
Hari ini adalah grand opening cafe baru ku bersama dengan pak Rendi. Yah pak Rendi juga turut memberikan modal untuk ku sebagai kerja sama.
***
"Susan, dengar-dengan Fitri membuka cafe ya?" Tanya mama Susan kepada putri nya.
"Iya ma, lagian uang itu juga dari suami ku. Secara di persidangan kemaren Tian memberikan harta gono gini untuk nya. Dan mama tahu gak, dia malah membuka usaha nya bersama laki-laki lain. Ih... Aku jadi ilfil deh sama Fitri ma. Baru juga bercerai udah dekat-dekat sama laki-laki lain. Dasar kegatelan" Maki Susan terhadap ku.
"Oh ya, siapa laki-laki itu?"
"Nama nya Rendi, dia juga guru di sekolah tempat Fitri mengajar. Dia juga mempunyai beberapa usaha di bidang kuliner. Dan jika salah, dia juga seorang ustad juga deh ma"
"Ha? Berarti Rendi itu kaya dong"
"Ya kaya juga sih ma kelihatan nya. Secara mempunyai usaha juga dia"
"Wah, pinter juga ya si janda itu mencari laki-laki"
"Ya, aku juga heran sama dia. Ada aja laki-laki yang suka sama dia. Kaya-kaya lagi, apa dia memakai pelet ya untuk memikat hati laki-laki kaya?" Ujar Susan.
"Iya kamu benar, bisa jadi sih dia itu menggunakan pelet.. Lebih baik kita memberikan peringatan kepada Rendi agar dia berhati-hati kepada Fitri" Ujar mama Tian.
"Iya ma, mama benar. Aku gak suka melihat Fitri hidup bahagia. Terlebih Tian seperti nya masih menaruh harapan kepada nya" Ujar Susan.
"Pokok nya besok kita pergi ke tempat cafe nya Fitri dan kita bilangin sama semua orang di sana kalau Fitri itu janda penggoda suami orang" Ujar mama Susan.
"Oh ya Susan, kapan kamu akan di nikahi secara resmi sama Tian. Jika kamu terus-terusan berstatus istri siri seperti ini. Kamu gak bisa menuntut harta gono gini dong sama Tian. Lagian anak mu juga gak akan bisa mendapatkan apa-apa"
"Aku juga gak tahu sih ma, nanti deh aku tanyakan sama Tian. Aku juga gak mau jika aku ini sebagai istri siri terus-terusan" Ujar Susan.
"Ya Sudah, kamu harus memperjuangkan hak kamu. Jangan diam saja seperti ini"
"Iya ma, mama tenang saja"
***
"Iya Fitri, kamu jangan lupa istirahat yang cukup ya untuk. Jangan tidur nya terlalu larut. Dan jangan paksa kan diri jika sudah lelah" Ujar Tian kepada ku saat kami selesai vidio callan.
Susan yang baru saja masuk ke kamar langsung merampas ponsel Tian. Dia marah mendengar Tian begitu perhatian kepada ku.
"Eh jablai. Ngapain juga sih masih menghubungi suami ku? Emang gak cukup apa si pak Rendi itu yang sudah kamu goda dan kamu pelet untuk suka sama kamu? Kini malah kamu menggoda suami orang. Dasar pelakor" Ujar Susan kepada ku.
"Susan, kamu apa-apaan sih. Aku tadi menghubungi Fitri karena mau tanya soal Sofi. Emang salah?"
"Alah itu akal-akalan dia aja supaya kamu tetap menghubungi nya. Jadi dia gunakan Sofi sebagai umpan nya"
"Sudah ya Susan aku malas berdebat sama kamu. Terserah kamu mau ngomong apa sama aku. Assalamualaikum" Ujar ku langsung mematikan ponsel ku. Sungguh aku malas sekali melayani wanita itu.
Aku menghela napas berat ku. Sungguh rasa nya aku ingin menggampar istri siri mantan suami ku itu. Enak saja aku di bilang pelakor. Apa dia tidak sadar sebab dia lah aku dan Tian berpisah. Siapa yang pelakor sebenar nya? Padahal Tian menghubungi ku karena ada Sofi bersama ku. Salah jika Tian menanyakan kabar dari putri nya?
"Kamu ngapain sih sok perhatian seperti itu kepada si janda penggoda itu?" Ujar Susan marah kepada Tian.
"Aku hanya mengucapkan selamat malam saja, emang ada yang salah?"
"Ya salah lah, dia itu pasti mempunyai maksud dari kamu"
"Maksud apa sih?"
"Ingin merebut kamu dari aku lah. Dia itu kan janda, pasti semua laki-laki di goda nya"
__ADS_1
"Cukup ya Susan. Aku tidak mau mendengar kamu menjelek-jelekkan Fitri seperti itu"
"Lo, emang bener kok apa yang aku bilang. Faktanya saat ini dia sedang dekat sama pak Rendi dan sekarang malah menggoda kamu juga. Apa itu namanya kalau bukan kegatelan?"
