
Wanita paruh baya itu tampak menyesali rencana nya yang kini telah menjadi kenyataan.
"Mama, sekarang kita akan membawa Susan ke rumah sakit yang lebih canggih untuk memastikan penyakit nya saat ini" Jelas Tian saat tiba di klik tempat Susan di rawat.
"Iya Tian mama setuju. Mama juga kurang yakin dengan pemeriksaan di klinik ini. Pasti ada yang salah dengan semua ini"
"Fitri mana?"
"Fitri pergi menjemput Sofi di sekolah"
"Ya sudah kita pergi saja duluan ke rumah sakit nya. Nanti biar Fitri dan Sofi menyusul belakangan" Ujar Tian.
Tian mendorong kursi roda untuk membawa Susan ke dalam mobil nya.
Sepanjang perjalanan Susan hanya terdiam melamun memikirkan penyakit nya itu.
__ADS_1
***
"Kita mau kemana ma?" Tanya Sofi saat kami berada di dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Kita ke rumah sakit ya sayang"
"Rumah sakit? Ngapain ma? Siapa yang sakit?"
"Tante Susan saat ini sendang sakit nak"
"Huss... Sayang gak boleh ngomong seperti itu. Gak baik nak. Harus nya Sofi itu mendoakan tante Susan agar cepat sembuh. Bukan malah ngomong seperti itu sayang" Nasehat ku kepada putri sambung ku itu.
"Habis nya tante Susan itu jahat ma. Dia telah merebut papa dari kita. Tante Susan sudah menikah dengan papa. Dan kata tante juga saat ini ia sedang mengandung anaknya papa" Jelas nya lagi.
"Apa? Tante Susan ngomong gitu sama kamu?"
__ADS_1
"Iya ma, waktu itu saat tante Susan sedang melihat gambar yang pernah Sofi tunjukkan kepada mama kemarin, dia bilang seperti itu sama Sofi. Dia mau Sofi memanggilnya dengan sebutan mama. Karena saat ini tante Susan sudah menjadi mamanya Sofi juga"
"Tante Susan juga bilang bahwa laki-laki yang bersanding dengannya waktu pernikahan itu, bukanlah suami aslinya melainkan orang bayaran papa agar mama dan semua orang tertipu dan percaya bahwa tante Susan itu menikahnya dengan orang lain bukan dengan papa" Jelas gadis kecil itu lagi.
Deg....
Kaget yah aku sangat kaget mendengar pengakuan dari putri ku itu. Aku tidak menyangka bahwa Susan sanggup mengatakan mengatakan semua nya kepada anak yang masih kecil ini.
"Kenapa sih Susan setega itu kepada Sofi. Apa dia tidak memikirkan psikolognya Sofi dan ia mengatakan hal seperti itu. Pasti Sofi merasa terpukul sekali dengan kejadian ini. Sehingga membuatnya begitu membenci Susan" Batin ku terus fokus menyetir mobilku.
"Sudah ya sayang mama. Bagaimanapun perlakuannya tante Susan, Sofi harus menghormatinya dan gak boleh ngomong yang tidak tidak seperti tadi Bagaimanapun saat ini tante Susan sudah menjadi mamanya Sofi. Jadi Sofi harus menghormatinya ya sayang dan doakan juga semoga tante Susan cepat sembuh dan adik yang ada di dalam kandungan tante Susan itu baik-baik saja. Kasihan kan adiknya Sofi yang tidak berdosa itu" Nasehat ku kepada putri sambung ku itu.
"Sofi harus janji sama mama, jadi anak baik ya sayang. Jangan ngomong yang tidak pantas seperti tadi. Mama nggak suka melihat anak mama seperti itu"
"Iya mama, maaf kan Sofi ya ma. Sofi gak akan seperti itu lagi"
__ADS_1
"Iya sayang. Ini baru nama nya anak kesayangan mama"