Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 58


__ADS_3

"Sayang, ayo kita pulang sudah sore juga ini" Ujar Tian mengajak putri kecil nya pulang.


"Mama, apa mama ikut pulang juga sama Sofi dan papa?*


Aku berjongkok menyamakan posisi ku dengan putri sambung ku itu.


"Maaf sayang, untuk saat ini mama belum bisa pulang bersama kalian. Mama masih butuh waktu untuk memikirkan semuanya"


Sofi hanya terdiam menunduk sedih mendengar ucapan ku barusan.


"Jangan sedih gitu dong sayang. Atau gak gini aja, Sofi nginap saja di sini sama mama. Nanti minta papa untuk antarkan pakaian Sofi dan juga pakaian seragamnya sekali. Jadi besok pagi mama bisa mengantar Sofi ke sekolah seperti biasanya" Saranku sambil tersenyum kepada putri sambung ku itu.


Lagi-lagi putri kecilku itu hanya terdiam dan tidak memberi respon apapun. Gadis kecil itu tampak berpikir.


"Nanti jika Sofi nginep di sini bersama mama, pasti tante Susan akan mencari kesempatan lagi untuk dekat-dekat sama papa" Pikir gadis itu.


"Gak, Sofi nggak mau itu terjadi Sofi nggak mau papa direbut sama tante Susan. Pokoknya papa hanya milik Sofi dan mama Fitri saja" Tambah nya lagi.


"Loh kok diam sih sayang? Bagaimana mau kan nginep di sini sama mama? " Tanya ku lagi.


"Hmm... Gak deh ma. Sofi pulang aja sama papa. Tapi mama janji ya mama harus segera pulang ke rumah"


"Iya sayang, begitu semua urusan mama sudah selesai, Mama pasti akan pulang" Ujar ku penuh keyakinan.


"Oke deh mama" Ujar Sofi memeluk ku dengan erat. Aku pun membalas pelukan gadis ku itu dengan penuh kehangatan.


"Kalau begitu, Sofi dan papa pulang dulu ya ma. Mama baik-baik di sini" Ucap gadis itu penuh kesedihan.


Aku juga ikut sedih melihat gadis kecil ku itu. Yah dia memang tampak kuat di luar, namun rapuh di dalam nya. Sama seperti diri ku saat ini.


"Sayang, kami pulang dulu ya. kamu baik-baik di sini!" Pesan Tian lagi.


Aku hanya mengangguk.


***


"Fitri, Sebenarnya kamu dan Tian itu ada masalah apa sih? Sehingga kamu melarikan diri seperti ini" Tanya mama ku kepada ku.


Aku menghela napas berat ku. Aku merasa berat untuk menceritakan masalah ini kepada keluarga ku. Karena ini adalah masalah keluarga kecil ku juga aib bagi suami ku. Bagaimana pun, aku harus bisa menjaga aib suami ku agar tidak di nilai yang negatif oleh keluarga ku.


"Fitri, kenapa malah diam sih? Bukan nya mama tanya masalah antara kamu dan Tian itu apa?"


"Tapi aku mohon sama mama, jangan menceritakan masalah ini kepada siapa pun ya. Termasuk sama papa" Pinta ku.


"Lo kenapa emangnya?"


"Karena aku gak mau semua orang tahu tentang masalah keluarga ku ma. Bisa kan ma? Aku mohon" Pinta ku lagi.


"Iya mama janji mama gak akan menceritakan kepada siapa pun"


Kembali aku menghela napas berat ku. Sungguh rasa nya sangat berat aku menceritakan kejadian yang menimpa keluarga ku saat ini.


"Ma, aku harus bagaimana saat ini ma? Aku bingung harus berbuat apa?" Ujar ku mulai menitikkan air mata.


"Sayang, ada apa sebenar nya? Apa yang di lakukan oleh Tian kepada mu nak?" Tanya mama ku mendekati ku dan memeluk ku.


