
Sungguh aku merasa sangat ketakutan menerima kenyataan nanti nya jika benar Tian berada di dalam kamar Susan. Berduaan dan bercumbu memadu kasih di sana.
Aku membulat mata ku saat aku membuka pintu kamar tersebut. Yah sungguh aku merasa lega karena ku dapati suami ku tidak ada di dalam kamar gadis itu.
"Astaghfirullahaladzim, ya Allah maafkan aku karena telah berburuk sangka kepada suamiku sendiri" Batin ku memejam kan mata sambari berdoa di dalam hati.
"Alhamdulillah ternyata apa yang aku takuti tidak terjadi" Ujar ku. Kulihat Susan sedang tertidur pulas di atas tempat tidur nya dengan memeluk bantal guling.
Aku kembali keluar dari kamar itu. Dan kembali ku tutup pintu kamar gadis itu dengan perasaan lega. Meski tidak sepenuh nya perasaan lega itu di hati ku. Namun setidak nya malam ini aku merasa bahwa suami ku tidak melakukan yang aku takuti kepada mantan adik ipar nya itu.
"Sayang, kamu ngapain di sini?" Tanya Tian kepada ku saat aku terpergok berada di dalam kamar nya Susan.
"Ha" Jawab ku kaget kedapatan berada di sana.
"Aku, aku.... Hmm" Ujar ku terbata-bata mencari alasan yang tepat untuk ku sampaikan kepada suami ku itu.
"Kenapa sayang" Tanya Tian lembut.
"Ha, tadi kata Sofi Susan sedang tidak enak badan. Jadi aku mau memeriksa nya takut nya dia kenapa-kenapa" Ujar ku berbohong menggaruk-garuk kepala ku yang tidak gatal.
"Oh, gitu" Ujar Tian kembali meneguk segelas air yang ada di tangan nya.
"Kamu, dari mana?" Tanya ku kepada suami ku itu.
"Dari dapur ngambil minuman" Jawab Tian memperlihatkan segelas air yang ada di tangan nya.
"Dari dapur? Sejak kapan dia ke dapur?" Batin ku bertanya-tanya.
"Bukan kah tadi aku sudah memeriksa ke dapur dan dia tidak ada di sana. Terus kemana dia sebenar nya? Apa jangan-jagan setelah aku memeriksa di dapur dan menuju ke kamar Sofi dia baru keluar dari kamar Susan dan pergi ke dapur" Ujar ku menerka-nerka keadaan yang terjadi.
Kepala ku terasa pusing memikirkan hal ini. Sungguh rasa nya otak ini kalut tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Kenapa sayang? Apa yang kamu pikirkan? Ada yang membuat mu merasa tidak enak hati?" Tanya Tian kepada ku.
"Oh, gak. Gak ada apa-apa kok. Ya sudah ayo kita kembali ke kamar" Ujar ku tidak mau memperpanjang masalah ini.
Tian mengangguk dan mengikuti ku menelusuri anak tangga menuju kamar.
Tian menarik napas lega.
"Untung saja aku cepat keluar dari kamar Susan dan mengambil air di dapur. Jika tidak, bisa-bisa aku ketahuan sama Fitri dan pasti Fitri akan pergi meninggalkan ku saat ini" Batin nya.
Yah memang benar firasat ku. Dimana saat aku pergi ke kamar Sofi, Tian keluar dari kamar nya Susan dan menuju dapur untuk mengambil minuman. Entah mengapa malam ini ia terasa haus sekali setelah berkerja lembur bersama Susan.
"Aduh, ini tidak bisa di biarkan lagi. Sepertinya Fitri sudah mulai curiga kepada ku dan Susan. Aku harus ngomong sama Susan jangan bertindak seenak nya seperti ini" Batin Tian gelisah.
Aku masuk ke dalam kamar ku diikuti oleh Tian. Aku kembali berbaring di tempat tidur Tian pun mengikuti ku.
"Emang nya kamu belum tidur dari tadi?" Tanya Tian mulai deg degan takut jika aku sebenarnya tidak tidur dan hanya pura-pura tidur.
"Oh, gak kok. Aku sudah tidur tadi. Hanya saja aku terbangun ingin buang air kecil. Dan aku lihat kamu nya tidak ada" Ujar ku.
