
Aku merebah kan tubuh ku di atas kasur tempat ku beristirahat bersama Tian.
Entah lah, perasaan ku saat ini benar-benar serba salah. Di satu sisi, aku tidak mau egois karena tidak memikirkan keadaan Susan saat ini. Namun, di sisi lain aku tidak terima jika Tian dan Susan masih dekat. Memang tidak ada salah nya jika mereka saling dekat. Dan apa pun yang mereka lakukan tetap tidak salah dan berdosa. Secara mereka sudah resmi menjadi suami istri secara agama.
Hanya saja aku tidak mau berbagi suami kepada siapa pun Aku hanya ingin Tian menjadi milik ku. Aku menghela napas berat sungguh kejadian ini membuat otak ku buntu dan tidak bisa berpikir dengan Jernih.
"Ya Allah aku bingung harus berbuat apa saat ini. Berikan lah aku petunjuk mu ya Allah. Bantu lah aku untuk menghadapi semua ini" Doa ku dalam hati.
***
"Ma, Fitri mana?" Tanya Tian saat mama mertua nya masuk ke ruangan Susan.
"Oh Fitri dan Sofi pulang duluan. Kata nya sih kasihan Sofi kelamaan di rumah sakit. Gak baik juga untuk kesehatan nya" Jelas wanita paruh baya itu.
"Lo, kok pulang nya begitu saja sih gak berpamitan dengan aku dulu" Ujar Tian merasa heran.
"Lo, bukan nya Fitri tadi sudah pamitan sama kamu ya? Tadi sebelum pulang dia pergi untuk ketemu dengan kalian dulu"
"Gak ada ma. Dari tadi Fitri sama sekali gak ada masuk di ruangan ini. Hanya aku yang ada di sini sedari tadi menemani Susan" Jelas Tian.
"Ya sudah mama tolong jagain Susan sebentar ya. Aku mau menghubungi Fitri dulu. Dia sudah tiba di rumah apa belum" Tian langsung keluar dari ruangan Susan itu dengan perasaan cemas.
***
Ting....
ponsel ku berdering pertanda ada yang menghubungi ku. Aku mengambil ponsel ku yang ku letak kan tadi di atas nakas di samping tempat tidur ku.
"Tian? Kenapa dia menghubungi ku?" Batin ku bertanya-tanya.
"Hallo"
"Hallo sayang, kamu di mana? Kenapa pulang nya gak ngabarin dulu sama aku. Aku jadi cemas" Celoteh nya.
"Maaf sayang., tadi aku buru-buru. Ada urusan yang harus aku selesaikan" Jawab ku dengan suara memalas ku.
Urusan apa sih? Sampai berpamitan sama suami sendiri saja gak sempat"
"Apa ada hubungan nya dengan pengajian besok?" Tebak Tian yang memberikan aku ide untuk berbohong.
"Iya sayang, ibu-ibu di pengajian besok meminta sedikit sumbangan untuk di salur kan kepada anak yatim. Emang gak memaksa sih, tapi apa salah nya jika kita berbagi untuk kebaikan.. Hitung-hitung sebagai bekal di akhirat nanti" Jelas ku lagi.
"Ya ampun sayang. Sungguh kamu membuat ku bangga. Aku merasa beruntung karena mendapatkan istri yang berhati mulia yang senang berbagi seperti kamu" Puji Tian kepada ku.
"Iya aku memang suka berbagi. Tapi tidak berbagi suami seperti apa yang aku alami saat ini" Batin ku lagi.
"Sekarang kamu di mana?"
"Aku di kamar sedang istirahat"
"Oh, kirain masih di rumah teman pengajian kamu itu"
"Gak kok, aku hanya mampir untuk memberikan sumbangan. Setelah itu aku dan Sofi pulang ke rumah.
"Oh, Ya sudah sebentar lagi aku akan pulang"
"Jika kamu pulang, siapa yang akan menjaga Susan?"
"Mama ada kok, dia bilang malam ini dia yang akan menjaga Susan"
"Lo bukan nya tante bilang gak bisa menjaga Susan kemaren lantaran dia. Sudah renta?"