"Sudah cukup ya Susan. Saat ini aku sedang capek dan aku malas ribut sama kamu. Satu yang harus kamu ingat Fitri tidak seperti itu dan aku tidak mau mendengar kamu masih menjelek-jelekkan Fitri seperti tadi. Jika aku mendengarnya kamu akan tahu akibatnya apa" Ancam Tian langsung pergi menuju kamar nya.
"Kurang ajar si Fitri. Gara-gara dia aku di ancam sama Tian seperti ini. Awas aja kamu ya. Besok aku akan membuat kamu malu" Ujar Susan menggenggam erat tangan nya.
"Sudah menjadi janda, masih juga menganggu kehidupan ku dan Tian. Gak aku gak boleh tinggal diam. Walau bagaimana pun, Tian itu adalah suamiku dan aku harus mempertahankan suamiku agar tidak tergoda dengan janda murahan itu" Batin Susan geram.
***
Aku dan pak Rendi sedang menikmati makan siang di cafe ku setelah pulang sekolah.
"Eh, Fitri" Bentak Susan dan mama nya tiba-tiba datang dengan memukul meja. Sontak membuat aku dan Rendi kaget. Untung saja para pembeli tidak begitu ramai siang itu. Para siswa kampus sudah kembali ke kelas nya masing-masing karena waktu pelajaran telah di mulai.
"Buk, San, ada apa? Kenapa kalian datang malah bentak-bentak seperti ini?" Tanya ku.
"Alah, jangan sok tidak tahu deh kamu. Pura-pura alim lagi, ngapain tadi malam kamu merayu suami ku?"
"Merayu? Merayu bagaimana maksud kamu?"
"Pakai acara tanya segala lagi. Pakai acara mengucapkan selamat malam seperti orang berpacaran saja. Sengaja ya kamu mau merebut suami ku dari tangan ku. Mau jadi pelakor kamu?" Ujar Susan kepada ku.
Deg...
Sontak rasa perih di hati ku seketika muncul mendengar perkataan dari Susan seperti itu. Terlebih saat ini aku sedang berada di cafe ku. Dan di cafe ku sedang ada pengunjung. Apa kata orang-orang mendengar Susan menuduh ku seperti itu.
"Iya, kamu ini memang wanita tidak tahu malu ya, sudah tahu juga suami orang masih juga kamu goda? Emang gak cukup apa pak Rendi ini menjadi sasaran pelet mu" Mama Susan menyempeli.
Sontak hati ku semakin sakit di tuduh memakai pelet seperti itu.
"Pak Rendi, asal pak Rendi tahu ya. Fitri ini sudah memakai ilmu pelet untuk memikat laki-laki kaya seperti bapak. Sudah dekat sama bapak, malah mencoba untuk menggoda suami anak saya"
"Lo, saya gak asal tuduh lo pak. Memang benar jika Fitri ini pakai ilmu hitam yang sering memikat laki-laki kaya untuk menguras harta nya" Jawab wanita paruh baya itu.
"Iya pak, saya sudah lama lo mengenal Fitri. Saya yakin dia mau dekat sama bapak, kemudian mau menguras harta bapak. Bapak percaya deh sama kita" Ujar Susan ikut menghasut pak Rendi.
Pak Rendi hanya tersenyum mendengar ucapan dari kedua ibu dan anak itu.
"Kok bapak senyum-senyum begitu sih? Saya ngomong yang sebenar nya lo pak. Bapak jangan tertipu dengan wajah nya yang polos ini. Dia ini serigala berbulu domba" Ucap mama Susan berbisik kepada pak Rendi.
"Sudah cukup ya buk atas tuduhan yang ibu berikan kepada saya. Tadi malam memang saya sedang video call bersama Tian tapi itu disebabkan karena dia ingin menanyakan kabar tentang Sofi. Yang kedua saya bukan pelakor yang mau merebut suami dari anak ibu. Ibu lupa bahwa anak ibu la y sebagai pelakor yang buat rumah tangga aku dan Tian menjadi rusak seperti ini? Jadi Ibu jangan ngomong seenak nya seperti itu ya. Saya sudah merela kan suami saya untuk anak ibu. Sekarang ibu malah menuduh saya bukan-bukan seperti ini. Saya bisa lo buk menuntut ibu sebagai pencemaran nama baik. Secara saya sudah di permalukan oleh ibu di depan orang seperti ini" Ancam ku.
Kesabaran ku sudah mulai habis menghadapi kedua ibu dan anak itu. Seenak nya saja menuduh ku seperti itu. Aku hanya lah manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran. Aku tidak bisa terima begitu saja jika ada yang menginjak-injak harga diri ku seperti itu.
"Aku masih mempunyai harga diri ya buk. Aku tidak mau menyerahkan harga diri ku begitu saja demi memikat laki-laki" Tambah ku lagi.
"Apa maksud kamu ngomong seperti itu? Apa kamu menyindir ku?" Tanya Susan.
"Oh, merasa ya? Perasaan aku tidak ngomong tentang kamu deh, tidak menyebutkan nama juga deh. Tapi jika kamu merasa bagus dong. Karena memang itu lah fakta nya" Ujar ku lagi.
