
Mama ku bertanya apa kah Tian ada menghubungi ku atau tidak. Tentu saja jawaban nya Tidak. Yah selama aku pergi, Tian memang tidak pernah menghubungi ku lagi. Aku juga tidak tahu mengapa. Mungkin karena dia sibuk dengan istri baru nya atau apa aku pun tidak tahu.
"Mama, kapan kita pulang ke rumah?" Tanya Sofi kepada ku. Saat itu waktu nya kami tidur karena hari sudah mulai larut.
Deg...
Jantung ku mendengar pertanyaan Sofi barusan. Di mana aku tidak bisa ikut pulang bersamanya karena saat ini aku dan Tian dalam proses perceraian. Tapi aku juga tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Sofi karena aku takut membuat putri kecilku itu sedih.
"Nanti juga kita pasti akan pulang tapi nggak sekarang ya sayang" Ujar ku dengan lembut.
Sofi diam dengan memasang raut wajah yang sedih.
"Lo, kenapa wajahnya ditakut seperti itu sih sayang? Apa Sofi nggak senang ya tinggal bersama mama di sini?"
"Bukan itu ma, hanya saja Sofi sedih sama papa. Kita sudah lama berada di sini. Tapi papa sama sekali tidak mengunjungi kita bahkan untuk menghubungi Sofi aja papa nggak pernah"
"Apa papa benar-benar sudah lupa sama kita ya ma?" Tambah nya lagi.
"Kok ngomongnya gitu sih sayang? Nggak mungkin dong papa itu lupa sama kita. Apalagi sama Sofi putri satu-satunya. Mungkin saat ini papa sedang sibuk di kantor. Jadi belum ada waktu untuk berkunjung ke sini. Papa itu sangat sayang sama Sofi. Nggak mungkin dong papa mengabaikan Sofi begitu aja" Ucap ku lagi.
Gadis kecil itu tampak diam dan berpikir dengan apa yang aku katakan.
"Apa Sofi mau pulang ke rumah papa?"
"Iya ma, Sofi kangen sama papa. Kita pulang ya ma" Rengek putri kecil ku itu.
"Ya sudah besok mama akan mengantar kamu pulang ke rumah papa ya. Tapi mama gak bisa menginap di sana. Mama ada pekerjaan yang harus mama selesaikan di sini. Nggak apa-apa kan?"
Kembali Gadis itu memasang wajah.
"Kok gitu sih, kata nya kangen sama papa. Harus nya senang dong besok bisa ketemu sama papa nya"
"Tapi mama gak ikut Sofi. Mama malah pergi ninggalin Sofi" Ujar Sofi mulai menitikkan air mata.
"Ussss... Sayang mama nggak akan meninggalkan Sofi kok sayang" Ujar ku memeluk putri ku itu.
"Mama akan selalu berada di samping Sofi. Sofi harus ingat satu hal ya sayang, meski mama tidak berada di samping Sofi atau pun di dekat Sofi, tapi mama akan selalu ada di sini, di dalam hatinya Sofi. Begitupun sebaliknya" Ujar ku sambil menunjuk dada Sofi tempat di mana hati kita berada.
"Ngerti kan sayang?" Tanya ku.
Sofi mengangguk.
"Tapi kenapa mama gak ikut Sofi saja pulang ke rumah. Sofi gak mau jauh-jauh dari mama. Nanti jika Sofi pulang sekolah dan papa kerja, pasti Sofi akan tinggal sendiri di rumah. Jika ada mama, Sofi gak sendirian" Ujar nya lagi.
"Iya sayang mama tahu, tapi mama saat ini masih ada urusan yang harus mama selesaikan. Atau gak begini saja, nanti mama akan bilang sama papa, saat Sofi sudah pulang sekolah, Sofi akan bersama mama hingga papa pulang kerja. Setelah papa pulang kerja, papa yang jemput Sofi di rumah nenek bagaimana?" Usul ku kepada Sofi.
"Boleh juga sih ma, tapi mama harus janji ya sama Sofi, ketika semua urusan mama telah selesai, mama harus pulang ke rumah. Karena Sofi tidak mau pisah sama mama lama-lama" Ujar Sofi dengan raut wajah penuh harapan.