Aku memeluk mama ku dengan penuh kehangatan. Yah sungguh aku kini merasa tenang saat berada di sisi mama ku. Memang saat ini aku sedang membutuhkan pelukan seorang mama untuk menenangkan hati ku saat ini.

__ADS_1


"Kenapa sayang? Menangis lah nak jika itu membuat hati mu merasa tenang" Ujar mama ku mengusap lembut punggung ku.


"Mama, aku benar-benar tidak menyangka Tian tega melakukan hal ini kepada ku ma. Apa salah ku sama Tian?"


"Ternyata selama aku berada di rumah sakit kemarin. Di mana aku dan Raffa berjuang melawan penyakit nya Raffa, Tian jarang ke rumah sakit. Aku juga gak tahu ya ma apa penyebab dia bisa melakukan hal bejat itu. Dia selingkuh bersama Susan ma hingga membuat Susan hamil anak nya saat ini" Jelas ku terus menangis.


Deg....


Mata mama ku membulat mendengar apa yang aku katakan kepada nya. Dia benar-benar kaget mendengar hal itu. Sungguh tidak menyangka bahwa Tian yang ia pikir kini berubah ternyata membuat ulah lagi. Hanya saja kini tingkah nya berbeda di mana ia bermain api dengan mantan adik ipar nya sendiri.


"Susan? Bukan kah dia sudah menikah kemarin bersama Toni? Terus apa Toni suami nya Susan tahu akan hal ini?"


"Mah, Susan dan Toni tidak pernah menikah ma, Toni itu hanya laki-laki bayaran Tian untuk menggantikan posisinya bersanding dengan Susan agar kita semua percaya Susan memang telah menikah dengan laki-laki lain. Sebelum nya Tian sudah melakukan akad nikah secara siri dan diam-diam bersama Susan di rumah mamanya Susan. bahkan keluarga Tian pun tidak mengetahui hal ini ma" Jelas ku lagi.


"Ya ampun, sungguh tega si Tian mempermainkan kita semua. Sungguh rencana mereka memang sangat sempurna hingga membuat kita sama sekali tidak curiga sama sekali" Ujar mama ku.


"Iya ma, aku juga tidak menyangka bahwa dia yang bisa merencanakan semua nya dengan baik. Hingga membuat kita sama sekali tidak curiga dan percaya semua nya" Ujar mama ku.


"Iya ma, semua ini karena Susan sedang hamil anak nya Tian. Jadi nya Tian harus menikah dengan Susan bagaimana pun cara nya. Untung saja Allah itu tidak tidur. Dan Allah lah yang telah membuka semua kebenaran ini ma. Tampa sengaja aku mendengar percakapan Tian dan Susan sehingga membuat aku mengetahui semua nya. Ini lah kenapa aku pergi untuk menenangkan diri ma" Ujar ku lagi menutup wajah ku yang di penuhi air mata dengan kedua tangan ku.


"Aku juga gak tahu ma, kenapa masalah di dalam keluarga ku datang silih berganti ma. Selesai satu masalah kini timbul masalah baru"


"Kamu yang sabar ya sayang. Allah tahu kamu bisa menghadapi masalah ini. Karena itu Allah memberikan cobaan ini kepadamu"


"Iya ma, doain aku ya ma agar aku bisa menghadapi semua ini dengan ikhlas. Mungkin ini cara Allah untuk mengangkat drajat ku nanti nya" Ujar ku.


"Terus apa kamu sudah mendapatkan keputusan nya?"


"Belum ma, aku belum bisa memberikan keputusan untuk masalah ini. Aku masih bingung dan bimbang ma. Di satu sisi, aku ingin sekali pergi dalam kehidupan Tian karena rasa kecewa dan sakit hati ini begitu dalam. Aku mungkin bisa menerima dia candu seperti kemaren. Tapi kalau masalah wanita, sulit untuk aku melupakan kesalahan itu ma. Tapi di sisi lain aku juga masih mencintai nya ma. Aku juga memikirkan Sofi yang begitu sayang kepada ku. Aku pun sangat menyayangi Sofi. Hanya gadis itu lah yang menjadi penyemangat ku saat ini ma semenjak kepergian Raffa" Ujar ku dengan penuh kebingungan.