Deg....
Jantung Tian berdetak kencang.
"Aku tidak ada? Berarti dia juga bermaksud mencari ku tadi. Itu arti nya dia memang sudah curiga dengan ku dan juga Susan. Seperti nya aku tidak boleh gegabah dalam bertindak seperti tadi" Batin Tian mulai ketakutan.
"Tian, kenapa? Kenapa kamu keringatan seperti itu?" Tanya ku melihat perubahan dari raut wajah suami ku itu.
"Gak kok sayang Hanya saja aku lelah dan mau istirahat" Ujar nya berbohong.
Tian berbaring membelakangi ku. Entah mengapa dia malah menghindar dari ku tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Biasanya laki-laki itu selalu ingin berpelukan saat tidur. Namun kali ini ia berbeda dia membelakangi ku.
"Kenapa kamu berubah Tian. Selama ini aku sudah tidak merasakan kehangatan dari mu lagi. Apa karena aku menolak keinginan mu tadi sehingga kamu bersikap seperti ini?" Batin ku bertanya-tanya.
"Hati ini tidak sepenuh nya percaya lagi kepada mu Tian. Kamu tampa berubah dan sulit ku kenali seperti dulu" Tambah ku lagi berkata dalam hati.
"Ah sudah lah dari pada aku berpikir yang bukan-bukan dan membuat hati ku tidak tenang, lebih baik aku solat tahajud saja" Ucap ku.
"Ya Allah, aku mohon petunjuk darimu ya Allah. Tunjukkan lah aku jalan yang lurus dengan semua permasalahan-permasalahan yang ada di dalam keluarga ku. Sungguh hati ini menaruh curiga kepada suami ku. Oleh karena itu aku mohon kepada Mu ya Allah, aku mohon tunjukkan lah kebenaran nya. Dan jika benar kebenaran itu menyakitkan, kuat kan lah hati ini. Namun jika ketakutan ku ini salah maka buangkan lah jauh-jauh pikiran buruk ini terhadap suamiku. Sesungguh nya hanya Engkau lah sang pemberi petunjuk. Aamiin" Doa ku setelah selesai melaksanakan solat tahajud.
***
Aku, Tian dan Sofi duduk di meja makan untuk melakukan sarapan di pagi itu.
"Selamat pagi" Ujar Susan menyapa kami dengan ramah nya.
"Selamat pagi" Jawab kami serempak. Bisa ku lihat bahwa wajah gadis itu terlihat lelah dan pucat. Aku juga tidak tahu kenapa namun yang pasti gadis itu seperti nya tidak baik-baik saja.
"Susan, kamu seperti nya kamu masih sakit. Alangkah baik nya kamu istirahat saja di rumah" Ujar ku memberi saran.
"Wajah mu masih pucat" Tambah ku lagi.
"Iya, aku memang sedang tidak nafsu makan. Bawaan nya mual-mual mulu" Jawab nya.
Deg..
Jantung ku berdegup cepat.
"Mual-mual mulu? Seperti orang sedang hamil saja" Batin ku.
"Apa kamu sudah periksa ke dokter? Atau hari ini aku temani kamu ke dokter saja ya" Ujar ku. Yah aku juga ingin tahu sakit apa sebenar nya yang di derita oleh gadis itu. Kenapa dia tampak tidak begitu sehat akhir-akhir ini.
Deg...
"Wah, gawat. Jika Fitri menemani nya ke dokter, bisa-bisa semua nya akan ketahuan bahwa Susan sedang hamil" Batin Tian gelisah.
"Sayang kenapa? Makan nya pelan-pelan dong" Ujar ku menyerahkan minuman kepada suami ku itu.
"Sayang hari ini Susan gak usah ke kantor dulu ya. Sepertinya dia harus di periksa ke dokter" Ujar ku kepada Tian.
Tian menatap Susan memberi kode agar gadis itu tidak mau jika aku membawa nya ke dokter.
"Bagaimana Susan? Kita ke dokter ya?" Tanya ku lagi.
"Gak perlu deh Fit. Kemaren aku juga sudah ke dokter. Kata nya aku hanya masuk angin biasa dan butuh istirahat yang cukup. Aku baik-baik saja kok. Terima kasih ya atas perhatian kamu" Ujar nya menolak niat baik ku.