"Iya sayang" Jawab ku dengan terpaksa berbohong. Yah tentu saja Tentu saja aku terpaksa membohongi putri sambung ku itu. Karena aku tidak mau dia sedih jika mengetahui kebenaran yang ada.
"Maaf kan mama ya sayang mama terpaksa membohongi kamu seperti ini. Mama tidak sanggup untuk menceritakan kebenarannya. Karena mama tidak mau melihat kamu sedih" Batin ku terus memeluk putri kecil ku itu dengan penuh kasih sayang.
***
Pagi hari nya ketika matahari telah memancarkan cakrawala nya yang indah, aku dan Sofi bersiap-siap untuk pergi ke sekolah masing-masing. Setelah selesai kami pun pergi ke meja makan untuk sarapan bersama.
"Assalamualaikum" Terdengar ucapan salam dari depan pintu rumah orang tuaku.
Kami saling pandang memberi kode siap yang datang berkunjung pagi-pagi hari begini.
"Biar aku saja yang buka pintu nya" Ujar ku langsung menuju ke depan untuk membuka pintu.
Mata ku membulat saat melihat siapa yang datang berkunjung pagi itu. Yah baru tadi malam aku dan ibu ku membahas nya, kini orang itu telah muncul di hadapan ku.
"Waalaikumsalam" Jawab ku.
__ADS_1
"Maaf ya jika aku datang mengganggu" Ujar nya.
"Gak kok, udah sarapan? Kebetulan kami sedang sarapan. Mau sarapan bersama?" Tawar ku. Yah aku menawar nya basa basi agar tidak kelihatan canggung di depan nya.
"Aku sudah sarapan kok tadi di rumah. Boleh aku bertemu dengan Sofi?"
"Oh tentu boleh. Dia sedang sarapan. Silahkan masuk nanti akan aku panggilkan Sofi" Ujar ku mempersilahkan Tian masuk ke rumah. Yah bagaimana pun dia masih suami ku dan tidak mungkin aku tidak mempersilahkan dia masuk saat dia bertamu ke rumah ku.
Tian duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Sedangkan aku pergi menuju ke meja makan untuk memanggil Sofi.
"Siapa yang datang nak?" Tanya mama ku.
"Tian ma, dia mau bertemu dengan Sofi"
"Papa?" Ulang Sofi.
"Iya sayang" Jawab ku. Gadis kecil itu langsung turun dari kursi makannya dan berlari menuju ke ruang tamu untuk bertemu dengan papanya yang sudah lama tidak bertemu dengannya.
"Papa" Teriak Sofi berlari menuju papanya. Kemudian langsung memeluk papanya itu.
"Sayang, papa kangen sama kamu nak. Gimana kabar kamu sayang?" Tanya Tian membalas pelukan putri nya dengan hangat.
"Sofi juga kangen pa sama papa. Papa ke mana aja sih selama ini nggak ada menghubungi Sofi. Sofi pikir papa sudah lupa sama Sofi"
Tian tersenyum mendengar perkataan putrinya itu.
"Ya ampun sayang, mana mungkin papa bisa lupa sama anak papa yang satu-satunya ini. Pelita hati papa, buah hati papa" Ujar Tian mencubit manja hidung mungil anak nya.
"Terus papa kemana? Kenapa gak ada telfon Sofi?"
"Maaf sayang, papa ada urusan yang harus papa selesaikan"
"Ya sudah, untuk hari ini papa akan mengantar dan menjemput Sofi di sekolah ya" Ujar Tian tersenyum kepada putri nya.
Sofi mengangguk senang mendengar rencana papa nya. Kemudian beralih pandang ke arah ku.
"Mama gak apa-apa kok sayang ku. Bukan kah memang rencana nya Sofi akan nginap di rumah papa hari ini?"
"Iya sih ma, tapi benar ya ma ketika urusan mama sudah selesai, mama harus pulang kembali ke rumah. Kita akan ngumpul-ngumpul lagi seperti biasa nya" Ucap Sofi penuh harapan.
Deg....
Sungguh hati ini tergores saat putri ku itu mengatakan harapan nya. Sedih, sangat sedih betapa ia mengharapkan aku dan Tian tetap bersama.
Aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Beberapa air bening mengalir di pipi ku. Aku tidak bisa menatap wajah polos tidak berdosa itu.
