
Aku merasa sangat kecewa dan sedih kepada Tian yang rela memisahkan aku dari putrinya. Namun apalah dayaku Tian merupakan ayah kandung dari Sofi. Dan apapun keputusannya aku harus menerimanya karena dia memiliki hak sepenuhnya terhadap putrinya itu.
Aku mengajak Sofi untuk menghabiskan waktu berdua di mana waktu yang sesingkat ini aku pergunakan untuk membawa putri kecilku itu jalan-jalan.
Seperti yang diminta oleh Sofi dia menginginkan aku membelikannya es krim. Tentu saja aku meneliti keinginan anakku itu Karena dia sudah lama tidak ku manjakan seperti ini.
"Wah es krim" Ujar Sofi dengan senang hati mengambil es krim yang ada di tanganku yang baru ku beli tadi. Ya saat ini kami pergi ke taman wahana.
Dengan semangat putriku itu melahap es krim yang ke beli tadi hingga tak tersisa.
"Ayo sayang kita jelajahi semua wahana ini" Ajak ku kepada putri ku itu.
Dengan perasaan yang gembira kami menjelahi taman wahana itu satu per satu hingga habis. Tak terasa waktu menunjukan pukul empat sore.
"Sayang, kita pulang yuk. Sebentar lagi papa pasti akan menjemput mu" Ucap ku.
"Yah, padahal Sofi masih mau bersama mama. Sofi masih kangen sama mama" Ucap gadis ku itu dengan raut wajah yang sedih.
"Iya sayang, mama juga masih kangen sama Sofi. Tapi kita harus berpisah sampai di sini sayang. Dan kita pasti ketemu lagi nanti nya" Ucap ku.
Dengan langkah yang berat gadis kecilku itu pun ikut denganku untuk pulang ke rumah menunggu Tian menjemputnya.
***
"Assalamualaikum" Ucap salam ku kan aku dan Sofi berada di rumah mamaku.
"Waalaikumsalam" Jawab Mamaku membuka pintu.
"Ya Allah ada Sofi cucu nenek" ucap mamaku mencium puncak kepala putri kecilku itu dengan penuh kasih sayang.
"Nenek" Sapa Sofi dengan membalas pelukan mama ku dan mencium punggung tangan nya.
"Sekarang Sofi masuk ke kamar mama ya, bersih-bersih. Karena sebentar lagi papa akan menjemput mu" Ucap ku. Tanpa disuruh dua kali Putri kecil itu langsung pergi ke kamar ku untuk melakukan apa yang aku suruh.
"Fitri, Sofi akan di jemput sama Tian nanti. Sofi nggak nginep sini?" Tanya mama ku heran.
"Iya ma nanti Tian akan menjemput Sofi. Dia hanya memberikan aku waktu sebentar untuk bersama Sofi agar kami bisa saling melepaskan rindu sebentar" Jelaskan kepada wanita paruh baya itu.
"Kok gitu sih? Bukan kah Sofi sudah lama tidak menginap di rumah kita? Dan bukankah ini Seharusnya jadwal kamu bersama Sofi" Ucap nya lagi.
"Aku juga nggak tahu sih ma kenapa dia bisa seperti itu. Kenapa dia begitu tega memisahkan aku dengan Sofi. Tapi apalah dayaku aku hanya bisa pasrah menerima semua ini. Secara Sofi bukannya putri kandungku dan aku tidak mempunyai hak sepenuhnya terhadap gadis itu" Jelas ku dengan raut wajah yang sedih.
"Kok Tian bisa seperti itu sih?"
"Dia bilang, dia dan Susan bisa untuk mengurus Sofi. Dan keadaan Susan juga sudah mulai membaik. Dia ingin Sofi itu lebih dekat dengan Susan ma. Itu artinya dia ingin menyingkirkan aku dari kehidupan Sofi. Aku sedih ma, aku tidak bisa jauh-jauh dari Sofi. Aku sayang sama dia ma" Ucap ku dengan lirih memeluk mamaku untuk menghilangkan rasa sedih yang ku alami saat ini.
