
Sofi bercerita tentang diri nya ingin menjadi pelukis terkenal. Aku hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat mereka berdua. Mereka sangat dekat dan saling mendukung satu sama lain layaknya orang tua dan anak kandung.
"Kita sudah sampai" Ucap Rendi mengajak aku dan Sofi turun dari mobil nya saat kami sudah tiba di toko yang menjual alat-alat lukisan.
"Wah, papa beneran mau membelikan Sofi alat lukisan?" Tanya gadis kecil itu dengan semangat. Tampak dari wajah nya raut kebahagiaan yang terpancar. Bisa ku menilai bahwa Sofi lebih dekat dengan Randi dari pada Tian papa nya sendiri. Terlebih saat ini Tian sibuk dengan pekerjaan dan juga Susan yang sakit.
"Sekarang ayo kita masuk dan memilih peralatan lukis yang Sofi mau"
"Asyik... " Ujar gadis kecil itu langsung berlari masuk ke dalam toko dengan rasa bahagia di hati.
Aku dan Rendi tersenyum melihat gadis kecil itu.
"Terima kasih ya bang Rendi. Kamu sudah membuat Sofi bahagia seperti ini. Aku belum pernah melihat Sofi bahagia seperti ini" Ucap ku.
"Gak masalah Fit. Bagaimana pun Sofi sudah ku anggap sebagai putri ku sendiri. Jika kamu bahagia, maka aku pun akan bahagia melihat kalian berdua orang yang penting dalam hidupku merasakan kebahagiaan" Ucap Rendi dengan mantap.
"Terima kasih banyak. Kamu sudah mau menerima Sofi"
"Sama-sama Fit" Ucap Rendi dengan senyuman di wajah nya.
Aku dan Rendi ikut masuk ke dalam toko lukis itu untuk menyusul Sofi yang dari tadi sudah masuk ke sana.
"Pa, yang ini bagus deh" Ujar gadis itu dengan menunjuk salah satu kanvas yang ada di hadapan nya. Di mana ukuran kanvas itu tidak terlalu besar. Sesuai dengan diri nya yang mungil.
"Iya ini bagus kok nak. Sesuai dengan Sofi. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil" Jawab Rendi.
"Sofi mau yang ini" Ucap nya lagi.
"Oke, pak tolong yang ini ya" Ucap Rendi meminta pemilik toko itu untuk membungkus pesanan nya.
"Baik pak, tunggu sebentar ya" Jawab pemilik toko tadi langsung membungkus pesanan yang kami pesan.
"Terima kasih ya pa" Ucap Sofi memeluk Rendi.
"Iya sayang sama-sama"
Setelah selesai membeli peralatan lukis untuk Sofi, kami pun pergi ke toko perhiasan untuk membeli cincin pertunangan antara aku dan Rendi yang akan di adakan dua minggu lagi.
***
"Mbak,. tolong cincin yang spesial dan yang paling istimewa di toko ini" Ujar Rendi kepada karyawan toko perhiasan itu.
"Sebentar ya pak saya ambilkan dulu" Ucap karyawan kantor itu lagi.
Setelah kepergian detik kemudian karyawan kantor itu pun kembali dengan membawa kotak yang berisi cincin di dalamnya.
"Ini dia pak cincin nya, cincin ini yang paling spesial di toko kami. Dan ini hanya satu-satu nya" Jelas nya lagi.
Rendi mengambil cincin yang ada di kotak nya itu untuk melihat keadaan cincin yang diperlihatkan oleh karyawan toko tadi.
"Fit, Bagaimana kamu suka nggak dengan cincin ini?"
Aku ikut memperhatikan keadaan cincin yang diperlihatkan oleh karyawan toko tadi. cincin yang berwarna putih itu memiliki berlian kecil di tengahnya cincin itu terlihat elegan dan sederhana tapi tetap terlihat mahal.
"Bagus kok, sederhana tapi kelihatan elegan" Ucap ku.
"Kamu suka?"