"Maaf kan mama sayang. Harapan kamu tidak bisa mama penuhi. Karena mama tidak bisa bersama lagi dengan papa mu nak. Maaf kan mama jika nanti kamu kecewa sama mama" Batin ku menghapus air mata yang sempat mengalir di pipi.
"Ayo sayang kita berangkat ke sekolah. Nanti malah terlambat" Ujar Tian mengajak putri nya untuk pergi.
"Dada mama.... Sofi pergi dulu ya" Gadis kecil itu mencium punggung tangan ku dan melambaikan tangan nya pada ku.
"Dada sayang, belajar yang rajin ya nak" Ucap ku membalas lambaian anak ku itu.
***
Sofi masuk ke rumah dengan hati yang senang sambil menggandeng tangan papa nya saat pulang sekolah.
"Hallo sayang" Ucap Susan menyambut anak sambung nya pulang.
Raut wajah yang tadi nya ceria kini kembali muram. Betapa kaget nya Sofi melihat kehadiran Susan di rumah nya itu.
"Tante, ngapain tante di sini?" Tanya Sofi dengan ketus.
"Lo, sayang kok gitu sih pertanyaan nya? Kamu lupa ya jika sekarang tante ini sudah menjadi mama mu" Ujar Susan lagi dengan senyuman yang sulit untuk di artikan.
__ADS_1
"Lagian papa juga tinggal sendirian di rumah ini. Kasihan papa mu tidak ada yang nemani. Jadi gak salah kan jika mama temani papa mu" Ucap nya dengan lembut tapi penuh penekanan.
"Papa kenapa izinin tante tinggal di rumah kita sih pa?"
"Sayang, walau bagaimana pun, tante Susan sudah menjadi mama mu nak"
"Gak pa, Sofi gak bisa terima tante sebagai mama Sofi. Mama Sofi hanya mama Fitri. Tidak ada mama lain selain mama Fitri" Ujar gadis itu langsung berlari ke kamar nya.
"Sofi sayang" Panggil Tian kepada putri nya namun tidak di hiraukan oleh Sofi.
"Tenang ya sayang, saat ini hati Sofi masih kacau. Biar kan dia tenang dulu. Nanti jika dia sudah mulai tenang, aku akan coba untuk ngobrol sama dia ya" Ujar Susan mencoba menenangkan hati suami nya itu.
***
"Papa jahat. Papa gak sayang sama Sofi. Ngapain juga papa ngajak tante Susan tinggal di rumah ini. Apa papa gak sayang lagi sama mama Fitri. Pasti mama Fitri akan kecewa sama papa jika tahu hal ini" Ujar gadis itu menangis di dalam kamar nya.
"Jika Sofi tahu tante di sini, Sofi gak mau pulang sama papa. Sofi benci tante Susan.. Tante sudah merebut papa dari Sofi dan mama" Teriak nya lagi.
***
Hari ini tepat sidang pertama ku di pengadilan. Aku bersiap-siap untuk berangkat ke sana bersama kedua mama dan papa ku. Orang tua ku menggenggam tangan ku dengan erat untu memberi semangat kepadaku.
"Doain aku ya ma, pa. Semoga persidangan ini berjalan dengan lancar" Ucap ku mau minta doa kepada kedua orang tuaku.
"Iya nak. Papa sama mama pasti akan mendoakan yang terbaik untuk kamu nak. Untuk kebahagiaan kamu"
"Aku juga minta maaf sama mama dan papa. Jika dulunya aku mendengar nasehat dari kalian pasti aku tidak akan mengalami hal seperti ini. Aku benar-benar minta maaf kepada kalian berdua" Ujar ku merasa bersalah. Yah seandai nya aku mendengarkan nasehat dari papa dan mamaku untuk tidak menikah dengan Tian, mungkin nasibku tidak seperti ini.
"Sudah lah nak, Jangan diingat dan jangan dikenang peristiwa yang telah lepas. Ini semua sudah ketentuan yang maha kuasa di dalam kehidupan kamu. Kamu harus menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas. Mungkin dengan kejadian ini Allah akan mengangkat derajatmu lebih tinggi lagi" Ujar papa ku memberi nasehat kepada ku.
