Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 98


__ADS_3

Susan mencoba untuk mengambil hati mama mertua nya dengan menawarkan minuman kepada mama mertua nya itu.


"Mama mau minum apa aku buatin ya" Tanya wanita yang sedang hamil itu kepada mama mertuanya.


Wanita paruh baya itu menghalang nafas beratnya. Rasanya dia sangat tidak nyaman berada di rumah itu karena kehadiran menantu barunya itu. Namun karena hari ini dia sudah berjanji kepada Sofi untuk mengajak gadis kecil itu menginap di rumah nya, jadinya mau tak mau suka tidak suka ia harus datang ke rumah itu untuk menjemput cucu kesayangannya itu.


"Teh saja" Jawabnya dengan nada yang datar.


"Ya sudah aku buatin dulu minumannya untuk mama" Ujar Susan langsung menuju ke dapur untuk membuat minuman yang di request oleh mama mertuanya itu.


"Ma" Tegur Tian saat melihat mamanya itu duduk di sofa dan saat itu dia sedang menuruni anak tangga.


Mantan suami ibu itu langsung mencium punggung tangan mamanya.


"Mama datang ke sini hanya ingin menjemput Sofi" Ucapkan wanita paruh baya itu tanpa basa-basi.


"Sofi ada di kamar nya ma"


"Bik, bik Ina" Teriak Tian kepada pembantu rumah tangganya itu.


"Iya pak ada apa?" Jawab bik Ina bergegas menuju majikannya itu dengan berlari kecil.


"Tolong panggilin Sofi di kamarnya dan bilang kepada dia bahwa omanya sudah datang menjemput.. Dan tolong juga bantuin dia untuk bersiap-siap" Titah Tian.


"Baik pak" ujar mimpi indah langsung pergi ke kamar Sofi untuk menyampaikan titah dari majikannya itu.


"Ini ma teh nya" Ujar Susan menyajikan segelas teh hangat di hadapan mama mertuanya.


"Terima kasih" Masih dengan nada yang datar wanita paruh baya itu menjawab.


"Ma, kapan-kapan mama dan papa nginep di rumah kami ya. Sudah lama juga kan kalian tidak menginap di rumah kalian ini"


"Aduh Tian. untuk masalah itu mama pikir-pikirkan dulu ya. Kamu tahu sendiri kan di rumah ini ada parasit. Jadi ya mama belum bisa tinggal bersama parasit dan belum bisa menerima kehadirannya seutuhnya di dalam keluarga kita. Jadi mama harap kamu bisa memaklumi keputusan mama ini. Mungkin mama membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menerima parasit itu" Sindir wanita paruh baya itu kepada menantunya.

__ADS_1


"Maksud mama, mama sedang ngomongin aku?" Tanya Susan merasa tersinggung atas sindiran dari mama mertuanya itu.


"Oh, merasa ya? Bagus deh jika merasa itu artinya kamu harus sadar diri"


"Ma, Sampai kapan sih mama harus bersikap seperti ini kepadaku. Sekarang aku ini sudah menjadi istri nya Tian secara sah oleh agama dan hukum lo"


"Ya terus, Jika kamu sudah sama jadi istrinya Tian secara hukum dan agama emangnya saya harus menyembah dan bersujud kepada kamu begitu?"


"Ya gak begitu juga sih ma, setidaknya hargailah aku sebagai menantumu dan ibu dari anak yang ada di dalam kandunganku. Walau bagaimanapun anak ini adalah cucunya mama".


"Iya, Aku mengakui kehadiran anak itu dan aku juga mengakui bahwa dia itu udah cucu ku. Tapi tidak dengan ibunya. Karena ibunya itu seorang pelakor dan pelakor itu sangat sulit untuk diterima di dalam keluarga ini" Ujar mama Tian dengan sinis nya.


"Tapi ma... "


"Sudah cukup ya, saat ini aku sedang merasakan kebahagiaan karena akan menjemput cucuku untuk menginap ke rumahku" Potong wanita paruh baya itu agar Susan berhenti berbicara dan memintanya untuk menerima dirinya itu sebagai menantu dari wanita paruh baya itu.


"Jadi aku mohon sama kamu jangan merusak suasana hatiku saat ini" Tambah nya lagi.