"Aku sih terserah kamu saja, apa pun yang menurut mu bagus, maka bagus juga menurut ku" Ucap ku. Ya aku memang menyukai cincin tersebut. Tapi aku tidak meminta atau menuntut Rendi untuk membelikannya untuk ku. Dari dulu hingga sekarang aku tidak pernah menuntut untuk memberiku mahar yang mahal- mahal kepadaku. Mahar yang di berikan kepada ku itu hanya semampu nya laki-laki itu. Meski pun dia kaya seperti Tian dulunya aku juga tidak pernah menuntut untuk memberikan ku mahar yang mahal dan sekarang Rendi juga seperti itu.
"Kamu suka kan?" Ulang Rendi lagi.
"Suka, tapi apa perlu yang mahal-mahal seperti ini" Jawab ku.
"Ya gak apa-apa. Untuk orang yang spesial jelas maharnya juga harus spesial" Ucap Rendi dengan tersenyum.
Aku membalas ucapan Rendi tadi dengan senyuman.
"Mbak, saya mau yang ini ya" Ucap Rendi tadi meminta karyawan toko itu untuk membungkus cincin yang ia inginkan tadi.
"Ma, ini bagus deh" Ucap Sofi saat melihat sebuah kalung berlapiskan emas putih dengan mutiara kecil di tengah nya.
"Sofi suka?" Tanya Rendi kepada gadis kecil itu. Sofi mengganggu mendengar pertanyaan dari Rendi tadi.
"Mbak lihat yang ini" Ujar Rendi.
__ADS_1
"Ini pak"
"Sofi mau yang ini?"
Lagi-lagi gadis kecil itu mengangguk.
"Mbak, yang ini juga ya" Ucapnya.
"Papa mau membelikan kalung itu untuk Sofi?"
Kini balik Rendi yang mengangguk dan tersenyum.
"Makasih ya pa" Ucap gadis kecil itu tersenyum bahagia sambil memeluk Rendi dengan penuh kasih sayang. Kembali Rendi membuat putri kecilku itu bahagia.
"Ya Allah semoga Rendi bisa menjadi imam yang baik untuk ku dan Sofi nanti nya. Semoga rasa sayang nya dengan Sofi tidak pernah berubah. Begitu juga dengan ku. Semoga kami mencapai keluarga yang sakinah mawaddah dan warohmah. Aamiin" Batin ku berdoa.
"Kalung yang cantik untuk anak papa yang cantik juga" Ujar Rendi memakai kalung tersebut di leher Sofi.
"Makasih papa" Ujar nya lagi dengan rasa senang di hati nya.
***
"Hati-hati" Ujar Tian menuntun Susan untuk masuk ke rumah nya. Ya hari ini Susan sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.
Tian mengantar Susan untuk beristirahat di kamar nya.
"Sekarang kamu istirahat ya dan jangan terlalu banyak bergerak" Ujar Tian.
"Aku ke bawah dulu mau mengambil makanan" Ujar nya lagi.
Susan mengangguk. Yah semenjak sebulan yang lalu Tian mengizinkan Susan untuk tidur di kamar utama. Kamar ku dan Tian dahulu.
"San, kamu tidur di kamar utama?" Tanya mama Susan yang tampak kaget melihat Susan di bawa Tian ke kamar utama nya.
"Iya ma, sudah sebulan ini aku tidur di sini bersama Tian"
"Wah ternyata Tian sudah benar-benar bisa menerima mu ya. Itu berarti kamu akan di nikahi secepat nya dong"
"Iya ma, aku juga merasa senang sewaktu Tian mengizinkan ku untuk tidur di sini" Ucap Susan senang. Yah tentu saha mama Susan tahu tentang rumah tangga putri nya itu. Karena selama ini Susan selalu bercerita tentang perkembangan rumah tangga nya kepada mama nya itu.
"San, ini aku bawain sup ayam untuk mu. Tadi sebelum pulang aku meminta bik Ina untuk memasak nya untuk mu" Ujar Tian datang dengan membawa semangkok sup ayam kepada istri siri nya itu.
"Di makan ya selagi masih panas"
"Iya sayang"
"Oh ya, kapan kamu akan menjemput Sofi? Mama kangen deh sama cucu mama itu" Tanya mama Susan.
"Besok aku akan menjemput Sofi ma. Tapi minggu ini Sofi di ajak mama ku untuk menginap di rumah nya. Sudah lama juga Sofi tidak ke sana" Jelas Tian.