"Tapi sakit kamu ini sudah lama lo San. Aku takut nanti nya ada sakit yang membahayakan di tubuh itu. Lebih baik di periksa dari sekarang untuk mengetahui nya secara dini" Ujar ku.
"Gak perlu Fit. Terima kasih ya. Tian aku izin dulu ya untuk hari ini" Ujar Susan langsung masuk ke dalam kamar nya.
***
"Hallo Tian, aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Kamu tahu kan usia kandungan ku sekarang sudah dua bulan. Dan segera terlihat nanti nya. Sedang kan kamu belum menikahi ku. Mana janji mu Tian? Kamu bilang tunggu keadaan Raffa mulai membaik. Tapi sekarang Raffa sudah tiada, aku harus menunggu berapa lama lagi?" Ujar Susan menghubungi Tian melalui ponsel nya saat ia berada di kamar nya dan Tian berada di kantor nya.
"Sabar dulu Susan. Aku harus mengatur rencana dulu agar Fitri tidak semakin curiga. Saat ini dia sudah mulai curiga kepada kita" Ujar Tian.
"Sabar, kamu bilang sabar? Aku sudah menunggu terlalu lama lo Tian. Kandungan ku sudah mulai membesar dan kamu bilang sabar? Harus berapa lama? Apa harus bayi yang ada di dalam kandungan ku lahir baru kamu menikahi ku?" Tanya Susan mulai emosi.
Tampa sengaja aku lewat dan mendengar pembicaraan Susan di telfon dengan seseorang membuat ku curiga.
"Berbicara dengan siapa sih Susan? Sepertinya serius sekali" Ujar ku membuka sedikit pintu untuk memastikan dengan siapa gadis itu berbicara.
"Oh ternyata dia sedang telfonan. Tapi sama siapa? Kenapa terlihat serius sekali" Batin ku lagi.
__ADS_1
Aku terus mengintip dan mendengar pembicaraan Susa dari balik pintu kamar nya yang sengaja ku buka sedikit saja agar Susan tidak mengetahui keberadaan ku.
"Sayang, tolong dong kamu mengerti keadaan ku saat ini. Aku hanya butuh kepastian dari kamu. Aku tidak mau anak ini lahir tampa seorang ayah" Ucap Susan.
Aku membuka mulut ku lebar-lebar dan menutupnya dengan kedua tangan ku mendengar apa yang Susan katakan barusan.
Ternyata benar dugaan ku bahwa Susan sedang hamil. Ternyata selama ini dia merasa kurang enak badan karena dia sedang berbadan dua. Pikir ku.
"Ya ampun, siapa ayah dari anak yang di kandung Susan?" Batin ku.
"Susan, beri aku sedikit waktu untuk memikirkan cara agar aku bisa menikahi mu secepatnya tampa sepengetahuan Fitri" Ujar Tian.
"Baik, aku akan memberikan mu waktu. Tapi aku mohon tolong berikan aku kepastian secepatnya. Atau kamu tahu sendiri apa akibat nya nanti" Ujar Susan menutup ponsel nya.
Susan membanting ponsel nya di kasur. Gadis itu tampak kesal karena belum mendapatkan kepastian dari laki-laki yang telah menghamili nya.
Aku menutup kembali pintu kamar Susan dan berlari menuju kamar ku agar Susan tidak curiga kepada ku yang telah mengintip dan menguping pembicaraan nya barusan di telfon.
***
"Ya Allah ternyata selama ini Susan hamil. Pantas saja dia berbeda dari biasanya dan terus-terusan tidak enak badan seperti ini" Ujar ku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi kepada gadis itu.
"Tapi siapa laki-laki yang telah menghamili nya? Apa selama ini Susan mempunyai pacar? Setahu ku Susan tidak ada pacar nya. Tapi gak tahu juga ya soal nya selama ini juga aku terlalu sibuk di rumah sakit menemani Raffa" Ujar ku berpikir keras.
"Siapa sih laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab itu. Tega sekali dia, kasihan Susan pasti sulit mengahadapi masa-masa seperti ini" Ujar ku simpati kepada gadis itu tampa memikirkan bahwa suami ku lah yang telah menghamili gadis seksi yang cantik itu.