Mendengar ucapan dari mama mertuanya itu membuat Susan terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya.


"Oma" Panggil gadis kecil itu berlari menuju oma nya.


"Sayang oma" Sambut nya dengan memeluk gadis itu.


"Sudah siap?"


Sofi mengangguk.


"Ayo kita pergi" Ajak nya kepada cucu nya itu.


"Kami permisi dulu" Ujar wanita paruh baya itu. Tian pun mencium punggung tangan mamanya. Sedangkan Susan hanya menatap nya saja. Wanita itu pun tidak mau menyalami mama mertua nya itu karena dia tahu bahwa dia akan di tolak mentah-mentah oleh mama Tian itu.


"Lo ma, teh nya gak di minum?" Tanya Susan melihat teh yang dibuatnya tadi tidak disentuh sama sekali oleh wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Aduh, gak deh. Jika kamu mau minum saja. Aku takut nanti aku malah tinggal nama" Sindir nya lagi.


Deg....


Sontak ucapan mama Tian itu membuat Susan semakin merasa tersinggung dan sakit hati. Hati nya benar-benar terasa panas dengan ucapan wanita paruh baya itu.


"Kurang ajar, dia pikir aku sejahat itu apa mau membunuhnya. Sejahat-jahatnya aku aku masih mempunyai hati dan tidak tega untuk membunuh orang seperti dia" Ucap Susan di dalam hatinya.


Sedangkan mama Tian langsung berlalu dari hadapan sepasang suami istri itu dengan menggandeng tangan Sofi cucunya.


"Sayang, mau lihat tuh kelakuan mama kamu. Masa dia mengatain aku seperti sih? Padahal aku hanya ingin bersikap baik kepada dia untuk mengambil hatinya agar dia bisa menerima aku sebagai menantunya. Tapi dia malah mengatakan aku dan menuduh aku yang bukan bukan seperti itu" Ujar Susan merasa sakit hati atas perkataan mama mertua nya itu.


"Kamu harus sabar ya mengahadapi mama. Yah kamu tahu sendiri bawa mama itu paling tidak suka melihat wanita seperti kamu. Dimana yang telah membuat satu keluarga hancur" Ucap Tian.


"Maksud kamu, kamu juga mau mengatakan aku, bahwa akulah penyebab kerusakan rumah tangga kamu? Tian kamu harus tahu ya tidak akan ada asap jika tidak ada api. Kamu jangan menyalahkan aku seperti itu dong kamu juga salah dalam hal ini" Ucap Susan perasaan yang semakin tersakiti.


"Aku benar-benar kecewa sama kamu. Harusnya kamu sebagai suami melindungi aku yang telah terzalimi oleh mamamu. Bukan malah mendukung semua perkataan mamamu dan kini kamu juga membalik menyalahkan aku tanpa kamu menyadari kamu juga salah dalam hal ini" Ujar Susan.


"Sudah lah, jangan di bahas lagi. Aku mau melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda tadi. Dan aku saat ini sedang pusing menghadapi semua masalah yang aku alami. Jadi aku mau sama kamu jangan menambah masalah dan jangan menambah beban pikiranku" Ujar Tian langsung berlalu dari hadapan Susan dan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda oleh kedatangan sang mama.


"Benar-benar keterlaluan si Tian. Dengan begitu tega dia menuduhku seperti itu" Batin Susan lagi.


***


"Oma, kita mampir untuk beli es krim dulu ya. Soalnya Sofi sudah lama tidak beli es krim" Ujar gadis itu saat mereka dalam perjalanan menuju ke rumah oma dan opa Sofi.


"Oke sayang tidak masalah Nanti kita mampir di minimarket ya"


"Pak, nanti mampir di minimarket ya untuk membelikan Sofi es krim di sana" Perintah wanita paruh baya itu kepada sopirnya.


"Baik bu" Jawab sopir tadi.


"Nanti Sofi juga boleh kok beli beberapa cemilan untuk ngemil di perjalanan menuju ke rumah oma dan opa"

__ADS_1


"Oke, Terima kasih oma" Ucap gadis itu dengan raut wajah yang bahagia.


__ADS_2