"Wah, baru juga di jemput sudah di bawa lagi" Ujar mama Susan sedih.
"Hanya sebentar kok ma, hanya sehari saja Sofi di sana. Kasihan juga mama yang kangen sama dia" Ujar Tian lagi.
"Ya Hallo" Ujar Tian saat ponsel nya berdering.
"Iya baik, saya akan segera ke sana" Ucap Tian lagi menutup ponsel nya.
"Kenapa sayang?" Tanya Susan.
"Seperti nya ada masalah sedikit di proyek. Aku harus ke sana sebentar ya" Ucap Tian.
"Ma titip Susan ya" Ujar Tian bergegas menuju ke mobil nya.
"Aduh, ada masalah lagi di proyek nya Tian? Bisa-bisa kamu gak di nikahi sama Tian" Ujar wanita paruh baya itu kepada putrinya.
"Iya ma, aku juga cemas. Jika terus-terusan seperti ini. Aku nggak mau terus-terusan menjadi istri sirinya Tian. Dan aku juga nggak mau jatuh miskin nantinya" Ujar Susan cemas. Yah baru sedikit masalah proyek yang di alami Tian, Susan dan mamanya sudah seperti kebakaran jenggot saja.
"Aduh, aduh mama juga gak mau nanti nya kembali ke rumah kita yang lama. Mama sudah nyaman tinggal di rumah mewah pemberian Tian kepada mu itu" Ujar mama Susan. Yah semenjak Susan tinggal di rumah Tian yang diwarisi oleh papanya itu wanita paruh baya itulah yang merawat rumah pemberian Tian kepada Susan.
Jelas saja saat ini dia merasa sudah menjadi nyonya besar. Karena tidak perlu lagi bekerja keras untuk mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Tian lah yang memberikan jatah bulanan untuk keperluan wanita paruh baya itu sehari-hari.
"Aduh ma, udah deh. Jangan berpikir yang bukan-bukan. Kita doakan saja semoga proyek dan perusahaan Tian itu baik-baik saja" Ujar Susan.
"Iya semoga saja begitu nak. Sekarang kamu habiskan sup nya kemudian minum obat ini agar kamu cepat sembuh" Ujar mama Susan.
__ADS_1
Susan pun menyodorkan sesuap demi sesuap sup ayam yang dibawakan Tian tadi ke dalam mulutnya. Meskipun saat ini pikirannya sedang berkecamuk, tapi dia harus bisa mengontrol pikiran itu dan harus tetap mengonsumsi makanan yang sehat untuk kesembuhannya.
***
"Hallo" Jawab ku saat mendengar ponsel ku berdering karena Tian menghubungiku malam itu.
"Hallo Fitri, Bagaimana keadaan kamu dan Sofi di sana?" Tanya Tian.
"Alhamdulillah aku dan Sofi baik-baik saja di sini. Kamu apa kabar? Susan bagaimana keadaannya" Tanya ku.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja. Susan juga begitu keadaannya semakin membaik dan tadi siang dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter" Jelas Tian kepada ku.
"Oh ya, mau ngomong sama Sofi? Sebentar ya" Ujar ku.
"Sayang papa mau ngomong" Ucap ku kepada putri kecil ku itu yang sedari tadi sibuk melukis di kanvas yang diberikan oleh Rendi tadi. Sofi mengambil ponselku untuk berbicara dengan papanya.
"Sayang, sedang ngapain putri papa yang cantik ini" Ucap nya.
"Sofi lagi melukis pa. Coba deh papa lihat, bagus gak lukisan Sofi?" Tanya putri kecilku itu memperlihatkan lukisannya melalui video call kepada Tian.
"Wah bagus sekali sayang" Puji Tian setelah melihat hasil lukisan putrinya itu di mana Sofi melukis pemandangan di kanvas itu.
"Wah, ternyata sudah ada kanvas untuk melukis nak?" Tanya Tian kepada Sofi.
"Iya pa, di beliin sama papa Rendi" Ucap Sofi dengan jujur.
Deg...