"Aamiin"
***
"Hari ini adalah hari sidang pertama antara Tian dan Fitri. Semoga saja sidang ini menjadi sidang yang pertama dan juga sidang yang terakhir untuk mereka. Sehingga tidak ada lagi sidang yang kedua, ketiga bahkan seterusnya karena aku sudah tidak bisa lagi sabar untuk menjadi istri sahnya Tian. Yah aku akan menjadi nyonya besar di rumah ini" Ujar Susan berbicara kepada dirinya sendiri sambil tertawa lepas karena telah merasa menang dariku.
"Akhir nya hari ini aku akan mendapatkan apa yang aku mau. Laki-laki yang aku cintai itu akan menjadi milik ku selama nya dan satu-satu nya. Ya meski saat ini aku memang sedang menginap satu penyakit, tapi penyakit itu merupakan hikmah yang sangat indah untuk ku. Dengan penyakit ini Tian tidak bisa bersikap seperti dulu lagi dan dia tidak bisa meninggalkan aku begitu saja" Ujar Susan lagi.
"Akhir nya aku menang" Susan tertawa lepas.
***
"Fitri" Tegur seseorang dari belakang. Aku menoleh dan melihat sumber suara.
"Tian"
"Apa memang kita tidak bisa memperbaiki hubungan kita? Apa memang harus kita berpisah seperti ini" Tanya Tian mencoba untuk membujuk ku.
"Maaf Tian, ini lah jalan terbaik untuk kehidupan kita. Kita tidak bisa bersama lagi. Pernikahan kita saat ini sudah tidak sehat dan tidak bisa dipulihkan lagi. Jika terus kita memaksa maka aku yakin hubungan kita tidak seindah yang dulu. Maafkan aku jika selama aku menjadi istrimu, aku belum bisa menjadi istri yang sempurna dan yang terbaik untukmu. Halal kan setiap apa yang kamu berikan kepadaku secara lahir dan batin" Kata ku dengan penuh haru.
Kedua orang tua ku dan juga Tian ikut menitikkan air mata melihat percakapan kami berdua.
"Jujur aku masih sayang sama kamu Tian.. Kamu lah cinta pertama ku. Sulit untuk ku lupakan semua tentang mu. Tapi apa lah daya jodoh kita sampai di sini saja. Dulu aku pernah bilang sama kamu Aku temani kamu dengan Bismillah, sekarang aku lepas kan kamu dengan Bismillah juga" Ucap ku lagi langsung mencium punggung tangan suami ku yang sebentar lagi menjadi mantan suami.
"Elah, penuh drama banget sih Fitri. Sok-sokan dia bertingkah seperti itu. Dia pikir dengan dia mengucapkan kata-kata yang tidak penting itu akan membuat Tian kembali kepadanya? Jangan bermimpi ya Tian itu hanya milik aku" Batin Susan merasa jengkel dengan percakapan kami barusan.
"Sebenarnya aku tidak mau perpisahan ini terjadi. Aku juga sangat mencintai kamu dan tidak bisa melupakan kamu. Tapi aku tahu kamu akan terus tersiksa jika dipaksakan bersamaku. Karena aku tidak bisa memilih antara kamu dan Susan. Keduanya sangat berarti bagiku. Tapi ketahuilah Fitri, cinta ini selalu abadi untukmu meski kita tidak bersama. Bukankah cinta itu tidak harus saling memiliki" Ucap Tian.
Aku tersenyum dan mengganggu mendengar perkataan Tian barusan.
***
Sidang pertama di pengadilan itu berjalan dengan lancar. Karena aku dan Tian sudah sepakat untuk berpisah, maka Hakim mengabulkan permintaan kami. Hakim mengetuk palu tanda keputusan telah final. Saat ini aku dan Tian sudah resmi bercerai.
"Akhirnya, apa yang aku inginkan dan apa yang aku harapkan benar-benar telah terjadi. Aku harus merayakan kemenangan ini dan aku juga harus menceritakan semuanya kepada mama. Pasti mama akan merasa bahagia sekali dengan berita bahagia ini" Batin Susan tersenyum senang saat mendengar keputusan dari hakim.
__ADS_1
Aku menghela napas berat ku ketika mendengar keputusan dari hakim. Akhirnya saat ini aku telah menjadi janda. Meski aku menginginkan perpisahan ini, tapi tidak bisa ku bohongi hatiku merasa sedih saat berpisah dengan cinta pertamaku itu.