
Mama Tian merasa kesal kepada papa Tian dan Tian. Tentu saja dia merasa kesal karena mendukung Tian yang berselingkuh.
"Kalian berdua sama saja" Ucap wanita paruh baya itu.
"Mana acara nikah nya mendadak lagi. Gak diskusi dulu sama kita" Ujar wanita paruh baya itu lagi.
"Sudah lah ma, jangan di bahas lagi semua sudah berlalu juga" Ucap papa Tian lagi.
"Terserah" Ujar mama Tian.
***
"Sayang nenek lagi ngapain?" Tanya mama Susan saat melihat cucu satu-satu nya itu sedang melukis di kanvas nya.
"Melukis nek" Ujar nya. Yah hanya dengan cara melukis lah gadis itu bisa mengutarakan perasaan nya.
"Wah, ternyata cucu nenek ini pintar melukis ya.. Lukisan nya bagus sekali" Puji wanita paruh baya itu lagi.
"Iya nek, karena Sofi mau menjadi pelukis terkenal setelah besar nanti" Jawab gadis itu lagi.
"Wah, semoga cita-cita kamu terwujud ya sayang" Doa nya lagi.
"Makasih nek"
***
"Assalamuakaikum" Ucap Tian saat diri nya baru pulang dari kantor.
"Waalaikumsalam" Jawab Susan membuka pintu rumahnya. Ya wanita hamil itu memang sedang menunggu suaminya untuk pulang dari kantor.
"Kok baru pulang jam segini sih sayang" Tanya Susan menyambut kepulangan suami di mana suaminya itu pulang pukul sepuluh malam. Yah tidak biasanya suaminya itu pulang pukul segitu. Biasanya pukul lima sore suaminya sudah pulang ke rumah.
"Ada sedikit masalah di kantor" Ujar Tian. Yah memang ada beberapa masalah terjadi di proyek nya. Maksud hati hanya ingin membohongi Susan waktu itu, kini masalah benar terjadi di proyek nya. Di mana para pekerja nya tidak bisa mengerjakan proyek itu sesuai dengan target nya di karenakan ada beberapa kendala.
__ADS_1
"Ya ampun masih ada lagi masalah di proyek" Tanya Susan. Tian yang tanpa lelah mengempeskan tubuhnya di sofa yang berada di ruangan tamu.
"Iya para pekerja tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut sesuai dengan target sehingga para klien komplain terhadapku" Jelas Tian memijit kening nya yang mulai terasa pusing dengan masalah yang dihadapinya saat ini.
Yah memang mantan suami ku itu memiliki banyak masalah dan beban pikiran saat ini. Masalah hati nya yang terluka karena mendengar ku akan dipersunting oleh laki-laki lain belum kelar, ditambah dengan Sofi yang sudah begitu dekat dengan Rendi membuatnya merasa bahwa ia menjadi papa yang gagal. ditambah lagi kini masalah proyeknya.
"Ya ampun sayang, kamu yang sabar ya. Semoga masalah ini cepat selesai" Ucap Susan memberi sangat kepada suami nya itu.
"Ya makasih atas doa nya ya" Jawab Tian lirih.
"Oh ya, kamu sudah makan belum?"
"Belum, aku belum sempat untuk makan karena mengatasi masalah ini. Pikiranku benar-benar mumet karena masalah ini"
"Ya ampun sayang, kamu nggak boleh seperti itu. Ya bagaimanapun masalah yang kamu hadapi di proyek kamu harus tetap menjaga kesehatan nanti kalau kamu sakit bagaimana? Semua pekerjaan lebih terbengkalai lagi bukan?" Ujar Susan penuh perhatian kepada suami nya.
"Entah lah San. Aku tidak merasa lapar sama sekali" Ucap nya lagi.
"Gak boleh seperti itu dong sayang. Kamu harus makan dan jaga kesehatan mu. Ya sudah sekarang, kamu bersih-bersih dulu ya. Aku panasin makanan nya" Ujar Susan kepada Tian.