Jelas jantungku berdebar mendengar Sofi mengatakan hal itu karena aku takut Tian akan tersinggung. Dan bisa ku lihat dari raut wajah Tian tampak kaget dan sedih mendengar kejujuran putrinya itu.
Aku yakin Tian merasa gagal sebagai seorang papa karena tidak bisa memperhatikan keinginan putrinya selama ini. Selama ini ia terlalu sibuk dengan urusan nya sendiri. Terlebih di saat Susan sakit dia terlalu sibuk mengurus istri sirinya itu.
"Papa? Sofi memanggil Rendi dengan sebutan papa? Ternyata dia bisa menerima kehadiran Rendi dengan mudah" Batin Tian sedih.
Tian tersenyum kecut kepada putrinya itu dan tanpa sengaja ia melihat kalung yang dipakai oleh Sofi.
"Kalung nya bagus sayang. Apa papa Rendi juga membelikan nya untuk mu?" Tebak Tian dengan wajah yang sulit ku artikan.
"Iya pa, ini papa Rendi juga yang belikan. Tadi setelah membeli peralatan untuk melukis, kami pergi ke toko perhiasan untuk membeli cincin pertunangan mama jadi papa Rendi juga membelikan Sofi kalung ini. Bagus kan pa?" Tanya Sofi dengan wajah polos nya tampa memperhatikan perubahan raut wajah papa nya itu.
"Aduh Sofi, kenapa ngomong seperti itu sih nak. Bisa-bisa papa kamu jadi sedih" Batin ku. Pasti kalian juga merasakan hal yang sama jika anak kalian menceritakan kebaikan orang lain kepada kalian saat ini. Pasti kalian akan berpikir gagal menjadi orang tua untuk anak kalian buat gagal untuk membuat anak kalian bahagia.
"Oh gitu. Oh ya sayang besok papa akan menjemput Sofi ya. Sudah lama kamu di rumah mama Fitri papa kangen" Ucap nya menyampaikan maksud dan tujuannya menghubungiku malam ini.
Bukannya senang dijemput oleh papanya Sofi mana terlihat murung.
"Kenapa sayang?" Tanya Tian melihat perubahan raut wajah Tian itu.
"Tapi bukankah tante Susan masih di rumah sakit pa? Nanti Sofi tinggal sama siapa di rumah?"
"Tante Susan sudah diperbolehkan pulang kok sayang siang tadi. Dan saat ini dia sedang berada di kamar untuk beristirahat" Jelaskan lagi kepada putri kecilnya itu.
"Besok papa jemput ya setelah pulang sekolah"
Meski dengan berat gadis kecil itu pun menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah mana mama? Papa mau bicara"
"ma, Papa mau ngomong" Ucap Sofi memberikan kembali ponselku.
"Ya Tian?"
"Jadi kapan acara pertunangan kalian?"
"Dua minggu lagi" Jawab ku singkat.
"Oh gitu. Aku hanya bisa mendoakan semoga acara pertunangan kalian dan juga acara pernikahannya berjalan dengan lancar. Dan semoga kamu bahagia bersama Rendi suami baru nanti" ucap biarin jangan sedih. Yah meskipun dia berusaha untuk menyembunyikan kesedihan hatinya. Tapi tetap saja bisa kulihat dari raut wajahnya.
"Terima kasih atas doanya. Jika kamu tidak sibuk, aku mengundangmu untuk hadir di acara pertunanganku besok"
"Yah, Aku akan berusaha untuk hadir di acara pertunangan itu. Aku akan berusaha untuk asalkan waktu agar aku bisa datang ke sana"
"Terima kasih" Ujar ku lagi.
"Ya, sama-sama" Kami pun mengakhiri obrolan kami di video call saat itu.
__ADS_1
"Ya ampun, papa seperti apa aku ini? Kenapa anakku sendiri bisa lebih dekat dan bisa menerima orang lain yang baru ia kenal seperti itu? Justru akulah yang merasa jauh darinya dan akulah orang yang asing di dalam hidupnya" Batin Tian sedih.
"Bahkan aku tidak tahu sama sekali bahwa putriku itu hobinya melukis. Aku benar-benar merasa gagal menjadi seorang papa untuk Sofi" Batin Tian lagi. yah terlihat beberapa air bening mengalir di pipinya.