"Kamu ini benar-benar ya" Susan mengangkat tangan nya untuk menampar ku.
"Apa? Mau mencoba untuk menampar ku? Ayo tampar" Tantang ku.
"Dengan begitu aku lebih mudah melaporkan kalian berdua" Ancam ku lagi.
Susan yang tadi nya mau menampar ku mengurungkan niat nya.
__ADS_1
"Ayo ma, kita pergi dari sini" Ajak Susan kepada wanita paruh baya itu.
"Iya, lama-lama di sini membuat darah tinggi ku kumat" Ujar mama Susan.
"Kedatangan kalian berdua pun tidak saya undang di sini" Balas ku. Kedua ibu dan anak itu langsung pergi meninggalkan aku dan pak Rendi.
"Astaghfirullahaladzim" Ucap ku menghela napas berat ku untuk menenangkan hati ku.
"Maaf pak Rendi atas kejadian tadi. Dan saya juga minta maaf atas tindakan saya yang mungkin membuat pak Rendi tidak nyaman. Selama ini saya sudah cukup bersabar menghadapi mereka. Tapi kali ini kesabaran saya sudah habis. Saya tidak bisa terima jika di katain seperti itu" Ujar ku lagi dengan menitikkan air mata.
"Iya saya paham. Saya juga tidak menyalahkan kamu" Ujar pak Rendi dengan bijak.
"Terima kasih atas pengertian nya pak"
***
"Kurang ajar si Fitri berani-berani nya dia mengancam kita seperti tadi" Ujar mama Susan ketika mereka sudah tiba di rumah.
"Iya ma, aku juga gak habis pikir deh sama pak Rendi itu, kenapa juga mau sama janda itu. Emang gak ada wanita lain apa di dunia ini"
"Sudah saat ini kamu jangan pikirkan masalah Rendi dan Fitri itu. Kamu pikirkan saja masalah kamu dan Tian. Ayo minta Tian untuk menikahi mu secara resmi" Ucap mama Susan lagi.
"Iya ma, nanti setelah Tian pulang, aku pasti akan membahas hal ini sama dia"
"Bagus, lagi cepat itu akan lebih baik. Karena kandungan kamu semakin hari semakin besar. Sebelum kamu lahiran, kamu dan Tian sudah resmi menjadi suami istri di mata hukum"
"Iya ma, mama tenang aja aku akan meminta dia secepatnya menikahi ku secara hukum"
***
"Sayang ini teh hangat nya" Ujar Susan meletakkan secangkir teh hangat di meja kerja Tian.
"Iya terima kasih"
"Sayang, apa kamu sibuk? Ada sesuatu yang mau aku katakan kepada mu"
"Emangnya kamu mau bilang apa? Katakan saja!"
Sofi masih memikirkan kalimat yang tepat untuk ia katakan kepada Tian.
"Hmm.... Begini, Bukankah kamu dan itu sudah bercerai secara resmi. Jadi kapan kamu bisa menikahi ku secara hukum? Aku tidak mau statusku sebagai istri siri mu selamanya" Ujar Susan dengan berhati-hati takut nanti jika Tian akan mengamuk.
Tian menghentikan kegiatan nya yang tadi nya sibuk dengan laptop yang ada di depan nya.
Melihat dia menatapnya dengan serius Susan pun menunduk. Tian pun menghela nafas beratnya.
"Aku dan Fitri baru saja bercerai. Dan masa iddah Fitri belum habis. Tidak enak jika aku menikahi mu secepat itu"
"Lo, apa salah nya. Bukan nya kamu laki-laki, tidak ada alasan jika kamu menikahi ku karena kamu tidak mempunyai masa iddah"
"Iya, aku tahu hanya saja aku tidak enak sama Fitri"
"Nggak enak gimana sih? Bukankah kalau sudah bercerai?"
"Pokoknya aku belum bisa menikahi mu secara hukum secepatnya. Lagian kita sudah menikah secara siri jadi bukankah itu sudah cukup? Bukankah kamu dulunya hanya menuntut ku untuk menikahi mu secara siri saja" Ujar Tian.
"Iya, tapi kan itu dulu sewaktu kamu masih bersama Fitri. Sekarang kamu tidak bersama Fitri lagi. Wajar dong jika aku meminta kamu menikahi ku secara resmi"
"Oke, aku akan menikahi mu secara resmi. Tapi nanti ya setelah semua nya aman. Saat ini aku sedang mengani proyek besar. Setelah proyek selesai dan berhasil, aku akan segera menikahi mu secara resmi sesuai apa yang kamu inginkan" Ucap Tian pada akhirnya.
__ADS_1
"Terima kasih ya sayang, terima kasih karena kamu sudah mau mewujudkan keinginanku" Ujar Susan memeluk suaminya itu.
"Yes, pada akhirnya aku akan segera menjadi nyonya Tian sebenarnya. aku yang akan menguasai seluruh isi rumah ini. Aku juga yang akan memiliki apa yang Tian miliki saat ini" Batin Susan tersenyum puas karena Tian setuju mau menikahinya secara resmi.