini.


"Sofi, jika nanti tante yang menjadi mama nya Sofi gimana?" Tanya Susan mendadak membuat Tian tersedak.


Sofi menatap Susan dengan lekat. Mata nya masih heran dengan apa yang di tanyakan tante nya itu.


"Terus jika tante menjadi mama nya Sofi, tante Fitri bagaimana? Sofi gak mau kehilangan mama lagi. Mama Fitri baik dan sayang kepada Sofi" Jelas gadis kecil itu lagi dengan raut wajah kesedihan.


Deg...


Hati Tian merasa bersalah dengan perbuatan nya saat ini. Ia merasa bersalah kepada ku karena telah mulai menyalakan api di dalam rumah tangga kami.


"Ya Allah apa yang sebenarnya aku lakukan saat ini? Fitri telah menerima ku dan tidak mempermasalahkan segala kejahatan ku terdahulu. Terlebih dia telah menerima dan menyayangi Sofi seperti anak nya sendiri. Dan sekarang di saat dia sedang terpuruk seperti ini dan membutuhkan dukungan dari ku, aku malah berbuat hal yang tidak-tidak dan meninggalkan nya sendirian untuk menghadapi masalah ini sendirian. Aku malah mencari hiburan lain seperti ini" Batin Tian merasa bersalah.


***


"Papa, kapan mama pulang? Kapan juga adik Raffa sembuh. Kasihan adik Raffa" Ujar gadis kecil itu saat Tian meniduri nya di kamar nya.


Tian menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat.


"Papa juga tidak tahu nak. Sofi doain aja ya adik Raffa cepat sembuh dan kita akan berkumpul kembali bersama-sama di rumah ini" Jelas Tian.


"Iya pa, Sofi pasti akan mendoakan adik Raffa cepat sembuh. Sofi juga sudah kangen banget sama adik Raffa" Ujar gadis kecil itu lagi.


"Ya sudah sekarang, Sofi istirahat dulu ya. Besok kita akan kerumah sakit untuk menjenguk adik Raffa ya" Ujar Tian.


"Benar pa?"


"Iya sayang"


"Oke deh pa... " Gadis itu pun langsung memejamkan mata nya.


***


Tian melepaskan pelukan Susan dari tubuh nya.


"Tian, kenapa? Kenapa kamu malah menolak pelukan ku" Ujar Susan.


Tian berbalik dan menatap wajah Susan.


"Susan, kita sudah melakukan hal yang salah. Tidak seharus nya kita seperti ini" Ujar Tian merasa bersalah.


"Maksud kamu apa ngomong seperti ini?"


"Kita tidak boleh melanjutkan hubungan terlarang ini"


Susan tampak kaget dan kecewa dengan keputusan Tian barusan.


"Gak seenak nya seperti itu dong Tian. Setelah sekian lama kita menjalin kasih kamu memutuskan hubungan seperti ini saja dengan sebelah pihak? Hampir sebulan lo Tian kita berhubungan" Ujar Susan.


"Iya aku tahu. Aku minta maaf dengan kesilapan ini. Tidak mungkin kita melanjutkan hubungan ini. Aku telah memiliki istri"


"Memiliki istri? Bukan nya selama ini kamu tahu bahwa kamu memang sudah memiliki istri? Terus kenapa kamu malah memilih hubungan ini dengan ku? Apa alasan ini tepat untuk memutuskan hubungan ini begitu saja" Ujar Susan lagi dengan kesal.


"Aku khilaf Susan. Kali ini aku sudah sadar dan ingin memperbaiki semua nya. Aku tidak mau membuat istri dan anak ku kecewa" Ujar Tian lagi.


"Hahaha.... " Susan tertawa mengejek.


"Seenak nya saja kamu mengatakan hal itu ya Tian. Setelah apa yang kita lakukan selama ini.? Setelah kamu mendapatkan semua nya, kamu mau membuang ku begitu saja?" Ujar Susan dengan penuh amarah yang menggejolak.


"Enak saja kamu Tian. Tidak semudah itu kamu mencampakkan ku begitu saja" Tambah nya lagi.


"Aku tahu aku salah. Aku tahu semua itu, karena itu aku minta maaf dengan semua kesalahan yang pernah aku buat terhadap mu" Jelas Tian merasa bersalah. .


"Tian,. aku cinta sama kamu. Aku rela melakukan apa pun untuk kamu, bahkan aku rela menjadi simpanan atau yang kedua di hidup mu asalkan kamu tidak meninggalkan ku" Susan memohon kepada Tian.


"Tian, aku tidak bisa kehilangan kamu dan aku tidak mau kehilangan Sofi. Karena Sofi adalah satu-satunya keponakanku dan aku sangat menyayanginya" Ujar Susan memohon lagi.

__ADS_1


Tian tampak memikirkan apa yang di katakan Susan.


"Tian, selama ini akulah yang selalu ada disampingmu disaat kamu sedih dan disaat kamu terluka seperti ini. Aku yang selalu menghiburmu. Aku rela menjadi bayang-bayanganmu dan menghiburmu disaat kamu sedih asalkan kamu tidak meninggalkanku" Ujar Susan lagi memohon.


"Aku tidak bisa memberikan jawaban apa pun saat ini. Aku bingung harus mengatakan apa" Ujar Tian.


***


"Ah..... " Teriak Susan histeris di dalam kamar nya. Membanting alat-alat make up nya yang berada di meja hias karena merasa kesal terhadap Tian yang semudah itu untuk mengakhiri hubungan mereka.