"Mama tahu, yang paling membuat aku sedih dan kecewa sama Tian, Di saat dia bilang kepada Sofi bahwa aku dan bang Rendi sibuk untuk mengurus pertunangan dan juga pernikahan kami. Sehingga kehadiran Sofi akan mengganggu kami berdua. Iya aku akui kamu memang sibuk ma, tapi kehadiran Sofi sama sekali tidak menghalangi semuanya. Aku malahan senang dan bang Rendi juga seperti itu jika Sofi bersama kami. Kami merasa terhibur dan lelah yang kami alami akan hilang seketika jika Sofi berada bersama kami sebagai penghibur kami berdua dalam setiap pekerjaan kami" Jelas ku.
"Tapi kenapa dia begitu tega menuduh aku dan bang Rendi merasa terganggu dengan kehadiran Sofi" Ucap ku kepada mama ku dengan mata yang berkaca-kaca menahan air mata yang akan tumpah membasahi pipi.
"Sayang mama, kamu yang sabar ya nak. Mama gak menyangka Tian bisa setega itu sama kamu. Dia datang di saat dia membutuhkan kamu untuk meminta bantuan kepada kamu. Tapi di saat dia sudah tidak membutuhkan kamu, dia membuang kamu seperti sampah" Ucap mama ku itu yang memang ada benar nya.
"Itu lah yang aku pikirkan ma. Tian sudah berjanji kepada aku dan juga Sofi bahwa kami akan merawat Sofi secara bergiliran. Tapi ternyata semua janjinya itu bohong. Dengan mudahnya dia melupakan perjanjian itu dan tidak mengizinkan aku untuk bersama Sofi lagi" Ujar ku lagi ini air mata yang berusaha ku tahan sudah tumpah membasahi pipi ini.
__ADS_1
Melihat itu mamaku langsung kembali memelukku dan juga menghapus air mataku agar aku merasa sedikit tenang.
"Sabar ya sayang, kita tidak bisa berbuat apa-apa saat ini nak. Semoga semua ini ada hikmahnya nanti. Mama doakan kamu bisa menghadapi masalah ini dengan sabar"
"Iya ma, Amin makasih ya ma" Ucap ku kembali memeluk mama ku. wanita paruh baya itu pun membalas pelukanku dan tak lupa mencium puncak kepalaku. Ya meskipun aku sudah sebesar ini tetap saja di mata kedua orang tuaku aku seperti anak kecil yang butuh perhatian dan juga butuh dimanja.
***
"Tian, kemana aja sih jam segini kamu dan Sofi baru pulang" Tegur Susan sak melihat kedua ayah dan anak itu pulang ke rumah nya.
"Sofi ikut bersama ku di kantor. Karena aku harus segera menangani proyek. Sehingga membuatku tidak sempat untuk mengantarkan Sofi pulang terlebih dahulu ke rumah" Ucap Tian berbohong kepada istrinya itu agar Susan tidak marah dan berpikir yang bukan-bukan terhadap dirinya dan juga Sofi. Dimana dia kembali bertemu denganku yang justru akan membuat Susan semakin cemburu dan pasti akan terjadi pertengkaran lagi diantara mereka Tentu saja dia tidak menginginkan hal itu.
Meski rasa curiga di hati, tapi Susan pun tidak mau membahas masalah itu lagi. Dia hanya bisa menerima alasan yang diberikan oleh Tian kepadanya.
"Tapi kok Sofi sudah mandi? Mandi di mana dia?" Tanya Susan merasa semakin curiga.
"Hmm...." Ujar Tian mencari alasan.
"Tadi dia mandi di kantor ku. Karena Sofi ikut denganku ke proyek dan dia juga terlihat kotor karena itu aku memintanya untuk segera bersih-bersih di kantorku" Lagi-lagi Tian berbohong.
Kembali Susan hanya bisa menerima alasan yang diberikan oleh suaminya itu. Meski hati nya curiga.
"Oh ya, hari ini mama jadi pindah di rumah kita kan?" Tanya Tian mengubah topik pembicaraan mereka.
"Oh jadi kok, mama sekarang berada di kamar tamu" Jelas Susan.
"Bagus lah jika begitu. Semoga saja rumah kamu akan segera terjual sesuai dengan harga yang telah ditentukan" Ucap Tian.