"Gak tahu juga ya sayang.. Katanya sih dia mau menjaga Susan malam ini" Jelas Tian.
Aku hanya terdiam mendengar ucapan Tian saat itu. Entah lah aku juga tidak tahu harus ekspresi apa yang aku tunjukkan. Entah senang atau sedih.
Sejujur nya aku bingung dengan perasaan ku saat ini. Rasa kecewa kepada Tian kini muncul kembali di hati ku.
"Hallo sayang. Kenapa malah diam?" Tanya Tian membuyarkan lamunan ku.
"Iya, hanya sedikit lelah hari ini. Boleh aku istirahat?" Tanya ku mencari alasan untuk mengakhiri percakapan kami.
"Oh ya sudah jika begitu. Kamu istirahat saja. Da... Sayang" Ujar Tian menutup ponsel nya.
Aku menghela napas lega ku. Sebenar nya aku tidak mau bersikap seperti ini. Namun apa lah daya ku, aku benar-benar sedang tidak ingin membahas apa pun sama Tian. Karena masih tersisa rasa kecewa di hati ku terhadap suami ku itu.
***
"Susan, malam ini kamu di temani sama mama gak apa-apa kan?" Tanya Tian kepada Susan saat masuk ke ruangan nya.
"Lo Tian kamu gak menemani ku di sini?"
__ADS_1
Tian diam tidak bisa memberi jawaban. Malam ini ia ingin pulang ke rumah untuk menemani ku.
"Tian, Susan sedang sakit lo. Masa iya kamu tega meninggalkan nya begitu saja" Ujar wanita paruh baya itu.
"Iya ma, Tapi aku harus pulang. Lagian aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan untuk besok. Jika aku menginap di sini, berkas-berkas untuk besok ketinggalan di rumah"
"Lo, bukan nya kamu bisa mengambil kan berkas keperluan mu di rumah kemudian datang lagi ke sini"
Tian tampak berpikir dengan apa yang di katakan oleh wanita paruh baya itu.
"Ma, sudah lah ma, jika Tian mau nya pulang biarkan saja. Lagian di sana juga dia mempunyai istri yang juga membutuhkan perhatian nya" Ujar Susan dengan lemah. Entah lah semenjak mengetahui penyakit yang di derita nya, Susan menjadi banyak mengalah dan tidak mau terlalu menuntut lebih kepada Tian seperti biasa nya.
"Tapi nak, kamu kan sedang sakit saat ini. Sedang kan Fitri baik-baik saja. Apa salah nya Tian menemani mu. Setidak nya sampai besok ketika hasil pemeriksaan keluar" Ujar mama Susan lagi.
"Iya ma, tapi Fitri juga membutuhkan Tian untuk menemani nya. Bagaimana pun, aku gak boleh egois. Secara aku hanya istri siri nya ma" Kata Susan penuh iba.
Mendengar itu Tian menjadi tersentak. Laki-laki yang memiliki dua istri itu pun merasa iba dan kasihan kepada Susan. Yah bagaimana pun Susan sedang sakit saat ini. Dan jelas dia lebih membutuhkan sosok suami di samping nya saat ini.
"Ya sudah jika begitu, aku hanya pulang sebentar untuk mengambil beberapa berkas ku juga laptop. Setelah itu aku akan kembali ke sini untuk menemani Susan" Ujar Tian pada akhir nya.
"Gak apa-apa kok Tian. Kamu pulang saja. Di sini ada mama juga yang menemani ku" Ujar Susan.
"Gak apa-apa San. Benar apa kata mama. Harus nya aku selalu ada di samping mu dalam keadaan seperti ini. Bukan malah meninggalkan mu"
"Aku pulang sebentar ya. Dan nanti akan kembali lagi ke sini"
Susan dan Mama nya hanya mengangguk membenar kan.
***
Aku terbangun dari tidur ku saat ku dengar pintu kamar ku terbuka.
"Tian, sudah pulang?" Tegur ku duduk di atas tempat tidur ku itu.
"Iya baru saja tiba" Ujar Tain kemudian membereskan beberapa berkas nya dan juga laptop nya masuk ke dalam tas.