Setelah selesai bersih-bersih Tian menuju dapur untuk memakan makanan yang dipanaskan oleh istrinya tadi.
"Sofi sudah tidur?" Tanya Tian sambil menyodorkan sesuap demi sesuap nasi di dalam mulutnya.
"Sudah kok" Jawab Susan sambil menemani Tian untuk makan.
Tian hanya menjawab dengan anggukan dan melanjutkan memakan makanan nya.
***
Tian membuka pintu kamar putri nya itu. Di lihat nya bahwa putri kecilnya itu sedang terlelap. Tian pun mendekati putrinya itu dan menatap wajah polos tanpa dosa dengan penuh keharuan.
"Maaf kan papa nak. Papa sudah gagal menjadi papa yang terbaik Untukmu" Ucap Tian pelan sambil mengelus lembut rambut putrinya itu.
__ADS_1
"Apa terlalu sibuk dengan urusan papa. Sehingga membuat papa tidak menyadari hobimu itu apa dan membuat orang lain yang lebih perhatian kepadamu daripada papamu ini" Ucap nya lagi.
"Bahkan orang lain lah yang telah membuat kamu bahagia. Sedangkan papa hanya sibuk dengan urusan papa saat ini"
"Papa janji, mulai sekarang papa akan lebih memperhatikan kamu. Papa akan berusaha untuk membagikan waktu agar kita bisa menghabiskan waktu berdua" Ucap Tian lagi.
Tanpa sengaja laki-laki itu melihat kalung yang melingkar di leher putrinya itu. Ia pun memegang kalung itu dan menatapnya dengan seksama.
"Perhiasan ini? Apa dibelikan oleh Rendi juga?" Batin nya bertanya-tanya.
"Ya ampun, bahkan perhiasan mahal seperti ini pun Rendi sanggup membeli Sofi. Sedangkan aku sama sekali tidak pernah memberikan Sofi perhiasan apapun. Papa macam apa aku ini? Maaf kan papa ya nak" Ujar nya lagi lirih penuh kesedihan di hatinya. Karena ia merasa tidak terlalu memperhatikan putrinya itu.
***
"Mama" Ujar Susan kaget melihat mama mertuanya tiba-tiba muncul di depan pintu rumah mewahnya itu.
Dengan senyuman yang sinis wanita paruh baya itu pun masuk ke dalam rumah anaknya itu. Yang di mana rumah itu merupakan rumah warisan yang ia berikan kepada Tian. Dan tanpa ditawari, ia pun langsung duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"Aduh, ngapain juga sih si bawel ini datang ke sini? Merusak suasana orang saja deh" Batin Susan menatap sinis ke arah mama mertuanya itu.
"Tian mana?" Tanya nya dengan nada datar.
"Ada kok ma di kamar. Sebentar ya aku panggilin Tian nya" Jawab Susan dengan senyuman kecut dan langsung pergi ke kamar untuk memanggil suami nya itu.
"Aduh, si pembawa masalah datang ke rumah ini. Pasti akan ada aja yang todak sesuai di mata nya. Aku harus memperkuatkan pertahanan ku agar bisa menahan ocehan demi ocehan wanita tua itu" Batin Susan menelusuri tangga menuju ke kamarnya.
"Sayang" Tegur Susan saat sudah berada di kamar nya.
"Ada apa San? Tanya Tian yang sibuk dengan laptop nya.
"Itu ada mama di bawah. Kata nya mau ketemu sama kamu" Ujar Susan lagi.
"Oh iya sebentar lagi aku akan turun" Jawab Tian lagi menutup laptop nya untuk bertemu dengan mamanya itu. Susan pun kembali ke lantai bawah agar bisa membuat minuman untuk mama mertuanya itu.
__ADS_1
"Ma, mau minum apa? Aku buatin minuman nya ya" Ucap Susan mencoba untuk mengambil hati sang mama mertua.