"Kurang ajar kamu Tian enaknya saja kamu memintaku untuk mengakhiri hubungan kita setelah apa yang kita lakukan bersama dan setelah kamu mendapatkan semuanya. Kamu melepaskan aku begitu saja" Ujar Susan geram menggenggam tangannya erat-erat dan menggigit gerahamnya kuat-kuat sebagai pelampiasan amarah di hatinya.


"Aku tidak terima dengan semua ini Tian. Bagaimanapun aku membuat kamu jatuh ke dalam pelukanku. Jika aku tidak bisa memiliki kamu, maka wanita manapun tidak boleh memiliki kamu juga" Ujar Susan lagi.


"Aku akan melakukan apa pun untuk membuat kamu kembali ke dalam pelukan ku. Jika kamu tidak bisa menerima aku kembali maka aku akan mengungkapkan kelakuan kamu kepadaku mengatakan apa saja yang pernah kita lakukan bersama dengan istrimu" Ujar Susan dengan mata yang memerah.


Sungguh Tian tidak tega melihat gadis itu memohon seperti itu. Walau bagaimanapun dia pun bersalah dalam hal ini sedikit banyaknya.


Jika dia bisa menahan diri, pasti semua ini tidak akan terjadi ibarat kata pepatah tidak akan ada asap jika tidak ada api.


"Tian, aku mohon. Jangan tinggalkan aku sendirian aku tidak bisa kehilangan kamu" Ucap gadis seksi itu lagi.


Tian masih terdiam dengan seribu bahasanya. Dia sungguh bingung harus menjawab apa dan harus bersikap bagaimana terhadap gadis yang ada di depannya itu.


***


"Mama... " Sofi masuk ke ruangan tempat Raffa di rawat.


"Sayang mama" Ujar ku menyambut kedatangan putri kecilku itu dan memeluknya dengan hangat. Karena sudah lama kami tidak bertemu semenjak Raffa masuk ke rumah sakit.


"Sayang mama, mama kangen sama kamu nak" Ujar ku lagi.


"Iya ma, Sofi juga kangen sama mama"


"Sayang" Ujar Tian mencium puncak kepalaku dengan hangatnya.


"Sayang" Jawab ku mencium punggung tangan suamiku itu.


"Maaf ya sayang aku baru bisa berkunjung ke rumah sakit ini dan menjenguk Raffa. Karena akhir-akhir ini aku sangat sibuk di kantor" Ujar Tian berbohong.


"Iya sayang nggak apa-apa aku mengerti kok jika kamu sedang sibuk di kantor dan aku bisa memaklumi hal itu" Jawab ku.


"Bagaimana keadaan Raffa aku sudah ada perubahan?"


"Beginilah keadaannya masih seperti yang biasanya" Jawab ku menatap sedih ke arah putra ku yang sedang berbaring tak berdaya itu


Tian memeluk tubuh ku untuk memberikan semangat kepada ku.


"Sabar ya sayang, anak kita adalah putra yang kuat. Dia pasti bisa menghadapi ini semua dengan kuat" Ujar Tian kepada ku.


"Iya sayang. Terima kasih ya. Aku harap kamu akan selalu ada di samping ku saat aku rapuh seperti ini" Ujar ku.


"Iya sayang pasti. Aku pasti akan selalu ada di samping mu. Aku tidak akan meninggalkan mu lagi seperti kemaren. Kita hadapi semua ini sama-sama. Kita berjuang untuk kesembuhan putra kita" Ujar Tian lagi.


Aku mengangguk mendengar apa yang di katakan oleh suami ku itu.


"Oh ya, tadi malam siapa yang menemani mu?"


"Mama yang menemani ku di sini" Jawab ku.


"Sekarang di mana mama?"


"Ada di luar sedang mencari sarapan" Jawab ku.


"Tian" Tegur mama ku saat masuk ke ruangan itu.


"Mama" Jawab Tian mencium punggung tangan mamaku.


"Makasih ya ma tadi malam sudah menemani Fitri untuk menemani Raffa di sini. Maafkan aku yang sudah merepotkan mama karena aku terlalu sibuk dengan urusanku" Ujar Tian merasa bersalah.


"Ya ampun Tian, tidak perlu meminta maaf dan berterima kasih seperti itu kepada mama. Bagaimanapun Raffa adalah cucunya mama, dan Fitri adalah anaknya mama. Jadi mama harus selalu siaga membantu anak dan cucu mama jika membutuhkan. Lagian mama ngerti kok jika kamu sedang sibuk dengan urusan kantormu di kantor. Bagaimanapun kamu juga membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan Raffa saat ini. Mama maklumin itu kok" Ujar mamaku tersenyum dengan ramah kepada suamiku itu.


Tian terdiam dan menundukkan kepalanya merasa semakin bersalah kepada aku dan juga putraku. Di mana kami percaya bahwa dirinya itu sedang sibuk mengurus pekerjaan di kantor. Tapi kenyataannya ia sibuk mencari kesenangan di luar bersama Susan mantan adik iparnya itu.

__ADS_1


"Ya Allah maaf kan aku karena aku telah melakukan kesalahan terhadap istri dan juga anakku yang telah begitu mempercayaiku selama ini meskipun aku telah berbuat salah. Maafkan aku ya Allah ampuni dosa-dosaku" Batin Tian merasa bersalah.


__ADS_2