"Emang nya kamu mau kemana?" Tanya ku heran melihat suami ku seperti itu.
"Aku mau kembali ke rumah sakit untuk menemani Susan di sana"
Deg....
Entah mengapa hati ku terasa teriris mendengar ucapan Tian barusan. Hati ku benar-benar pedih mendengar hal itu. Meski aku tahu Susan memang sedang sakit dan saat ini sedang membutuhkan Tian. Tapi tetap saja hati ku merasa sakit tidak bisa menerima sepenuh nya.
Tian datang mendekati ku melihat aku tidak menjawab apa perkataan nya itu. Suami ku itu duduk di hadapan ku.
"Sayang, apa kamu marah kepada ku? Apa kamu marah aku tidak menepati janji ku kepada mu? Bukan kah aku tadi nya bilang mau pulang dan menemani mu di rumah. Tapi malah harus menemani Susan di rumah sakit" Ujar Tian menatap ku dalam-dalam.
Aku sama sekali tidak bisa membalas tatapan mata suami ku itu. Aku kembali menunduk tampa bersuara.
"Sayang, maaf kan aku ya. Aku harus melakukan semua ini karena memang Susan membutuhkan ku" Ujar Tian lagi.
Aku hanya memberikan senyuman kecut ku. Saat ini aku seperti si buah simalakama.
"Sayang, jangan memberikan aku senyuman seperti itu. Sejujurnya aku merasa tidak enak hati saat kamu tersenyum seperti itu. Apa aku batalkan saja dan menemani mu di sini?"
"Gak usah Tian. Gak apa-apa kok. Kamu pergi saja menemani Susan di sana. Aku gak masalah kok. Susan lebih membutuhkan kamu di sana" Ujar ku pada akhir nya. Yah meski hati ini sakit untuk membiarkan suami ku itu pergi, namun apa lah daya. Aku harus melakukan nya.
"Benar kamu tidak masalah?"
Aku mengangguk pelan.
"Terus kenapa ekspresi mu seperti itu?"
"Gak, aku hanya sedang lelah dan banyak pikiran saja. Ya sudah jika kamu mau pergi, berangkat lah sekarang. Nanti kemalaman lagi" Ujar ku mencoba untuk tersenyum.
Tian lagi-lagi menatap ku dengan intens. Seperti tidak percaya dengan ucapan ku.
"Kenapa masih menatapku seperti itu. Sudah pergi sana. Kasihan Susan sudah menunggu lama" Ujar ku lagi.
"Gak ah, aku malas mau pergi jika kamu masih memberikan ekspresi wajah yang tidak ikhlas seperti itu.
"Jadi aku harus bagaimana agar kamu tidak berpikir aku tidak-tidak seperti itu?" Ujar ku lagi.
"Senyum ikhlas dan manis nya dong di pancarkan kepada ku. Baru aku yakin kamu memang memberikan aku pergi" Ujar Tian lagi.
Dengan terpaksa meski dengan hati yang masih perih, aku pun memperlihatkan senyum terbaik ku agar Tian yakin bahwa aku tidak mempermasalahkan nya pergi.
"Gitu dong. Kamu memang istri ku yang terbaik sayang" Ucap nya mengecup kening ku dan berlalu dari hadapan ku saat ini.
Sungguh aku merasa jauh saat ini kepada Tian. Dia tidak seperti suami ku yang dulu. Saat ini Tian sudah berubah dan membagi cinta nya kepada gadis lain.
__ADS_1
"Tidak Tian, aku bukan istri yang terbaik untuk mu. Jika kamu memang menilai ku sebagai istri terbaik mu, pasti kamu tidak akan mengecewakan ku lagi" Batin ku. Tampa terasa beberapa air bening kini mengalir di pipi ku membayangkan kembali penghianatan Tian kepada ku. Ia telah berbohong kepada ku.
"Ya Allah jika jodoh ku panjang dengan suami ku, maka kuat kan lah hati ini untuk di madu. Jika tidak, tolong jangan kecewakan hati ini. Ikhlas kan hati ini untuk melepaskan nya bersama wanita lain" Doa ku dalam hati.