"Ya semoga saja begitu"
Susan mengangguk setuju dengan ucapan suami nya itu.
***
"Fitri" Tegur Rendi melihat aku duduk melamun di cafe. Minuman di hadapan ku hanya ku aduk tampa ku minum. Tatapanku lurus ke depan memikirkan masalahku yang tidak mendapatkan izin untuk membawa Sofi menginap di rumahku.
"Eh bang Rendi" Jawab ku kaget melihat calon suami ku itu datang ke cafe dan duduk di samping ku.
"Sedang mikirin apa sih kamu? Kelihatannya serius sekali. Ada masalah apa sehingga membuat kamu seperti ini?"
Aku menghela napas ku mendengar pertanyaan dari bang Rendi tadi.
"Aku hanya sedih bang. Saat ini Sofi tidak bisa lagi menginap di rumahku seperti biasanya"
"Kenapa emang nya?" Tanya Rendi penasaran.
"Iya, karena Tian tidak mengizinkannya untuk menginap di rumahku. Pantas saja selama ini dia tidak mengantarkan Sofi ke rumahku. Dan sekarang aku sudah tahu jawabannya apa" Ucap ku dengan penuh kesedihan di hati.
"Kenapa Tian bisa seperti itu sih?Bukankah perjanjiannya kalian akan merawat Sofi secara bergiliran"
"Aku juga nggak tahu kenapa dia bisa seperti itu. Yang jelas saat ini Sofi tidak bisa lagi menginap di rumahku. Kemarin saja dia hanya memberikan aku waktu beberapa jam untuk bersama Sofi agar kami bisa melepaskan rindu" Jelas ku.
"Dia bilang, Susan ingin mengambil hati Sofi kembali agar lebih dekat dengannya dan memberikan waktu yang lebih untuk pesan agar bisa mengambil hati Sofi dan membuat Sofi kembali suka dengannya. Jika Sofi nya masih bersamaku jelas itu akan membuat kesan tidak banyak waktu bersama gadis itu" Jelaskan kepada calon suamiku itu.
__ADS_1
"Aku sih tidak mempermasalahkan hal itu. Hanya saja aku tidak habis pikir kepada Tian kenapa dia bilang sama Sofi bahwa aku dan kamu merasa terganggu akan kehadiran gadis itu karena kita saat ini sedang sibuk mempersiapkan acara pertunangan dan juga pernikahan kita" Jelas ku lagi.
"Tian bilang seperti itu?" Tanya Rendi dengan kaget.
"Iya, dia bilang seperti itu kepada Sofi. Hal itu membuat Sofi merasa bahwa memang kita merasa terganggu dengan kehadirannya. Padahal apa yang dikatakan sama dengan itu tidaklah benar"
"Astaghfirullahaladzim, kenapa sih Tian setega itu kepada kita"
"Aku juga gak tahu bang. Yang jelas itulah caranya untuk memisahkan kita dari Sofi. Dan kita bisa apa saat ini bang? Secara Tian adalah ayah kandung dari Sofi sedangkan kita sama sekali tidak mempunyai hak atas Sofi. Jadi mau tidak mau kita hanya bisa menerima semua keputusan Tian seperti ini. Meskipun keputusannya itu terkadang menyakitkan hati kita. Namun kita harus rela akan hal ini" Jelas ku lagi.
"Secara tidak langsung Tian membuat Sofi benci kepada ku. Padahal aku tidak pernah membuat Sofi benci kepada nya meski berkali-kali dia dan Susan mengecewakan gadis itu. Namun, aku selalu menasehati agar Sofi maklumi semua yang kian lakukan saat ini" Jelas ku lagi dan kini air mata telah terbendung di pelupuk mata ku.
"Sabar ya Fitri, semoga kamu bisa melewati masalah ini dengan ikhlas dan semoga hati Tian terbuka kembali" Ucap Rendi memberi semangat kepada ku.
"Aamiin Terima kasih ya bang" Ujar ku mencoba untuk mengukir senyuman di bibir ku.