"Aku juga tidak mungkin untuk meminta Tian memilih aku dan meninggalkan Susan. Secara Susan sedang hamil anak nya. Bagaimana pun bayi yang ada di dalam perut nya Susan itu tidak berdosa. Dan dia membutuhkan sosok papa nya. Tapi Tian bilang dia akan menjatuhkan talak kepada Susan setelah anak itu lahir" Ujar ku lagi.


"Dia pun tidak lepas tangan begitu saja sama anak itu ma. Dia akan bertanggung jawab sepenuh nya kepada anak itu selayak nya tanggung jawab nya sebagai seorang ayah. Hanya saja untuk bersama Susan dia tidak akan bisa lagi"


"Bagus dong. Itu arti nya Tian sudah memberikan keputusan bahwa dia memilih kamu. Dan kamu harus mendukung nya karena dia masih mau mempertahankan kamu"


"Aku juga gak tahu ya ma harus bahagia atau sedih. Yang aku ketahui saat ini perasaan ku benar-benar hancur. Dan sulit untuk aku percaya kembali kepada Tian ma"


"Mama tahu nak, tapi coba lah untuk mempertahan kan keluarga mu terlebih dahulu nak. Karena pernikahan ini adalah sebuah ikatan suci di mana ikatan itu adalah perjanjian kita yang disaksikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Jika masih bisa diperbaiki, maka alangkah bagusnya kita mempertahankan dan memperbaiki pernikahan kita itu" Nasehat mama ku.


"Apa aku bisa ma? Melihat wajah mereka saja aku tidak sanggup"


"Sayang, kenapa kamu lemah seperti ini sih nak. Kamu anak mama yang kuat. Setahu mama kamu orang yang tidak mudah menyerah dan gampang buat putus asa begitu saja. dan mama juga yakin. Jika Raffa masih ada, dia juga tidak ingin kamu menyerah seperti ini dan membiarkan papanya jatuh ke dalam pelukan wanita lain"


Aku mulai memikirkan apa yang di katakan oleh mama ku itu yang memang ada benar nya.


"Jangan menyerah nak. Jika kamu seperti ini akan membuat Susan besar kepala dan merasa lebih berkuasa dari kamu. Secara kamu adalah istri sah nya dan dia hanya lah istri siri. Jangan mau kalah sayang. Pertahan kan suami mu. Pertahan kan keluarga mu"


"Mama benar, mungkin di sini aku juga yang salah. Karena aku terlalu sibuk memikirkan kesembuhan Raffa. Terlebih ketika Raffa masih berada di dalam kandungan ku. Aku tidak bisa melayani suami ku dengan baik waktu itu. Aku harus bisa memperbaiki semua nya. Aku harus bisa mempertahankan keluarga ku"


"Gitu dong sayang. Apa lagi si Sofi yang baru saja hidup bahagia karena mendapatkan seorang mama yang telah lama ia ingin kan. Pasti hatinya akan kembali terguncang ketika kamu pergi seperti ini" Ujar mama ku lagi.


"Terima kasih ya ma, terima kasih telah memberikan nasihat untukku. Jika aku tidak bertemu dengan mama hari ini, mungkin aku akan terus-terusan dalam kebimbangan dan kebingungan"


"Itu lah gunanya mama mu ini nak. Kamu jangan seperti ini lagi ya sayang. Jangan pernah kamu berpikir kamu itu sendiri. Masih ada mama, papa dan saudara-saudara mu yang menjadi orang terdepan ketika kamu dalam masalah" Ujar mama ku tersenyum.


"Iya ma, terima kasih" Ucap ku lagi memeluk tubuh wanita paruh baya itu.

__ADS_1


***


"Assalamualaikum" Ujar ku memberi salam saat tiba di pintu rumah warisan Tian.


"Waalaikumsalam mama..." Teriak Sofi berlari menghampiri ku.


"Sayang mama... " Sambut ku dengan memeluk gadis kecil ku itu.