***
"Fitri, tumben kamu ke sini?" Tanya Fia kakak sepupu ku saat aku berkunjung ke tempat kos nya. Yah dia memang meniti karir nya di kota Pekanbaru setelah tamat kuliah.
"Iya, aku baru saja pulang dari pengajian tadi. Jadi yah kebetulan lewat sini jadi nya aku mampir deh" Ujar ku.
"Oh gitu. Untung saja hari ini aku libur. Jadi nya kamu gak sia-sia deh datang ke sini. Lagian kamu sih datang nya gak memberi kabar dulu. Jika kamu memberi kabar pasti aku siap-siap deh, entah itu makanan atau apa gitu"
"Gak perlu aku hanya ingin jalan-jalan saja menghilangkan kekusutan di benak ku" Ujar ku lagi.
"Oke dari raut wajah mu bisa ku tebak jika kamu dalam keadaan tidak baik-baik saja. Apa kamu sedang ada masalah bersama Tian?" Tanya Fia mulai kepo.
Aku menghela napas berat ku. Sejujur nya aku tidak mau menceritakan tentang aib suami ku kepada siapa pun. Tapi saat ini aku benar-benar butuh teman curhat untuk berbagi.
"Aku juga tidak tahu harus memulai cerita dari mana Fia. Yang jelas saat ini aku sangat kecewa kepada Tian" Ujar ku mulai bercerita.
"Kecewa sama Tian? Kenapa dia? Apa dia balik lagi menggunakan barang haram itu?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Bukan, bukan itu yang membuat aku kecewa. Tian semenjak pulang dari panti rehabilitasi dia tidak pernah lagi menggunakan barang haram itu. Dia benar-benar terbebas dari barang terlarang itu" Jelas ku.
"Terus apa yang membuat kamu kecewa kepada Tian?"
"Tian, Tian" Ujar ku menitikkan air mata. Aku sungguh tidak sanggup menceritakan masalah itu kepada Fia.
"Ada apa Fit, ayo cerita" Ujar Fia lagi
"Kamu tahu Fia, aku sudah di madu sama Tian Fia" Ujar ku dengan menitikkan air mata.
"Apa? Maksud kamu Tian sudah menikah lagi? Maksud ku, dia memiliki istri selain kamu?" Tanya Fia memastikan.
"Iya Fia. Begitu lah yang terjadi" Ujar ku.
"Kok bisa? Maksud ku sejak kapan?" Fia masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh ku rasa kan.
"Aku juga tidak tah sejak kapan Fia. Tapi yang jelas aku mengetahui nya sejak sejak Raffa masuk ke rumah sakit. Di mana aku sibuk untuk mengurus Raffa di sana"
"Ya ampun Fit. Aku benar-benar tidak menyangka lo si Tian tega melakukan hal seperti ini kepada kamu. Aku pikir dia adalah laki-laki yang setia kepada kamu. Emang siapa sih wanita yang jadi pelakor itu?" Tanya Fia.
"Susan, mantan adik ipar nya"
"Apa? Maksud kamu adik kandung nya Santi? Kok bisa?"
"Iya, semua kedekatan mereka berawal dari saat aku hamil Raffa. Di mana kamu tahu sendiri kan jika kandungan ku saat itu lemah dan aku tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasa. Bahkan untuk mengurus Sofi pun aku tidak bisa. Karena itu lah Susan menawarkan jasa untuk tinggal bersama kami dan merawat Sofi. Aku memang tidak setuju akan hal itu. Tapi, karena aku masih memikirkan Sofi, mau tidak mau, suka tidak suka aku pun harus terima. Dari sana lah kedekatan Tian bersama Susan. Hingga pada akhir nya Raffa masuk ke rumah sakit dan aku sibuk berjuang untuk kesembuhan Raffa. Dan mungkin karena sepeninggalan mu itu lah Tian dan Susan semakin dekat hingga tumbuh lah benih cinta di antara kedua nya" Cerita ku.
"Kamu tahu Fia, Susan hamil anak nya Tian"
"Tunggu, tunggu bukan kah waktu itu Susan mengadakan resepsi pernikahan dengan orang lain? Terus bagaimana bisa dia menikah dengan Tian?"