***
"Wah, ternyata rumah ini cukup besar dan nyaman ya pak" Ucap pak Johan yang merupakan seorang pengusaha yang cukup terkenal juga di kota itu dan saat ini ia ingin membeli rumah Susan itu sebagai hadiah untuk putrinya yang baru saja menikah.
"Ya pak, rumah ini memang nyaman dan sangat strategis dan juga komplek perumahan ini juga terjamin karena di daerah sini bisa dibilang tidak pernah terjadi pencurian ataupun maling" Jelas Tian untuk meyakinkan pak Johan agar semakin berminat dengan rumah yang ditawarkan.
"Wah, bagus saya menjadi semakin tertarik dengan rumah ini pak Tian. Dan saya yakin pasti anak saya akan semakin senang mendapat hadiah rumah seperti ini" Jelas pak Johan lagi.
"Syukurlah Jika bapak berminat dengan rumah yang saya tawarkan" Ucap Tian merasa senang karena pada akhirnya pak Johan berminat dengan rumah dan ia tawarkan. Itu artinya ia akan mendapat suntikan dana untuk proyek yang sempat terkendala saat ini.
"Baik lah pak, Saya akan menunggu pergantian nama sertifikat rumahnya dan juga tanah ini. Saya akan mentransfer sebagian harga rumah dan tanah yang kita sepakati. Nanti setelah sertifikat tersebut selesai dan diubah atas nama saya maka saya akan melunasi sisanya" Ucap pak Johan lagi.
"Terima kasih pak Johan. Senang bekerja sama dengan anda" Ucap Tian bersalaman dengan pak Johan sebagai tanda jadi di antara mereka berdua.
"Sama-sama pak Tian, jika begitu saya permisi dulu. Saya harus kembali ke kantor untuk meeting dengan beberapa klien yang sudah menunggu saya" Ujar pak Johan.
"Baik pak Johan. Hati-hati di jalan" Ujar Tian.
Pak Johan melaju dengan mobil mewah nya menuju kantor nya.
"Syukurlah akhir nya rumah ini terjual juga. Sekarang proyek ku sudah mendapat kan suntikan dana. Jadi aku tidak perlu pusing lagi memikirkan masalah dana yang kurang. Dan semoga proyek ini segera selesai dan aku bisa memenangkan proyek yang lain" Ujar Tian merasa senang karena telah mendapatkan suntikan dana dari rumah yang di jual nya.
***
"Sayang, bagaimana? Apa kah rumah nya berhasil di jual?" Tanya Susan penasaran dengan hasil penjualan rumah nya.
"Alhamdulillah rumah nya sudah terjual. Pak Johan juga sudah mentransfer sebagian uang rumah dan juga tanah yang ia beli dari kita. Sebagian lagi akan ia lunasi setelah sertifikat rumah dan juga tanah itu sudah diganti atas nama dirinya" Jelas Tian lagi.
"Syukurlah jika rumah itu sudah berhasil terjual. Dan semoga saja proyek mu kali ini bisa diselesaikan dengan cepat dan kamu juga mendapatkan proyek-proyek yang lain" Doa Susan penuh dengan harapan.
"Iya, semoga saja begitu. Itu lah yang aku harap kan San. Tolong doain aku ya agar semua nya berjalan dengan lancar"
"Tentu dong sayang. Aku sebagai istrimu selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan juga untuk keluarga kecil kita" Ujar Susan tersenyum senang.
"Untung saja, pak Johan memang membutuhkan rumah itu sebagai hadiah untuk putrinya yang baru saja menikah. Sehingga dia tidak memikirkan kedua kali untuk membeli rumah kita. Hal itu menyebabkan dia langsung membeli dan setuju dengan harga yang aku tawarkan"
"Emang nya kamu jual dengan harga berapa rumah itu?" Tanya Susan penasaran.
__ADS_1
"Lima ratus juta. Termasuk harga tanah dan rumah nya. Dan sekarang pak Johan sudah mentransfer dua ratus lima puluh juta ke rekening ku. Sisa nya akan di lunasi nanti setelah semua nya selesai" Jelas Tian lagi.
"Syukurlah. Aku senang mendengar nya" Ujar Susan kembali tersenyum senang mendengar penjelasan dari suaminya itu.