"Akhir nya mama pulang juga. Sofi pikir mama akan lama di rumah nenek dan kakek"


"Ya enggak lah sayang, mana bisa sih mama pisah lama-lama dari anak gadis mama yang cantik ini" Ujar ku mencubit pipi tembam gadis itu.


"Iya ma, Sofi juga gak bisa pisah lama-lama dari mama"


"Ayo masuk ma" Ajak gadis itu.


Aku melihat sekeliling rumah tidak ada Susan dan juga Tian di sana.


"Kemana mereka?" Batin ku mulai bertanya-tanya.


"Sayang, papa kemana?"


"Papa ada di halaman belakang ma sama tante Susan"


"Halaman belakang? Ngapain mereka? Apa sedang merencanakan sesuatu lagi?" Batin ku mulai curiga.


"Sayang, kamu tunggu di sini dulu ya. Mama mau menemui papa sebentar. Gak apa-apa kan sayang?"


Sofi mengangguk.


Aku pun pergi ke halaman belakang untuk menemui Susan dan Tian di sana.


***


"Tian, kamu gak bisa melakukan seenak nya seperti ini dong sama aku. Bagaimana pun aku adalah istri mu juga. Aku juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama"


"Apa yang kurang dari ku untuk mu San? Bukan kah aku juga sudah membelikan mu rumah untuk kamu tempati bersama anak itu nanti nya. Dan setiap bulan aku akan mengirimkan uang untuk anak itu agar kamu tidak perlu memikirkan biaya hidup nya dan sekolah nya nanti. Apa pun yang Sofi dapatkan, akan aku pastikan anak itu juga akan mendapatkan nya"


"Oke, aku terima semua itu. Tapi sepertinya kamu hanya memikirkan anak ini saja. Kamu tidak memikirkan bagaimana keadaanku nanti?"


"Susan, Bukankah aku sudah bilang aku akan menjatuhkan talak kepada kamu setelah anak itu lahir dan aku akan memberikan semuanya untuk anak itu seperti apa yang didapatkan oleh Sofi. Aku, saat ini hanya memikirkan anakku. Dan untuk kamu itu terserah kamu mau bagaimana"


"Ternyata Tian memang serius dengan ucapan nya. Dia benar-benar akan menjatuhkan talak kepada Susan setelah anak itu lahir" Batin ku menguping pembicaraan mereka dari balik pintu belakang rumah.


"Tian, jangan ngomong seperti itu dong Sayang. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku cinta dan sayang sama kamu. Aku rela melakukan apa pun untuk kamu asalkan kita tetap sama-sama" Ujar Susan memohon.


"Aku tidak mencintai kamu Susan. Aku hanya mencintai Fitri istri ku. Hubungan kita ini salah. Dan kita harus mengakhiri nya. Aku telah membuat anak dan istri ku kecewa. Dan aku ingin memperbaiki semua nya. Aku tidak mau membuat mereka kecewa lagi dan kehilangan mereka. Mereka adalah harta tidak ternilai harga nya" Ujar Tian lagi.


Sungguh perkataan dari suami ku itu menyentuh hati ku. Yah terdengar seperti dia memang menyesali perbuatan nya dan ingin memperbaiki nya.


"Ternyata tidak salah jika aku memberikan nya kesempatan untuk berubah. Terbukti dia memang ingin berubah dan memperbaiki semua nya" Batin ku lagi. Tak terasa beberapa air bening kini mengalir di pipi ku.


"Dan ketika nanti nya Fitri kembali, aku minta sama kamu untuk pindah ke rumah yang telah ku belikan untuk mu. Karena aku tidak mau Fitri merasa tidak nyaman dengan keberadaan mu di rumah ini"


"Tian, aku ini sedang hamil, harus nya kamu sebagai ayah dari anak ku terus ada dong di samping ku. Masa aku di tinggal sendirian sih" Protes Susan.


"Terserah kamu mau bilang apa, yabg jelas itu lah keputusan ku" Tegas Tian lagi.

__ADS_1


__ADS_2