"Apa aku harus mengabari Tian ya dan meminta Tian untuk mencari tahu siapa yang telah menghamili Susan. Yah bagaimana pun Susan tinggal di rumah kami. Dan dia adalah tanggung jawab kami. Apa mama Susan tahu ya atas kejadian yang menimpa Susan?" Batin ku bertanya-tanya.
"Jika mama nya belum tahu, harus bagaimana aku menjelaskan kepada mama nya tentang semua ini? Pasti mama nya akan marah kepada aku dan Tian karena tidak bisa menjaga putri nya dengan baik. Ya Allah harus bagaimana ini?" Ujar ku masih mondar mandir di dalam kamar ku memikirkan yang terjadi kepada Susan.
"Yah, nanti aku harus memberi tahu Tian agar kami bisa mencari solusi nya nanti. Saat ini tidak penting siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang terpenting anak yang ada di dalam kandungan nya Susan mendapat kan ayah nya" Ujar ku dengan mantap penuh keyakinan.
***
"Tian, ada apa kamu meminta kita bertemu di sini? Bukan kah kita bisa bertemu di rumah?" Ujar Susan saat tiba di cafe tempat mereka janjian ketemu sore itu.
"Aku sengaja meminta mu datang untuk membahas hal yang penting" Ujar Tian dengan tampang serius.
"Hal penting apa? Apa ini mengenai pernikahan kita?" Tanya Susan dengan wajah yang senang.
Tian menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat.
"San, kamu harus tahu. Untuk saat ini kita harus berhati-hati berbuat sesuatu. Karena Fitri sudah mulai curiga dengan kita" Ujar Tian mulai menjelaskan.
"Curiga bagaimana?"
"Ya curiga bahwa kita telah bermain api.. Tadi malam dia mencari ku ketika aku tidak berada di kamar. Dan kamu tahu, dia mencari ku di kamar mu" Ujar Tian.
"Lo, bagus dong. Jika dia tahu hubungan kita, maka kita tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti ini lagi" Ujar Susan tersenyum senang.
"Dan jika dia tahu hubungan kita maka aku tidak akan pernah menikahi mu dan bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam kandungan itu" Jelas Tian dengan tegas.
"Lo kok gitu sih? Jangan seenak nya kamu seperti itu dong Tian" Susan tampak kesal.
"Bukan kah dari awal aku sudah bilang sama kamu, aku tidak mau Fitri tahu tentang hubungan kita. Karena aku tidak mau kehilangan Fitri dan aku sangat mencintainya" Ujar Tian.
"Fitri lagi, Fitri lagi. Yang kamu pikirkan hanya istri kamu itu tampa memikirkan perasaan ku saat ini. Bahkan untuk menikahi ku saja kamu belum memberikan kepastian" Ujar Susan kesal.
"Iya aku akan menikahi mu. Aku pasti akan menikahi mu. Aku juga sudah memikirkan cara agar bisa menikahi mu. Karena mama mu terus-terusan mendesak ku. Aku juga tidak mungkin mengabaikan anak ku yang ada di dalam perut mu itu" Ujar Tian.
"Begini saja, kita akan menikah secara siri. Dan di saat resepsi nya, aku akan membayar seorang laki-laki sebagai pengganti ku yang akan bersanding dengan mu di pelaminan. Dengan begitu, orang-orang berpikir bahwa kamu benar sudah menikah dan jika kamu hamil pun tentu saja karena kamu sudah memiliki suami" Jelas Tian memberi ide kepada Susan.
"Dan kamu tenang saja setelah kita menikah, aku akan membelikan mu rumah juga agar kamu bisa tinggal di sana. Jika kamu masih tinggal bersama kami, pasti Fitri akan semakin curiga. Kanapa kamu tinggal bersama kami meski sudah menikah? Pasti ia akan bertanya seperti itu" Ujar Tian.
__ADS_1
"Bagus juga ide mu. Aku setuju. Dengan begitu aku tidak perlu takut lagi perut ku semakin membesar dan Fitri tidak akan curiga lagi kepada kita" Jelas Susan tersenyum. senang mendengar rencana Tian barusan.