"Iya dia memang mengadakan resepsi pernikahan bersama Toni. Tapi itu semua hanya lah tipu daya nya Tian agar kita semua percaya bahwa dia dan Susan tidak selingkuh"
"Ya ampun Fitri. Aku benar-benar tidak percaya dengan sikap Tian. Terus bagaimana? Apa kamu masih mempertahan kan nya?"
"Aku memberikan nya kesempatan untuk nya berubah. Dia bilang, dia akan menjatuhkan talak kepada Susan saat anak nya lahir. Tapi aku rasa itu tidak akan terjadi" Ujar ku menatap kosong ke depan.
"Kenapa?"
"Karena saat ini Susan sedang sakit. Ada miom yang tumbuh di rahim nya. Jadi Tian tidak akan mungkin meninggalkan Susan. Bahkan aku mendengarkan sendiri bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Susan dalam keadaan apa pun"
Fia, hanya diam tidak memberikan jawaban apa pun. Gadis itu juga tampak bingung mau memberikan jawaban apa.
"Aku tidak bisa di madu Fia. Tapi aku juga tidak mungkin meminta Tian untuk meninggalkan Susan dalam keadaan seperti ini. Bahkan aku tahu bahwa Tian telah jatuh cinta kepada Susan. Meski kemarin dia mengatakan bahwa hubungan nya dan Susan hanya khilaf. Tapi saat di rumah sakit dia mengatakan bahwa diri nya mulai mencintai istri siri nya itu"
"Ya ampun Fitri, aku tidak menyangka ternyata kehidupan rumah tangga mu begitu rumit. Dari awal pernikahan kalian, masalah di dalam rumah tangga kalian terus saja terjadi. Di mulai ketika Tian candu, terus Raffa sakit, hingga perselingkuhan ini terjadi. Kamu yang sabar ya. Aku yakin semua pasti ada hikmah nya" Nasehat Fia kepada ku.
"Iya Fia, tapi sampai kapan aku harus bersabar. Jujur aku cemburu dan sakit hati saat Tian bersama Susan. Tapi untuk melarang nya pergi aku tak mampu. Aku tidak mau egois Fia. Apa yang harus aku lakukan Fia?"
"Begini saja Fitri, jika aku jadi kamu, aku akan meminta cerai dari Tian. Dari pada aku terus tersakiti seperti ini lebih baik berpisah. Lagian aku yakin, jika kamu pisah dari Tian, pasti banyak laki-laki yang mengantri mendekati mu" Saran dari Fia.
"Tidak semudah itu Fia. Aku masih mencintai dan sayang kepada Tian. Tidak mudah untuk aku melepaskan nya begitu saja. Terlebih ada Sofi yang begitu sayang kepada ku. Jika aku berpisah dengan Tian, bagaimana dengan keadaan Sofi? Pasti anak itu menjadi sedih. Saat ini aku lihat dia tumbuh menjadi anak yang ceria dan pintar. Aku tidak mau nanti dia kembali seperti dulu lagi" Ujar ku menjelaskan keadaan Fia.
"Aduh, ribet juga ya Fit masalah kamu. Benar juga apa kata kamu. Kasihan Sofi nanti nya. Tapi papa tidak memikirkan nasib putri nya. Dia lebih memikirkan diri nya dari sendiri" Ujar Fia memang ada benar nya.
"Entah lah Fia. Yang jelas saat ini aku tidak nisa mengambil keputusan secepat itu.. Banyak yang harus aku pertimbangkan"
"Terserah kamu. Aku hanya mendoakan semoga masalah mu cepat selesai. Dan semoga apa pun nanti keputusan kamu, itu yang terbaik untuk hubungan kamu dan Tian. Lagian ketika kamu dan Tian nanti nya berpisah, kamu masih bisa kan bertemu dengan Sofi?"
__ADS_1
"Iya bisa sih, tapi tetap saja berbeda karena kami tidak menjadi suami istri lagi. pasti akan merasa lain juga si Sofi nya"
"Ribet, sungguh sungguh ribet. Otak ku jadi puyeng memikirkan nya" Ujar Fia bingung mau memberi jalan keluar apa.